
Sudah satu bulan kepergian Victoria yang menghebohkan, setelah di awal-awal suasana hati pemilik Larina manjadi baik dan bersemangat tapi, tidak untuk beberapa hari ini. Ratu Elisabeth mengetuk-ngetuk meja di taman yang mulai bersih dari salju. Musim salju sudah mulai usai dan musim semi yang indah akan segera tiba. Masih menggunakan mantel dan sarung tangannya, Ratu Elisabeth memilih untuk duduk di luar, menikmati hembusan pergantian musim dan juga untuk menyegarkan isi kepalanya yang sekarang, baru bisa mendapatkan sebuah kejanggalan.
"Ada apa Your Majesty?"
Ratu Elisabeth meletakkan kookies yang baru di gigitnya separuh
"Tidakkah kau merasa ini sangat lancar Nin? Terlalu lancar"
Nina meletakkan tekonya dan menatap Ratu Elisabeth
"Saya tidak mengerti Your Majesty"
Helaan nafas panjang Ratu Elisabeth berhembus
"Ini semua terasa sangat mudah dan berjalan sesuai rencana. Terlalu sesuai rencana"
Akhirnya Nina mulai mengerti kegundahan Ratu Elisabeth
"Mungkin karna kita memilih bidak catur yang tepat, Your Majesty?"
Dahi Ratu Elisabeth mengeryit.
"Siapa? wanita berambut merah itu maksutmu Nin?" Nina mengangguk singkat, Ratu Elisabeth yang melihat pemikiran Nina kembali menatap kookies-nya yang tinggal separuh dan suaranya kembali terdengar. "Dia tidak berguna Nin"
"Tapi His Highness Pangeran Fredrick....."
"Tidak, kau tidak mengerti Nin, anak itu memang 'terlihat' seperti itu tapi dia bukan pria bodoh. Mungkin sebentar lagi dia akan membunuh sendiri wanita itu"
Kali ini dahi Nina mengeryit, raut wajahnya tampak tidak mengerti dan Ratu Elisabeth mengeraskan rahangnya
"Setelah semua keributan ini, apa kau pikir dia akan mempertahankan masa lalu yang sudah lewat dan bersedia mengorbankan masa depan dan mimpinya?" Kepala Ratu Elisabeth menggeleng singkat dan meraih separuh kookienya tapi, sebuah pemikiran melintas di dalam kepalanya, tangannya dengan kasar membuang kookies di tangannya ke tanah dan menginjaknya dengan keras. "Atau mungkin sedari awal, dia memang sudah tidak pernah terjebak dalam masa lalunya lagi!!! Sialan! Mereka memancing pola kita!"
Umpatan dan perubahan raut wajah Ratu Elisabeth membuat Nina langsung membungkuk dalam.
"Apa yang akan kita lakukan, Your Majesty?"
"Panggil Henry ke kamarku dan langsung siramkan minyak ke dalam api!"
---0000---
Thomas memijat pelipisnya sambil mendengarkan semua ucapan kasar dari para gentlemen. Charles hanya diam sambil memanyunkan bibirnya dengan bosan saat suara-suara bising terus menghantam telingannya dan Albert, mulai lapar...
"Calon Ratu kita sekarang masih belum kembali! dan jal*ng His Highness Pangeran Fredrick ternyata mengandung! sialan! ini gila!"
"Benar! pantas saja dia di tempatkan di castle dekat istana! ini gila! apa maunya His Majesty dan His Highness!"
__ADS_1
"Yahh Tuhan... bahkan yang saya dengar, Her Highness di pukuli dan di buang dengan hina karna Her Highness memaki jal*ng itu!"
"Yang saya dengar juga jal*ng itu membunuh anjing kesayangan Her Highness! dan lihatlah istana hanya diam! anjing itu anjing yang di bawanya dari Albany! itu sama saja dengan anggotan keluarganya!"
"Kemarin istri saya mendengar jika bisa saja anak haram itu akan naik ke tahta, perlakuan istana yang sampai sekarang tidak berubah dan hanya diam menegaskan itu!"
"Naik ke atas tahta? anak haram? mana mungkin!"
"Benar Duke Argentt yang di katakan Marquess Orsagh. Rumor ini muncul beberapa hari yang lalu. Anak haram itu bisa saja naik ke atas tahta karna Her Highness yang dari silsilah keturunan terhormat sampai sekarang belum bisa mengandung, seorang gadis perawan pilihan yang belum bisa mengandung cukup menjelaskan jika Her Highness tidaklah subur"
BRAAKKK!!!!
"HEIIIII!!!!!"
Mereka seperti lupa dengan keadaan dan sibuk berargumen, lebih tepatnya lupa dengan tiga orang yang sedang duduk di kursi pemimpin utama parlement. Bentakan dan suara kursi terjatuh membuat keheningan langsung mengisi ruangan. Semua gentlemen langsung menutup rapat-rapat mulut mereka.
Albert yang baru saja membuat korban sebuah kursi lagi masih berdiri sambil berkacak pinggang. Thomas yang tenang sudah menegakkan bahunya, Charles juga sudah memberikan wajah tidak bersahabat.
Para gentlemen tampak salah tingkah dan tidak berani menatap tiga orang yang sedang menatap mereka satu-persatu dengan tatapan tidak bersahabat.
"Hati-hati membuka mulut di dalam rumahku gentlemen, ini bukan bar pel*curan tempat kalian bergosip sampah"
Suara tajam Albert membuat mereka semakin salah tingkah dan hanya menunduk.
Suara ******* berat Thomas membuat Albert mendaratkan kembali bokongnya
Setelah ucapan Thomas selesai dan pintu ruang rapat di buka, Charles ikut berjalan ke arah pintu dengan Albert yang masih duduk sambil melipat ke dua tangan di depan dada
"Kita tidak tahu cerita apa yang sebenarnya sedang terjadi, saya harap kalian bijak gentlemen yang terhormat" Albert berdiri dari kursinya dan menatap Viscount Cornwell. "Lord Aron, setelah semua terkumpul, berikan ke atas mejaku"
"Baik Lord Albert"
--000--
"Ini sangat kacau!"
Edward terus membuang nafas lelah dan terus melirik Fredrick yang masih sibuk memainkan sepasang sarung tangan Victoria.
Jeremmy hanya memutar bola matanya dengan malas, melihat bagaimana tuan yang di layaninya itu masih terlihat tenang dengan santai menikmati rasa rindunya
"Tidak bisakah kau mengatakan sesuatu bodoh! Ck! berhentilah meratapi istrimu, kau seperti pria memalukan!"
Fredrick mencibik kesal sambil terus memainkan sepasang sarung tangan itu, bahkan sekarang sudah mulai mencoba memasukkan tangannya ke dalam sarung tangan yang besarnya hanya separuh tangannya. Dan pemandangan itu membuat Edward mulai emosi
"Hei Fredrick!"
__ADS_1
"Apa perut Victoria sudah membuncit? Dia pasti terlihat lucu"
Mata Jeremmy membulat tidak percaya, tidak jauh berbeda dengan Edward yang membelalak kaget. Berjam-jam mereka membahas semua angin busuk yang berhembus di penjuru kerajaan dengan Fredrick yang hanya diam sambil memainkan sarung tangan di tangannya dan... inilah kata pertama yang di keluarkannya? yang benar saja! Apa isi kepala Fredrick hanya melayang-layang pada bentuk perut istrinya? di keadaan panas kerajaan?. Oohh.... Edward sudah tidak tahan lagi hingga akan meraih untuk menyingkirkan sarung tangan mengganggu itu dari tangan Fredrick tapi, Fredrick dengan sigap langsung menyembunyikan sepasang sarung tangan itu ke dalam saku celananya.
"Apa? jangan sentuh benda istriku dengan tangan kotormu Ed"
Edward yang sudah di ambang batas langsung melompat ke atas meja dan akan meraih Fredrick. Jika saja, jika saja Jeremmy tidak langsung menahannya, tangan Edward pasti akan melepaskan pukulan kuat di kepala pria bodoh yang isi kepalanya hanya merindukan istrinya itu.
"Bedebah! Kemari kau! kemari kau sialan!"
Jeremmy terpental saat Edward meronta-ronta dengan kuat. Fredrick yang melihat jika akan ada anjing gila yang akan menggigitnya segera berlari menuju pintu
"KEMANA KAU BEDEBAH!!!!!!!"
"Kapten tenanglah"
"Lepaskan aku Jeremmy! kepalanya harus hancur hari ini! KESINI KAU BRENGSEK!!!"
Jeremmy terus menahan Edward dengan susah payah dan terus terpental hingga pinggangnya nyeri. Jeremmy mengumpati semua keadaan yang menimpanya. Sungguh sial nasipnya, kenapa dia harus menjadi tangan kanan pria bodoh itu!
Fredrick masih berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, untuk melihat apakah anjing gila berhasil mengejarnya. Setelah di rasa aman, kakinya berhenti berlari dan langsung berputar ke istana selatan. Semua pelayan hanya membungkuk hormat padanya yang mulai memasukki koridor.
Saat sudah melihat pintu tujuannya, Fredrick menoleh ke arah taman, di mana di dekat kolam, ada pagar kecil melingkat yang penuh pot bunga-bunga indah, batu-batu yang di tata cantik di pinggiran pagar dan di tengah-tengah pagar, ada sebuah gundukan tanah di tengahnya. Fredrick tersenyum tipis sambil berguman
"Hallo Grey... Bagaimana kabarmu? Tolong selalu doakan kami yaa.. Ku harap kau mau memaafkan kami Grey"
Lagi, kata-kata itu selalu Fredrick gumankan saat melihat ke arah taman istana selatan
Saat sudah di depan pintu, panjaga hanya membungkuk hormat pada Fredrick lalu saling melirik pada temannya yang sedang ikut menjaga. Fredrick kembali lagi ke kamar istrinya, setiap hari!
Dengan tenang, Fredrick menutup pintu dan langsung menguncinya dari dalam. Dengan cepat langkahnya menuju ranjang dan melempar kasar tubuhnya. Hidungnya langsung mengendusi semua isi ranjang
"Sialan kau Victoria! mantra apa yang tabur padaku hah!"
Tangan Fredrick meraih bantal yang beraroma buah-buahan yang sudah mulai pudar
"Ck! awas saja jika kau kembali Vic..." Seperti pria bodoh, Fredrick mengusapi ranjang sambil merengut kesal. "Bagaimana kabarmu sayang... Ohh Tuhan..." Fredrick semakin bodoh dan sekarang sudah memutar-mutar tubuhnya diatas ranjang hingga semua isi ranjang yang memang selalu tidak pernah boleh di ganti dan di sentuh orang lain itu berjatuhan ke lantai. "Aku merindukannya... Ck! sialan sekali!! aargghh!! Berapa lama lagi kau akan melahirkan hah!! Aku benci ide berpisah ini!!!"
Fredrick terus melakukan hal rutin 'cerdasnya' itu hingga terlelap seperti pria di campakkan
\=\=\=💚💚💚💚
Waktu buat ini sebenernya eike geli sendiri. ckckck...
Yukk jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang semua✨