
"Bi, Bunda dan yang lainnya kan tidak pulang makan malam di rumah. Lea juga sekarang di rumah Om Seno, jadi untuk makan malam biar Vina aja yang masak ya Bi? Bibi istirahat aja!" ujar Vina pada Bi Asih.
"Biar bibi bantu saja Non Vina, biar cepat selesainya." Bibi Asih menawarkan diri,karena merasa tidak enak.
" Cuma mau masak telor balado sama capcay kok Bi. Soalnya Ka Aariz mau makan itu katanya. Bibi kan sudah capek satu hari ini. Bibi istirahat aja ya!"
"Capek gimana Non.Hari ini justru Bibi gak ngapa-ngapain. Bayangin aja, rumah ada yang bersiin, pakaian ada yang nyuciin dan nyetrikain. Taman, ada tukang taman yang ngerjain. Lah Bibi cuma masak, dan itupun sering dibantuin sama Ibu dan Laura. Bibi jadi bingung mau ngapain, mau bantu bersih-bersih, dilarang sama Laura." keluh Bibi Asih.
"Ya udah, kalau begitu, Bibi potong-potong sayurannya saja, aku buat bumbu baladonya." ucap Vina seraya menerbitkan senyuman di bibirnya ke Bibi Asih.
"Baik Non Vina!" sahut Bibi Asih.
Vina merebus telurnya terlebih dahulu. Sembari menunggu telurnya matang, Vina menyiapkan bumbu baladonya. Sedangkan Bi Asih melakukan pekerjaan sesuai dengan yang disuruh oleh Vina tadi.
Tidak lama kemudian, makan malam pun sudah selesai. Vina naik ke atas untuk mandi, sebelum memanggil Aariz di ruang kerjanya. Karena tadi tiba-tiba ada sesuatu yang sangat penting dan harus segera diselesaikan.
"Bee, makan malam udah siap. Kita makan malam dulu yuk!" Vina menghampiri Aariz yang terlihat fokus menatap layar monitor di depannya.
"Iya Bee, sebentar. Tinggal kirim ke email, sip selesai!" ujar Aariz sambil menutup laptopnya. Aariz memberikan kecupan di bibir Vina lalu meraih tangan Vina dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan kerjanya.
Vina menyendokkan nasi ke piring Aariz dan meletakkan satu butir telur di atasnya dan tidak lupa menyendokkan capcaynya juga.
"Bee, telurnya kok cuma satu? laki-laki kan telurnya ada dua Bee. Jadi, kamu juga seharusnya kasih dua telur juga untukku." ucap Aariz sambil mengangkat piringnya, agar Vina memberikannya satu telur lagi.
Vina mendegus, mendengar ucapan absurd suaminya.Tapi dia tetap memberikannya juga.
"Dasar suami edan! apa hubungannya coba, karena jumlah telur laki-laki ada dua, makan telur juga harus dua? aneh kamu! bilang saja kamu suka telur, gak usah pake alasan begitu, biar dapat makan banyak telur." Vina menggerutu sembari mengerucutkan bibirnya, sehingga membuat Aariz terkekeh melihat ekspresi istri kecilnya itu.
Detik berikutnya, mereka berdua pun mulai menyantap makan malam mereka tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Yang terdengar hanya bunyi dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring masing-masing.
"Bee, itu masih ada sisa satu telur lagi, aku makan ya?" tanya Aariz, setelah mereka menghabiskan makanan di piring masing-masing.
"Gak boleh! kalau kamu makan, nanti kamu berubah jadi banci." celetuk Vina sambil memasukkan sisa telur itu ke dalam mulutnya.
Aariz hanya bisa menghela nafasnya karena merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Bee, kamu mau makan buah apa?" tanya Vina.
__ADS_1
"Buah pisang aja Bee, aku lebih suka pisang dari pada yang lain," sahut Aariz.
"Kok sama sih Bee, aku juga suka pisang!" Vina tersenyum, karena lagi-lagi tahu kalau dia dan Aariz suka makan buah yang sama.
"Makanya kita jodoh Bee!" ucap Aariz sembari mengerlingkan matanya.
Mereka berdua pun memakan pisang di tangan masing-masing dengan nikmat. Dan setelah habis, mereka berdua sama-sama melihat ke dalam keranjang buah, untuk mengambil buah pisang lagi. Karena kalau cuma makan satu buah pisang, biasanya mereka berdua merasa kurang.
"Bee, pisangnya sisa satu lagi, untuk aku aja ya? tanya Aariz sambil meraih pisang itu dari dalam keranjang. Tapi tiba-tiba Vina menyahut pisang itu dari tangan Aariz. "Nggak boleh! laki-laki kan hanya punya satu pisang, jadi makan pisangnya juga harus satu." Vina tersenyum merasa senang, bisa mengembalikan ucapan Aariz.
"Eh jangan salah Bee. wanita itu juga ditakdirkan hanya boleh memakan satu pisang saja. Atau jangan-jangan kamu sudah menyiapkan pisang yang lain untuk kamu makan?" ucap Aariz ambigu, bagi orang yang tidak mengerti. Tapi, bagi Vina dia cukup mengerti dengan apa yang Aariz maksud.
"Nih, pisangnya sama kamu aja!" Vina memberikan pisang yang di tangannya ke tangan Aariz seraya mencebikkan bibirnya.
Aariz terkeheh dan menerima pisang itu dari tangan Vina, lalu dia mulai memasukan pisang itu kedalam mulutnya. Baru gigitan pertama, Aariz langsung tersedak, begitu mendengar ucapan istrinya yang beranjak meninggalkannya. " Makan aja pisangnya puas-puas! tapi ingat, nanti tidak ada jatah untukmu!"
"Beeee,kok gitu? Bee, ini pisangnya kita bagi dua ya! " Aariz berlari menyusul istrinya yang sekarang dalam mode ngambek.
*******
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan sekarang usia pernikahan Aariz dan Vina sudah dua bulan, dan itu berarti usia kandungan Laura sudah 4 bulan.
"Mas, katanya hari ini kita ngadain syukuran bulanan anak kita. Tapi, kok sepertinya sepi-sepi aja ya?" tanya Laura, yang merasa sedikit kecewa. Dari tadi pagi, suaminya Aarash juga,sama sekali tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuknya.
"Kamu siap-siap saja ya yang! syukurannya bukan di sini, tapi di tempat lain." Sahut Aarash sambil menyugar rambut istrinya itu.
"Dimana? di hotel ya?"
"Hmm, nanti juga kamu tahu Yang." ucap Aarash sembari melemparkan senyumannya pada Laura.
"Mas, kamu gak ingat, hari ini hari apa?"
"Hari ini, ya hari Sabtu, Sayang. Memangnya kenapa?" sahut Aarash berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan istrinya itu.
"Maksudku, hari ini, ada hal spesial apa?" Laura masih berusaha menggiring suaminya agar ingat sendiri, kalau ini hari ulang tahunnya.
"Hmm, ya hari ini kita ada syukuran empat bulanan, Sayang." Aarash masih tetap dalam mode kepura-puraannya.
__ADS_1
"Selain itu?"
"Selain itu? emang ada lagi ya Yang? kayanya gak ada deh." Aarash menautkan kedua alisnya.
"Ya udah deh, kalau memang gak ada!" Laura keluar dari kamar sembari mencebikkan bibirnya.
"Sayang, tungguin dong! kita berangkatnya sama-sama." Aarash mengejar istrinya yang sedang dalam mode ngambek itu.
"Ayah, bunda dan yang lainnya dimana Mas?" tanya Laura sembari mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan.
"Mereka udah berangkat duluan. Kita berangkat aja Sekarang!" Aarash mengandeng tangan istrinya keluar dari rumah. Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Laura, lalu menutupnya kembali setelah Laura sudah duduk dengan sempurna di dalam mobil.
Sepanjang Jalan, wajah Laura terlihat tidak semangat sama sekali. Dia menjawab ucapan Aarash pun hanya singkat-singkat saja dari tadi.
20 menit kemudian, mereka pun tiba di sebuah rumah mewah yang sangat indah. Kedua netra Laura tampak berbinar-binar dan menatap takjub rumah yang ada di hadapannya.
"Ini rumah siapa Mas?" tanya Laura, tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
"Ini rumah kita, sayang. Ini hadiah ulang tahun yang aku siapkan untukmu. Ini lah alasan kenapa selama ini kita masih tinggal di rumah ayah dan Bunda. Aku menunggu saat ulang tahunmu dan memberikan ini sebagai kejutan untukmu. Selamat ulang tahun ya Sayang!" ucap Aarash sambil membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"J-jadi kamu tidak lupa Mas?" dari sudut mata Laura, kini sudah terlihat cairan bening yang sudah merembes keluar. Dia tidak menyangka, kalau dia akan mendapat kejutan seindah ini dari suaminya.
"Tentu saja aku tidak lupa. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan hari dimana tulang rusuk ku dilahirkan kedunia ini!"ucap Aarash tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya.
"Terima kasih ya Mas!"
"Terima kasihnya harus disertai yang lain dong! masa cuma terima kasih doang!" ucap Aarash sembari mengerlingkan matanya.
" Emangnya kamu mau apa?" tanya Laura dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Aku mau kamu malam ini, aku mau jenguk anak-anak kita di dalam sana, sekalian mau coba suasana baru di rumah baru kita!" ucap Aarash, yang membuat wajah Laura langsung merona.
"Kita masuk yuk! semuanya pasti sudah terlalu lama menunggu kita di dalam. Semua tamu undangan juga sepertinya sudah banyak yang datang." Aarash kembali mengandeng tangan Laura dan menuntunnya untuk masuk ke dalam.
Air mata Laura kembali merembes keluar, ketika melihat semua orang yang dia sayangi ada di sana.Bahkan Dion dan Kinara pun kembali dari London untuk ikut dalam acara syukuran empat bulanan sekaligus ulang tahunnya.
__ADS_1
Enak ya si Dion, udah jadi kaya, mau pulang pergi London setiap hari pun udah gak masalah lagiπππ
Tbc