
Aarash berdiri dengan gagahnya, tubuhnya terbalut dengat tuxedo berwarna gold yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.Jantungnya kini berdetak dengan kencang.Deg-deg -deg an menanti kemunculan gadis pujaannya,yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Di iringi dengan musik instrumen A thousand years dari Christina Perri,seorang gadis cantik yang berbalut dengan gaun berwarna senada dengan tuxedo Aarash,melangkah dengan anggun menuju tempat dimana Aarash berdiri menyambutnya dengan mata yang berkaca-kaca dengan seulas senyuman yang tersungging di bibirnya.
Begitu gadis pujaannya mendekat,dia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan wanita cantik yang juga sudah terulur padanya.
Ya .... hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Aarash.Dimana dia bisa mempersunting gadis pujaannya dalam sebuah ikatan pernikahan.Dan kini mereka tengah berada di sebuah pantai yang indah, tempat mereka mengadakan resepsi.Mereka berdua lebih memilih untuk melakukan outdoor party karena sang pengantin wanita sangat menyukai alam.
bugh .... suara benda jatuh terdengar.
"Aww! sakit banget sih" Aaras terlihat meringis kesakitan sambil memegang pinggangnya.Sepertinya Aarash terjatuh sangat keras dari atas kasur.
"Hahahaha, sepertinya seseorang sedang mimpi indah.Karena terlalu indah sampai jatuh dari kasur" ledek Aariz,tertawa lebar sambil memegang perutnya,sampai-sampai matanya juga ikut berair.
"Emangnya siapa yang mimpi?! "cetus Aarash dengan delikan tajam yang terhunus ke arah Aariz.
"Oh,I love you istriku, Laura cantika Hartono. Cih, lagaknya aja gak suka sama Laura.Eh,ternyata ... ck.. lain di mulut, lain di hati.Ternyata kamu suka juga ya sama Laura?sampai-sampai terbawa dalam mimpi segala." sambil mengerucutkan bibirnya dengan ekor mata yang melirik sinis kearah Aarash.
"Hei, kamu jangan sembarangan bicara ya! aku tidak mungkin memimpikan anak yang menyebalkan itu.Yang kemana-mana selalu ngintilin aku." Aarash meninggikan nada suaranya,tidak senang dengan ledekan Aariz.
"Hei,aku gak lagi sembarangan bicara ya! kamu tadi ngigau nyebut nama Laura.Kalau tidak percaya nih buktinya!" sambil menunjukkan video Aarash yang diambilnya, ketika Aarash sedang mengigau menyebut nama Laura.
Mata Aarash membulat dengan sempurna,melihat bukti video yang direkam oleh Aariz.Spontan Aarash merampas ponsel itu,tapi sayangnya, Aarash kalah cepat dari Aariz,yang langsung bergerak cepat menjauhkan ponselnya dari jangkauan tangan Aarash.
"Aariz! sini-in ponsel kamu! hapus gak videonya! " mencoba menangkap Aariz,untuk mengambil ponselnya.
"weee, ogaaah ...., aku mau nunjukin sama Laura,kalau kakak ku yang sok cool ini ternyata munafik" Aariz menjulurkan lidahnya kearah Aarash yang berdiri disebrang kasur tempat dia berdiri.
"Ok, kalau kamu gak mau hapus, aku akan kasih tau bunda sama ayah,kalau kamu pernah pura-pura sakit,agar tidak masuk sekolah,padahal karena kamu gak ngerjain PR" ancam Aarash mengeluarkan jurus terakhirnya, dengan sudut bibir yang sedikit terangkat ke atas.Meyeringai sinis kearah Aariz, yang memang langsung diam tak bekutik.
Aarish berdecih kesal,karena lagi-lagi dia harus kalah dengan ancaman Aariz.
"Ya udah,nih aku hapus...puas?!" Aariz mendelik ke arah Aarash,yang terlihat sedang tersenyum kemenangan.
"Kamu ya, selalu aja ancamannya itu-itu aja! kamu ga asik ah! "melengos meninggalkan Aarash dan masuk ke kamar mandi.
15 menit kemudian Aariz keluar dari kamar mandi,dan kini gantian Aarash yang masuk.Aariz bersiap-siap,memakai seragam sekolah,merapikan rambut dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sekolah,lalu dia beranjak keluar dari kamar,menuju meja makan.
"Pagi bun,ayah" sapa Aariz kurang bersemangat,begitu melihat Bimo dan Tiara sudah ada di meja makan untuk sarapan.
__ADS_1
"Sepertinya anak ayah, kurang bersemangat pagi ini.Ada masalah ya?" Bimo mengrenyitkan alisnya,heran melihat Aariz yang tidak seperti biasanya.
"Aariz gak pa-pa yah," dengan raut muka masih cemberut.
"Selamat pagi semua! "Aarash muncul dengan raut muka yang tidak jauh beda dengan Aariz.
"Hemm, kayanya mereka lagi ada masalah" batin Tiara.
"Kalian berdua kenapa? kalian lagi berantem ya?" sambil mengoles roti dengan selai lalu meletakkannya di hadapan kedua putranya.
"Kami gak pa-pa bunda. Iya kan Riz? menoleh ke arah Aariz sambil menginjak kakinya.
"I-iya bunda kami gak lagi berantem kok" Aariz sedikit meringis karena injakan Aarash di kakinya.
Tiara memicingkan matanya,merasa tidak puas atas jawaban kedua putranya.Naluri ibu nya yakin kalau kedua putranya ini,sedang tidak baik-baik saja.
"Sepertinya anak-anak bunda udah mulai berbohong.Bunda yang melahirkan dan membesarkan kalian berdua.Jadi bunda bisa tahu kalau kalian pasti sedang marahan.Bunda benar kan?" ucap Tiara penuh selidik tapi masih dengan intonasi suara yang lembut.
"Beneran bunda, kami tidak apa-apa"bantah keduanya hampir bersamaan.
"Ya,udah deh, bunda percaya."
"Oh ya,Rash, kemarin bunda melihat ada anak perempuan yang sangat imut dan manis,kayanya tuh anak suka sama Aarash ya?"
"Itu namanya Laura bunda.Dia cantik kan bun?" bukan Aarash yang menjawab, justru Aariz yang terlihat sangat antusias menjawab.
"Aariz kayanya suka ya sama Laura?" Bimo mengerlingkan matanya untuk menggoda Aariz.
"Iya sih yah, tapi si Laura itu gak suka sama Aariz.Dia justru suka sama Aarash.Padahal Aarash selalu mengusir Laura,kalau mau dekat-dekat sama Aarash!" cebik Aariz kesal.
"Emang kenapa Aarash gak suka sama Laura? padalah Laura itu kan imut"
"Imut apa-an bunda? justru dia itu sangat menyebalkan!.Dia itu kemana-mana selalu ngintilin Aarash.Dan yang parahnya dia itu selalu galak sama anak-anak perempuan yang deketin Aarash" cetus Aarash dengan raut muka tidak senang.
"Idihh! sok bilang menyebalkan.Padahal dimimpi-in juga. sampai bilang Laura i love you." cerocos Aariz tanpa sadar sambil memonyongkan mulutnya.
Aariz spontan menutup mulutnya, ketika dia melihat Aarash menghunuskan pandangannya dengan sorot mata yang sangat tajam.
Bimo dan Tiara saling pandang,tersenyum lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.Mereka tidak menyangka anak seusia Aarash dan Aariz yang bahkan belum genap 8 tahun, sudah mulai menyukai lawan jenis.
__ADS_1
******
Setelah selesai sarapan, kini Bimo bersiap berangkat untuk pergi ke kantor.Tapi,dia harus mengantar kedua putranya ke sekolah terlebih dahulu.
Tiara seperti biasa menghantar ketiga pria beda generasi, kesayangannya ke depan, lalu menyalami dan mencium punggung tangan Bimo.Disusul kedua anaknya yang melakukan hal yang sama ke Tiara bunda mereka.
"Sayang, ayah kerja dulu ya! jangan nakal sama bunda" Bimo mengelus perut buncit Tiara dan menciumnya,dan tidak lupa untuk mengecup kening Tiara- istrinya.Lalu mengayunkan langkah menyusul kedua putranya yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Aarash terlihat diam saja.Dia masih merasa heran dan bertanya-tanya,kenapa dia bisa bermimpi menikah dengan perempuan yang selalu dia anggap pengacau selama ini.
"Apakah aku akan setampan itu kalau sudah dewasa? dan apakah Laura akan secantik itu juga nantinya? " batin Aarash.
*****
Aarash dan Aariz turun dari mobil dan melambaikan tangan kearah ayah mereka-Bimo yang langsung berlalu dari tempat itu.
Dari jauh terlihat Laura, perempuan yang jadi bahan pembicaraan mereka pagi ini,sedang tersenyum sumringah untuk memyambut Aarash sang pangeran berkudanya.
Entah kenapa Aarash terlihat kikuk, melihat Laura,karena mengingat mimpinya tadi malam.
"Pagi Aarash" sapa Laura tanpa pernah meninggalkan senyuman dari bibirnya.
"Pagi" Aarash melangkah dengan cepat untuk menghindari Laura.
Aariz terlihat cemberut,ketika senyumannya tidak mendapat balasan dari Laura.Dia hanya bisa menatap punggung Laura yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Aarash,sambil berusaha mengajak Aarash untuk berbicara.
Jam pelajaran telah usai,seperti biasa Laura tidak pernah putus asa untuk mendekati Aarash.Di depan pintu kelas,Laura terlihat masih setia menunggu Aarash untuk keluar dari ruangan kelas.
"Rash! boleh Aura ngomong sebentar? sebentar aja please!" mohon Laura dengan wajah yang memelas.
"Ya udah ada apa? sahut Aarash tanpa menatap Laura.
"Aura cuma mau ngasih ini ke Aarash sebagai kenang-kenangan.Karena Aura mulai besok akan pindah ke Singapura.Aura harap Aarash mau menerima ini dan menyimpannya baik-baik.Mudah-mudahan kalau kita sudah dewasa, kita bisa ketemu lagi" ujar Laura sambil meletakkan sebuah gantungan kunci ber-inisial A dan L ke telapak tangan Aarash.
"Bye ... bye Rash.Selamat tinggal dan sampai jumpa" Laura sedikit berlari sambil melambaikan tangannya ke arah Aarash yang terpaku memandang kepergian Laura.
TBC
Jangan lupa dukungannya.Like,vote dan Komen Thank you🥰🤗
__ADS_1