
"Sayang, bangun sayang" Bimo menepuk-nepuk pipi Tiara yang terlihat sangat pucat dengan sangat panik.
Suara teriakan Bimo,menarik perhatian semua orang yang sedang asik makan.Semua berlari menuju kearah Bimo,kecuali Seno tentunya Seno seperti biasa, tetap fokus pada makanannya yang memang pada saat itu sungguh enak dan sayang untuk dilewatkan.
"Tiara kenapa Bim?kok bisa pingsan begini? " tanya Ibu Marlina panik,melihat putrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Bimo gak tau mi! Tiara tiba-tiba saja pingsan.Aku harus segera bawa dia ke dokter.Bimo segera menggendong Tiara dan langsung berlari masuk ke mobil. Sedangkan ibu Sarah sudah sibuk menenangkan Aarash dan Aariz,yang tiba-tiba histeris dan menangis melihat Tiara yang tidak sadar.
"Bunda kenapa oma? bunda gak kenapa-napa kan?
"Tenang ya sayang, bunda bakal baik-baik saja kok!" Ibu Sarah berusaha untuk tidak ikut-ikutan panik.Padahal saat ini, hati ibu Sarah sudah jedag-jedug karena khawatir.
"Bimo, biar Seno saja yang mengemudikan mobilnya.Mami khawatir,kamu nanti tidak bisa konsentrasi karena panik. jadinya nanti kalian biasa terkena bahaya di jalan" saran Ibu Marlina, melihat kondisi Bimo yang dalam keadaan panik, sangat tidak memungkin kan untuk menyetir sendiri.
"Sayang, kamu aja mengemudikan mobil Bimo, buruan!." Amira menoleh kesamping untuk meminta bantuan Seno suaminya.
"Mami... Seno hilang mi, Seno hilang " Amira tiba-tiba histeris, karena tidak melihat adanya suaminya di sampingnya.
"Hah? kok bisa hilang" Ibu Marlina pun ikut-ikutan panik, mendengar teriakan Amira.
"Seno tidak hilang, dia pasti masih lagi makan" ucap Ibu Sarah yang sudah mengerti kebiasaan Seno sejak dulu.
Dengan kesal Amira sedikit berlari ke meja makan,dan benar saja, di sana tampak Seno dengan santainya menikmati makanannya.
"Au...au,sakit " Seno menoleh hendak marah kepada orang yang telah berani mengganggu kesenangannya.Tapi begitu melihat pelototan Amira, nyali Seno langsung menciut.
"Kamu ya! semua orang panik, kamu masih asyik-asyikan makan di sini"
"Lah, emank kenapa lagi yang? Gladys kan udah pergi!" Seno menautkan kedua alisnya,bingung dengan apa yang sudah terjadi.
Amira, mengelus dadanya dan berkali-kali menarik dan menghembuskan nafasnya, untuk mengontrol amarah yang sudah memuncak,melihat ketidak pekaan suaminya dari tadi.
__ADS_1
"Seno sayang.. Tiara tiba-tiba pingsan, sekarang tolong kamu buruan bantu Bimo untuk membawa Tiara ke rumah sakit" Amira terlihat menggigit giginya sendiri berusaha untuk sabar menghadapi Seno suaminya.
Seno langsung berlari keluar meninggalkan Amira dengan kekesalannya.Akan tetapi,Seno tidak menemukan lagi adanya mobil Bimo di depan.
"Mereka udah keburu pergi Sen, Bimo tidak sabar lagi nungguin kamu. Dia takut Tiara kenapa-kenapa,kalau kelamaaan nungguin kamu" ucap Ibu Sarah.
"Aduh maafin Seno mah, Seno benar-benar tidak tahu kalau...."
"Udah gak usah dibahas lagi, sekarang baik nya kita susul mereka" Ibu Sarah memotong ucapan Seno,karena ini murni bukan kesalahan Seno juga.
"Iya mah! " Ibu Sarah masuk ke dalam mobil disusul oleh Aarash dan Aariz serta Amira yang dari tadi tidak berhenti memainkan terompet cemprengnya.Untungnya Seno sudah terbiasa dengan omelan Amira, jadi dia udah ahli untuk pura-pura tidak mendengar.
"Awas aja, ntar kalau sampai, ada yang terjadi sama mereka,aku bakal gak maafin kamu! omel Amira.
"Udah nak, jangan cerewet lagi.Yang ada,nantinya bukan mereka yang kenapa-kenapa, justru kita yang kenapa-kenapa,karena nak Seno gak konsentrasi dengan omelan kamu! ucap Ibu Sarah, untuk menghentikan omelan Amira.
"Eh,iya mah, maaf" sahut Amira malu,karena tampa sadar dia sudah memperlihatkan sisi cerewetnya di depan ibu Sarah mertuanya.
Seno tersenyum ke arah Amira, dan dibalas dengan pelototan mata besar milik Amira.
Bimo, dari tadi berjalan mondar-mandir di depan ruangan,dimana Tiara istrinya sedang diperiksa oleh dokter.
"Nak, tenang nak,Tiara pasti baik-baik saja.Gak usah khawatir" Ibu Marlina yang duduk di kursi besi,di depan ruangan pemeriksaan itu,berusaha menenangkan menantunya itu.
"Tapi mi, kok dokternya lama ya?" Bimo dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari pintu ruangan itu.Karena sangat mencemaskan keadaan Tiara istrinya .
Tidak berselang lama,pintu terbuka,Bimo langsung menghampiri dokter itu untuk segera mengetahui keadaan istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? kenapa dia tiba-tiba bisa pingsan? dia gak kenapa-kenapa kan dok?" tanya Bimo beruntun,tanpa memberikan waktu untuk dokter itu memberikan jawaban.
"Tenang pak, istri anda tidak apa-apa.Istri anda hanya...."
__ADS_1
"Tidak apa-apa bagaimana dok? jelas-jelas istri saya pingsan!" bentak Bimo tidak terima ucapan dokter yang mengatakan kalau istrinya tidak apa-apa.
"Pak,tenang dulu! saya belum selesai bicara tadi.Tolong jangan dipotong dulu" Jawab dokter tadi yang sudah mulai sedikit kesal dengan sikap Bimo.
"kita bicara didalam saja, silahkan masuk" Dokter yang berjenis kelamin wanita itu, menuntun Bimo dan Ibu Marlina untuk masuk keruangannya.
Bimo dan Ibu Marlina segera duduk di depan dokter,setelah dipersilahkan duduk oleh dokter wanita itu.
"Pak ,istri anda benar- benar tidak kenapa-napa.Tekanan fluktuasi darah istri anda menururun,dan istri anda sepertinya kurang asupan makanan.Ini mungkin karena disebabkan karena istri anda sedang hamil." Jelas dokter itu.
"A-apa dok? istri saya hamil?" Bimo membulatkan kedua matanya, kaget dan seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
"Iya pak,menurut dugaan saya begitu? kalau untuk lebih pastinya,saran saya setelah istri anda sadar dari pingsannya,bapak langsung aja membawa istrinya untuk periksa ke dokter kandungan,untuk mengetahui berapa usia kehamilan dan apakah kehamilannya ada masalah atau tidak"
"Ini benaran kan dok? bukan mimpi?"
"Bukan pak, ini kenyataaan.Apakah sebelumnya anda belum tahu kehamilan istri anda?"
"Be-belum dok! Karena terlalu bahagia di sudut kedua mata Bimo kini telah keluar cairan bening.
"Kalau begitu selamat ya pak! Saya pamit keluar dulu! Bimo menyambut uluran tangan dokter itu dengan tangan gemetar.Dia tidak menyangka kalau ularnya juga kali ini,tetap bisa kerja dengan maksimal menyemburkan bisanya tepat sasaran.
"Iya dok, Terima kasih banyak!"
"Selamat ya nak. Sekarang saatnya kamu jadi suami siaga.Tolong jaga anak mami kali ini"
" Iya mi, Bimo janji,akan selalu ada di sisi Tiara,dan akan menjadi suami serta ayah siaga.Dan akan menebus semua momen-momen yang hilang disaat Tiara mengandung Aarash dan Aariz dulu.
Bimo memandang wajah Tiara,yang masih terlihat pucat.Bimo mengecup pipi dan tangan Tiara berulang kali.
Tak berselang lama, Tiara terbangun dan bingung kenapa dia ada di rumah sakit.Wajah pertama yang dia lihat adalah wajah Bimo yang sedang menatapnya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa ritualnya ya gaess๐๐