
Taakk!!
Sekali lagi, untuk yang keseribu kalinya suara hentakan gelas di atas meja tertangkap di inda pendengaran Edward dan untuk yang ke sujuta kalinya helaan nafas putus asa memenuhi nyanyian lapangan.
Edward masih melirik seseorang yang terus mengayunkan pedangnya pada kayu batang oak tidak berdosa, batang pohon itu sebentar lagi akan putus tapi si pemilik pedang masih terus meluapkan emosi dan perasaanya ke sana setelah hampir 3 minggu mencari korban kesatrian untuk berduel
Srangg!! Srangg!!! srangggg!!!
PRANGGGG!!!
Edward menghentikan pergerakan tangannya yang sedang menyusun pedang saat suara sebuah pedang terlempar itu mengaung keras di sampingnya.
Bughh!!
Edward memperhatikan suara berdegam yang keluar ketika tubuh pria atletis di sebelahnya terbaring di tanah, merasa sudah mulai mengenal alurnya, Edward menekakkan kakinya untuk mendekat pada pria putus asa itu, kedua bola mata hitam Edward kembali melihat pemandangan wajah kacau di bawah kakinya, dengan baju kusut dan kotor, rambut yang berantakan, matanya terpejam dalam diam.
"Mandilah Fred, ini sudah gelap, makan dan istirahatlah, kau masih seorang Pangeran"
Kelopak mata pria itu bergerak dan kedua bola mata abu-abunya segera bertabrakan dengan kedua bola mata gelap Edward, dari bawah dia memandangi Edward yang tidak bergeming
"Aku lelah"
"Dan setengah mabuk"
Setelah mengatakan itu Edward pergi ke luar dari camp latihan meninggalkan Fredrick yang kacau.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Victoria membalik sendok dan garpunya saat isi piringnya telah tandas, meraih gelasnya dengan anggun lalu meneguk isinya dan mengelap mulutnya.
Diana yang sudah melihat jika nonannya telah selesai makan segera mengangkat piring dan gelasnya dari atas meja makan yang berada di dalam kamar Victoria.
"Aku dengar dari Dolores 3 hari lagi His Majesty ulang tahun?"
Diana yang sudah selesai meletakkan alat makan di dalam nampan piring kotor segera mengangguk
"Iya Vic, karna itu Dolores sudah sibuk dari beberapa hari kemarin"
"Menurutmu apa His Majesty masih punya nyali untuk membuat pesta besar seperti tahun-tahun kemarin?"
Diana mengabaikan pertanyaan Victoria karna dia tidak punya tempat untuk memberi komentar. Melihat Diana tidak merespon, Victoria mengedipkan bahunya acuh dan segera berdiri menuju lemari.
"Aku ingin jalan-jalan di taman dengan Grey, kau makan malam dan istirahatlah tidak perlu menyusul"
Mendengar ucapan Victoria, Diana segera meletakkan nampannya, dengan tergesah dia mengikuti langkah Victoria menuju lemari.
"Akan aku siapkan pakaianmu Vic"
"Ok! ambil saja gaun tidur dan mantel yang tebal, aku hanya ingin duduk di pinggir taman"
Diana mengangguk dan mulai memilih isi lemari
"Aku akan secepatnya menyusul, jika di luar terlalu dingin segelarah masuk Vic"
Victoria menggeleng
"Aku ingin kau istirahat Di, aku juga ingin sendiri, aku janji tidak akan lama dan tidak akan banyak berpikir, jangan khawatir"
Diana membuang napas panjang dan pasrah.
"Grey!"
Grey segera melompat dari ranjang dan mengikuti Victoria yang sudah keluar pintu bersama Diana.
Setelah berpisah dengan Diana, Victoria segera menuju pintu keluar koridor untuk menuju taman, terpaan angin segera menyapa wajahnya, rasa sejuk membuatnya tersenyum.
__ADS_1
"Ayo Grey, kita jalan-jalan"
Grey menggonggong sekali dan langsung berlari dengan sesekali berputar, tingkah Grey membuat Victoria merasakan perasaan masa lalu, di mana saat malam, dia dan kakak-kakaknya bersama Grey sering jalan-jalan di kebun dan tamam castle albany. Victoria tersenyum getir, banyak pertanyaan di hati dan pikirannya, kenapa Tuhan membiarkan kebahagiaanya terenggut, apa rencana Tuhan untuknya.
Setelah lama berkeling dan merasa kakinya mulai lelah, Victoria akhirnya mendaratkan bokongnya pada kursi kayu panjang yang ada di taman, Grey mengikutinya naik ke atas kursi dan dengan manja segera meletakkan kepalanya ke pangkuan Victoria, jari-jari Victoria segera membelai lembut kelapa Grey yang berada di pangkuannya.
"Apa kau juga mengingat masa lalu Grey?"
Grey yang di tanya hanya menggerak gerakkan kepalanya
"Apa kau juga merindukan tuan besar dan nyonya besarmu Grey?"
Grey hanya menjilati jari Victoria yang sedang meremas gemas hidungnya
"Apa kau ingat saat aku sering mengerjai dan mengganggumu, kau akan selalu minta perlindungan pada Charlotte, dan dia akan mengomeliku lalu mengadukanku pada Arthur dan akhirnya Arthur akan memberi perintah padamu agar tidak mendekatiku selama beberapa hari"
Grey hanya diam menikmati belaian lembut di kepalanya sambil mendengarkan perasaan tuannya
"Kau pasti merindukan Charlotte dan Arthur yang selalu membelamu kan? Kau bahkan lebih manja pada Charlotte, kau lebih takut dan patuh pada Ayah terlebih Arthur, padahal kau itu milikku Grey"
Merasa tidak mendapatkan respon dari Grey Victoria menarik-narik dan memainkan telinga Grey dengan gemas hingga kepala Grey menggeleng-geleng risih
"Jangan berpura-pura tidak dengar Grey"
"Sampai sekarang kau masih suka menggangunya"
Suara berat dan jantan itu membuat Victoria tersentak tapi Grey hanya diam di pangkuan Victoria seolah tidak merasakan keterkejutan dan ancaman.
Victoria melirik mantel tebal yang di letakkan di kedua bahunya, setelah pikirannya kembali Victoria hendak berdiri
"His......"
Namun, ucapan dan gerakan tubuhnya terhenti ketika Fredrick menekan pelan bahunya
"Tidak bisakah kau berhenti bersikap formal padaku Vic"
Fredrick merasakan gerakan tubuh Victoria yang akan bergeser segera melingkarkan tangannya ke pinggang kecil itu, yang membuat Victoria menghentikan gerakannya.
"Kau sudah lama menghindariku biarkan seperti ini"
Victoria membuang nafas panjang
"Kenapa anda bisa di sini Your Highness?"
Fredrick menipiskan bibirnya mendengar sikap formal Victoria
"Aku mencarimu di kamar tapi tidak ada orang dan seseorang yang melihatmu mengatakan jika kau menuju kemari"
"Berapa lama anda sudah di sini?"
Victoria menoleh dan menaikkan arah pandangnya sedikit untuk menatap wajah tampan di sebelahnya, melihat Fredrick yang hanya diam dengan hanya terus membalas tatapannya Victoria menyipitkan mata penuh selidik
Fredrick tersenyum, tangannya terangkat merapikan poni Victoria yang sesekali bergerak karna angin
"Menurutmu?"
Victoria memalingkan kepalanya untuk kembali menatap ke depan
"Sudah lama"
"Karna....."
Victoria menangkap nada godaan Fredrick dan menjawab dengan acuh
"Grey tidak berespon"
__ADS_1
Fredrick mengangguk
"Jadi dari kapan anda di sini?"
Fredrick mengambil sejumpuk rambut coklat kepirangan Victoria dan menggulung-gulung rambut lembut itu di jari telunjuknya
"Lumayan lama, dari kau mulai mencoba melempari pohon yang tidak berdosa itu"
Jari Fredrick yang tidak sedang memainkan rambut Victoria menunjuk sebuah pohon oak besar dengan daun yang mulai lebat
Victoria berhem beberapa kali karna merasa malu, bahkan rasanya kedua pipinya memanas.
Fredrick memfokuskan kembali arah pandangnya pada wajah manis gadis di sebelahnya, pipinya terlihat memerah dengan giginya yang menggigiti kecil bibirnya, melihat itu Fredrick semakin gemas, tangannya menarik wajah Victoria agar kepalanya menoleh ke samping.
Victoria tidak menolak hanya membiarkan satu telapak tangan besar Fredrick menangkup sebelah pipinya, kedua bola mata hijau pekatnya segera bertabrakan dengan kedua bola mata abu-abu Fredrick
"Kau bisa punya ekspresi malu juga ternyata"
Dengan pipi yang sudah di belai jari-jari Fredrick, Victoria mengerucutkan bibirnya dengan kesal
"Memang saya terlihat seperti seseorang yang tidak punya malu?"
Fredrick terkekeh gemas, kepalanya mendekat hingga jarak kedua wajah mereka hanya di batasi oleh hidung mereka
"Tidak, kau seperti merak indah yang selalu terlihat percaya diri dan sulit untuk di sentuh"
Victoria mencoba mencerna ucapan penuh makna Fredrick dan akhirnya mengeluarkan isi kepalanya
"Anda ingin menyentuh saya Your Highness?"
Tawa Fredrick pecah, hingga bahunya bergerak-gerak dan kembali menangkup wajah yang memandangnya dengan bingung
"Kau yang penuh maksut atau aku yang penuh maksut?"
Jari-jari Fredrick membelai alis Victoria yang berkerut, wajah Victoria terlihat semakin bingung
"Jangan terlalu banyak berpikir"
"hhmm ya.."
Victoria hendak memalingkan wajahnya tapi Fredrick menahan wajahnya agar tidak berpaling dan satu tangannya juga ikut menahan belakang kepala Victoria.
"Kau sangat manis Vic, aku benar-benar ingin menciummu"
Fredrick mendekatkan kembali wajahnya hingga hanya hidung mereka yang menjadi pembatas, nafas Fredrick yang menjadi sedikit lebih cepat membuat Victoria akhinya yakin dengan yang di pikirkannya sedari tadi
"Anda berbau minuman You Highness"
Fredrick mengangguk
"Apa anda mabuk?"
Fredrick tersenyum
"Kau yang membuatku mabuk, setiap malam kau selalu membuatku mabuk vic"
Kali ini Victoria merasakan sebuah kecupan-kecupan yang mendarat di hidung dan sebelah pipinya lalu Victoria tersenyum
รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท
To be Continued....
รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท
Jangan lupa like, komen, bintang dan lope-nya ya..
__ADS_1
semoga masih berminat untuk lanju membaca...
Salam sayang semua โจโจ