YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Keanehan Aariz.


__ADS_3

Mentari kembali datang menyapa dari ufuk Timur. Vina tersentak bangun mendengar suara Aariz suaminya yang sedang muntah-muntah dari arah kamar mandi


Dengan sedikit berlari, Vina masuk ke kamar mandi dengan raut wajah yang panik.


"Bee kamu kenapa? kamu sakit ya?" tanya Vina,sembari memberikan pijatan-pijatan lembut di tengkuk Aariz.


"Nggak tau nih Bee, aku masuk angin mungkin!" sahut Aariz,yang wajahnya sudah sangat pucat.


"Makanya, kalau malam itu jangan buka baju terus! "cetus Vina dengan bibir yang mengerucut.


"Habis, kamu itu selalu menggoda sih Bee, heheheh." Aariz cengengesan.


"Ya, udah sekarang kamu mandi, biar aku turun buat sarapan!"


"Gak mau Bee, malas" aku cuci muka aja ya?" ujar Aariz manja.


"Kamu kenapa manja banget begini sih Bee?, Kamu itu harus mandi! tadi malam kan kamu juga gak mandi. Udah gitu kamu ngajak gelut lagi,kan keringatnya otomatis udah lengket tuh di badan." sahut Vina sedikit dongkol dengan suaminya yang belakangan ini sangat malas mandi.


Aariz menghembuskan nafasnya, dia melirik ke arah shower dengan raut wajah yang seperti ingin menangis. "Kalau begitu, kamu mandiin aku Bee! aku malas buat gosok-gosok badan sendiri." Aariz menggelendot di lengan Vina dan meletakkan dagunya di atas pundak istri kecilnya itu.


"Gak ada! kamu mandi sendiri, yang ada nanti kamu gak jadi mandi,malah minta yang aneh-aneh.Lagian aku harus buat sarapan Beeee, kamu kan juga harus ke kantor,dan aku harus kuliah. Karena ulahmu kita bisa telat nanti." Vina menepis tangan suaminya yang kini sedang cemberut mendengar penolakan Vina.


"Bee, kita sarapan ke rumah Bunda aja ya? aku kangen sama Bunda!" rengek Aariz lagi. Ya, Aariz dan Vina sudah 3 minggu ini, tidak tinggal lagi bersama Bimo dan Tiara. Mereka berdua lebih memilih untuk pindah ke rumah sendiri yang tidak terlalu jauh dari kediaman orangtuanya itu.


"Kan,baru tadi malam ketemu di rumah baru Ka Aarash,masa udah kangen lagi? Bee, kita udah 3 hari ini lho sarapan di sana terus, aku malu Beee. Aku seperti istri yang gak bisa nyiapin sarapan buat suaminya. Atau kamu udah gak mau lagi ya, makan masakanku?"


"Bukan gitu Bee! cuma ini udah jam berapa? kamu kan ada jam kuliah pagi, jadi gak bakal sempat juga buat masak.Jadi, mending kita mandi sama-sama, aku janji gak bakal aneh-aneh ... suer deh!" Aariz mengacungkan jari tengah dan telunjuk bersamaan ke arah Vina dengan seulas senyuman di bibirnya.


"Ya udah deh. Tapi, janji ya, gak bakal ada yang aneh-aneh!" ucap Vina pasrah, karena apa yang baru saja diucapkan sama Aariz itu memang benar.


"Yes!"Aariz mengembangkan senyumannya, lalu menarik tangan Vina untuk bisa mandi bersama.


"Makanya mulai nanti malam, gak ada olahraga lagi sampai subuh! biar aku bisa bangun pagi nyiapin sarapan."ucap Vina sembari menggosok tubuh suaminya itu. Dia sekarang seperti sedang memandikan anak kecil,yang belum bisa mandi sendiri.


Aariz benar-benar menepati janjinya,yang tidak meminta lebih,selain hanya mandi saja. Walaupun sekali-kali, tangan Aariz jahil menoel-noel benda kenyal kegemarannya itu.


Setelah 15 menit berlalu, kini Aariz dan Vina sudah keluar dari kamar mandi. Sebelum Vina mengenakan pakaiannya, dia terlebih dahulu mengambil pakaian untuk suaminya itu kenakan.

__ADS_1


"Bee, kamu pakai parfum apa sih? bau banget! aku mau muntah ciumnya." Vina menutup hidung dan mulutnya bersamaan.


"Aku pakai parfum yang biasa kok Bee. Kan kamu yang belikan! kemarin-kemarin kamu suka nyiumnya, kok sekarang jadi bilang bau sih?" tanya sembari mencium ketiak dan kemeja yang dia pakai.


"Ganti bajunya Bee, pokoknya aku tidak suka!" Vina menghampiri lemari dan mengambil kembali kemeja untuk suaminya itu.


Aariz mendengus kesal, dan kembali membuka kemeja yang dia pakai,setelah itu memakai kembali, kemeja yang di baru diberikan oleh Vina.


"Kok masih bau sih Bee?" tanya Vina yang masih setia menutup hidung dan mulutnya.


"Bee, ya jelas baunya gak bisa hilang, kan ini body spray,jadinya nyemprotkannya kan ke badan bukan ke baju!" jelas Aariz mulai kesal.


"Ya udah, kamu mandi lagi, biar baunya hilang! kalau nggak, aku bisa mati Bee, nyium baunya."


"Kamu yang benar aja Bee! masa aku harus mandi lagi? kamu kan tahu aku malas mandi. lagian ini udah jam berapa Bee? waktunya udah gak keburu,kamu jangan aneh-aneh deh!" Aariz terlihat mulai kesal.


" Ya udah,kamu gak usah mandi. Tapi jangan dekat- dekat sama ku ya! ayo kita berangkat!" Vina mengayunkan langkahnya, berjalan meninggalkan Aariz yang sibuk mengerutu di dalam hatinya.


Perdebatan kembali terjadi di bawah,ketika Vina lebih memilih duduk di belakang, daripada di depab bersama Aariz.


"Bee, pindah ke depan dong! nanti aku dikira sopir lagi sama orang-orang."


Aariz, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sekali hentakan. Lalu diapun akhirnya mengalah dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Ayah dan Bundanya.


Sesampainya di kediaman Bimo, Aariz berniat menggandeng tangan Vina untuk berjalan bersama masuk ke dalam rumah. Tapi Vina tiba-tiba menjauhkan dirinya dari Aariz seraya mengibas-ngibaskan tangannya, menyuruh Aariz menjauh.


"Bee, jangan dekat-dekat please! aku mau muntah." ucap Vina,dengan wajah yang terlihat memelas.


Aariz menghela nafasnya,pasrah seraya melangkah menjauh dari Vina dan berjalan masuk terlebih dahulu.


"Lho Riz, pagi-pagi sudah datang aja. tuh muka kenapa lagi? gak dapat jatah ya?" celetuk Bimo yang saat itu sedang duduk sambil membaca koran


"Yah, bertanyanya nanti saja! Bundanya mana Yah?" tanya Aariz sembari mengedarkan matanya mencari keberadaan Tiara.


"Vina mana Riz, kok gak ikut?" kali ini Tiara yang tiba-tiba muncul buka suara.


"Bundaaa, Aariz kangen!" Aariz langsung menggelendot di bahu Tiara.

__ADS_1


"Hei, lepasin istri ayah! enak aja main peluk-peluk istri orang." teriak Bimo sembari meletakkan koran yang dia baca ke atas meja.


"Ini kan Bundanya Aariz Yah! jadi gak salah dong?" ucap Aariz tidak mengindahkan perintah Ayahnya itu.


"Pagi, Bun, Yah!" sapa Vina yang baru saja muncul dari luar.


"Kok kalian berdua, masuknya gak bersamaan? kalian berantem ya?" tanya Tiara sembari mengrenyitkan keningnya.


"Nggak, Bun! dia gak mau dekat sama Aariz, katanya badan Aariz bau! Aariz wangi kan Bun?" sahut Aariz.


"Iya, kamu wangi seperti biasa kok!" ucap Tiara sambil mengendus, di tubuh Aariz.


"Tuh dengar, aku wangi kata Bunda." Cetus Aariz yang disambut cebikan di bibir Vina. Sedangkan Tiara langsung menatap Vina dengan tatapan penuh tanya.


" Kalian berdua datang ke sini mau sarapan ya?" celetuk Bimo yang membuat Vina menundukkan kepalanya, sembari menggigit bibir bawahnya. Dia merasa malu, merasa tidak becus jadi istri.


"Iya, yah! Vina tadi sebenarnya sudah masak, tapi Aariz tiba-tiba pengen makan masakan bunda." ucap Aariz, yang mengerti apa yang dirasakan oleh istrinya itu.


"Oh, ayo kita ke meja makan, bunda temani kalian sarapan!" Tiara yang menyadari kecanggungan Vina, langsung meraih tangan menatunya itu, dan mengajaknya ke ruang makan.


Baru satu suapan yang masuk ke mulut Aariz, perutnya seperti di aduk-aduk dari dalam. Dia langsung berlari untuk mengeluarkan kembali makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Kamu kenapa sayang? kamu sakit ya?" tanya Tiara khawatir.


"Bun, kok bau makanan itu aneh sih? tolong di singkirin Bun, aku gak kuat nyiumnya." ujar Aariz yang kini wajahnya sudah terlihat sangat pucat.


"Lho kenapa? padahal baunya seperti biasa, dan itu kan makanan kesukaanmu? kayanya ada yang sesuatu yang terjadi nih? " ucap Tiara tersenyum penuh makna.


"Aariz baik-baik aja kok Bun! tidak ada yang terjadi pada Aariz." sahut Aariz.


"Bukan, kamu tapi pada Vina!" ucap Tiara yang membuat kening Vina dan Aariz mengerenyit bingung.


"Hah? maksud Bunda apa? Vina juga baik-baik aja kok!" timpal Vina.


Tiara tersenyum, dan menghampiri Vina,lalu dia membelai rambut Vina dengan lembut.


"Apa kamu sudah telat datang bulan,sayang?" tanya Tiara.

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa dukungannya ya gais.😁


__ADS_2