
Aariz melirik jam yang terletak di atas nakasnya yang ternyata sudah menunjukkan jam 5.30 sore.Ternyata dia sudah tertidur cukup lama. Aariz bangkit duduk dan beranjak dari atas kasurnya yang keadaannya masih berantakan. Dia segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia berpakaian santai tapi rapi.
Dengan langkah yang sedikit terburu-buru, Aariz terlihat menuruni anak tangga.Dia berjalan menuju arah pintu keluar melewati Ayah-Bundanya begitu saja. Sehingga Tiara dan Bimo saling menatap dengan tatapan penuh tanya. Mereka yakin, Aariz tidak sengaja melewati mereka begitu saja.Tapi itu karena Aariz tidak melihat keberadaan kedua orangtuanya makanya dia berlalu begitu saja tanpa sepatah katapun.
Aariz masuk kedalam mobilnya, dan sepersekian detik kemudian, dia melesatkan mobilnya dengan kecepatan sedang. 10 menit kemudian, dia menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar rumah yang tidak kalah besar dari rumahnya. Tepat dugaannya, kalau jam segini Om Dimas,pasti sudah ada di rumah. Ya ... Aariz tidak dapat lagi menahan keinginan hatinya untuk segera meminta penjelasan ke Om Dimas, Papahnya Vina mengenai tindakannya menjodohkan Vina dengan orang yang sama sekali tidak dicintai putrinya, hanya demi agar Vina tidak menggangu Aariz lagi.
Aariz membunyikan klakson agar satpam rumah itu membukakan pintu untuknya. Berhubung satpam itu sudah mengenal semua keluarga Bimo, dia pun membukakan pintu untuk Aariz.Setelah itu Aariz mengemudikan mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah Dimas. Satpam tadi terlihat menunggu Aariz keluar dari dalam mobil untuk bertanya ada keperluan apa.
"Eh, Tuan Aarash, anda mau ketemu sama Pak Dimas?" sapa Satpam itu dengan ramah.
"Iya, Om Dimas ada kan?"
"Ada, Tuan. Pak Dimas dan Bu Sinta baru saja pulang"
"Terima kasih Pak! " Aariz hendak melangkahkan kakinya meninggalkan satpam tadi.Tapi tiba-tiba dia mengurungkan langkahnya dan berbalik menoleh ke arah satpam tadi. " Oh, iya Pak, lain kali Bapak harus ingat aku !. Aku itu Aariz bukan Aarash" ucap Aariz tegas.
"Baik Tuan Aariz. Maaf kalau tadi saya salah!" Sang satpam menundukkan tubuhnya ke arah Aariz yang langsung beranjak meninggalak satpam itu.
*******
Setelah berkali-kali menekan bel, tampak Vano, adik remaja laki-laki Vina, kini berdiri di depan Aariz dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Mau ngapain kesini? " Ka Vina tidak ada. Jadi kamu pulang aja! ucap Vano dengan nada yang sangat dingin.
Aariz meneguk ludahnya berkali-kali melihat sorot mata Vano yang seperti sedang mengintimidasinya. " Masih remaja aja sudah menakutkan begini, gimana kalau dia sudah dewasa nanti? " Batin Aariz seraya bergidik ngeri.
"Ehmm, Aku mau ketemu Om Dimas. Om Dimas ada kan? " Suara Aariz dibuat setegas mungkin untuk mengimbangi si bocah labil yang sedang berdiri di depannya itu.
__ADS_1
"Mau ngapain cari Papah? Papah dan Mamah lagi sibuk tidak bisa diganggu."
" Aku mau ketemu sebentar saja.Bisa tolong panggilkan?" Aariz masih berusaha bersabar untuk mengahadapi Vano.
"Aku bilang, mereka lagi gak bisa digangu.Kamu tahu bahasa manusia gak sih?" ucap Vano yang sudah mengabaikan kesopan santunan terhadap orang yang lebih tua. " Dan dengar, kalau kamu mau nanyain Ka Vina, Aku sudah bilang dari awal,kalau ka Vina tidak ada.Dia sudah pergi jauh dan itu semua gara- gara kamu" Vano kembali berucap dengan suara yang sudah mulai meninggi.
"Vano..., siapa tamu yang datang? kok tidak disuruh masuk?" tiba-tiba Dimas muncul dari dalam.
"Eh, Aariz rupanya! Kok Ka Aariznya gak disuruh masuk Vano?"
"Orang yang gak punya hati seperti dia ngapain disuruh masuk Papah! " sahut Vano yang masih saja tetap menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Aariz yang masih berusaha menahan amarahnya.
"Vano! Jaga mulutmu! mana sopan santunmu pada orang yang lebih tua darimu?" Dimas meninggikan suaranya ke arah Vano.
"Kalau untuk dia, sikap sopan Vano udah gak ada Pah. Karena dia gak pantas mendapatkannya! " Vano kembali berucap dengan kasar seraya menunjuk muka Aariz.
"Vano gak mau!" tegas Vano.
"Ok, kalau kamu gak mau, kamu tidak akan mendapat uang jajan selama sebulan! ancam Dimas seraya menghunuskan tatapannya ke arah putranya.
Ancaman Dimas ternyata sangat berpengaruh pada Vano. Itu terlihat ketika Vano dengan segera menghampiri Aariz dengan mengerucutkan bibirnya. "Maaf Ka" Vano berucap pelan seraya mengulurkan tangannya.
Aariz menyambut tangan Vano seraya menepuk bahu Vano dengan lembut. Aariz cukup paham kenapa Vano begitu membencinya.Rasa bencinya itu merupakan bukti nyata rasa sayangnya terhadap Vina- Kakaknya.
"Udah, sekarang kamu masuk ke kamarmu!" Titah Dimas, yang dibalas dengan anggukan kepala dari Vano.
"Ayo, Riz masuk! " Dimas melangkah masuk disusul oleh Aariz dari belakangnya.
__ADS_1
"Ayo,silahkan duduk! Ada urusan apa datang ke rumah Om?" tanya Dimas setelah Aariz mendaratkan tubuhnya,duduk di sofa persis di depannya.
"Aariz hanya mau meminta penjelasan dari Om. Kenapa Om menjodohkan Vina segala dengan orang yang tidak dia cintai sama sekali? Apa Om tidak kasihan sama Vina? Dan kenapa Om mengizinkan dia pergi ke London?" Aariz bertanya beruntun tanpa jeda.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Harusnya kamu kan senang, tidak ada lagi Vina yang suka gangguin kamu,yang suka ngintilin kamu dan yang membuat kamu merasa tidak nyaman selama ini. " sahut Dimas santai.
" Tapi gak harus pakai jodoh-jodohan Om! itu gak adil buat Vina! "
"Siapa bilang gak adil? Om hanya mau yang terbaik buat putri Om. Om hanya mau Vina hidup bersama dengan orang yang mencintainya. Karena Om yakin, kalau Vina diberikan banyak cinta oleh tunangannya, suatu saat hati Vina juga akan luluh. Dan kalau masalah dia ikut ke London,itu murni atas kemauan Vina sendiri. Karena dia benar-benar ingin melupakanmu, dan belajar untuk membuka hatinya pada laki-laki lain. " Tutur Dimas.
Kepala Aariz kini sudah mulai mengeluarkan asap. Hatinya sudah mulai panas dan Wajahnya sudah memerah. Dia benar-benar tidak suka, ketika Dimas mengatakan kalau Vina pergi, karena ingin melupakannya dan mau belajar membuka hati pada orang lain. "Aku gak mau Vina sama orang lain Om" celetuk Aariz tiba-tiba dengan nada tegas.
"Lho kenapa kamu tidak mau?" Dimas menyipitkan matanya dengan kening yang berkerut ke arah Aariz.
"Karna aku mencintai Vina dan aku tahu kalau Vina juga mencintaiku." Tegas Aariz dengan mata yang berapi-api.
"Apa kamu yakin kamu mencintai Vina? Kenapa perasaan kamu cepat berubah? Om jadi makin ragu.Nanti bisa saja perasaan cinta kamu akan cepat berubah lagi "
"Kali ini Aariz yakin Om! setelah Vina gak pernah muncul lagi,aku sangat merasa kehilangan dia Om.Aku baru menyadari kalau ternyata tanpa aku sadari aku sudah jatuh cinta sama Vina Om. Jadi, Aariz mohon, tolong batalkan perjodohan Vina dengan orang itu" Aariz memohon dengan raut wajah yang memelas.
Dimas menghela nafasnya dengan cepat. Dia menatap Aariz dengan seulas senyum yang tersemat di bibirnya. "Om terkesan dengan apa yang kamu ucapkan. Tapi Om minta maaf, karena Om tidak bisa membatalkan perjodohan ini! "
Sementara itu, di sudut kota di negara London,Vina terlihat duduk termenung sambil menyentuh sebuah cincin yang tersemat di jari manisnya. Yang kata Papahnya merupakan cincin sebagai tanda pengikat, kalau kini dirinya sudah bertunangan dengan laki-laki yang dia tidak tahu siapa.
Tbc
Jangan lupa dukungannya ya Gais.besok hari Senin please vote karya ini dengan voucher vote yang didapat dari pihak NTa/MT. Thank you
__ADS_1