YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
persalinan penuh drama


__ADS_3

Tiara dan Amira dibawa masuk ke dalam ruangan yang berbeda,tapi bersebelahan.Tiara yang sudah bepengalaman, hanya merintih dan menangis.Dia meremas kuat lengan Bimo ketika rasa sakit itu semakin menjadi-jadi.Rasa sakit yang dia rasakan seakan mematahkan tulangnya satu persatu,ketika bayi Tiara mencoba mencari jalan lahirnya. Air mata yang dikeluarkan oleh Tiara,menyadarkan Bimo,betapa istrinya sekarang sedang sangat kesakitan.


"Bim,sakit," rintih Tiara dengan berurai air mata.


"Iya ,sayang,sabar ya!" bisik Bimo di telinga istrinya.


"Dok, apakah masih lama? kok istri saya dibiarkan saja kesakitan dok? tolongin istri saya!" Bimo menaikan intonasi suaranya ke arah dokter,yang sedari tadi sudah berusaha untuk sabar menghadapi sikap Bimo yang berlebihan plus menyebalkan.


"Sabar pak Bimo,ini masih pembukaan 6,tunggu sampai pembukaannya sempurna, baru bayinya bisa dikeluarkan." jelas dokter,sabar dan lembut.


"Apa?! pembukaan 6? emang tidak ada lagi cara lain untuk mempercepat pembukaannya?"


"Caranya, kamu cukup diam saja!' celetuk Tiara kesal,melihat Bimo yang dari tadi , terlihat mengintimidasi dokter.


Bimo tidak bergeming,tidak bisa berkata-kata, mendengar Tiara yang berucap dengan nada tinggi.


Tiara meraup oksigen disekitarnya dengan dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali dengan sekali hentakan.Tiara melakukan aktifitas itu berkali-kali, dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari kedua matanya.


Bimo berdiri dengan kaki gemetar, tidak kuat melihat istrinya yang kesakitan.Lengannya kini sudah memerah,karena remasan kuat dari tangan istrinya Tiara. Bahkan lengannya juga sedikit tergores akibat kuku Tiara yang tanpa sengata merobek kulit Bimo. Akan tetapi, Bimo tidak memperdulikan rasa perih di lengannya, karena rasa sakit yang dia rasakan, tidak sebanding dengan rasa sakit yang Tiara rasakan kini.


Seketika hati Bimo terasa sakit dan sesak. Detakan jantungnya serasa melambat.bAir matanya seketika merembes keluar, membayangkan perjuangan Tiara sewaktu melahirkan kedua putranya dulu, tanpa dampingan dan dukungan seorang suami.


Sementara itu di ruangan lain,dimana Amira juga yang tengah berjuang untuk melahirkan ketiga anaknya, sangat berbeda situasinya dengan ruangan Tiara.


Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu, bukannya kasihan melihat Amira, justru mereka merasa iba melihat Seno,yang kini penampilannya sudah sangat kacau. Amira dari tadi berteriak histeris,meremas tangan Seno dengan kuat, menjambak rambutnya dan menarik-narik kemeja yang dipakai oleh Seno.


Rambut Seno kini sudah terlihat acak-acakan, Lengannya sudah penuh luka cakaran Amira, dan bahkan kancing kemeja Seno juga sudah tanggal beberapa.


"Sabar Bu, tahan sebentar lagi ya! justru sakitnya ini yang dicari.Kalau sakit berarti bayinya aktif, dan tidak sabar untuk bertemu papah-mamanya. Kalau tidak sakit sama sekali, justru lebih berbahaya Bu!" tutur dokter yang menangani Amira dengan lembut dan sabar. Walaupun,dari tadi dokter itu,berkali-kali menutup telinganya karena teriakan Amira yang sangat memekakkan telinga.


"Iya yang, sabar ya! dengar tuh kata dokter!" ucap Seno.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak tahu bagaimana rasa sakitnya,mending kamu diam!" cetus Amira sambil menahan sakit.


Seno mendesah dengan berat.Diam adalah pilihan terbaik untuk saat ini.


"Nak, jangan buat mamah kesakitan terus ya! cepat lah keluar.Papah sama mamah sudah tidak sabar untuk melihat kalian." Seno mengelus perut Amira dengan lembut.Elusan tangan Seno,mendapat respon cepat dari ketiga anaknya. Seketika Amira berteriak kencang lagi, karena sundulan kepala anaknya di bawah perut Amira,berusaha keluar seakan mengerti ucapan Seno.


"Suneooo! tolong kamu jangan bicara lagi! Lihat karena ucapanmu,mereka jadi makin menjadi-jadi mau keluar!" Amira menghunuskan sorot mata yang tajam ke arah Seno di sela-sela rasa sakit yang dia rasakan.


"Bukannya emang itu yang di inginkan ya? anak-anak cepat keluar?" Seno membatin,frustasi dan serba salah.


"Seno, kenapa kamu diam saja?!Kamu gak lihat aku lagi kesakitan?" teriak Amira kesal melihat Seno yang diam saja,sedangkan dia sudah menjerit-jerit kesakitan.


"Astaga, tadi disuruh diam,giliran udah diam, dimarahin. serba salah! " Seno mengerutu kesal, tapi dia hanya berani menggerutu di dalam hati saja.


Tadi Seno sudah mewarkan untuk dioperasi cesar saja,tapi Amira menolak dengan alasan ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan normal.Seno tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantah permintaan Amira.


"Sayang,kalau sakit,coba kamu bayangkan,waktu proses pembuatannya! pasti sakit nya sedikit berkurang." celetuk Seno.


Mendengar perkataan Seno,dokter tersenyum berusaha menahan rasa ingin tertawanya.sedangkan dua orang perawat di ruangan itu,cekikikan tidak sanggup untuk menahan tawa.


Dengan alasan untuk minum sebentar, Seno keluar dari ruangan bersalin Amira.Ketika dia membuka pintu, kebetulan Bimo juga keluar dari ruangan Tiara.Sejenak mereka beradu pandang dan setelah itu tertawa terbahak-bahak melihat penampilan mereka berdua.Khususnya penampilan Seno.


Mereka berdua duduk di kursi besi,di depan ruangan istri masing-masing.Sebenarnya walaupun mereka tertawa,tapi rasa panik dan khawatir akan istri dan anak mereka tetap tinggi.


suara benturan sepatu yang dipakai,terdengar menggema di lorong rumah sakit.Orangtua Bimo,si kembar dan orangtua Amira, terlihat berjalan dengan terburu-buru menuju tempat dimana Bimo dan Seno berada.


"Kalian berdua kok ada di luar? bagaimana keadaan Tiara dan Amira? " tanya Ibu Sarah dengan kening yang berkerut,heran melihat kedua anaknya,bukannya di dalam menemani istri masing-masing, justru di luar bergosip.


"Masih menunggu pembukaannya sempurna Mah. Kami baru aja keluar, istirahat sejenak." ucap Bimo.


"Tidak ada! enak aja kalian berdua bisa istirahat, sedangkan istri kalian tidak bisa mengistirahatkan rasa sakit yang mereka rasakan barang sedetik pun." murka Ibu Sarah.

__ADS_1


Ucapan Ibu Sarah seakan jadi cambukan buat Bimo dan Seno.Mereka merasa bahwa,ucapan mamah mereka itu benar.Mereka berdua saling pandang, menghembuskan nafas dengan kuat dan berdiri dari kursi besi itu.


Sebelum mereka mengayunkan langkah mereka untuk masuk kedalam ruangan,tiba-tiba pintu terbuka,dan kepala dokter nongol untuk memanggil suami dari Tiara,begitu pun dengan Seno.


"Pak Bimo, pembukaannya sudah sempurna,bayi anda siap untuk dilahirkan.Tolong masuk dan berikan dukungan buat istrinya! ujar dokter itu kearah Bimo.Demikian juga Seno mendapat ucapan yang sama dari dokter yang menangani Amira.


"Welcome to my paradise!" teriak Bimo.


"Let's rock and roll! teriak Seno tidak mau kalah.


"Semangat!!!" Teriak keduanya,dengan tangan terkepal, diayunkan keudara.Lalu beranjak melangkah masuk keruangan tempat istri masing-masing berada.


Tiara mengejan berkali-kali dengan peluh yang sudah banjir di keningnya.


"Ayo Bu,sedikit lagi ... kepalanya sudah terlihat.Jangan lama-lama Bu,kasihan bayinya."


"Ayo sayang,yang semangat.Kamu pasti bisa.I Love You!" ucap Bimo menggenggam erat tangan Tiara dan mengecup puncak kepala Tiara.


Ucapan Bimo seakan menjadi kekuatan baru buat Tiara.Dengan mengerahkan semua tenaganya akhirnya putri mereka lahir dengan selamat,tidak kurang satu apapun. Kedua netra Bimo,berkaca-kaca melihat bayi munggil dan cantik yang dibawa perawat itu untuk dibersihkan.


Hal serupa terjadi di ruangan Amira.Bahkan lebih dramatis karena, Amira harus melahirkan 3 bayi sekaligus.Bayi pertama berjenis kelamin laki-laki, lahir dengan selamat,begitu juga dengan bayi yang kedua dan ketiga yang berjenis kelamin perempuan.


Bayi-bayi itu dibawa para perawat untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada orang tuanya.


Setelah Ari-arinya dikeluarkan dari rahim Tiara, kini saatnya dokter untuk menjahit,jalan lahir yang robek sedikit.


"Dok,jangan dijahit semua ya! sisain sedikit lobangnya! " celetuk Bimo tiba-tiba.


TBC


Yee akhirnya anak Bimo dan Seno lahir dengan selamat.Kado nya ditunggu ya!

__ADS_1


please like,vote dan komen.Thank you


__ADS_2