
"Apa ini sudah seluruhnya Carl?"
"Sudah Your Highness, semua bukti yang di simpan His Majesty sudah ada di tanga anda"
Tangan Victoria mulai membuka lembaran-lembaran gulungan perkamen dan kertas
"Enam nama?"
Dengan yakin Carl mengangguk
"His Majesty mengatakan jika hanya ada enam nama yang terlibat dalam upaya menolakkan anda di atas tahta"
"Sisanya?"
Dengan membuang nafas panjang Carl menatap Victoria dengan pandangan pasrah
"Kita tidak bisa menyeret 'anjing' mendiang yang lain tanpa adanya pemicu. Mereka juga bersih. Maaf Your Highness, tapi apa kita tidak harus bertanya dulu pada His Highness? Mereka...."
"Ada orang ibunya?"
Sambil mengusap tengkuknya Carl mengangguk
"Untuk apa menyimpan 'anjing' orang yang sudah tidak ada Carl? Bahkan sekarang sudah ada Ratu baru, biarkan mereka yang sudah tiada menjadi kenangan dan sejarah"
Carl tersentak mendengar ucapan Victoria
"Your Highness, kita tidak bi...."
"Kerajaan memiliki Raja, aturan di dalam buku di buat karna keputusan Raja, yang lain hanya memberikan keinginan mereka dalam arti. Francia memiliki satu aturan yaitu, His Majesty. Raja"
Carl hanya bisa terdiam. Keheningan cukup lama terjadi di antara mereka hingga Lucas datang menyusul mereka di dalam ruang insta dan Diana keluar ruangan.
Dalan diam Victoria membaca bukti-bukti di tangannya, sesekali tangannya berhenti memegang kertas dan perkamen untuk menyambar cangkir teh. Carl dan Lucas bermain dadu dalam diam, dengan sesekali umpatan mereka terdengar. Berjam-jam terlewati, Diana juga sudah di minta untuk kembali ke dalam istana.
Akhirnya suara hembusan nafas panjang yang terdengar sangat lelah dari mulut Victoria terdengar, membuat Carl dan Lucas langsung merapikan dadu-dadu lalu duduk kembali ke sofa
"Bagaimana bisa His Majesty membiarkan semua ini?"
Tangan Victoria melempar dengan kasar dua perkamen di atas meja hingga menimbulkan suara hentakan keras
Carl segera meraih perkamen itu dan membaca isinya dengan di ikuti Lucas.
"Ini....."
Mungkin karna terlalu terkejut, Lucas sampai tidak mampun memberi komentar. Carl langsung mengumpat dengan si susul sumpah serapahnya.
"Bisakah kalian memberikan gambaran alasan apa yang membuat His Majesty hanya diam dengan bukti perdagangan manusia?!"
Wajah Victoria mengeras dengan gigi mengerutuk, guratan kemaran sangat terasa dari raut wajahnya dan tidak jauh berbeda dengan wajah Carl serta Lucas
"Ini hanya pemikiran saya Your Highness, mungkin karna leluhur mereka berperan sebagai penyokong His Majesty sebelum naik tahta, seperti cerita yang baru kami dapatkan beberapa hari yang lalu jika sebagian besar penyokong His Majesty berasal dari mendiang Duke Edinburgh. Ayah mendiang Ratu"
"Dan karna itu juga, His Majesty tidak bisa menyeret mereka, putra mahkota tanpa penyokong sama seperti ular tanpa taring"
Carl menimpali ucapan Lucas dengan yakin, walaupun ada pemikiran lain yang tidak bisa di bukanya. Victoria yang mendengar itu hanya bisa memijat pelipisnya
__ADS_1
"Dan kenapa sekarang His Majesty mau membuka ini?"
Pertanyaan Victoria membuat Carl dan Lucas tersenyum tipis, lalu saling melirik. Victoria yang melihat raut wajah ke dua pria di depannya mengumpat dengan cara pria kasar
"Aku mana punya 'anjing'! Belum memakai mahkota saja aku sudah mempunyai banyak penolakan"
"Sepertinya itu tidak berlaku untuk pemikiran His Majesty, Your Highness"
Dengah tenang Lucas menyuarakan lagi pemikirannya. Victoria membuang nafas panjang kembali.
"Apa keluargaku sudah membalas surat Luc?"
Dengan yakin Lucas menggeleng
"Tidak ada satu suratpun yang di respon, Your Highness"
"Tetap kirim surat Luc, setiap hari, hingga mereka membalas"
Carl dan Lucas saling melirik lalu mengangguk pasrah
"Apa anda akan memberitahukan ini pada His Highness?"
"Belum, nanti saja saat semua beres, itupun jika dia belum mendapatkannya sendiri" Sambil merapikan isi meja yang langsung di ikuti ke dua pria di depannya, Victoria berguman. "Aku punya rencana sendiri nanti"
πΊπΊπΊπΊ
James dan Victoria sedang berada di dalam ruang rapat istana dengan di temani Carl, Lucas dan tangan kanan James yang setia menjaga mereka. Sesekali James mengumpat dan mengeram marah, lalu Victoria juga ikut mengumpat saat di bagian yang tidak di mengertinya terpecahkan dengan penjelasan James.
Tok Tok Tok
"Ini Marquess Mincheas datang, Your Highness"
"Maaf Your Highness dan Earl Xenas atas keterlambatan saya, ban kereta kuda kami sedikit bermasalah karna tumpukan es
"Tidak masalah Marquess Mincheas, duduklah"
Setelah Marquess Mincheas duduk, James kembali mengulang dari awal dan sampai di mana mereka membahas. Setelah selesai Marquess Mincheas terlihat hanya bisa menahan umpatan dan geraman
"Mengumpatlah Steve, aku tahu kau kesal"
Marquess Mincheas melirik Victoria yang mengangguk lalu berucap
"Saya sudah lama ingin meminta ini, saat kita sedang berdiskusi, saya ingin kita lebih santai Marquess Steven"
"bedeb*ah kurang ajar! mereka hama kotoran menjijikkan!!!! Ya Tuhan.... penggelapan dana?!" Steven melempar dua perkamen ke atas meja. "Tempat pelacur*n?!" Dua perkamen lagi di lempar. "Dan ini.... Oh Tuhan... Mereka memperdagangkan manusia! ini manusia Your Highness!!"
James dan Victoria terperangah melihat Steven yang lebih kasar mengumpat dan terus mengumpat di setiap kerta yang baru di cernannya, bahkan dia dengan gelisah dan nafas memburu tidak bisa duduk dengan tenang hingga selalu berdiri.
Berjam-jam mereka membahas, dan akhirnya setelah semua di bahas, dan rencana rampung, Victoria menutup pertemuan mereka.
"Dua hari lagi, kirim semua ini ke parlement, aku akan meminta stempel kerajaan untuk menyeret mereka"
"Baik Your Highness"
Victoria segera memutar tubuhnya menuju pintu yang sudah di bukakan Lucas
__ADS_1
"Earl James dan Marquess Steven, semoga kita selalu di berkati"
"Semoga Your Highness Putri Victoria selalu di berkati"
Setelah Victoria keluar, James dan Steven saling menatap
"Apa kejadian di belakang bukit itu benar James?"
James hanya mengedipkan bahunya dengan acuh dan mulai melangkah menuju pintu
"Entahlah Steve, tapi Her Highness tidak terlihat seperti seorang wanita yang menjadi korban"
Steven hanya diam dengan pemikirannya dan James juga hanya diam dengan pemikirannya
πΊπΊπΊπΊ
Di sisi lain, Fredrick yang baru selesai mandi langsung mengumpat melihat tumpukan perkamen di atas mejanya serta Jeremmy yang tersenyum lebar di samping ranjangnya. Seolah memagari ranjang agar tidak ada yang bisa masuk ke sana
"Demi tahta ayahku Jer! Aku sangat lelah!"
Jeremmy masih tersenyum lebar dan tidak menanggapi ucapan Fredrick dengan nada yang sudah naik satu oktaf. Fredrick dengan malas akhirnya menuju meja kerjannya dan meraih kertas kosong. Jeremmy yang sudah tahu apa yang akan di kerjakan Fredrick memutar bola matanya dengan malas.
"Anda sudah mengirim surat dua kali hari ini, Your Highness. Her Highness pasti akan menertawakan anda jika anda mengirim surat lagi. Apa anda tidak malu? Anda seperti orang yang tidak memiliki perkerjaan"
"Diamlah Jer, aku tidak butuh ucapanmu"
Kembali Jeremmy memutar bola matanya dengan jengah
"Her Highness beberapa hari lalu ke Larina"
Kali ini senyum Fredrick yang tampak bodoh saat menulis surat memudar, lalu menatap Jeremmy
"Beberapa hari yang lalu? Kenapa aku baru di beri tahu"
"Ck! sudah saya katakan, jika kita ini bukan orang yang tidak memiliki pekerjaan. Lagi pula itu urusannya" Melihat raut wajah Fredrick yang menjadi dingin, Jeremmy langsung meneruskan ucapannya. "Percayalah padanya Your Highness, Her Highness tahu apa yang dia lakukan, Her Highness bukan seorang yang bodoh"
"Aku tidak tahu Jer...."
Jeremmy mengangguk maklum, lalu menatap Fredrick dengan wajah cemas
"Ada kejadian saat kepulangannya, Your Highness. Her Highness di serang" Alis Fredrick berkerut dalam, Jeremmy melanjutkan. "Apa kita akan pulang dulu sebentar untuk melihat keadaannya? saya sangat khawatir pada Her Highness"
Kedua mata Fredrick melotot kesal
"Dia istriku, apa-apaan kau!"
"Tapi....."
"Selama Edward tidak mengirimkan pesan untuk kita harus kembali, berarti semuannya aman. Permainan di mulai"
Dengan bingung Jeremmy menatap Fredrick
"Permainan?"
\=\=\=ππππ
__ADS_1
Yukk jejaknya yukk
Salam sayang semuaβ¨