
Layaknya seorang gentleman sejati Fredrick meminta tangan Victoria untuk dansa pertama mereka, dengan anggun Victoria memberikan tangannya. Fredrick membawa Victoria ke lantai ballroom dan alunan musik waltz segera mengaung.
Dengan lekat Fredrick menatap wajah datar Victoria, memperhatikan tiap detail bentuk wajah tunangannya itu, tangannya dengan kuat tapi juga lembut membawa Victoria bergerak menjalani setiap step gerakan dan setiap step alunan musik.
Victoria merasakan tangan kekar Fredrick yang kokoh menuntun pinggangnya dan sebelah tangannya yang mereka yang bertaut ke atas, Victoria memandangi wajah panas Fredrick, setiap detail akhirnya ingin dia lihat, tidak ada yang salah jika pria seperti Fredrick hanya dengan sedikit tatapan bisa membuat seorang gadis berlutut padanya tanpa perlu di minta.
"Apa kau suka dengan wajahku?"
Victoria tersenyum tipis tanpa menjawab, kembali Fredrick mencoba mencari tahu jawaban di kepalanya
"Apa kau suka dengan pertunangan ini?"
Kembali Victoria hanya membalas dengan tersenyum tipis. Fredrick semakin merapatkan tubuh mereka hingga aroma jantan Fredrick dan aroma manis rambut Victoria saling bertabrakan.
"Kau sangat manis Vic"
Dengan lembut Victoria menggerakkan tangannya yang ada di bahu Fredrick, yang entah untuk apa tapi itu terasa sangat sensual untuk Fredrick
"Anda juga tampan Your Highness"
Fredrick memutar tubuh Victoria dan dengan cepat kembali menangkapnya, nafas hangat Victoria yang berhembus si di ceruk lehernya semakin membuat Fredrick menderita, terlebih lagi, Victoria menggerakan dengan lembut tangannya yang berada di bahu Fredrick, mencoba memahami maksut Victoria, Fredeick mencoba membaca dari raut wajahnya tapi, tidak ada yang bisa di tebak atau baca dari wajah datar itu.
"Aku mulai tersiksa Vic"
Dengan santai Victoria akhirnya mengangkat kepalanya untuk menatap Fredrick
"Saya tahu Your Highness"
Seperti mendapatkan sebuah jawaban Fredrick terkekeh
"Kau sengaja?"
"Saya sedang menggoda"
Fredrick hampir tersedak ludahnya
"Untuk apa?"
Dengan santai Victoria menggerakan lagi tangannya, kali ini dengan jangkauan yang semakin panjang hingga ke atas dada Fredrick dan lebih parah gerakan itu semakin berani. Fredrick mengeram. Victoria menangkap kilapan membara yang langsung tercetak di kedua manik bola mata abu-abu itu.
"Anda semakin bersemangat Your Highness"
Fredrick mencengkam dengan kuat pinggan Victoria dan menatapnya dengan membara
__ADS_1
"Apa kau tahu yang sedang kau lakukan sekarang?"
Dan seperti Victoria yang selalu tidak bisa di baca Fredrick, kali ini juga dia melakukan sesuatu yang membuat panas tubuh Fredrick naik. Victoria menempelkan kepalanya di bahu Fredrick, nafas hangatnya semakin kuat berhembus di ceruk leher Fredrick, genggaman tangan Fredrick di tangannya dan di pinggangnya menguat, Fredrick meremang, Eraman semakin dalamnya terdengar.
"Apa maksunya ini Vic?"
Masih dengan kepala yang menempel di bahu Fredrick, Victoria berbisik lirih
"Saya ingin tahu, apa yang sekarang sangat anda inginkan Your Highness"
Fredrick mengeraskan rahangnya menahan semua siksaan yang menghantam pertahanannya
"Kau tidak akan ingin mendengarnya"
Victoria terkekeh dan menarik kembali kepalanya dari bahu Fredrick, kilapan membara di kedua manik Fredrick semakin menjadi, Victoria berbisik lirih di depan dagu Fredrick
"Kalau begitu jangan"
Pinggang Victoria kembali di tarik, Fredrick semakin mendekatkan wajah mereka, nafas hangat menerpa wajah Victoria.
"Jadi, kapan aku bisa mengatakan dan yang terpenting bisa melakukan keinginanku?"
Victoria membalas perlakuan Fredrick dengan tak kalah panas dan sensual
Bagai di siram es, akhirnya Fredrick menangkap maksut terselubung Victoria, itu sebuah undangan tapi juga peringatan, jika itu seorang gentleman bisa, mereka tidak akan bisa menangkap maksut cerdas dari Victoria. Fredrick terkekeh
"Kau memang sangat cerdas Vic, apa aku bisa di sebut beruntung karna mengerti maksutmu?"
Sambil sekali lagi usapan lembut di bahu Fredrick, Victoria menegakkan tinggi kepalanya agar mendekat pada telingat Fredrick dan berbisik lirih.
"Saya tidak suka ucapan Your Highness, lidah bisa berdusta"
Fredrick menegang, bukan hanya karna godaan Victoria tapi juga dengan makna perkataannya, dengan lekat dan dengan tatapan membara Fredrick menatap Victoria.
"Tunggulah.... Kau akan menjadi milikku"
Victoria terkekeh dan memperbaiki posisi mereka yang sedikit Vulgar tapi tangannya masih bergerak pelan di bahu Fredrick
"Saya tidak suka menunggu dan menelan janji Your Highness"
Perasaan gemas, kesal dan menginginkan berputar di tubuh dan kepala Fredrick, sekali lagi eramannya terdengar
"Aku sudah mengerti maksutmu, jadi berhentilah Vic, dari mana kau belajar ini?"
__ADS_1
Fredrick menatap Victoria penuh selidik tapi juga penuh keinginan, Victoria masih menangkap kilapan yang tercetak di kedua bola mata abu-abu Fredrick dan kembali berbisik lirih
"Madam Lailah"
Musik Waltz berhenti, Fredrick menyadarinya tapi tetap memegang posisi tubuhnya karna dia perlu menegaskan sesuatu pada tunangan nakalnya
"Jangan lakukan itu dengan sembarangan, kau hanya boleh mencoba itu padaku"
Victoria mengedipkan bahunya acuh dan menarik tubuhnya dengan pelan menjauh dari Fredrick, dengan sengaja Victoria menatap Fredrick sambil mengerling.
"Setelah ini saya akan berdansa dengan yang lain kan?"
Fredrick terkekeh dan akhirnya untuk petama kalinya Fredrick melihat Victoria yang terkekeh untuknya dalam artian yang baik.
Setelah itu Mereka saling membungkuk untuk menutup dansa
-00-00-
Entah sudah berapa season dansa yang di lakukan Victoria dengan beberapa pria, Victoria bertanya-tanya, apa begini rasanya berdansa tanpa henti dengan seorang pria saat pesta debut, tapi yang paling menyiksa adalah, Victoria sangat ingin berdansa dengan salah satu uncle-nya yang juga terus menatapnya, sesekali mereka bertemu di lantai dansa saat para uncle-nya yang secara bergantian membawa istri mereka ikut berdansa, hanya kerlingan dan kedipan mata dari mereka yang bisa Victoria dapatkan di lantai dansa. Victoria butuh waktu bersama salah satu di uncle-nya karna bukan hanya dansa yang di harapkannya, tapi juga rencana.
Merasa lelah, Victoria akhirnya turun dari lantai dansa saat dansa terakhirnya dengan seorang gentleman yang tidak dia ingat dan tidak ingin dia ingat siapa. Dengan anggun dan dagu terangkat tinggi Victoria melangkah mendekat pada meja minuman, kipas-kipas mulai terbuka dan pandangan bingung para tamu mulai di berikan untuknya karna ini pesta debutnya tapi Victoria tidak peduli, lagi pula ini hanya pesta debut mainan, bukan sungguhan.
"Selamat malam La-lady Victoria Arathorn"
Victoria segera memutar tubuhnya untuk menatap siapa pria yang menyapannya
Dengan Gentle, pria itu meminta tangan Victoria dan mencium singkat, Victoria memperhatikan pria yang tampak berbeda dengan pria lain di tamu undangan, bahkan penampilannya bukan seperti bangsawan biasa
"Perkenalkan sa-saya Henry Castalarox"
Victoria tersentak, hanya keheningan yang ada di pikirannya selama beberapa saat, hingga kesadarannya akhirnya kembali dengan cepat dan anggun Victoria menekuk kakinya, menarik sisi gaunnya dan sedikit membungkukkan punggungnya. Memberikan salam pertamanya pada
"Selamat malam Your Highness Pangeran Henry"
Victoria menyeringai
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Hallo readers... terimaksih banyak sudah mampir dan masih tertarik untuk lanjut membaca...
Tolong like, komen, bintang dan lope-nya yaa...
Salam sayang semua ✨
__ADS_1