
"Laura! "teriak Tiara histeris melihat Laura yang sudah tidak sadarkan diri.
Sherly, terbeliak dengan mulut yang ternganga.
"Ja-jadi kalian sudah tahu,kalau dia itu Laura?! tanya Sherly dengan panik.
"Ya! apa kamu kaget? dia adalah keponakan kamu sendiri dan kamu pura-pura tidak mengenalnya. Kamu selamat sekarang, k. Di perjalanan menuju rumah sakit, Tiara tidak lupa menghubungi putranya Aarash dan suaminya Bimo.
******
Aarash terlihat,berlari di sepanjang selasar rumah sakit dengan wajah yang sangat panik.
Dia melihat Tiara bundanya ada di depan sebuah ruangan,sambil berjalan mondar-mandir.
"Apa yang terjadi, Bun? Kenapa Laura bisa pingsan? dan bagaimana kedaannya sekarang? Dia baik-baik saja kan?" Aarash memberondong Bundanya,dengan pertanyaan yang beruntun tanpa memberikan waktu buat Bundanya untuk menjawab.
"Nanya nya satu-satu dulu, Nak! Bunda belum tahu gimana keadaan Laura sekarang. Soalnya dia masih diperiksa oleh Dokter di dalam." sahut Tiara berusaha untuk tenang. Di saat yang bersamaan Bimo muncul bersama Seno yang kebetulan memang lagi makan siang bersama di restoran Dimas.
"Tapi kenapa ini bisa terjadi, Bun? "
Tiara menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya kembali. Setelah itu, diapun menceritakan apa yang sudah terjadi.
Aarash mengepalkan kedua tangannya sambil menggertakkan giginya karena sangat geram dan marah. " Aku harus buat perhitungan dengan wanita ular itu! " Aarash memutar badannya hendak berlalu dari tempat itu. Akan tetapi tangannya langsung dicekal oleh Tiara.
"Tunggu dulu Rash! Kita akan buat perhitungan nanti. Yang penting sekarang kita harus tahu keadaan Laura sekarang. Kamu harus ada di sampingnya di saat dia sadar nanti".
"Sepertinya kita harus bertindak Sen! Sherly sudah sangat keterlaluan "raut wajah Bimo kini terlihat memerah, dan manik matanya berkilat-kilat karena amarah kini sudah mengambil alih dirinya.
"Kamu sabar Bim! Bukti-bukti yang kita kumpulkan memang sudah sangat kuat, tapi kita tidak boleh gegabah untuk mengahadapi mereka " Seno menimpali ucapan Bimo seraya menepuk-nepuk pundak Bimo.
"Keluarga Nona Laura? " suara panggilan seorang perawat, dari ruang pemeriksaan Laura langsung menghentikan pembicaraan 4 manusia yang sedang menunggu di luar.
"Iya, Sus? " Aarash langsung menghampiri perawat itu, dengan air muka yang tidak sabar.
__ADS_1
"Nona Laura sudah sadar. Silahkan kalian masuk untuk melihatnya! "
Aarash langsung menerobos masuk dan melihat Laura,yang kini sudah duduk menyender dengan wajah yang pucat.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? mana yang sakit? " Aarash menyentuh kepala dan membolak-balikkan tubuh istrinya. Laura yang merasa kesakitan langsung menepis kasar tangan Aarash.
"Kamu siapa? enak aja manggil aku sayang! Aku sudah punya calon suami masa depan tahu! " Laura menghunuskan tatapan tajam ke arah Aarash. Sehingga membuat kedua netra Aarash,membulat dengan sempurna.
"Kamu apa-apa an sih ,Sayang? Kamu sudah memiliki suami, bukan calon suami lagi. Lihat! aku ini suami mu. " Aarash menangkup pipi Laura, dan mengarahkan mata Laura untuk menatap matanya.
Laura kembali menepis tangan Aarash, yang ada di pipinya seraya mencebikkan bibirnya. " Enak saja! Dengar ya, Tuan !walaupun wajahmu tampan, tapi di hatiku hanya ada nama Aarash. Dan dialah yang akan jadi suamiku nantinya.Kalau dia belum menikah tentunya! Kalau dia sudah menikah, baru kamu boleh dipertimbangkan! Laura kembali membesarkan matanya,mendelik ke arah Aarash.
"Tunggu dulu! Kamu siapa?" tanya Aarash untuk memastikan kecurigaannya.
"Ya , Lauralah. Tepatnya Laura Cantika Hartono yang cantik jelita, calon istri dari Aarash Baskara Aryaguna! tegas Laura.
Aarash sontak membenamkan Laura kedalam pelukannya, begitu mendengar ucapan demi ucapan dari mulut istrinya itu. " Kamu sudah kembali sayang, ingatanmu sudah kembali! " Kedua netra Aarash kini terlihat berkaca-kaca.
Aarash kembali menangkup wajah istrinya itu dan menatap langsung ke dalam manik mata istrinya itu.
"Kamu lihat aku! lihat mataku. Sekarang kamu udah ingat aku? coba ingat, kejadian yang terjadi padamu belakangan ini!"
Laura melakukan apa yang diperintahkan oleh Aarash. Semua peristiwa yang terjadi belakangan ini,sampai kejadian insiden yang menimpanya tadi pun, langsung terlintas dipikirannya.Seketika dari sudut matanya pun kini menetes air mata.
"Jadi, aku benaran sudah menikah dengan mu? Dan kamu ini Aarash? " Laura bertanya untuk meyakinkan kalau semua yang dia bayangkan itu benaran terjadi. Dia langsung memeluk Aarash kembali dengan erat begitu dia melihat Aarash menganggukkan kepalanya.
Laura kembali terdengar menangis sesunggukan, sehingga membuat Aarash panik dan khawatir. " Kenapa kamu menangis? apakah ada yang sakit?" tanya Aaras.
"Itu berarti kalau Mamah dan Papah beneran sudah meninggal ya?" Laura terisak-isak dengan bahu yang naik turun.
Aarash kembali menarik Laura kedalam pelukannya, untuk sekedar menenangkan hati Laura. Hatinya juga seperti ikut teriris melihat tangisan istrinya itu.
Tiara mengayunkan langkahnya, menghampiri kasur dimana Laura berada, lalu dia mendaratkan tubuhnya di sisi ranjang, dekat Laura. " Kamu yang sabar ya sayang! Ayah Bimo dan Om Seno sudah menyelidiki musibah yang menimpa orangtua mu dan sebentar lagi penyebabnya akan segera terkuak "Tiara mengelus-elus kepala Laura dengan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Bunda, Ayah, Om. Kalian semua sudah mau menerima ku dan membantuku " ucap Laura di sela-sela isak tangisnya.
"Kamu sekarang sudah menjadi anggota keluarga kami. Jadi, sudah kewajiban kami untuk membantumu!" sahut Bimo dan diangguki kepala oleh Seno.
"Ya, udah, sekarang kamu berbaring dulu sebentar, sebelum kita pulang ke rumah!. Karena kata dokter, kamu tidak perlu dirawat. Jadi, hari ini kamu bisa langsung pulang !" Tiara berdiri dari atas ranjang Laura dan memberikan isyarat dengan matanya, ke arah Aarash agar putranya itu, membantu istrinya berbaring.
Disaat Laura sudah berbaring, Aarash terlihat tersenyum-senyum menatap Laura istrinya. Sehingga Laura menatap Aarash dengan kening yang berkerut. " Kamu kenapa, Sayang? Kok senyum-senyum?"
"Nggak Pa-pa! Aku cuma lagi senang aja, ternyata istriku ini, dari dulu sudah meng-hak patenkan kalau aku ini calon suaminya! " Aarash mengerlingkan matanya ke arah Laura, untuk menggodanya.
"Ih, siapa bilang? Kamu mah kepedean! " Laura memalingkan wajahnya, sangat malu bila mengingat ucapannya tadi.
"Oh, ya? mulut siapa coba yang bilang tadi, Eh, aku ini Laura Cantika Hartono, calon istri dari Aarash...."
Laura sontak bangun dan menutup mulut suaminya, sebelum Aarash menyelesaikan ucapannya.
"Kamu bisa berhenti ngomongin itu gak?! awas kalau kamu bicara tentang itu lagi. Aku gak bakal mau ngomong sama kamu lagi" ucap Laura sambil mendelik ke arah Aarash.
" Iya, iya deh! Aku gak bakal ngomongin itu lagi. Tapi aku gak janji kalau besok"Aarash tersenyum meledek.
"Aaraaash! " teriak Laura seraya mencebikkan bibirnya, sehingga membuat Aarash, gemas dan tanpa sadar, mengecup bibir Laura di depan kedua orang tuanya dan Om Seno.
"Dasar anak lo, gak ada akhlak! mesra-mesraan di depan orang tua. Gue balik dulu! " umpat Seno seraya beranjak berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kemana lo? " teriak Bimo,sebelum tubuh Seno benar-benar hilang di balik pintu.
" Mau pulang, mau minta jatah sama Amira! "
Tbc
Jangan lupa dukungannya gais. Please kasih rate bintang 5 juga.Agar ratingnya bisa naik lagi ke bintang 5.Soalnya sekarang ratingnya hanya bintang 4,6.🙏🙏
Sambil nunggu ini up, mampir juga ke karyaku yang lain. judulnya Cinta terhalang Janji.Klik aja profile dan kalian akan langsung dapat melihat karyaku itu. Thank you
__ADS_1