Behind The Castle

Behind The Castle
**SAPPHIRE HIJAU**


__ADS_3

"Pendampingmu akan datang minggu depan"


Victoria yang akan meraih kookies menghentikan tangannya di udara dan menatap Fredrick


"Apa dia orang yang menyenangkan?"


Victoria kembali meraih kookies di atas piring dengan raut wajah malas


"Tidak"


"Siapa dia Your Highness?"


"Countess Xenas, aunty anna"


Victoria langsung tersedak kookies yang di kunyahnya hingga terbatuk yang membuat Fredrick dan Diana panik, Fredrick segera menepuk pelan punggung Victoria dan memperhatikan wajah Victoria yang memerah


Diana dengan sigap menyodorkan cangkir teh pada Victoria yang segera di sambut Victoria tapi, dia lupa jika teh masih cukup panas yang membuat Victoria hampir memekik dan Grey dengan sigap berdiri menatap tuannya yang kesulitan.


"Apa kau sangat terkejut?"


Suara Fredrick yang penuh nada godaan membuat Victoria menatapnya dengan kesal


Fredrick terkekeh


Setelah Victoria mulai tenang, Fredrick kembali ke bangkunya dengan Diana yang masih menatap Victoria dengan cemas. Melihat Diana yang masih cemas Victoria tersenyum tipis dan menatapnya


"Aku tidak apa-apa Di"


Diana mengangguk singkat dan melirik wajah Fredrick yang terlihat geli. Victoria mengerucutkan bibirnya dengan kesal


"Anda sepertinya sangat suka melihat saya kesulitan Your Highness"


Fredrick kembali terkekeh


"Tentu saja tidak, aku juga khawatir Vic"


Fredrick mengerling menyebalkan yang hampir membuat Victoria melempar kookies ke wajahnya. Tapi tiba-tiba wajah fredrick berubah muram yang membuat Victoria penasaran


"Apa ada hal mengejutkan yang lain Your Highness?"


Fredrick menatap kedua bola mata hijau pekat Victoria dengan dalam


"Dia pasti tidak akan mengijinkanku untuk bertemu denganmu" Fredrick membuang nafas panjang. "Aku akan kesulitan melihatmu Vic"


Victoria hanya menatap Fredrick dengan datar


"Apa itu penting?"


"Tentu saja! bagaimana kalau aku merindukanmu?"


Victoria hampir memuntahkan teh di perutnya yang membuat Fredrick kembali terkekeh geli tapi, setelah itu tatapannya berubah menjadi tegas


"Aku serius, bisakah nanti kau meluangkan waktu di tengah-tengah pengajaranmu untuk sesekali kita bertemu Vic?"


Fredrick menggigit bibirnya karna malu, ini pertama kalinya selama dia hidup meminta pada seorang gadis untuk bertemu dengannya.


Victoria menatap wajah Fredrick yang terlihat malu-malu hampir membuatnya terbahak, hingga dia harus menekan bibirnya ke dalam. Wajah yang biasanya sangat menggoda dan panas dengan tatapan yang bisa membuat seorang gadis langsung bertekuk lutut sekarang terlihat sangat asing dan berbeda, sekali lagi Victoria bertanya-tanya, yang mana wajah asli Fredrick


"Saya akan melihat situasinya Your Highness"

__ADS_1


Fredrick hanya bisa mengangguk singkat mendengar jawaban diplomatis Victoria.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Victoria meraba kalung yang menggantung di lehernya dengan liontin sewarna dengan matanya, kalung sederhana yang di dapatnya sehabis makan siang di istana barat



"Itu cantik Vic, senada dengan warna matamu"


"Ini batu sapphire hijau"


Diana mengangguk


"Walaupun sederhana tapi itu pasti mahal"


Victoria mengangguk dan akan melepaskan kalung itu tapi, entah kenapa dia menghentikan niatnya untuk melepas kalung yang sedang melingkar di lehernya. Diana yang masih memperhatikan nonannya, ingin bertanya tapi ini bukanlah tugasnya dan memutuskan untuk diam.


"Jadi... itu bukan dia"


Pertanyaan atau pernyataan dari Victoria membuat Diana hanya bisa mengangguk ragu


"Sepertinya His Highness tidak ikut membuat dan menyebar rumor itu tapi, aku tidak tahu pasti Vic"


"Itu bukan dia"


"Kau yakin?"


Victoria tidak menjawab pertanyaan Diana dan memilih bangkit dari duduknya untuk menuju ke ranjang, pikirannya menerawang pada perkataan uncle Albert-nya tentang 'jauhkan anak Baron itu dari His Highness' mungkin ini sedikit maksut dari uncle-nya tapi Victoria yakin ada sesuatu yang lain atau mungkin sesuatu yang besar di balik semua percakapan penuh sinyal dan ambigu yang di ucapkan uncle-nya, mungkin sebuah rahasia atau rencana yang entah milik siapa, Victoria akan mencari tahunya.


"Apa kau masih ingin minum obatmu Vic?"


"Tidak Di, sepertinya mulai sekarang aku akan berhenti minum itu"


Diana tersenyum haru dan segera menarik selimut Victoria dan Grey saat Victoria dan Grey sudah merebahkan tubuh mereka ke ranjang.


"Karna kau tidak minum obat malam ini, aku akan tidur di sini"


Victoria mengangguk patuh


"Kau bisa tidur di sebelahku Di"


Seperti biasa, Diana segera menggeleng kuat dan berjalan ke arah lemari linen


"Sempit, kau tidur seperti kompas yang sedang menunjukkan arah"


Victoria berdecak sebal dengan arah pandangnya yang masih memperhatikan Diana mengambil selimut dan bantal, lalu menuju sofa di sudut ruangan dekat pembantas antara ruangan kamar dan ruang makan.


"Jangan memikirkan apapun lagi, cepatlah berdoa dan tidur"


Victoria mengangguk saat melihat Diana sudah siap dengan tempat tidurnya.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Dengusan kasar Fredrick terdengar saat matanya kembali menangkap sebuah kotak cukup besar yang di letakkan Jeremmy ke atas meja kerjannya.


"Apa kau tidak bisa memberi hadiah yang lain Jer?"


Jeremmy tidak menjawab dan malah menumpahkan isi kotak ke atas meja. Fredrick hampir berteriak marah tapi melihat wajah kesal Jeremmy, Fredrick akhirnya hanya membuang nafas panjang.

__ADS_1


"Kali ini apa Jer?"


"Masih seperti kemarin-kemarin dan" Jeremmy menjedah lalu memberikan satu surat. "Itu yang terbaru Your Highness, di antar sore tadi, oleh orangnya sendiri, juga dengan pesan" Jeremmy melirik Fredrick yang terlihat acuh. "Jika anda tidak datang, dia yang akan datang".


Fredrick meletakkan penanya dengan menaikkan satu alisnya menatap Jeremmy


"Datang?"


Jeremmy mengedipkan bahunya acuh


"Jangan tanya pada saya Your Highness, mana mungkin saya mengerti, itu pesan antara kalian"


Fredrick ikut mengedipkan bahunya acuh


"Jangan biarkan dia menyelinap dan menyamar lagi, perintahku masih sama"


Jeremmy menatap Fredrick penuh selidik


"Kenapa anda berubah Your Highness?"


Fredrick mengernyit dan menatap Jeremmy


"Aku?"


Jeremmy mengangguk yakin


"Hanya ada kita berdua di sini Your Highness, jelas jika maksut saya itu anda"


"Berubah bagaimana?"


Fredrick menatap Jeremmy dengan wajah penasaran dan bingung


Jeremmy hendak menjelaskan tapi seperti baru mencerna sesuatu, akhirnya dia hanya mengeleng dan mengganti ucapannya, karna ini menurutnya lebih penting


"Apa bermain dengan Lady Victoria menyenangkan Your Highness?"


Pertanyaan Jeremmy membuat Fredrick menghentikan penanya dan menatapnya dengan kesal


"Apa hubungannya dengan Victoria? dan..." Fredrick melipat kedua tangannya di depan dada. "Jika kau ingin bersikap formal dan kaku padaku lakukan itu sepenuhnya, jangan setengah-setengah Jer, sekarang keluarlah"


Jeremmy segera menangkap maksut dari ucapan Fredrick yang sesungguhnya dan akhirnya membuat Jeremmy mengangguk dengan cepat, kaki Jeremmy segera bergerak menuju pintu


"Hei... bawa suratmu Jer"


Jeremmy kembali membalik langkahnya menuju meja kerja Fredrick.


"Ck! apa yang harus saya lakukan dengan ini Your Highness?"


Fredrick mengedipkan bahunya acuh sambil tersenyum geli menatap wajah Jeremmy yang terus tertekuk dengan tangannya yang memasukkan surat dengan kasar ke dalam kotak.


รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท


Hallo readers....


Terimakasih masi mau mampir dan masih berminat untuk lanjut membaca....


Jangan lupa like, komen, bintang dan lope-nya yaaa..


Salam sayang semuaโœจโœจ

__ADS_1


__ADS_2