
Dengan menahan semua rasa takut dan kesakitan di hatinya, Victoria mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Beruntung saat itu juga Carl dan Tomy sudah tiba di Argentt. Fredrick yang terus menemani Victoria, mendekapnya di dalam pelukkannya, memangkunya di atas kedua kakinya langsung memberi perintah pada Jeremmy dengan modal sedikit cerita Victoria, untuk menyerahkan masalah penyelidikan pada Carl dan Tomy, kesatria yang paling ahli dalam hal penyelidikan dan perhitungan.
Matahari sudah beristirahat tapi, Fredrick belum juga beristirahat dari semenjak mereka tiba di Argentt. Dirinya terus berusaha ada di sisi Victoria dan terus menyuarakan perlindungan untuk jiwa Victoria yang masih terguncang hebat. Sesekali Fredrick menceritakan, cerita menyenangkan, sesekali Fredrick terus membujuk gadis yang ada di pangkuannya untuk makan, sesekali Fredrick mengajak Victoria untuk berbicara lagi tapi, setelah berhasil membujuk Victoria untuk membuka cerita tentang malam itu. Fredrick hanya mendapatkan gumanan di sela-sela isakan Victoria. Gumanan tentang betapa tidak berhargannya dia, gumanan tentang betapa kotornya dia. Sungguh Fredrick tidak masalah dengan itu, bahkan jika sekarang Victoria sudah benar-benar sudah habis sekalipun, Fredrick tidak akan mempermasalahkan itu. Victoria selalu berharga untuknya, hanya saja, jika benar ada seseorang yang sudah menodai kesucian Victoria. Entah Fredrick akan berubah menjadi iblis seperti apa.
"Bash..."
"Hmm.."
Victoria menatap Fredrick yang sedang memejamkan matanya dengan rahang yang terus terkatup kuat, pelipisnya selalu bergerak-gerak. Meski Victoria tahu jika Fredrick masih terus bergelut dengan rasa amarahnya tapi, kedua tangannya dengan lembut dan hangat selalu menjaganya dan memperlakukan dirinya seperti bayi lemah yang baru lahir. Sangat berhati-hati dan sangat lembut bahkan terlalu lembut
"Istirahatlah, kau pasti lelah Bash"
Fredrick membuka matanya dan menatap Victoria yang sudah menatapnya
"Aku tidak lelah"
"Kau bilang, saat baru tiba di kamarmu setelah selesai rapat itu, kau belum sempat beristirahat bahkan hanya untuk sekedar duduk tenang. Alasan yang membuatmu lupa untuk menjemput ku kan?"
Fredrick menaikkan satu alisnya
"Kau mendengarkan ocehan ku Vic?"
"Mulutmu di atas kepalaku, mana mungkin aku tidak mendengarmu"
Tangan Fredrick terangkat dan membelai surai Victoria sambil tersenyum tipis
"Aku tidak lelah dan sangat baik-baik saja. Tidurlah lagi... aku akan menjagamu"
Victoria segera menggeleng
"Bantu tubuhku untuk tidur di ranjang, kakimu akan patah jika terus memangkuku"
"Tidak Vic, aku tidak apa-apa atau.." Fredrick menatap Victoria dengan lekat. "Tubuhmu sudah lelah berada di atas pangkuanku?"
Setelah pertanyaan Fredrick meluncur, Victoria hanya diam dan menatap Fredrick penuh selidik. Cukup lama keheningan melingkupi mereka hingga Victoria mulai kembali membuka mulutnya
"Kenapa kau baik sekali padaku Bash? apa alasanmu?"
Dengan satu alis yang menukik tajam, Fredrick menatap ke dalam manik pekat Victoria yang sedang menyelidikinya
"Karna kau tunanganku"
"Dan...?"
__ADS_1
"Calon istriku"
Kali ini Victoria membalas tatapan Fredrick dengan tak kalah dalam dan semakin penuh selidik
"Dan..?"
"Tentu saja karna aku menyukaimu"
Victoria semakin menyelami kedua manik bola mata abu-abu Fredrick. Di dalam mata itu tampak tidak menunjukkan berbohong tapi, juga tidak menunjukkan kebenaran. Terlalu sulit di baca, terlalu abu-abu. Merasa lelah untuk berpikir dan mencoba menyelami, Victoria menegakkan punggungnya dan memeluk leher Fredrick dengan meletakan dagunya di atas bahu Fredrick
"Aku akan tidur lagi dan setelah aku tertidur, tolong letakkan tubuhku di atas ranjang"
Dengan punggung yang kembali di belai lembut dan sesekali di tepuk dengan sangat pelan seolah sedang menidurkan bayi, kepala Fredeick mengangguk. Merasakan anggukan Fredrick, raut wajah Victoria yang ada di atas bahu Fredrick berubah, berubah menjadi datar dan dingin, sorot matanya berubah penuh tekat dan amarah tapi juga penuh dengan kesakitan. Seolah Victoria sudah membulatkan hati dan tekatnya, yang entah untuk apa
Tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk Victoria kembali tidur. Nafas hangat dan teratur yang terus berhembus di ceruk lehernya membuat Fredrick bergerak pelan sambil melepaskan tangan Victoria dari lehernya. Dengan hati-hati dan sangat lembut, Fredrick merebahkan tubuh tunangannya lalu menarik selimut ke atas.
"Selamat malam Vic, dan..." Fredrick mendekat ke telinga Victoria. "Jangan coba untuk bermain-main denganku sayang"
Setelah berbisik dan memberikan sebuah kecupan di dahi Victoria. Fredrick menatap dengan datar wajah Victoria dan segera menegakkan kakinya untuk menuju ke pintu keluar.
--00--00--
"Selamat malam Your Highness"
Dengan mulut yang masih mengunyah makan malamnya yang sudah sangat terlambat, Fredrick mengangguk pada Tomy dan Carl yang sudah berdiri di depan mejanya. Tomy yang melihat jika mulut Fredrick sedang penuh, tanpa menunggu perintah, langsung memberikan hasil penyelidikan mereka.
Tanpa menatap dan tetap terus sibuk mengiris daging panggangnnya Fredrick mulai membuka suara
"Siapa?"
"Ada tiga orang pelayan yang terlibat. Satu untuk mencampurkan rempah kanna, satu untuk mengawasi efek dan pemberi informasi dan satu untuk penyedia tempat eksekusi"
"Di mana mereka?"
"Kami sudah mengorek dengan melalukan segala hal tapi pelayan yang mencampur rempah memang tidak tahu menahu apapun tentang itu, dia mengatakan jika hanya di perintahkan oleh Lord Lawson yang memberitahukan jika dia mendapat perintah dari Your Highness. Dua orang lagi berhasil kabur sambil membawa sekantong koin emas tapi, sekarang sudah kami penggal. Keluarganya sudah kami kirim ke perbudakan, Your Highness"
Fredrick membalik garpu dan meletakkan pisaunya, menyesap anggurnya lalu mengelap ujung bibirnya. Tomy melanjutkan lagi tanpa perlu di minta
"Lord Lawson hampir pingsan kepanasan dan kedinginan di luar, kami sudah memberikan rempah halusinasi miliknya dan juga mencampur rempah damiana. Sekarang dia sudah mulai tidak bisa tidur, dia akan selalu sadar tapi dengan pikirannya juga sudah mulai tidak ter-arah"
Setelah selesai dengan makannya, Jeremmy dengan sigap langsung mengangkat nampan piring dan gelas Fredrick dari atas meja. Fredrick menautkan tangannya di meja sambil menatap Tomy dan Carl bergantian
"Besok, permalukan dia ke seluruh Argentt terserah kalian ingin memakai cara apa, pastikan kabar ini berhembus hingga ke seluruh sudut Francia. Hingga seluruh keluarganya juga ikut merasakan hinaan seumur hidup mereka dan setelah itu" Fredrick menjedah dan berjalan menuju pintu ke luar kamarnya. "Siksa dia secara perlahan hingga di setiap harinya, dia akan selalu memohon untuk mati. Jangan bunuh dia, biarkan dia mati sendiri"
__ADS_1
Ucapan Fredrick masih terus berdengung di telinga Carl walaupun tubuh Fredrick sudah keluar dari pintu. Tomy hanya menanggapi dengan wajah tidak terbaca.
"Aku tidak bisa membayangkan Tom, bagaimana jika dua orang itu terikat dan duduk di atas tahta"
Carl yang berucap sambil mengusap-usap tangannya dengan ngeri menatap Tomy yang terus menatap kepergian Fredrick, meski tubuh Fredrick yang bisa di tangkap arah pandangnya sudah masuk ke kamar Victoria.
"Kau mendengar ku Tom? seluruh bulu di tangan dan tengkukku terus bergindik saat membayangkan itu"
"Bukankah sudah seharusnya?"
Dengan langkah yang mulai keluar dari pintu, Tomy menjawab sambil melirik Carl yang terus mengusap tangan dan tengkuknya
"Oohh... Hans temanku.. tidak lama lagi di neraka kau akan mempunyai teman satu tim korban dari hasil keberanian menyentuh tunangan His Highness.." Carl menatap Tomy saat kakinya sudah berdiri di samping Tomy. "Hans pasti senang kan Tom?"
Dengan wajah tidak terbaca dan perasaan malas, Tomy mengabaikan ucapan penuh celaan Carl.
ππππ
Di sisi lain, Adam, Calista dan empat gentleman lain, baru saja di lepaskan dari ikatan mereka dan sudah di ijinkan untuk bisa keluar dari gudang. Calista dengan dendam dan amarah di hatinya terus menatap ayahnya yang baru saja menerima surat dari seorang penjaga.
"Sial*n!"
Umpatan Adam dengan di sertai tangan gematarnya yang masih menggenggam surat membuat Calista menarik tangan ayahnya dan membaca isi surat itu. Setelah surat itu selesai di bacanya, kedua bola mata Calista yang tadinya penuh amarah berubah menjadi sendu.
"Tidak mungkin kan ayah... dia akan selalu menjadi milikku, kami akan selalu saling mencintai"
Adam yang melihat jika putrinya mulai terguncang, meraih tangan putrinya dan menatap putrinya dengan lembut
"Tentu saja nak, kalian sudah bersama lebih dari sepuluh tahun, banyak hari dan kenangan yang kalian lalui, terlebih, kalian punya ikatan perjanjian. Tenanglah, jiwa dan hatinya akan selalu terikat padamu"
Dengan air mata yang mulai tumpah, Calista membelai perut dan dadanya sambil mengenang masa lalu dan menguatkan diri. Dia sudah siap jika di haruskan untuk ikut masuk dalam pertempuran.
\=\=\=ππππ
Tanaman Kanna: biasa digunain sebagai bahan bius untuk melumpuhkan musuh, hewan buruan, atau pasien yang membutuhkan ketenangan dalam penanganan timΒ kesehatan. kalo untuk pengobatan darurat bisa di gunakan dengan cara di kunyah. Saripati yang keluar dari kanna bisa ngebuat siapapun merasa tenang dan mengantuk. Tapi, kalo menggunakannya secara berlebihan bisa nimbulin efek halusinasi hingga badan yang mati rasa.
Tanaman Damiana: Tanaman yang bisa menimbulkan efek mabuk. Beraroma bunga yang wangi, aroma yang wangi kalo di hirup terus menerus bisa membuat terbius saat itu juga. Di beberapa negara terkadang di jadikan campuran teh, karna selain aromannya yang wangi rasanya juga manis. Dan di beberapa negara juga sering di campurkan dengan obat terlarang biar efek nge-fly-nya lebih kuat dan tahan.
>> Ini eike lagi niat ngejabarin penjelasan :') maaf yang sebelum-sebelumnya kalo ada benda, bahasa, dan tindakan yang dari dunia real trs eike masukin ke sini tapi gak eike jabarin ato coba di cerahkan. :')
\=\=\=ππππ
Yuk bisa yukk jejaknya di tinggalin..
__ADS_1
Vote-nya juga yukk di sebarin...
Salam sayang semuaβ¨