
Victoria menatap sekelilingnya untuk menilai dan memperhatikan keadaan sekitar sambil menunggu pesanan makan mereka datang.
Fredrick membawa Victoria untuk makan siang di sebuah kedai makan sederhana yang cukup ramai tapi, dengan kekuatan uang, Fredrick dengan ceoat bisa mendapatkan meja kosong untuk mereka. Victoria masih menatap sekitar. Beberapa meja penuh dengan tawa para lelaki yang sibuk bercerita dan lalu terbahak kuat hingga membuat mejanya juga ikut bergetar. Beberapa meja lagi di isi orang-orang dengan pakaian sederhana seperti dirinya yang sepertinya hanya berniat untuk mengisi perut dan, si sudut ruangan di salah satu meja, di isi oleh empat orang wanita yang terus sibuk menatap ke arah mejanya, lebih tepatnya ke arah Fredrick. Victoria memutar bola matanya dengan malas.
"Kenapa?"
Fredrick yang menyadari jika Victoria baru saja memutar bola matanya segera mengikuti arah pandang Victoria pada meja di sudut ruangan. Dimana para wanita di sana langsung tersenyum malu-malu, tersenyum mengundang, dan tersenyum tidak tahu malu pada Fredrick. Dengan ramah Fredeick membalas senyum mereka yang langsung membuat mereka memekik dan cekikikan geli. Semua pemandangan itu membuat Victoria jijik.
"Apa sekarang kau sedang tebar pesona Bash?"
Satu alis Fredrick terangkat dan segera memutar kepalanya kembali untuk menatap wajah Victoria yang juga sudah menukikkan satu alisnya dengan tinggi.
"Apa kau tidak suka sayang? jika kau cemburu aku tidak akan membalas senyum ramah mereka"
Suara menyebalkan Fredrick hampir membuat Victoria memuntahkan isi perutnya yang tidak ada, dan akan menjawab, tapi, mulutnya segera kembali mengatup saat seseorang membawa pesanan mereka.
"Selamat menikmati"
"Terimakasih"
Setelah memberikan senyum tulus dan berterimakasih, Victoria kembali menatap Fredrick dengan raut wajah yang kembali datar.
"Kau percaya diri sekali Bash"
Fredrick terlekeh dan mulai mengangkat garpu dan pisaunya.
"Tentu saja, aku kan memang sangat tampan"
Ucapan Fredrick membuat satu buah kacang polong melayang ke tubuhnya. Fredrick kembali terkekeh.
Obrolan dan pertanyaan Victoria mengisi percakapan mereka di meja makan. Mereka melakoni peran mereka sebagai rakyat jelata dengan natural, hingga, fokus Fredrick terpusat pada tangan Victoria yang mengangkat gelas bir. Fredrick menaikkan satu alisnya
"Kau yakin?"
"Hhmm... aku penasaran"
Dengan perasaan gemas dan geli Fredrick hanya membiarkan Victoria meneguk isi gelas yang di pegangannya. Vicroria mengeryit
"Ini lumayan"
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan 'lumayan' Vic"
Victoria terkekeh dan meraih gelas air putih lalu menatap Fredrick yang meneguk hingga tandas isi gelas bir murahannnya. Isi gelas segera lenyap dalam seketika. Dengan penuh pengertian, Victoria menggeser gelasnya agar mendekat pada tangan Fredrick yang baru mendaratkan gelas kosong di atas meja.
__ADS_1
Dengan tersenyum menggoda dan menggerling nakal Fredrick menatap Victoria
"Kau ingin menjebakku dengan membuatku mabuk?"
Alis Victoria mengerut. Fredrick melanjutkan
"Setelah mabuk kau akan membawaku ke hotel kan? kau ingin melakukan hal yang tidak-tidak padaku?"
Dengan wajah yang sudah berubah dramatis bahkan kedua tangannya sudah menyilang di depan dada, Fredrick berucap dengan percaya diri. Victoria hampir kehilangan matanya karna melotot tidak percaya, bahkan dia bergindik setelah ucapan Fredrick sampai di telingannya.
"Bash... kau harus berhenti datang ke theater, berhentilah menonton opera murahan"
Gelak tawa Fredrick segera menggema, hingga membuat fokus beberapa orang di sekitar mereka teralihkan pada Fredrick yang terus terbahak hingga wajahnya memerah.
Setelah tawa Fredrick mereda, sambil mengusap ujung matanya yang basah, Fredrick menatap Victoria dan mencubit pipi Victoria dengan gemas.
"Kau sangat menggemaskan Vic"
Dengan dagu yang langsung di angkat tinggi, Victoria menjawab
"Tentu saja"
Fredrick terkekeh yang membuat Victoria ikut terkekeh dan semua pemandangan itu tidak luput dari penglihatan Jeremmy dan kesatria yang sedang duduk jauh dari meja mereka. Menjaga dan mengawal mereka dari jauh.
"Jalan-jalan?"
Senyum semeringah Victoria terbit.
Setelah urusan perut selesai, Fredrick kembali menggandeng tangan Victoria dan membawanya berkeliling di sekitaran pasar, membiarkan Victoria melihat-lihat dan menilai apapun. Fredrick juga mengikuti kemauan Victoria yang ingin menelusuri gang-gang kecil, ataupun pemukiman yang kumur, dan lagi, Fredrick mengangguk patuh dan menuntun jalan mereka.
Fredrick hanya diam memandangi wajah Victoria yang penuh penilaian dan pengamatan. Apapun di amatainya dan apapun di nilainya terlebih saat mereka berada di pemukiman kumuh di dekat pasar. Fredrick melihat itu, kedua bola mata sehijau daun itu bergetar saat melihat bagaimana keadaan penduduk di daerah itu.
Bagaimana pemandangan menyedihkan seperti seorang ibu yang sangat kurus hingga menyisakan tulang dan kulit di tubuhnya sedang memberikan asi kepala anaknya yang keadaan tubuhnya tidak jauh berbeda dari sang ibu. Ibu itu mendatangi mereka sambil menengadahkan tangan untuk meminta uang. Kedua bola mata Victoria bergetar dan tersenyum miris sambil memberikan empat koin emas kepada ibu itu. Ibu itu tersenyum haru dan saat melihat koin yang ada di tangannya, tangis itu pecah. Segala ucapan terimakasih dia berikan, segala rasa syukur dia ucapkan dan segala doa kebaikkan dia panjatkan untuk Victoria.
Dengan mata berkaca-kaca, Victoria menarik ibu itu untuk membawanya ke sebuah kursi panjang yang sudah terlihat raput, hingga Fredrick harus berulang kali memeriksa kursi itu agar tidak mencelakai Victoria.
Dengan bersandar di sebuah pohon, tangan terlipat di depan dada, Fredrick terus mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat, mengamati tunangan manisnya yang luar biasa. Senyuman , cara memandang, nada suara, gesturnya sangat terlihat jika itu alami dan tulus. Fredrick bisa menyakini itu, karna selama hidupnya sudah terlalu banyak dia melihat orang-orang yang bermulut manis atau berwajah baik yang ingin menjilatnya, tapi Victoria berbeda. Victoria, tunangannya akan menjadi calon ratu yang sangat luar biasa, mendampinginya dalam kehidupan pernikahan atau pun pekerjaannya. Semua pemikiran itu membuat jantung Fredrick berdegup, desiran yang tidak dia mengerti apa, merayap dengan cepat di dadanya.
"Your Highness".
Suara Jeremmy membuat Fredrick kembali ke dunianya, lalu menatap sekeliling.
"Berapa banyak?"
__ADS_1
"Ada delapan orang pria Your Highness, dan kami sudah menjauhkan mereka. Tapi menurut saya, sebaiknya kita segera pergi dari sini"
Fredrick diam sejenak, wajahnya terlihat berpikir sambil menatap Victoria yang sekarang sedang menggendong bayi kurus itu. Sesekali Victoria terkekeh pada bayi di tangannya, ingin rasanya Fredrick tidak mengakhiri semua pemandangan wajah tidak biasa yang Victoria tunjukkan seperti sekarang tapi, wilayah ini memang sangat rawan. Kemiskinan dan kesulitan membuat kriminalitas menggila. Dengan langkah lebar, Fredrick mendekat pada Victoria dan berbisik tapi, Victoria menggeleng kuat. Tanda jika dia belum ingin beranjak dari sana. Hingga Fredrick harus sedikit menjelaskan alasan yang sebenarnya. Akhirnya Victoria mengangguk pasrah.
"Apakah nyonya itu akan aman?"
Dengan yakin Fredrick menggeleng dan menatap ibu itu
"Apa anda punya rumah nyonya?"
Ibu itu mengangguk yakin dengan senyum hangat tercetak di bibir keringnya
"Punya tuan, saya punya, apakah kalian ingin mampir di gubuk saya?"
Sambil tersenyum hangat, Fredrick menggeleng
"Nanti ada orangku yang akan menemani dan mengawal anda berbelanja di pasar, lalu mengantar nyonya pulang ke rumah" Fredrick menjeda dan menatap Gregory yang sudah muncul dari balik pohon. "Anda paham kan maksut saya nyonya?"
"Saya paham tuan, terimakasih tuan, terimakasih banyak... semoga pernikahan kalian selalu di sertai berkat Tuhan dan kalian cepat mendapatkan keturunan"
Air yang akan melewati tenggorokan Victoria langsung sedikit berbelok saat telinganya menangkap ucapan ibu itu yang membuatnya tersedak dan terbatuk kuat hingga wajahnya memerah.
Fredrick terus mengulum senyumnya hingga Gregory yang membawa ibu itu hilang dari arah pandangnya.
Batuk Victoria mulai mereda tapi wajahnya semakin memerah yang membuat bibir Fredrick berkedut ingin tertawa
"Ingin berkeliling lagi?"
Dengan sesekali berdehem Victoria mengangguk dan menatap Fredrick dengan sorot mata tegas
"Bisakah kita ke tempat yang tenang dengan pemandangan bagus?"
Fredrick segera mengangguk yakin
\=\=\=🎀🎀🎀🎀
Yang penasaran sama alasan tragedy Albany tungguin buat next chapt yaaa
Yuk tinggalin jejaknya di tombol like, komen, bintang dan lope-nya...
Jika berkenan, Vote-nya boleh yuk di sebar juga
Salam sayang semua✨
__ADS_1