Behind The Castle

Behind The Castle
**WE WILL FIGHT**


__ADS_3

Victoria mengamati sekeliling camp yang pagi ini tampak sibuk bahkan terlihat sangat sibuk latihan. Dengan anggun, Victoria berjalan mengikuti langkah Fredrick yang pagi ini membawanya ke camp. Entah apa yang membuat suaminya itu membawanya kemari tapi Victoria hanya mengikuti.


Langkah mereka berhenti di dalam ruang santai camp yang menunjukkan pemandangan tidak santai di sana. Entah sejak kapan ada meja kayu tinggi di sana yang di jaga tiga orang, yang Victoria tahu, tiga orang kesatria yang paling pintar dalam penilaian, perhitungan dan strategi. Edward, Tomy dan Carl.


Setelah menerima saapan mereka bertiga, sekarang di sinilah mereka sekarang, duduk tenang di meja kayu baru. Victoria melirik Fredrick yang mengangguk beberapa kali saat Edward meraih kotak kayu sambil mendengarkan ucapan Edward.


"Kami sudah mendapatkan rencana, Your Majesty"


Fredeick mengangguk singkat dan Tomy mulai membuka beberapa perkamen yang berisi.... Peta?


"Vic, lihatlah ini"


Victoria menegakkan kakinya dan mendekat pada Fredrick yang memandangi isi perkamen berisi peta yang sudah banyak di tandai. Victoria mengeryit


"Apa ini Bash?"


"Peta alur perjalanan musuh"


Dahi Victoria semakin mengeryit.


"Musuh?"


"Perang..."


Victoria terkesiap dan memandang Fredrick dengan pandangan terkejut


"Pe-perang..?"


Seperkian detik keheningan terjadi di sana dan akhirnya Victoria benar-benar bisa mengerti, mengerti semuanya. Mulai dari ketidak sukaan Fredrick dengan pertemuan dirinya dan Charlotte, juga kenapa Fredrick tadi malam bisa ada di pertemuan rahasianya dan Charlotte. Suaminya yang cerdas, pastilah sudah mengetahui semuanya. Atau bahkan sudah memperhitungkan semuanya sebelum dirinya bertemu Charlotte. Fredrick yang mengerti padangan dan seolah bisa membaca isi kepala Victoria langsung mengangguk.


"Kau benar, aku sudah tahu semuanya, dan juga sudah mencemaskan semua ini" Victoria menggigit pipi dalamnya dengan kuat, perasaannya campur aduk. Fredrick melanjutkan ucapannya. "Perang pasti terjadi Vic. Mereka sudah menyiapkan semuanya, tinggal menunggu waktu untuk serangan, dan ini akan menjadi perang... pemusnahan"


Tangan Victoria gemetar dan memandang perkamen yang isinya tidak dia mengerti


"Lalu ini apa?"


Fredrick mengangguk singkat pada Tomy yang langsung maju mendekat pada Victoria. Memerintahkan Tomy untuk menjelaskan.


Jari Tomy langsung menunjuk beberapa tanda X yang di berikan di sepanjang alur perjalanan dari Vancia ke Francia


"Ini adalah jalur perjalan mereka Your Majesty, dan yang di beri tanda X merah adalah beberapa titik yang mungkin mereka singgahi dalam perjalanan mereka" Jari Tomy berpindah pada beberapa tempat yang di beri tanda O warna hitam. "Dan di sini kami akan menyergap mereka agar mereka tidak sampai masuk ke dalam perbatasan ataupun Francia. Kita akan mengusahakan perang pecah tidak di dalam Francia"


Victoria mengangguk paham dan melirik suaminya yang memasang wajah serius, sangat serius dengan tangan yang menyilang di depan dada.

__ADS_1


"Vic"


"Iya?"


"Bagaimana menurutmu?"


Apanya yang bagaimana? Victoria bahkan tidak paham tentang alur jalan itu, apa lagi jika suaminya bertanya hal mendalam tentang perang. Akhirnya, Victoria hanya bisa menggeleng singkat untuk menjawab semua pertanyaan suaminya yang memang tidak dia pahami. Fredrick tersenyum hangat dan menatap Victoria dengan dalam


"Kau harus bisa paham tentang ini Vic, karna ini...." Jari Fredeick mengetuk-ngetuk perkamen yang penuh tanda X merah dan beberapa tanda O hitam. "Hanya alur serangan pertama"


Tangan Victoria semakin gemetar, bahkan tangannya yang bertaut sudah saling mencengkam erat


"Serang pertama? berarti?"


"Benar, bisa saja akan ada banyak serangan yang datang dan juga bisa saja, akan ada serangan yang tidak terbaca dan menyerang.... istana"


Dengan susah payah Victoria meneguk ludahnya, tangannya terulur dan jari-jari kecilnya meraba semua tanda-tanda di sana, jari-jari cantik itu bahkan terliahat jelas sedang gemetar


"Apa yang harus ku mengerti?" Victoria menatap bergantian wajah empat orang pria yang terdiam melihat jari-jari gemetarnya. "Apa yang harus ku pelajari?"


"Kau harus mengerti jika mungkin saja, akan ada serangan di istana dan kau harus paham tentang mengatur serangan"


Dengan wajah binging Victoria menoleh untuk menatap Fredrick.


Fredrick menatap Victoria dengan tegas dan sangat serius, bahkan kedua bola mata abu-abunya mengkilap terang. Kilapan seperti itu yang selalu mampu menghipnostis dan membuat Victoria tunduk pada suaminya, kilapan semangat dan juga perintah mutlak dari semua Castalarox si penguasa bermata abu-abu kerajaan ini. Dan tatapan itu semakin membuat tangan Victoria gemetar, bahkan rasanya dia ingin kabur agar tidak bisa mendengarkan kelanjutan ucapan suaminya.


"Kita akan berpisah"


Dalam ketakutan yang langsung memenuhi isi dadanya, dan dalam kesadaran yang memang sadar atau tidak, Victoria langsung menggeleng kuat.


"Aku tidak mau.... ki...."


"Aku akan ke titik serangan yang membawa pasukan terbesar. Ini..." Kembali jari Fredrick mengetuk perkamen yang penuh tanda X dan O. "Dan sisanya akan menyebar pasukan lain yang akan di pimpin Edward, Tomy, Jeremmy, Lucas dan kau... kau akan memimpin untuk menjaga istana"


Kepala Victoria semakin menggeleng kuat. Dengan cepat perasaan takut langsung menyebar kuat di dalam dadanya, darahnya berdesir penuh dengan rasa takut kehilangan. Tidak! Victoria tidak mau!


"Aku tidak ingin berpisah"


Tanpa sadar Victoria berguman lirih. Sungguh, ucapan lirihnya benar-benar keluar dari dalam ketakutan di hatinya. Fredrick membuang nafas panjang dan meraih tangan Victoria yang terus gemetar dan dingin.


"Tenanglah, kau akan bersama Carl di istana"


Bukan! Bukan itu ketakutan yang di rasakan Victoria! bukan karna dia takut memimpin serangan tapi.... kata 'berpisah', kata itu menggerogoti seluruh aliran darah dan seluruh hati Victoria. Fredrick menatap Victoria dengan dalam, tangannya semakin menggenggam kuat tangan Victoria

__ADS_1


"Kita harus menyebar dan berpisah Vic. Kita tidak bisa membiarkan mereka masuk ke semua wilayah Francia atau... Francia akan berdarah" Kedua mata abu-abu itu kembali mengkilap tajam dan terang. "Apapun, tidak boleh ada apapun yang bisa menyebabkan terjadinya kerusakan parah di Francia, kita akan....."


"Apa ini semua karna ku Bash?"


Edward, Jeremmy dan Tomy yang sudah paham alur situasi mereka, langsung meninggalkan tempat itu sejenak. Suami istri itu perlu ruangan sendiri. Fredrick menarik nafas dalam.


"Ini perang antara kerajaan Vic, tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi. Ini memang akan terjadi dan sering terjadi di setiap waktu"


Arah pandang Victoria mulai buram. Bibirnya bergetar, tangannya semakin dingin


"Tapi Charlotte..."


Melihat istrinya yang terguncang, Fredrick langsung mendekap Victoria, untuk memberikan ketenangan


"Bukan, ini tidak ada hubungannya dengan Arathorn dan kerajaan. Lady Charlotte hanya di pergunakan Vancia untuk mempermulus jalan mereka. Ini tidak ada hubungannya dengan kemarahan Lady Charlotte. Ini murni perang memperebutkan dan menundukkan Kerajaan"


Setelah di rasa tubuh Victoria mulai tenang, Fredrick mengurai pelukannya dan membawa tangan dingin Victoria ke bibirnya.


"Aku mohon... kita harus kuat Vic, kau harus kuat. Demi Francia"


'Demi Francia' Dua kata tenang yang di ucapkan suaminya penuh dan berisi banyak makna berat di dalamnya. Jika seseorang yang memiliki mahkota mengatakan itu, yang berarti... dia siap untuk mengorbankan 'apapun' termasuk nyawanya.


Victoria menatap Fredrick dengan dalam dan nanar, arah pandangnya semakin buram, dengan bibir yang masih bergetar Victoria berguman lirih dengan memaksakan senyum tipis


"Demi Francia"


Senyum tipis Fredrick ikut terbit, sepasang bola matanya mengkilap penuh perintah dan juga ketegasan yang tidak asing untuk Victoria. Mata seorang pemimpin kerajaan dengan darah Castalarox.


Tangan Fredrick terulur, mengusap lembut pipi Victoria


"Ya... demi Francia"


Tangan Victoria menggengam tangan Fredrick yang ada di pipinya, dengan kedua bola matanya yang mengkilap penuh tekat dan juga keteguhan


"We will fight"


Fredrick kembali tersenyum


"Ya... We will fight"


\=\=\=💛💛💛💛


Ayuk jejaknya yukk

__ADS_1


Salam sayang semua


__ADS_2