YOU ARE MY DESTINY

YOU ARE MY DESTINY
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Tiara dan Bimo serta Seno tiba di rumah sakit tempat Aarash membawa Laura. Setelah bertanya kepada resepsionis dimana ruangan Laura,Tiara dan yang lainnya segera menuju ruangan Laura.


Tiara membuka pintu, dengan perlahan dan melihat putranya duduk sembari memandang wajah Laura yang masih setia menutup matanya.


"Rash bagaiman keadaan Laura Nak?" tanya Tiara sambil mengelus kepala anaknya.


"Kata dokter Laura baik-baik saja Bun! tapi__" Aarash terdiam, tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa Nak? kandungan Laura baik-baik saja kan?" Tiara bertanya kembali dengan wajah khawatir.


Aarash menghela nafasnya,tidak langsung menjawab pertanyaan Bundanya.Hingga membuat Tiara dan yang lainnya semakin penasaran.


"Salah satu dari janin Laura tidak bisa di selamatkan Bun, hanya dua yang bisa diselamatkan! " jelas Aarash sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tiara menitikkan air matanya dan memeluk putranya itu dengan erat. " Yang ikhlas nak!sekarang kamu fokus untuk menjaga yang dua lagi!" ucap Tiara menghibur.


"Tapi Aarash bingung Bun, bagaimana caranya memberitahukan ke Laura masalah ini.Aku tahu dia pasti akan terpukul nantinya."


"Tidak apa-apa! Bunda nanti akan membantu mu menjelaskannya."Tiara menepuk-nepuk bahu Aarash.


"Ugh" terdengar suara lenguhan dari bibir Laura.Kelopak matanya terlihat bergerak-gerak,pertanda dia sudah tersadar. Laura mengerjap-erjapkan matanya dan mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan.


"Sayang kamu sudah sadar?" Aarash memeluk tubuh Laura dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas, anak kita gimana? apa mereka baik-baik saja?" Laura yang langsung teringat dengan kejadian yang telah menimpanya, tidak sabaran untuk bertanya pada suaminya Aarash.


Aarash meneguk ludahnya,mulutnya terasa kelu, terasa sulit untuk memberitahukan yang sebenarnya.


"Kenapa diam saja Mas?" Laura mengguncang-guncang lengan Aarash.


"Calon anak -anak kita baik-baik saja sayang, tapi ...," Aarash kembali terdiam.


Melihat Aarash yang tidak sanggup untuk memberitahukannya, Tiara menghampiri Laura dan mengelus-elus rambutnya. "Sayang, calon cucu bunda baik-baik saja, tapi salah satunya tidak bisa diselamatkan.Jadi sekarang hanya tinggal 2 saja." ucap Tiara dengan sangat hati-hati.


Untuk sepersekian detik Laura tidak merespon ucapan mertuanya.Dia tidak bergeming dan menatap kosong ke depan.Detik berikutnya air matanya pun menetes membasahi pipinya. Bahunya terlihat turun naik karena sesunggukan menangis.

__ADS_1


Aarash sontak kembali memeluk istrinya yang pasti lebih terpukul dari dirinya.


"Sabar ya sayang! jangan nangis lagi, kasihan anak-anak kita di dalam sana!" Aarash berusaha menenangkan istrinya.


"Iya, sayang! kamu memang boleh bersedih, tapi kamu harus ingat juga, masih ada dua janin yang harus kamu jaga,", Tiara menimpali ucapan putranya.


Mendengar kata kasihan anak-anak,dari mulut Aarash, membuat Laura menghentikan tangisannya.Dengan perlahan dan lembut, dia mengelus-elus perutnya.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya!, biar kamu cepat pulih, " Aarash membantu istrinya untuk berbaring kembali.


Mata Bimo menoleh ke arah Seno yang terlihat blingsatan denga wajah yang sudah memerah. Di dalam tangannya, Seno terlihat seperti menggenggam sesuatu dengan erat.


"Apaan tuh di tangan loe Sen?" tanya Bimo penasaran.


"Batu Bim!" bisik Seno.


"Batu? buat apa?" Bimo semakin bingung.


"Gue sesak BAB, Bim! " Seno masih tetap berbisik. " aku pernah mendengar, dengan menggenggam batu, kita yang tadinya mau BAB, bisa gak jadi." sambungnya lagi.


"Jadi ini gimana?" tanya Bimo.


"Eh, loe mau kemana Sen?" teriak Bimo, sebelum tubuh Seno benar-benar hilang di balik pintu.


"Mau nyariin orang yang pertama nyebarin mitos ini, Bim," sahut Seno cepat.Lalu dengan langkah-langkah yang panjang, Senopun mencari toilet sambil menahan kentut agar tidak keburu keluar. Sedangkan Bimo berusaha untuk menahan tawanya, karena situasi untuk tertawa tidak tepat sekarang.


*********


Jam 4 sore Waktu Indonesia Barat, pesawat yang ditumpangi oleh Dimas,Aariz dan Vina, akhirnya mendarat dengan selamat.


Dengan menggandeng tangan Vina, Aariz berjalan mendahului Dimas dengan wajah yang berbinar-binar. Dimas sebenarnya kesal melihat sikap Aariz yang berlebihan, tapi yang bisa dia lakukan sekarang hanya mengelus dada.


"Pah, kita benaran sudah di Indonesia kan?" Aariz berpaling ke belakang untuk bisa melihat Dimas.


"Jadi, maksudmu kita ini dimana?"tanya Dimas dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Kita berangkat sore dari sana, kok kita sampainya sore juga ya? atau jangan-jangan pesawat kita mutar-mutar di tempat aja kali ya? wah, kita udah ditipu nih Pah!" ucap Aariz.


Seketika, kepala Aariz sontak mendapat pukulan yang lumayan keras dari Dimas.


"Kamu jangan berpura-pura bodoh deh Riz.Kita berangkat dari sana kan sore, waktunya London, dan kita sampai, sore waktunya Indonesia. Kalau di London sekarang masih jam 10 pagi Rizz!" tukas Dimas dengan nada sangat kesal.


"Gak usah pake dijelasin segala,Pah! Aariz mah sudah tahu. Aariz cuma kasian aja sama Papah, dari tadi manyun aja dibelakang, gak ada teman ngobrol," ledek Aariz sembari terkekeh


" Dasar calon mantu gak ada akhlak! ntar gak aku restuin, baru tahu rasa kamu." umpat Dimas , kesal merasa dikacangin oleh Aariz.


"Bee, kasihan papah, jangan diledekin terus napa!" Vina yang dari tadi, hanya jadi penonton dan pendengar saja, menegur Aariz.


"Gak, usah bela-bela Papah! Kamu juga dari tadi mau tertawa kan?" Kali ini Vina yang kena omelan Dimas.


Vina cekikikan melihat wajah kesal papahnya.


Mereka bertiga akhirnya berjalan beriringan menuju mobil jemputan,yang sudah tiba di Bandara 15 menit sebelum pesawat mereka landing.


Setelah mereka masuk kedalam mobil, Aariz tidak henti-hentinya ngeledek Om Dimas, yang hanya bisa mengulum senyumnya.


Keadaan jalanan Jakarta di jam sore begini sangat padat merayap.Jarak dari bandara ke rumah, yang biasanya di tempuh hanya 1,5 jam kini hampir 3 jam ,mereka belum nyampe-nyampe juga.


*****


Sementara itu, Bimo, Tiara dan yang lainnya minus Seno, juga kini dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Seno tadi malam, memutuskan untuk pulang sendirian, dengan alasan tidak bisa tidur, kalau tidak memeluk bantal guling hidup kesayangannya.


Ya ..., karena keadaan Laura yang belum memungkinkan untuk pulang, mau tidak mau, mereka pun harus menginap di rumah sakit Bogor semalaman.


"Yah, pelan-pelan bawa mobilnya! aku tidak mau istri dan anak-anakku sampai kenapa-napa! " ucap Aarash untuk yang kesekian kalinya.


"Kamu bisa diam gak Rash? sudah berkali-kali kamu mengucapkan kata-kata itu!" Bimo mendengus kesal. " Sekali lagi, kamu ngomong gitu lagi, Ayah tidak mau mengemudikan mobil ini lagi." sambung Bimo.


Aarash terkekeh melihat kekesalan ayahnya.


"Iya deh Yah, maaf! jangan ngambek gitu dong!" ucap Aarash yang dibalas dengan decihan dari mulut Bimo.

__ADS_1


Tbc


Please like,vote dan komen.Thank you🙏😀


__ADS_2