
Aariz tiba di rumah hampir bersamaan dengan masuknya mobil yang dikemudikan oleh Bimo.
Dengan cengar-cengir Aariz menunggu keluarganya keluar dari dalam mobil.
"Bun, ada Aariz di depan kita. Ingat pulang juga tuh anak," ucap Bimo. "Nanti, jangan ada yang nyapa dia.Kalian semua harus pura-pura tidak mengenalnya!" sambung Bimo lagi dan dibalas dengan anggukan dari semua yang ada di mobil itu.
"Tunggu dulu, Bun! jangan keluar dulu!" seru Bimo sambil meraih ponselnya dari dalam saku dan terlihat hendak mengirim pesan pada seseorang. " Udah, kita boleh keluar sekarang!" ucap Bimo, sembari membuka pintu mobil dan turun.Hal yang sama juga dilakukan oleg Tiara dan Aarash.
Dengan perlahan Aarash membantu Laura istrinya untuk turun dari dalam mobil.
"Hai, Ayah, Bunda! Kalian darimana?"sapa Aariz tanpa menanggalkan senyuman dari bibirnya. "Jalan-jalan kok gak ngajak Aariz? kalian mah curang!" sambung Aariz lagi dengan raut wajah, seperti terzolimi.
Bimo dan yang lainnya, tidak ada yang menjawab sama sekali. Mereka malah melewati Aariz begitu saja, seperti Aariz itu, makhluk transparan yang tidak terlihat sama sekali.
"Hai, Rash, Laura," Aariz kembali mencoba menyapa, akan tetapi tidak ada respon juga dari kedua orang yang baru saja disapa itu. Dan bahkan Aarash langsung aja membawa Laura masuk ke dalam rumah.
"Ada apa dengan mereka semua? aku masih terlihatkan? Pesawat yang ku tumpangi tidak jatuh kan?" batin Aariz bingung.
Sebuah mobil berwarna silver, terlihat memasuki pekarangan rumah dan Aariz sangat kenal dengan pemilik mobil itu yang tak lain mobil Om Seno. Ya ..., setelah Bimo mengabarkan mereka akan pulang dari Bogor, Seno mengajak Amira istrinya untuk berkunjung ke rumah Bimo.
"Hai, Om, Tante, Aariz memasang senyuman paling manis di bibirnya. Tapi respon Seno sama Amira pun sama seperti ayah dan bundanya serta yang lainnya.
Keringat dinginpun mulai menetes di pelipis Aariz.Dia memegang jantungnya yang berdebar dengan cepat. Dia meraba-raba tubuhnya sendiri dengan raut wajah bingung.
"Apakah hantu masih punya detak jantung? aku belum mati kan?" gumam Aariz.
"Bim, Aariz kapan balik dari London?" tanya Seno.
"Entah! guepun tidak tahu Sen. Anak itu gak pernah kasih kabar apa-apa, semenjak tiba di London. Entah dia masih ingat orang tua atau nggak gue gak tahu," sahut Bimo,sedikit menarik ekor matanya melirik ke arah Aariz untuk melihat ekspresi anaknya itu.
"Bim, tadi aku ada lihat berita, kalau ada pesawat dari London yang hilang kontak, kamu ada lihat gak?" tanya Seno, yang membuat Aariz semakin berkeringat dingin dan bahkan hampir menangis.
"Astaga, ternyata gue benar-benar sudah mati. Miris sekali hidup gue,belum menikah tapi sudah mati. Belum juga merasakan yang enak, udah metong gue." gumam Aariz yang membuat Bimo tersedak, karena menahan tawa.
"Tapi, tunggu dulu!" Kalau aku sudah mati, berarti Vina pun ikutan mati juga kan? Gak pa-pa lah aku mati, yang penting masih bisa menikah dengan Vina di dunia lain ini!" gumam Aariz lagi dengan wajah pasrah.
Mendengar ucapan Aariz, Tiara yang gak kuat lagi, seketika mengayunkan tangannya memukul kepala Aariz.
"Yang kamu pikirkan cuma Vina aja ya? Kamu gak mikirkan keluargamu yang sedih kalau kamu benaran mati? dasar anak tidak ada akhlak kamu!" Umpat Tiara sembari menghunuskan matanya ke arah Aariz yang terbengong.
__ADS_1
"Jadi aku belum mati ya? aku masih hidup ya Bun?" raut wajah Aariz terlihat bahagia.
"Kalian semua ngerjain aku ya?" Aariz merasa sangat kesal.
Semua mendengus ke arah Aariz dan berlalu meninggalkan Aaris di luar. " Hei, aku kok jadi ditinggal?" Aariz berlari menyusul masuk ke dalam.
Aarash terlihat turun dari atas tanpa Laura, karena Laura harus benar-benar istirahat sekarang.
"Rash mana Laura? " tanya Aariz.
"Dia dikamar. " sahut Aarash. " Aku ke dapur dulu ya! aku mau ambil makan malam buat Laura." sambungnya kembali seraya mengayunkan langkahnya menuju dapur.
"Memangnya kenapa dengan Laura? apa dia sedang sakit, makanya harus makan di kamar?" tanya Aariz, yang belum tahu apa yang telah terjadi.
"Hmm, nanti saja aku jelaskan! aku tidak ada waktu sekarang!" jawab Aarash sembari melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.
"Riz, kamu duduk di sini! biar kami saja yang jelasin ke kamu." Tiara menepuk-nepuk sofa di sampingnya, dan Aariz pun menurut, duduk di samping bundanya itu.
Tiara pun menceritakan semua dari awal sampai Laura kehilangan salah satu janinnya. Aariz begitu marah, mendengar semua cerita bundanya, dan diapun meminta maaf karena tidak ada, ketika Bundanya dan Laura ada dalam bahaya.
*****
Dewa, berjalan menyusuri koridor kampus baru nya di Indonesia.Ya ..., setelah di pulangkan dari London, Dewa kini harus menyelesaikan S2 nya di sebuah kampus di Indonesia. Sebenarnya Papahnya Reno, sudah menawarkan dia kuliah di negara lain, tapi Dewa menolak dengan alasan, kampus di Indonesia juga tidak kalah bagus dari kampus di luar
Dari arah yang berlawanan terlihat seorang gadis, berlari terburu-buru ke arah Dewa. Karena terlalu terburu-buru, gadis itu menubruk Dewa sehingga, dia terjatuh.
"Makanya kalau jalan itu hati-hati." nada Dewa terdengar dingin. Tapi walaupun seperti itu Dewa tetap mengulurkan tangannya untuk menolong gadis itu.
Gadis itu berdiri tanpa menyambut uluran tangan Dewa. "Jalan itu pake kaki, bukan pake mata, gimana sih?" ujar gadis itu ketus. "Lagian aku berlari bukan berjalan!" sambungnya lagi sembari menepuk-nepuk debu yang menempel pada bokongnya.
"Eh, Kok kamu nyolot? harusnya kamu minta maaf, bukannya marah-marah begini!" Dewa mulai terpancing.
"Justru kamu yang harus minta maaf, yang jatuh kan aku, bukan kamu! Lagian itu badan, kayu atau batu sih? keras amat! " gadis itu tidak mau kalah.
Dewa menghembuskan nafasnya dengan keras. " Terserah deh! gak ada gunanya juga ngadepin bocah!" gerutu Dewa sambil berlalu meninggalkan gadis itu.
Belum terlalu jauh melangkah, sebuah sepatu, mendarat dengan santainya ke atas kepalanya. Dewa yang merasa sakit di kepalanya sontak melihat ke belakang dengan mata yang tajam. Dia melihat gadis tadi berlari sambil menjulurkan lidahnya.
Dewa meraih sepatu itu dan mengejar si gadis. Tapi si gadis itu terlihat sangat pintar bersembunyi. Dewa mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan gadis menyebalkan itu.
__ADS_1
Dia melihat seorang gadis berjalan dengan buku yang didekap di dadanya.
"Hei, berhenti! kamu udah nimpuk kepalaku, mau kabur lagi!" bentak Dewa kesal.
"Hei, kamu ngomongin apa sih? yang nimpuk kamu siapa?" tanya gadis itu sembari mengrenyitkan keningnya.
"Kamu jangan pura-pura lupa deh! gak mempan! ini, kamu nimpuk aku pakai ini" Dewa mengacungkan sebuah sepatu di tanganya.
Gadis itu menatap sepatu yang dipegang oleh Dewa. Dia langsung menghela nafasnya dengan sekali hentakan, karena dia sangat mengenal si empunya sepatu. Dia menggerakan ekor matanya dan melihat si empunya sepatu sedang mengintip dari balik mobil.
"Ka, Kaka salah orang.Kalau itu sepatuku, bagaimana bisa aku masih memakai sepatu sekarang?" ucap gadis itu menatap Dewa yang sekarang terlihat kebingungan.
"Maaf ka, aku pergi dulu! " gadis itu melangkah, tapi tidak lupa menyambar sepatu yang ada di tangan Dewa.
"Hei, kamu bilang itu bukan sepatumu, tapi kenapa kamu mengambilnya?" teriak Dewa.
"Hmm, aku kenal pemilik sepatu ini, dan aku mau mengembalikannya."sahut gadis itu, sedikit berlari meninggalkan Dewa.
"Nih sepatu lo! lo ya, kalau Ka Rendra tahu, bisa kena omelan lo!"
"Hehehe! makanya jangan di kasih tahu donk" balas gadis penimpuk kepala Dewa sembari memasangkan kembali sepatunya.
Gadis yang membawa buku di tangannya, memutar badannya, hendak meninggalkan saudara kembarnya.
"Shakira, tunggu! Kok lo ninggalin gue?"
Gadis yang dipanggil Shakira itu berbalik dengan wajah yang cemberut. " Buruan, Shakila! ntar dosennya keburu masuk," sahut Shakira.
Ya, mereka berdua tidak lain putri kembar dari Seno dan Amira.
Tbc
Jangan lupa ritualnya ya gais.Please like , vote dan komen.
Supassara Thanachart as Shakira dan Shakila
__ADS_1
Print Suparat as Dewa