YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Aariz jadi bayi lagi


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, usia sikembar kini sudah menginjak 2 bulan. Aarash sekarang berubah menjadi hot daddy, yang selalu siap berbagi tugas dengan sang istri.


Aarash sekarang juga sudah terampil, memandikan si kembar, serta mengganti popok, ketika sikembar pup dan pipis.


Sementara itu, perut Vina juga terlihat semakin besar karena usia kandunganya juga sudah 9 bulan, dan tinggal menunggu hari saja, untuk melahirkan.


Aariz juga menjadi suami siaga, bahkan seminggu ini, dia lebih memilih untuk bekerja dari rumah, agar bisa mengawasi dan berjaga-jaga kalau-kalau istrinya itu tiba-tiba melahirkan,karena prediksi dokter bisa maju dan bahkan bisa mundur.


"Bee, bangun! temanin Vina jalan-jalan pagi yuk! soalnya kakiku makin bengkak nih." Vina mengguncang-guncang tubuh suaminya, yang masih bergelung di bawah selimutnya.


"Emmm, sebentar lagi ya Bee ... aku masih ngantuk." Aariz menutup kembali tubuhnya sampai menutupi kepalanya dengan selimut.


"Ya udah! kalau tidak mau, aku pergi sendiri aja." Vina turun dari tempat tidur dengan hati yang benar-benar dongkol.


Aariz sontak melompat dari atas tempat tidur dan berlari masuk ke kamar mandi. "Jangan pergi tanpaku! kamu tunggu aku di bawah!" kepala Aariz kembali muncul dari balik pintu, hingga membuat senyum di bibir Vina kembali terbit.


******


"Bee, kita sebenarnya mau jalan pagi atau mau wisata kuliner sih?" Wajah Aariz sudah terlihat sangat kesal,karena setiap mereka berjumpa dengan pedagang makanan, Vina pasti berhenti untuk memebelinya.Kalau makanannya di makan habis, tidak apa-apa.Yang ada Vina hanya makan sedikit, dan Aariz yang diwajibkan menghabiskannya.


"Sekalian Bee ... sekalian bantuin mereka juga kan? Ingat Bee, anakmu sebentar lagi akan lahir, jadi kamu harus bagi-bagi rejeki, agar persalinannya lancar dan tidak kurang satu apa pun." sahut vina sembari menunggu pesanan siomainya datang.


"Berbagi itu, gak harus beli Bee, kan kita bisa tinggal kasih uangnya pada mereka. Kamu gak lihat perut aku dah langkah gerak maju dari tadi?" cetus Aariz kesal.


"Idihh, baru aja segitu majunya, lah kamu lihat aku, majunya seberapa jauh." ucap Vina seraya mendengus. "Lagian ,kalau nanti tanpa ada angin, tanpa ada hujan, kamu langsung bagi-bagi mereka uang, bukannya mereka nanti kamu bakal dicap aneh?" sambung Vina lagi.


"Ini, Mba siomainya!" tiba-tiba pedagang siomainya sudah ada di depan Vina dengan sepiring siomai di tanganya.


"Terima kasih, Pak!" Mata Vina berbinar-binar menatap piring yang berisi siomai, yang terlihat sangat lezat di matanya.


"Bee, ini sangat lezat, kamu coba deh!" Vina mengulurkan piring berisi Siomai itu ke depan Aariz.


"Kamu makan aja ya Bee, perut aku sudah sangat penuh. Satu suap aja masuk lagi ke dalam mulutku, perutku akan benar-benar meledak nanti." Aariz menolak dengab intonasi yang lembut,tapi terselip kekesalan di dalam ucapannya.


"Auhh! P-perutku sakit banget Bee!" Vina tiba-tiba merasakan kontraksi di bawah perutnya.


"K-kamu kenapa Bee? Pak, Siomainya bapak kasih apa? perut istriku kesakitan tuh!" Intonasi suara Aariz meninggi ke arah pedagang siomai, yang wajahnya langsung berubah ketakutan.

__ADS_1


"B-beeee, jangan salahin bapaknya, perut Vina yang mau meletus nih!"Vina mencengkram tangan Aariz dengan kuat, untuk menahan Aariz agar tidak kalap dan memukul si pedagang siomai.


"Makanya Bee, jangan makan terlalu banyak, jadi sakit perut kan?" Aariz mengomel.


"Hei, Tuan! jangan salahin istri anda! yang salah itu anda. Apa anda gak bisa lihat, kalau sekarang istri anda itu udah mau melahirkan!" bentak seorang ibu yang merasa geram melihat Aariz yang tidak peka.


"Hah?! mau melahirkan Bu? jadi aku harus bagaimana?" Aariz seketika panik, tidak tahu harus berbuat apa


"Istrinya bawa ke rumah sakit lah Tuan! gimana sih, tahu buatnya, tapi gak tahu hal seperti itu saja."


"Beeee, sakit nih. Buruan anakmu udah minta keluar!" Vina kembali berteriak.


Walau dengan tangan gemetar, Aariz langsung membawa Vina ke dalam gendongannya, dan segera menyetop taksi yang kebetulan lewat.


"Buruan Pak! aku mau melahirkan. Eh istriku yang mau melahirkan." Aariz karena terlalu panik, hampir saja salah berucap.


Sambil tetap memegang tangan Vina, Aariz meraih ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi keluarganya, dan meminta kelurganya untuk segera menghubungi rumah sakit, agar siap sedia menanti kedatangan mereka,di pintu masuk rumah sakit.


20 menit kemudian, taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah sakit. Dokter dan para perawat terlihat sudah bersiap-siap di depan rumah sakit,dan begitu melihat Aariz turun dari dalam taksi,mereka dengan sigap langsung membantu Aariz, untuk membaringkan Vina di atas bed dorong atau brangkar rumah sakit.


Vina kini sudah berada di ruang bersalin. Karena pembukaan masih pembukaan 4 menuju ke 5, Vina disarankan untuk berjalan,berjongkok, berjalan lagi, supaya pembukaannya cepat ke pembukaan sempurna.


"Tuan Aariz, anda tidak perlu ikut berjongkok seperti istri anda. Anda hanya perlu menyemangatinya!" ucap dokter yang sama ketika membantu persalinan Laura itu sambil menahan tawa.


"Oh, iya kah Dok? baiklah!" Aariz dengan sigap berdiri, dan mengepalkan tangan kanannya serta mengangkatnya tinggi-tinggi seraya berteriak . " Go Vina,go Vina go. Ayo Vina semangaaat!" Aariz memberikan semangat seperti yang disarankan oleh dokter.


"Bee, kalau kamu tidak bisa diam, kamu mending keluar dari sini!" Dengan wajah yang meringis kesakitan dan nafas yang memburu, Vina mendengus kesal ke arah Aariz, sehingga membuat Aariz seketika menciut.


"Dok, aku sudah tidak kuat lagi Dok, Vina terduduk di lantai dengan nafas yang tersengal-sengal, membuat wajah Aariz seketika panik. "Dok, aku tidak mau tahu, pokoknya sekarang,keluarkan anakku segera! Sekarang!" perintah Aariz dengan tatapan dan ucapan yang mengintimidasi.


"Kita baring lagi yuk Mba Vina! kita lihat dulu, sudah pembukaan berapa sekarang." ucap dokter itu tetap tenang, tidak menghiraukan tatapan tajam Aariz.


"Hmm, sekarang sudah pembukaan delapan. Sabar ya Mba Vina, tinggal nunggu sebentar lagi pembukaannya akan sempurna." senyum dokter tetap tidak tanggal dari bibirnya.


"Dok, sakit banget Dok!" rintih Vina kembali, sambil mencengkram kuat lengan Aariz, hingga lengan Aariz mengeluarkan darah akibat terkena kuku-kuku Vina yang panjang. Akan tetapi, Aariz tidak memperdulikan sama sekali rasa sakit di lengannya itu, karena rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan Vina saat ini.


"Mba Vina, sabar ya! justru rasa sakitnya ini yang ditunggu saat mau melahirkan, kalau tidak sakit sama sekali, justru itu yang dikhawatirkan." Dokter itu masih dengan sabar memberikan semangat.

__ADS_1


"Kamu ingat aja Bee, wajah anak kita yang sebentar lagi akan kita lihat. Kamu pasti kuat Bee." Aariz ikut memberikan semangat.


Dokter itu, kembali mengecek pembukaan Vina, dan senyum dokter itu langsung mengembang ketika pembukaannya sudah sempurna.


"Ok, pembukaannya sudah sempurna, tapi berhubung, air ketuban belum pecah, kita pecahkan manual saja, baru bayi bisa dikeluarkan." ucap Dokter itu sembari menusukkan sesuatu ke jalan lahir bayi, dan air ketuban langsung merembes keluar.


Setelah itu Vina semakin meraung-raung karena, rasa sakitnya semakin bertambah, dimana bayinya sekarang benar-benar ingin menerobos jalan lahir dengan paksa.


"Ayo, Mba Vina dorong kuat! kepala bayinya sudah terlihat, ayo semangat!" dokter berkali-kali memberikan semangat.


"Ayo, Bee,kamu pasti bisa! I love you Bee!" Aariz juga tidak berhenti untuk memberikan semangat.


Di saat Aariz mengucapkan kata I love you, di saat itu pula kekuatan Vina serasa berkumpul menjadi satu. Dengan semangat dia berteriak dengan keras sambil mendorong bayinya. Suara tangisan bayi laki-laki langsung terdengar mengisi ruangan itu.Lalu dokter itu,menyerahkannya pada perawat agar segera membersihkan bayinya.


Pipi Aariz kini sudah basah dengan airmata, melihat perjuangan Vina melahirkan anaknya.


Keluarga yang sudah berkumpul di luar seketika menarik nafas lega, begitu mendengar tangisan bayi dari dalam.


" Dok, kenapa perutku sakit lagi?" tiba-tiba Vina kembali lagi, merintih kesakitan.


"I-istriku kenapa lagi Dok?" Aariz sontak panik lagi melihat Vina kembali kesakitan.


"Tenang Tuan, biar saya periksa dulu!" ucap dokter.


"Wah, Mba Vina ternyata mengandung anak kembar! Ayo Mba, dorong lagi! Mba pasti bisa!" dokter kembali memberikan semangat, sedangkan Aariz membeku di tempatnya, dengan wajah yang terlihat bingung.


Suara tangisan bayi kedua yang juga berjenis kelamin laki-laki, langsung menyadarkan Aariz dari kebingungannya. air mata Aariz kembali merembes membasahi pipinya.


Keluarga yang ada di luar juga, tersentak kaget begitu mendengar suara tangisan bayi lagi.


"Lho kok ada tangisan bayi lagi?" tanya Dimas dengan kening yang berkerut.


"Mungkin Aariz yang berubah jadi bayi lagi." celetuk Bimo, yang langsung mendapat pukulan di kepalanya dari Tiara.


Tbc


Jangan lupa buat kasih Vote rekomendasinya dong gais.😁😁😁😁

__ADS_1


Jangan lupa buat like, dan komen juga ya!😁🙏🤗


__ADS_2