Behind The Castle

Behind The Castle
**TWINS?**


__ADS_3

Warna langit semakin menggelap karna matahari sudah terbenam. Udara mulai terasa semakin dingin, hembusan angin membuat Diana mulai menghidupkan perapian di kamar Victoria. Sesekali sepasang bola mata birunya melirik Victoria yang hanya diam seperti patung sambil melipat kedua tangannya di dada. Sudah hampir satu jam Victoria melakuakan itu di depan meja kerjanya. Entah apa yang sedang di pikirkan nyonyanya yang terlihat sangat larut pada pemikiran dan lamunanya, hingga suara pintu di ketuk membuat Diana langsung membuka pintu. Wajah Carl lah yang muncul


"Apa saya bisa bicara dengan Her Highness, Lady Diana?"


Diana meminta Carl untuk menunggu sejenak di depan pintu. Dia harus bertanya dulu pada Victoria yang sangat fokus pada keterdiamannya.


Setelah mendengar jika Carl datang, Victoria langsung keluar pintu bersama Diana. Mereka menuju ke tempat pertemuan rahasia mereka. Bekas insta kuda yang berada di utara istana.


Selama perjalan di isi dengan keheningan. Diana dan Carl hanya bisa sesekali saling melirik hingga mereka sampai ke ruangan itu. Di sana Lucas sudah menunggu dengan banyak kertas di atas mejanya.


"Selamat malam Your Highness"


Victoria mengangguk singkat pada Lucas yang menyapanya, lalu melirik kertas-kertas yang ada di atas meja.


"Diana, kau tunggu di luar dulu ya"


Diana yang mengerti langsung mengangguk patuh dan keluar dari pintu ruangan yang ada di dalam insta kusa itu.


"Ini semua nama yang berhubungan dengan pembersihan Albany, Your Highness"


Victoria mengangguk


"Tolong jelaskan saja Luc"


Dengan cepat Lucas mengangguk dan memulai penjelasannya, Victoria mendengarakan dengan tenang


Nama-nama sudah Victoria tanamkan di dalam kepala dan juga hatinya dengan bonus tentang kehidupan pribadi orang-orang itu. Lucas dan Carl memang profesional dan membuat Victoria tersenyum berterimakasih.


"Apa yang ingin anda tanyakan lagi, Your Highness?"


"Terimakasih Luc, ini semua lebih dari cukup"


Lucas mengangguk dan saling melirik pada Carl karna Victoria kembali diam dan terlihat berpikir. Beberapa menit Victoria larut akan pemikirannya hingga suara nafas panjangnya yang berhembus.


"Apa anda baik-baik saya Your Highness?"


Dengan wajah khawatir, Carl menatap Victoria dengan lekat.


"Aku baik-baik saja"


Tapi tidak seperti itu di mata Lucas dan Carl. Wajah Victoria tampak lelah, ada lingkaran hitam yang sedikit mulai muncul di bawah matanya terlebih, keterdiaman Victoria menjelaskan jika dia, sedang menjalani hari-hari yang penuh dengan banyak beban pikiran melelahkan.


"Oh iya, Your Highness. His Highness Pangeran Fredrick sepertinya akan sampai besok pagi"


"Aku tahu Luc..." Akhirnya Victoria menggerakkan bola matanya yang sedari tadi hanya menatap lurus ke depan. "Apa Albany sudah membalas suratku Luc?"

__ADS_1


"Mungkin sudah Your Highness, hanya saja surat balasan sepertinya masih dalam perjalanan kemari"


Victoria mengangguk paham


"Siapa yang membawa suratnya Carl?"


"Kami meminta Gregory, Your Highness"


Senyum tipis tercetak di bibir Victoria. Lalu menatap Carl dan Lucas bergantian


"Bisakah aku percaya pada kalian?"


Carl dan Lucas langsung berdiri dari sofa sambil membungkuk dalam


"Kami adalah subyek anda, Your Highness"


"Tapi kalian 'anjing' His Majesty?"


Dengan wajah datar, Victoria berucap dengan tajam. Carl dan Lucas yang paham langsung menjelaskan.


"Kami memang 'anjing' His Majesty, dalam artian 'anjing Raja'. Dan nanti saat Raja yang di inginkan His Majesty naik tahta, kami akan melanjutkan wasiat itu dan juga takdir itu"


Kepala Victoria langsung mengangguk paham. Sekarang dia baru mengerti tentang ikatan politik kesatria dan tuannya. Setelah memerintahkan Carl dan Lucas untuk kembali duduk, tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di pikiran Victoria. Dengan wajah serius, Victoria menatap bergantian dua orang pria di depannya


"Jika ikatan kesatria emas dan Raja seperti itu, lalu kenapa, Mendiang His Majesty Raja David masih mempunyai 'anjing' sendiri?"


"Apakah Countess Xenas tidak memberikan pelajaran tentang His Majesty yang mempunyai saudara perempuan, Your Highness?"


"Saudara perempuan?"


Carl mengangguk yakin dan terus menatap wajah Victoria yang sekarang tampak penasaran


"Benar, Your Highness. Kembaran His Majesty. Kakak perempuan His Majesty yang berbeda beberapa menit darinya"


Oohh Astaga apa ini...? Kenapa dia tidak pernah mendengar cerita ini, dan kenapa juga dia baru bisa mengetahui semua ini. Jelas saja pendukung mendiang Raja David tidak bisa berpihak pada Raja George. Jika Raja George memiliki seseorang yang lebih tua darinya, berarti pada awalnya bukan dia yang berhak atas tahta


"Lalu??"


Lucas menarik nafas panjang dan membantu Carl untuk menjelaskan


"Saat berumur sebelas tahun, mendiang putri mahkota terkena penyakit paru-paru dan jatuh sakit hingga berbulan-bulan hingga akhirnya mangkat"


"Ohh.. jadi begitu..." Kepala Victoria mengangguk-ngangguk paham. "Tapi sedikit aneh karna cerita ini seperti tidak terlalu di buka secara umum, bahkan aku tidak pernah di ajarkan tentang cerita ini"


Carl dan Lucas hanya saling melirik, sedangakn Victoria larut dalam pikirannya. Ada satu pemikiran yang sangat tebal mengisi kepalanya sekarang. Jika Raja George tidak mendapatkan semua dukungan 'warisan' dari Raja. Bagaimana bisa sekarang dia mendapat semua dukungan yang membuatnya sangat kuat? Victoria akan kembali memdalami riwayat Raja George. Dia akan mendalami sangat dalam. Entah kenapa ini cukup mengganjal untuknya

__ADS_1


"Your Highness?"


Suara Lucas membuat Victoria menghentikan pemikirannya dan menatap Lucas.


"Luc, apakah hubungan 'anjing' His Majesty dan 'Anjing' mendiang Raja David baik-baik saja?"


Dengan gusar Lucas melirik Carl yang mengangguk, yang membuatnya membuka mulut


"Sebenarnya, kami jarang bekerja sama di luar tim kami. Tim yang kami buat biasannya berasal dari untuk siapa kami mengabdi. Jadi, hubungan kami bukannya tidak baik tapi juga tidak dekat, Your Highness"


--000--


"Vic, tidurlah dulu"


Tanpa ingin menjawab, Victoria hanya masih larut dengan buku tebal di tangannya. Buku yang berisi riwayat perjalanan hidup Raja George. Hari sudah semakin malam dan hampir melewati tengah malam. Diana yang terus melihat nyonyanya yang masih bekerja tanpa mengenal waktu lagi itu, mulai khawatir.


"Vic...?"


Sambil mendesah lelah, Victoria menutup buku di tangannya dan meletakkan buku itu ke atas meja kerjannya. Tangannya bertaut sambil menopang dagu dengan mata terpejam. Dari hasil yang di bacanya, tidak ada hal luar biasa yang di temukannya dari kepemimpinan Raja George muda. Raja George memang seorang Raja yang bagus tapi, hanya itu. Dia hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak ada hal yang luar biasa dan spesial sehingga membuatnya bisa mendapatkan 'anjing-anjing' penting. dalam kurun waktu dua tahun setelah dua tahun duduk di atas tahta. Bukankah itu cukup untuk membuat penasaran?.


Entahlah, apa yang membuat semua itu sedikit mengganjal di pikiran Victoria, karna sebenarnya bisa saja kan semua itu terjadi, apa yang tidak bisa terjadi di dunia ini.


"Vic... ayolah... kau harus istirahat"


Kembali Victoria mendesah lelah hingga akhirnya berdiri dari kursinya menuju ranjang


"Apa sudah ada surat penting yang datang Di?"


Sambil meniupi lilin-lilin Diana menggeleng


"Belum ada Vic, hanya surat-surat undangan jamuan minum teh. Ada apa Vic? surat siapa yang kau tunggu?


Sambil menarik selimutnya Victoria memiringkan tubuhnya dengan tangan yang menyangga kepalanya


"Entahlah Di... rasanya terlalu banyak"


Kembali Diana menjalankan tugasnya yang lain. Mendekat pada perapian dan meraih kayu bakar yang di sediakan di dalam kotak


"Jangan terlalu bekerja keras Vic"


Victoria tersenyum tipis


"Doakan saja aku Di, semoga aku selalu di berkati dan di lindungi"


\=\=\=💜💜💜💜

__ADS_1


Ayokk... jejaknya... semakim banyak, semakin semangat eike ngetik. hehhe


Salam sayang semua


__ADS_2