
Acara resepsi pernikahan Aariz dan Vina berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan.
Kini Aariz dan Vina sudah berada di dalam kamar pengantin yang di dekor dengan sangat indah dan mewah. Dekorasinya juga, tidak jauh berbeda dengan dekorasi acara resepsi mereka yang bernuansa putih.
Perasaan Vina malam ini, berdebar-debar tidak karuan. "Apakah malam ini, Ka Aariz akan meminta haknya? dan kalau iya, apakah rasanya akan sakit?" batin Vina gusar sambil berulang kali melirik ke arah kamar mandi, berharap Aariz akan lama keluar dari dalam sana.
"Hmm, aku harus pura-pura tidur ... ya pura-pura tidur." gumam Vina, merasa senang karena mendapatkan ide.
Vina langsung merebahkan tubuhnya dan berpura-pura tidur, saat suara knop pintu yang hendak dibuka seseorang terdengar telinga Vina.
Aariz merasa kecewa ketika melihat istri kecilnya, yang sudah terlelap tidur. " Mungkin dia sangat capek tadi. Sabar ya tong, kayanya kamu belum saatnya untuk keluar." gumam Aariz sangat pelan, tapi masih bisa didengar oleh Vina.
Aariz mendekati Vina dan naik ke ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya itu.
Aariz mengecup puncak kepala Vina, lalu dia membawa Vina ke dalam pelukannya. Suara degupan jantung Vina yang berdentum hebat di dalam sana, sangat terasa di dada Aariz. Kini Aariz menyadari kalau istrinya sekarang sedang berpura-pura.
"Ternyata dia hanya pura-pura tidur." Aariz mengangkat sudut bibirnya, menyematkan seulas senyuman di sana.
Aariz sengaja menghembuskan nafasnya berulang-ulang di telinga Vina yang berada di dadanya.Dia melihat tubuh Vina sedikit mengeliat dengan nafas yang ditahan.
"Ehem, ehem ... sampai berapa lama kamu akan menahan nafasmu Bee?" bisik Aariz sambil menggigit telinga Vina dengan lembut.
"Hah? apa dia tahu kalau aku pura-pura tidur?" Vina berbisik pada dirinya sendiri.
"Apa kamu benar-benar tidak bernafas lagi Bee? tega kamu Bee, ninggalin aku di malam pengantin kita. Masa aku langsung jadi duda di malam pengantinku. Miris sekali nasibku oh Tuhan! sepertinya aku harus segera mencari penggantimu Bee." Aaris berpura-pura sedih.
__ADS_1
Vina sontak terbangun dan melayangkan tangannya memukul kepala Aariz. "Enak aja mau cari penggantiku." Vina mencebikkan bibirnya,sembari menghunuskan tatapannya pada suamimya.
"Eh, udah bangun ya Bee? akting pura-pura tidur mu benar-benar patut diancungi jari kelingking Bee." ledek Aariz sembari terkekeh.
"Jari kelingking? maksud kamu?" Vina mengerutkan keningnya, bingung mendengar ucapan Aariz.
"Akting pura-pura tidurmu, benar-benar akting terburuk yang pernah aku lihat."
"J-jadi kamu tahu kalau aku tadi pura-pura tidur?" Vina menundukkan kepalanya, merasa malu, karena Aariz ternyata tahu, kalau dia tadi hanya berpura-pura.
"Kenapa kamu harus berpura-pura tidur, hem?" Aariz mengangkat dagu Vina, agar dia leluasa menatap wajah malu-malu Vina yang menggemaskan.
"Hmm, a-aku takut Bee!" ucap Vina yang terdengar lirih.
"Apa yang kamu takutkan? tidak ada yang perlu ditakutkan, Bee. Kalau kamu takut terus, jadi sampai kapan si otong bisa dilepaskan? Apa kamu benar-benar tidak mau melihat si otong? asal kamu tahu, si otong lebih tampan dariku lho Bee." ujara Aariz dengan senyum menggoda.
"Kamu gak percaya ya Bee? mau lihat gak?"tanya Aariz yang menuntun tangan Vina untuk menyentuh senjata pamungkasnya.
Vina sontak menarik tangannya, ketika dia menyentuh sebuah benda yang sudah mengeras di bawah sana.
"K-kamu mesum Bee." wajah Vina kini nampak sudah merona.
"Mesum sama istri sendiri kan tidak masalah Bee!" ucap Aariz.
" Apa kamu tidak mau memberikan hak suamimu malam ini? kalau nggak mau gak pa-pa .... Aku bisa menunggu sampai kamu siap. Sekarang tidurlah!" sambung Aaris,kembali meneruskan ucapannya sembari kembali merebahkan tubuhnya dan menutup kedua matanya.
Vina, menatap wajah Aariz yang matanya kini terpejam. Dia merasa bersalah, karena sudah berusaha untuk menghindar, agar Aariz tidak mendapatkan haknya malam ini.
__ADS_1
Vina terlihat memberanikan diri, untuk mengambil inisiatif sendiri, dengan mendaratkan bibirnya ke bibir suaminya itu, sehingga membuat Aariz terkesiap dan sontak membuka matanya. Aariz tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat dia langsung membalas pagutan bibir istrinya itu dan mulai me*lu*ma*t dengan penuh perasaan.
Aariz seketika langsung membalikkan tubuh Vina, hingga kini posisi Vina sudah berada di bawah tubuhnya.Kamar yang tadinya terasa dingin kini berubah semakin panas. Suara ******* yang keluar dari mulut Vina, semakin membuat Aariz bersemangat, untuk mencangkul lahan miliknya untuk pertama sekali.
Dengan sekali hentakan, kini tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel. Kabut gairah Aariz semakin membara begitu melihat pemandangan yang sangat indah, mengalahkan indahnya pulau Bali.
Tidak lama kemudian, suara jeritan kesakitan dari mulut Vina terdengar, karena lahannya yang tadinya gersang, tak terjamah siapapun kini tertancap cangkul besar.
Tapi suara jerit kesakitan itu kini berganti dengan suara -suara aneh, seperti mendesah dan mendesis memenuhi ruangan kamar itu.
Tidak berapa lama, setelah lahan Vina sudah selesai dicangkul, Aariz kini siap untuk menaburkan bibit-bibit unggulnya ke lahan milik Vina, dan beraharap bibit-bibit unggul itu akan mengasilkan buah yang baik nantinya.
Sementara itu, disebuah kamar, seorang pria setengah baya yang tak lain Dimas ,tampak berjalan mondar-mandir dengan Wajah yang tampak tidak tenang sama sekali.
"Kamu kenapa sih, Pah? apa yang membuat kamu tidak tenang seperti ini?" tanya Sinta dengan kening yang berkerut.
"Kira-kira Aariz udah ngebobol Vina gak, ya Mah? anak itu pasti bikin putri ku kesakitan." sahut Dimas. " Anak itu memang licik. Dia mengganti kamar pengantin tanpa bilang-bilang. Dan aku gak tahu dia mindahinnya kemana?" sambung Dimas kembali dengan gusar.
"Kamu juga aneh Pah. Vina itu kan sudah jadi istri Aariz sekarang.Jadi Aariz sudah berhak pada Vina sekarang.Lagian Papah jangan lebay deh! sakit pertama kali itu kan wajar, Pah! Papah kaya tidak pernah aja merasakannya." ucap Sinta dengan nada kesal melihat tingkah berlebihan Dimas suaminya.
"Bukan begitu Mah! papah cuma gak bisa membayangkan, kalau putri kita menangis kesakitan."
"Pah, kamu gimana sih? kamu kan sudah tahu resikonya kalau Vina sudah punya suami? harusnya papah tarik ke diri sendiri, ingat bagaimana malam pertama kita. Coba kamu bayangkan kalau papahku, bertingkah seperti kamu saat ini. Di saat kamu lagi bergairah, tiba-tiba papah datang menerobos kamar, kamu pasti kesalkan? begitu juga dengan Aariz Pah." tutur Sinta berusaha menahan kekesalannya.
"Mah, kalau gitu kita ulangi lagi yuk malam pertama kita! "Dimas langsung menerkam tubuh Sinta, yang makin dicintainya dari hari ke hari.
"Ya, karena kejadian, Dimas yang membawa Vina dari kamar tempat mereka istirahat tadi siang, membuat Aariz tidak mau kejadian itu akan terulang kembali nanti, di malam pertamanya. Dia tidak bisa membayangkan kalau di saat lagi di atas, mertua durhakanya itu, menerobos masuk dan menggagalkan malam pertamanya dengan Vina. Tanpa sepengetahuan orang, dia pun menganti kamar pengantinya dengan kamar lain, dan menyuruh pihak WO untuk mendekor ulang kamar pengantinnya yang baru. Aariz bahkan mengancam karyawan hotel agar tidak memberitahukan siapapun, dimana kamar penggantinya yang baru.
__ADS_1
Tbc