
Aarash keluar dari kamar, setelah Laura terlelap dalam tidurnya. Dia hendak mencari Ayahnya, untuk bertanya bagaimana cara menghadapi wanita.
Dia mengetuk pintu ruang kerja Ayahnya, lalu dia masuk, setelah dipersilahkan masuk oleh Bimo Ayahnya.
"Hai, Ayah. " Aarash menyapa Ayahnya,sambil menutup pintu ruang kerja Ayahnya kembali.
Bimo menoleh sekilas ke arah Aarash,lalu kembali menatap layar monitor komputer di depannya.
"Eh, kamu Rash! Gimana istrimu? Kok kamu tinggal?"
"Dia lagi tidur Yah " Aarash mendaratkan tubuhnya,duduk di kursi depan meja kerja Ayahnya.
"Oh, Ada apa kamu cari Ayah?"
"Emmm, Yah Aarash mau nanya nih! Gimana cara Ayah ngadepin Bunda tiap hari? "
"Kok tumben nanyain begitu?.Emang kamu udah mulai kewalahan sama istrimu? " tanya Bimo,tersenyum simpul.
"Hmm, begitu deh Yah!."sahut Aarsah sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Cara mengatasi wanita itu susah Rash. Kamu lihat buku tebal itu? kamu butuh membaca buku setebal itu dulu untuk mengetahui cara pertama mengatasi wanita. Cara kedua setebal itu lagi, cara ketiga,ke empat dan seterusnya,bukunya sama tebalnya.Kamu mengertikan maksud Ayah? "
"Maksud Ayah, untuk mengahadapi wanita itu sama aja dengan kata mustahil?"
"Nah,tuh kamu tahu. Bayangkan aja, kalau mereka ngomel dan kita diam, mereka akan lebih marah,katanya gak dihargai.Kalau kita jawab, beuhh, lebih parah lagi ngomelnya.Pokoknya serba salah deh."Tutur Bimo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aarash tertawa kecil melihat eksperisi ayahnya.
__ADS_1
"kalau mau mengahadapi wanita,kamu bayangkan aja, kalau kamu lagi menguras air laut di pantai Ancol. Kamu gak tau kapan bisa selesainya kan?. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, Kalau wanita itu marahnya paling 10 sampai 15 menit ,23 jam 50 menit berikutnya itu,namanya ngambek aja. Kamu peluk dia, kamu minta maaf walaupun kamu, gak tak salah kamu apa, setelah itu ucapkan kata-kata manis, pasti mereka meleleh. Dan ingat sekesal-kesalnya kamu atau semarah-marahnya kamu, Jangan sampai kamu memukul wanita.
*******
Sementara itu, Aariz mengurung dirinya di kamar. Kedua matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya.Perasaannya kini sangat kacau.Entah kenapa dia merindukan celotehan centil Vina. Gadis yang selama ini dia abaikan dan sering dia buat menangis dengan kata-kata kasarnya.
Karena rasa rindunya untuk Vina, dia tidak semangat dan tidak konsentrasi dalam melakukan kegiatan apa pun.Semua yang dia lakukan hasilnya semua sangat kacau.
Suara ketukan dari pintu, membuyarkan Aariz dari lamunannya.Dia beranjak turun dari kasurnya untuk membukakan pintu. Dia melihat ada Lea adik perempuan satu-satunya sedang berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Aarash dengan nada malas.
"Bunda nyuruh turun Ka. Kita makan siang sama-sama" sahut Azalea.
"Kak Aariz kenapa? Ka Aariz lagi cemburu ya sama Ka Aarash dan Ka Ayu? eh, Ka Laura?"Lea menyipitkan kedua matanya melihat wajah kakaknya yang kusut.
Di meja makan,Aariz yang biasanya banyak bicara,kini dia lebih banyak diam.Sehingga semua orang yang ada disana saling tatap, bingung dengan perubahan Aariz yang drastis.
Setelah selesai makan Tiara mengajak anak-anak dan menantunya untuk berkumpul di ruang keluarga.Aariz sebenarnya sangat malas. Akan tetapi dia tidak bisa membantah permintaan Bundannya.
"Riz kamu kenapa sih nak? kok tumben diam aj?" tanya Tiara setelah mereka semua mendaratkan tubuh mereka duduk di sofa.
"Aariz gak pa-pa, Bun. Aariz cuma cape aja ." sahut Aariz sambil menyunggingkan senyum tipisnya.
"Oh, benar gara-gara itu? bukan gara-gara yang lain kan?" Tiara memicingkan matanya penuh selidik ke arah Aariz.Tiara takut, perubahan Aariz karena Laura. Perempuan yang dia suka dari dulu, sudah jadi istri saudara kembarnya Aarash.
"Bukan, Bun. Aariz memang karena kecapean aja ".
__ADS_1
"Oh, ya udah, Bunda percaya sama kamu ".ucap Tiara. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke arah Laura yang duduk di sebelah Aarash.
"Laura, untuk sementara ini kamu tidak usah menampakkan dirimu dulu ya sayang ke keluarga Hartono.Biarkan dulu mereka berpikir kalau kamu belum tahu siapa dirimu sebenarnya, sebelum musibah yang menipa orang tua mu terkuak"
"Iya, Bunda" sahut Laura menganggukkan kepalanya.
"Rash, apakah udah ada kabar dari orang suruhanmu,yang sudah bisa menemukan jejak Cindy?" tanya Bimo.
"Belum, Yah! "ucap Aarash dengan rahang mengeras. Geram bila mengingat hal yang dilakukan Cindy padanya.
"Untuk saat ini, perusahaan Hartono sudah mulai oleng.Banyak perusahaan yang membatalkan kerja sama dengan perusahaan Hartono. Dan itu Kerjaan Ayah,Om Seno serta Om Dimas.Dengan demikian rencana Ayah untuk meng-akuisisi perusahaan itu akan lebih gampang terealisasi. Tapi, kamu tenang aja Ya Laura, setelah semuanya jelas, Ayah akan mengembalikan semua ke kamu.Karena kamu lah pewaris sah dari perusahaan Hartono " tutur Bimo menatap menantunya yang masih menundukkan wajahnya.
Laura mendongkakkan wajahnya, memberanikan diri menatap Ayah mertuanya Bimo. " Sebenarnya, aku tidak terlalu perduli dengan pewaris perusahaan itu Yah. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya menimpa orangtuaku. Dan yang terpenting sekarang bagaimana ingatanku bisa kembali " ucap Laura yang tangannya kini digenggam erat oleh Aarash.
"Ayah tahu bagaimana perasaanmu. Tapi, apa kamu rela, perusahaan yang di rintis oleh keluarga Hartono dari awal, jatuh ke tangan yang salah?"
"Maksudnya,Yah? kenapa Ayah bilang perusahaan itu jatuh ke tangan yang salah?.Bukannya Om Deni itu, adiknya papah?" tanya Laura dengan kening yang berkerut.
Bimo menghela nafasnya, dia mengerti akan kebingungan yang dirasakan oleh Laura.
"Sebenarnya Deny itu, Adik angkat Papahmu.Dia ditemukan dijalanan dan dirawat oleh kakekmu.Dia akhirnya diangkat anak oleh Kakekmu.Awalnya Deny itu baik,tapi dia tiba-tiba berubah setelah menikah dengan tantemu Sherly. Sherly itu awalnya menginginkan Papahmu jadi suaminya.Tapi, Papahmu sangat mencintai Mamahmu.Sherly akhirnya dengan terpaksa mau menikah dengan Deni Om mu." Bimo menjelaskan dengan detail,hingga membuat kedua netra Laura terbeliak kaget mendengar kenyataan yang baru saja dituturkan oleh Ayah mertuanya.
"Makanya Ayah,Om Seno dan Om Dimas curiga,kalau musibah yang menimpa kalian itu ada kaitannya dengan Deny dan Sherly.Dan sekarang kami masih mengumpulkan bukti-bukti yang kuat untuk membuat mereka mengakuinya.Jadi kamu yang sabar ya! " Bimo melanjutkan ucapannya.
"Baik Ayah!" sahut Laura. Dia begitu bersyukur bisa ada di dalan keluarga yang baik.
"Huft, Ka Galang cakep banget sih!" celetuk Lea tiba-tiba sambil melihat sebuah photo di ponselnya.Hingga membuat semua mata menoleh ke arahnya
__ADS_1
"Siapa Galang? Kamu udah mulai pacaran ya? Kalau mau pacaran kenalin sama Kakak dulu! " Aariz merampas ponsel Lea dari tangan adiknya itu. Dan matanya langsung membulat dengan sempurna dengan nafas yang memburu, begitu melihat photo Vina yang sedang di rangkul mesra oleh seorang laki-laki.