
Aarash membuka pintu kamar dengan keras.Dia mencari keberadaan istrinya. Dia melihat Ayu yang sedang sibuk membongkar pakaiannya dari dalam lemari,seperti sedang mencari sesuatu.
Aarash memandang Ayu/Laura dari belakang dengan mata sendu. Dia tidak menyangka,kalau wanita yang selama ini dicarinya, sudah berada di dekatnya dan bahkan sudah menjadi istrinya.Pantas dia merasa kalau wajah Ayu seperti tidak asing.
Aarash mengayunkan kakinya perlahan mendekati Laura yang masih belum menyadari kehadirannya. Dengan tangan yang agak gemetar dia memeluk Laura dari belakang. Sehinga membuat Ayu atau Laura terjingkat kaget.
"Kamu lagi cari apa?" Tanya Aarash seraya meletakan dagunya di pundak istrinya.
"Tu-tuan Aarash, ke-kenapa peluk saya?" Laura yang belum tahu apa-apa bingung dan sangat gugup mendapat pelukan dari Aarash.
Aarash memutar tubuh Laura, hingga menghadap ke dia. Dia menatap wajah ekspresi bingung Istrinya itu, dengan mata yang berkaca-kaca.Dia kembali meraih Laura ke dadanya dan memeluknya sangat erat, seperti takut kehilangan.
"Anda kenapa Tuan? apakah Tuan baik-baik saja? "tanya Laura di sela-sela sesaknya dia bernafas.
"Aku tidak apa-apa. Aku justru sangat senang sekarang." Aarash membenamkan kepalanya di caruk leher istrinya.
"Tu-tuan tolong lepaskan pelukannya! Aku susah untuk bernafas." Laura berusaha memberontak,untuk bisa keluar dari kungkungan Aarash.
"Please jangan bergerak! Biarkan aku memeluk sebentar saja Aura." Laura yang belum tahu kebenarannya, terbeliak kaget mendengar Aarash memanggilnya dengan nama Aura, yang dia yakini kalau itu nama panggilan Laura.
Tu-tuan kamu salah orang. Aku Ayu Tuan bukan Laura!" ucap Laura sambil berusaha mendorong dada Aarash.Hatinya begitu sakit, mendengar suaminya memanggilnya dengan nama wanita lain.
"Kamu Laura ... Kamu Laura..." racau Aarash dengan semakin meng-eratkan pelukannya.
"Tu-tuan, coba lihat aku! Aku ini Ayu bukan Laura! "sergah Laura dengan sedikit menaikkan suaranya, berharap Aarash bisa tersadar dari imajinasinya.
"Kamu itu Laura bukan Ayu!"tegas Aarash
"Kamu mencari ini kan? Aarash meletakkan gantungan kunci berinisial A dan L itu ke telapak tangan Laura.
"Da-dari mana Tuan menemukan ini? Aku sudah mencarinya kemana-mana tadi.Aku mengira benda ini sudah hilang." ucap Laura seraya meletakkan gantungan kunci itu ke dadanya.
"Tidak penting aku mendapatkan itu dari mana. Yang penting sekarang, gantungan kunci itu sebagai tanda kalau kamu itu Laura bukan Ayu "
__ADS_1
Ayu menatap Aarash dengan raut wajah yang semakin bingung. "Bagaimana mungkin, hanya dengan gantungan kunci ini, Tuan Aarash yakin kalau aku ini Laura? " batin Ayu.
"Kamu tidak percaya dengan ku? Sini! aku mau menunjukkan sesuatu ke kamu." Aarash meraih tangan Laura istrinya dan mengajaknya mendekati nakas yang ada di samping tempat tidur. Aarash membuka laci itu dan mengambil benda yang sama dengan yang dipegang oleh Laura kini.
"Lihat! Ini hadiah perpisahan yang kamu berikan dulu padaku. Waktu itu kamu mau pindah ke Singapur. A ini untuk Aarash dan L ini untuk Laura." ucap Aarash dengan semangat.
"Aduh sakit! " Laura tiba-tiba memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Di kepalanya kini muncul bayangan wajah anak perempuan yang selalu menggagu seorang anak laki-laki.
"Ka-kamu kenapa Laura?" Aarash memegang tangan istrinya dengan raut wajah yang panik.
"Ke-kepalaku sakit sekali." tiba-tiba Ayu tersungkur tidak sadarkan diri.Untung dia tengah dipegang oleh Aarash.
Aarash refleks berlari keluar sambil membawa Laura dalam gendongannya. Dan berlari turun kebawah untuk meminta pertolongan." Bundaaaa ... Ayaaaah, tolong Laura, tolongggg! " teriak Aarash kalang kabut.
"Ada apa Rash? kenapa dengan istrimu?" tanya Tiara yang seketika juga ikut panik.
Teriakan Aarash, membuat se -isi rumah muncul melihat apa yang sedang terjadi.Bahkan Azalea yang dari tadi juga asik bermalas-malasan di kamarnya karena mata kuliahnya lagi kosong ikut berlari keluar dari kamarnya.
"Laura pingsan Bunda. Laura pingsan! " ucap Aarash yang masih panik.
Bibi Asih sedikit berlari ke arah telpon untuk melaksanakan perintah Bimo.Setelah selesai menghubungi Dokter Yudi, Bi Asih segera menghampiri Laura yang belum sadarkan diri. Dari manik matanya terlihat kalau dia benar-benar sedang bingung dan penasaran kenapa Aarash memanggil Ayu dengan nama Laura. Bukan hanya Bi Asih yang bingung Azalea yang ada di sana pun terlihat menautkan kedua alisnya sebagai tanda kalau dia juga sedang bingung.
Tiara yang melihat ekspresi bingung dari Bibi Asih dan putrinya Lea,akhirnya menceritakan yang sebenarnya. Bi Asih yang mendengar kenyataan itu sontak menangis karena merasa bahagia, karena identitas Ayu kini sudah jelas.
"Sambil menunggu Dokter Yudi datang, kamu bawa kembali istrimu ke dalam kamar Rash! Kamu bisa kan menggendongnya sendiri? Atau kamu butuh Ayah menolong mu?" tanya Bimo, sambil mengerlingkan matanya. Mendegar ucapan suaminya Tiara langsung memberikan Bimo hadiah jeweran di telinganya.
"Aduhh, sakit Bun! Aku cuma bercanda" Bimo merintih seraya mengusap-usap telinganya yang sudah memerah.
Aarash mendengus ke arah Ayahnya dan langsung membawa Laura kembali kedalam gendongannya.Lalu dia melangkah melewati Bimo dengan tatapan dingin.
"Ada apa ini? kok ada Dokter Yudi di depan? Siapa yang sakit? " Aariz tiba-tiba muncul dengan raut wajah yang panik. Ya..., Aariz yang merasa sedang galau, memutuskan untuk segera pulang, dan begitu dia lihat ada mobil Dokter Yudi yang baru masuk ke dalam pekarangan rumah, langsung berlari ke dalam rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Jadi Dokter Yudi sudah datang? " Bukannya menjawab pertanyaan Aariz, Tiara langsung berjalan melewati Aariz untuk cepat-cepat memanggil Dokter Yudi.
__ADS_1
Tidak lebih dari 2 menit, Tiara muncul bersama Dokter Yudi.Dia menarik tangan Dokter Yudi, agar cepat-cepat naik ke atas. Dia tidak menyadari ada sepasang mata yang sudah berkilat-kilat karena cemburu melihatnya memegang tangan Dokter Yudi.
"Gak harus pake pegang-pegang tangan Bun!" ucap Bimo sambil menarik tangan Tiara dan dibalas dengan dengusan malas dari Tiara, yang jengah dengan sikap suaminya yang tak berubah dari dulu.
Mereka semua akhirnya naik ke atas untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Laura. Aariz yang dari tadi bingung, terbelalak kaget mendengar penuturan adiknya Lea, yang mengatakan kebenaran kalau Ayu itu Laura.
********
"Bagaimana keadaan istriku Om? " tanya Aarash tidak sabar.
"Istri mu tidak apa-apa Rash. Hanya sedikit shock aja. Apa sebenarnya yang terjadi sebelum dia pingsan? " tanya Dokter Yudi yang selalu dipanggil Om oleh anak-anak Bimo.
Aarash menceritakan semua yang terjadi secara detail pada Dokter Yudi yang terlihat manggut-manggut mendengar apa yang di ceritakan Aarash.
"Hmmm, Sepertinya istrimu mulai mengingat sesuatu.Ini berita baik. Tapi tolong kamu jangan terlalu memaksa ya Rash! Untuk memulihkan ingatannya, coba kamu bawa dia jalan-jalan ke tempat dimana kalian pernah bersama dulu. Ingatkan dia dengan pelan-pelan." ucap Dokter Yudi memberikan saran.
"Baik Om! Terima kasih!" ucap Aarash.
"Kalau begitu, aku pamit dulu Ya. Jaga istrimu baik-baik! " Dokter Yudi berjalan meninggalkan kamar Aarash dengan diantar oleh Bimo.
Aariz yang sudah mengetahui kebenarannya, sontak mendekati Laura yang masih memejamkan matanya. Dia juga tidak menyangka bahwa Laura yang selalu dia hibur ketika Aarash membuatnya menangis dulu, kini ada di depannya.
Sebelum Aariz mendekat ke Laura, Aarash sontak mendorong Aariz agar menjauh dari istrinya. "Jangan dekat-dekat pada istriku!" Aarash langsung mendaratkan tubuhnya duduk di atas kasur dekat dengan Laura.
"Cih, dasar turunan Bimo. Sifat posesif Bimo sudah mendarah daging di tubuh putranya juga." Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang, bangun sayang! Aku disini. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan aku akan berusaha membuatmu untuk ingat kembali padaku." Aarash menangkup kedua tangan Laura ke dadanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa sadar ada cairan bening yang menetes di sudut mata Aariz mendengar ucapan Aarash.
" Ka Aariz, kamu menangis? " celetuk Lea tiba-tiba.
"Siapa yang menangis? Aku hanya alergi sama hal-hal yang menyedihkan." ucap Aariz sambil menyeka air matanya menggunakan jarinya.
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa buat meninggalkan jejaknya ya Gais.Like, rate,vote dan Komen.Than you.