
Mentari di bumi London kembali datang menyapa. Sinarnya kini sudah membias masuk ke kamar Vina, gadis cantik yang kini resmi menyandang status kekasih dari Aariz Bagaskara Aryaguna. Cahayanya yang menyilaukan membuat Vina mengerjap-erjapkan matanya. Vina duduk sambil merentangkan tangannya, menggerakkan kepala,ke kiri dan ke kanan untuk merenggangkan tubuhnya.
Vina beranjak dari atas kasurnya, masuk ke kamar mandi untuk, mencuci muka dan menggosok giginya. Vina menatap dirinya di cermin sembari senyum-senyum membayangkan kejadian tadi malam, disaat Aariz mengungkapkan cintanya.
Setelah selesai dengan ritual paginya, Vina melangkah ke dapur untuk membuat sarapan sederhana. Vina menggelung rambut panjangnya ke atas, hingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus. Kali ini Vina berencana membuat sarapan nasi goreng sea food kesukaan Aariz. Karena terlalu asyik memasak, dia tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang menatapnya dari belakang, sembari menyenderkan tubuhnya di pembatas dapur dan ruang makan dengan tangan yang bersedekap di dadanya.
Vina terjengkit kaget, saat ada tangan yang merangkul perutnya dari belakang dan meletakkan dagu di bahunya. " Lagi masak apa Bee? " Suara lembut terdengar menggelitik di telinga Vina dan hembusan nafas yang sangat terasa di lehernya yang ter ekspose, hingga membuat tubuh Vina meremang .
"K-Ka Aariz, kamu sudah bangun?" tanya Vina gugup.
"Hem, aku gak bisa tidur Bee.Kaka kamu Galang gak ngizinin aku tidur di kasur. Masa aku disuruh tidur di sofa," keluh Aariz dengan bibir yang mengerucut, tanpa melepaskan tangannya dari perut Vina.
"Ka, lepasin ih! nanti Ka Galang bangun. Vina nanti malu, kalau Ka Galang mergokin Kaka meluk Vina." ucap Vina.
"Kenapa mesti malu? Kan dipeluk calon suami sendiri." Aariz tetap tidak mau melepaskan pelukannya, bahkan dia makin mem-per-erat pelukannya.
"Ka Aariz ih, lepasin dong! Vina lagi masak nih" rengek Vina sembari mencebikkan bibirnya. Sehingga membuat Aariz gemas dan langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Vina singkat.
Pipi Vina, sontak merona mendapat kecupan manis dari Aariz. "Ka Aariz kok main nyosor aja sih? malu, nanti dilihat sama Ka Galang," ujar Vina sembari menundukkan wajahnya untuk menutupi rona pipinya dari penglihatan Aariz.
"Sekarang, Ka Aariz tolong duduk di sana ya! biar Vina cepat selesai memasaknya. Ka Aariz lapar kan? " Vina memohon dengan wajah yang memelas.
"Hmm, kalau mau memasak, masak aja! kenapa aku harus duduk disana?" Aariz tetap kekeh tidak mau menjauh sedikitpun dari Vina.
Vina menghela nafasnya, merasa kesal melihat tingkah Aariz yang sekarang seperti lintah, nempel dan susah untuk dilepaskan.
"Ka, please deh, ruang gerak Vina nyesak Ka.Vina susah untuk bergerak dan masakan Vina nanti jadi lama matengnya. Kenapa Kaka jadi menyebalkan begini sih ah? " cetus Vina yang mulai merasa kesal.
"Iya..iya deh aku lepaskan, tapi panggilannya ganti dulu dong! Jangan panggil Kaka terus! Masa panggilannya sama kaya Galang. "
"Ya udah, maunya dipanggil apa?" tanya Vina berusaha untuk bersabar.
"Terserah kamu deh Bee!" sahut Aariz.
"Ya udah aku panggil Beb aja ya?"
"Jangan dong, aku gak mau dipanggil Beb." Tolak Aariz cepat.
"Hmm, Ay aja gimana? " Vina kembali menyarankan.
"Aku juga gak mau yang itu!" Aariz kembali menolak keras panggilan yang diberikan Vina padanya.
"Jadi apa dong? tadi katanya terserah." Suara Vina terdengar sudah sangat kesal.
__ADS_1
"Bee, Beb sama ay itu, panggilan sayang Bebek sama ayam. Ayam panggil bebek itu beb, lalu si bebek panggil ayam itu Ay.Masa aku mau disamain sama bebek dan ayam sih Bee?" papar Aariz menjelaskan, kenapa dia tidak mau dipanggil Beb dan Ay.
"Hello, kaka aja panggil aku Bee, Kaka kan juga tahu, kalau bee itu lebah. " ucap Vina semakin kesal.
"Ya, jelas beda Bee! Lebah itu kan penghasil madu.---madu itu kan sangat manis. Jadi, sama seperti kamu, kamu itu manis banget, dan telah menyengat hatiku ." Aariz mulai melontarkan gombalan recehnya.
"Huek." Galang tiba-tiba muncul, seperti mau muntah mendengar gombalan Aariz." Cih, gombalan,mu receh baget Ka." ujar Galang meledek.
"Diam! gak usah ikut campur! " ucap Aariz sembari menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Galang.
Galang tidak merasa takut sedikitpun terhadap tatapan Aariz, dia justru menatap Aaris dengan tatapan jengah
"Ka Galang sepertinya tidurnya nyenyak malam tadi."celetuk Vina untuk melerai,pandangan dingin dan tajam yang terjadi diantara Aariz dan Galang
"Nyenyak bagaimana Vin? justru sekarang badan aku sakit-sakit, karena semalaman tidur di sofa dibuatnya." celetuk Galang denga air muka kesal.
Vina mengrenyitkan keningnya mendengar ucapan Kakan sepunya itu. " Lho, tapi kata Ka Arriz____," Vina sontak menoleh ke arah Arriz dan menghunuskan matanya ke arah Aariz yang balik menatap Vina sembari cengengesan.
Flashback on
Galang,Vina dan Aariz, baru saja menginjakkan kaki di apartemen Galang. Ya...., Aariz memutuskan untuk ikut pulang bersama Vina ke apartemen Galang.
Apartemen Galang, hanya mempunyai dua kamar. Jadi, mau tidak mau, Aariz harus tidur bersama Galang dalam satu kamar.
"Hei, kamu kok tidur di sini? aku tidak mau tidur bareng kamu. Aku bukan gay." teriak Aariz sembari mendorong tubuh Galang menjauh darinya.
"Jadi, aku harus tidur dimana? kamar di apartemen ini hanya dua Ka Aariz. Jadi mau tidak mau kita berdua harus berbagi. " ucap Galang dengan nada sangat kesal.
"Pokoknya aku tidak mau! Tamu itu adalah raja, jadi kamu harus mengalah.Terserah kamu mau tidur dimana, di sofa itu juga boleh." Ucap Aariz.
"Ini kamarku Ka Aariz dan ini kasur ku.Jadi, Ka Aariz yang harus tidur di sofa!" Galang sama sekali tidak mau mengalah.
"Ok, kalau kamu tidak mau mengalah, aku akan tidur bersama Vina di kamarnya." ucap Aariz, sambil beranjak hendak meninggalkan Galang.
"Iya... iya, aku mengalah. Aku tidur di sofa, Kaka di kasur." Galang bangkit berdiri dan berjalan gontai menuju sofa, lalu merebahkan tubuhnya di sana.
"Dasar orang edan, buat apa booking kamar hotel kalau mau nyusahin orang? dasar gila! " umpat Galang sembari menutup matanya.
Flashback End
Vina menghela nafasnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penuturan Galang Kakaknya. Vina kembali melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda karena tingkah Aariz.
Kedua mata Galang, terlihat membesar, melihat ponselnya yang bergetar di atas meja, dan tampak nama Om Dimas tertera di sana.
__ADS_1
Galang cepat-cepat meraih ponsel itu dan menjawab panggilan Om nya itu.
"Hallo Om! " sapa Galang.
"Galang, apa maksud ucapan Pak Reno yang mengajak damai? dan memohon agar putranya Dewa dikeluarkan dari penjara? Apa yang sebenarnya sudah terjadi disana?" cecar Dimas dari ujung telepon.
Tbc
Jangan lupa dukungannya ya Gais. Please like, vote dan komen. Thank you
James Jirayu as Aarash dan Aariz
Davika Horne as Laura/Ayu
Baifern Pimchanok as Davina
Kao Jirayu Laongmanee as Galang
Anchasa Mongkhonsamai as Azalea
Prin Suparat, as Dewa
__ADS_1