YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Keputusan Dimas


__ADS_3

Sudah dua hari Aarash di rawat di rumah sakit, itu berarti sudah 2 hari juga Tiara dan Bimo berada di ruangan yang sama.Sekeras apapun Bimo untuk menghangatkan suasana,tapi belum bisa meruntuhkan pertahanan Tiara.Tiara masih saja terlihat cuek dan ketus.Tiara bersikap manis, hanya ketika Aarash terbangun.Ingin rasanya Bimo berharap Aarash terjaga terus, selagi Bimo dan Tiara juga masih terjaga, dan Aarash tidur ketika Bimo dan Tiara tidur. Agar dia bisa selalu melihat dan merasakan sikap Tiara yang manis. Tapi, itu rasanya terlalu gak mungkin terjadi, dan terlalu jahat jika Bimo berpikiran seperti itu.


Sebenarnya sikap Tiara yang jutek dan dingin itu, bukan karena dia belum bisa memaafkan Bimo.Jauh dilubuk hatinya dia sudah memafkannya.Bagaimanapun, karena perbuatan Bimolah dia bisa memiliki dua anak yang tampan,baik,pintar dan lucu.Sikap dingin yang Tiara tunjukkan hanya untuk menjaga perasaannya agar tidak terluka lagi nanti, Jika seandainya suatu saat Gladys pulang.Tiara takut sikap Bimo yang baik, hanya karena perasaan bersalah saja, dan hanya sekedar rasa tanggung jawab, bukan karena Bimo mencintainya.


Tiara masih merasa kalau Bimo masih mencintai Gladys.Perkataan Bimo pada waktu itu, yang mengatakan kalau dia mencintai cinta pertamanya di SMA, masih terekam jelas di ingatannya.Dan yang Tiara tahu, pacar Bimo waktu SMA adalah Gladys.


****


Siang ini, cuaca sangat panas.Matahari seakan sudah sangat dekat dengan bumi.Di cuaca panas seperti ini,bagi sebagian orang,memilih untuk tetap tinggal di ruangan yang mempunyai pendingin ruangan, lebih baik,daripada harus berpanas-panas di luar ruangan.tapi bagi sebagian orang yang kurang beruntung, mau tidak mau harus mampu menerima takdir, kalau mereka harus bekerja dibawah terik matahari demi sesuap nasi.


Panas terik matahari kali ini tidak membuat seorang Dimas untuk tidak meninggalkan kenyamanan didalam ruangan kantornya.Semalaman dia sudah memikirkan semua perkataan Sinta, dan hari ini dia sudah mengambil keputusan, yang dia berharap tidak akan pernah disesalinya.Dengan mantap Dimas berlalu dari kantornya, menuju rumah sakit dimana Tiara berada. Dimas yakin kalau jam-jam segini, Bimo pasti ada di perusahaannya.Entah kenapa, Dimas masih enggan untuk bertemu dengan Bimo. walaupun, jauh didalam lubuk hatinya, dia tidak pernah membenci Bimo. Dia hanya tidak mau Bimo melihatnya dalam keadaan kacau.


Jam-jam kerja begini, suasana jalan di Jakarta tidak terlalu ramai, sehingga untuk sampai di rumah sakit tempat Aarash dirawat tidak memakan banyak waktu.


ceklek,


Dimas membuka perlahan pintu ruangan Aarash,dia masuk dengan membawa satu keranjang buah ditangannya.Tiara terlihat canggung melihat kedatangan Dimas.


"Hai, Billa pa kabar?, boleh kan aku tetap memanggil kamu Billa?" ujar Dimas tersenyum untuk mencairkan ketegangan Tiara.


"hai kak,Seperti yang kaka lihat,aku baik-baik saja.Hmm, terserah kaka,kaka mau tetap manggil aku Billa,it's ok, itu kan hak kaka!"Tiara membalas senyuman Dimas dengan tulus.

__ADS_1


"Oh ya, bagaimana kabar, Aarash?"


"Udah mendingan ka,kata dokter dua hari lagi sudah bisa dibawa pulang, tapi harus tetap kontrol sekali seminggu selama sebulan.Ka Dimas apa kabar?"


"Kaka baik," Dimas tersenyum.Wa**laupun, tidak penuh" bisik Dimas pada diri sendiri.


Suasana hening kembali tercipta antara Dimas dan Tiara.Dimas bingung untuk memulai dari mana, dan Tiara bingung mau ngomongin apa.


"Bill,bolehkah aku bertanya sekali lagi padamu?" ucap Dimas memecah keheningan yang tercipta.


"Boleh kak".


"Kaka mau tanya,apakah aku benar-benar tidak pernah ada di hatimu Bil?"


"Apakah aku tidak memiliki kesempatan sama sekali, untuk jadi orang yang kamu peluk ketika kamu tidur, dan yang pertama kamu lihat ketika bangun tidur?,dan menjadi teman hidup sampai kita tua nanti? tanya Dimas memastikan.Dimas sedikit berharap semoga ada sebuah keajaiban kali ini, Tiara memberikan dia sebuah kesempatan.


"Maaf ka, untuk itu, jujur aku tidak bisa." ucap Tiara lirih.


Dimas memejamkan kedua netranya singkat dan menghela nafas dengan sedikit keras.Dimas tersenyum dan menatap Tiara.


"Baiklah, aku sudah menemukan jawabannya,sekeras apapun perjuangan dan usahaku untuk mendapatkan hatimu, aku tidak akan pernah bisa mendapatkannya.Kali ini aku datang untuk merelakan dan melupakanmu.Aku berjanji tidak akan menggangu hidupmu lagi Bill. Aku akan mencoba ikhlas untuk melepaskanmu.Aku berharap semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaanmu.Dan satu hal lagi Bil, jangan pernah kamu ragukan cintanya Bimo padamu,maafkan dan terimalah dia, Dia sangat mencintaimu!" tukas Dimas meyakinkan Tiara.

__ADS_1


"Seandainya ucapan kamu benar ka Dim, tapi kamu salah ka Dim, Bimo tidak pernah mencintaiku,dia mencintai cinta pertamanya Gladys." batin Tiara sedih.


"Sekali lagi Tiara minta maaf ka" Tiara merasa bersalah mendengar semua ucapaan Dimas.


"Kamu tidak salah sama sekali, jadi tidak perlu meminta maaf. Justru kaka yang seharusnya minta maaf,karena selama ini kaka terlalu egois yang selalu memaksamu untuk menerima cinta kaka" ujar Dimas tersenyum tipis


"Bill, kaka mau balik ke kantor, tapi Sebelum kaka pergi, bolehkah kaka memelukmu untuk yang terakhir kali Billa?,


"Tapi ka!"


"Kamu tenang aja, anggap saja pelukan ini sebagai pelukan seorang kaka kepada adiknya,bukan pelukan orang yang mencintaimu" Dimas menatap Tiara penuh harap.


Tiara tersenyum dan menganggukkan kepalanya,sebagai tanda kalau dia mengizinkan Dimas untuk memeluknya.


Setelah mendapatkan izin, Dimas meraih tubuh Tiara dan membawanya kedalam pelukannya. Dimas memeluk Tiara dengan sangat erat dan mencium puncak kepala Tiara dengan penuh perasaan.Ingin rasanya dia memeluk Tiara berlama-lama, tapi Dimas khawatir, nanti Tiara akan merasa tidak nyaman dengan perlakuannya.


"Semoga kamu bahagia selalu Billa,saya ikhlas untuk melepasmu" batin Dimas


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang baru saja tiba melihat mereka sedang berpelukan.Si pemilik mata itu berlalu begutu saja dari tempat itu dengan hati yang remuk,tanpa mengetahui apa yang terjadi, sebelum mereka berpelukan. Dengan langkah gontai dan pandangan yang kosong, dia berjalan menyelusuri lorong rumah Sakit. Hatinya terasa sakit bagai di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum.Dadanya terasa sesak, seperti tidak ada udara yang mengisi paru-parunya,mengingat apa yang dilihatnya baru saja. Ingin rasanya dia berteriak, tapi dia menyadari kalau dia berada di rumah sakit.


Tbc

__ADS_1


please like,vote dan komen ya guys.thank you🤗🤗


__ADS_2