
Raut wajah menyebalkan, tatapan sinis, pergerakan kasarnya jelas menegaskan jika orang itu sedang mengalami dan sedang terpaksa melakukan hal yang tidak menyenangkan. Lebih tepatnya menghadapi seseorang yang membuatnya merasa kesal.
Setelah dalam perjalanan berhari-hari, memacu kuda dengan cepat dan tiada henti. Rasanya cukup melelahkan terlebih karna kepergian dan ke mana tujuannya sekarang bukanlah tempat yang di inginkannya. Sangat tidak di inginkan Jeremmy
Dengan gerakan yang terkesan kesal, Jeremmy melompat dari kudanya dan meraih tali kekang kuda hitam besar milik orang yang membuatnya tidak senang bahkan kesal. Terkesan kekanakan karna kuda-kuda yang tidak berdosa itu ikut merasakan perlakuan tidak menyenangkan dari Jeremmy yang sedang dalam suasana hati tidak baik.
"Dia berperan penting dalam kehidupanku dulu, bukan hanya dalam beberapa tahun tapi melebih sepuluh tahun. Banyak hal yang di korbankannya untukku dulu, banyak kesulitan yang di laluinya karna ku dulu. Dia berjasa dalam hidupku yang penuh dengan kegelapan dan keputusasaan dulu Jer. Aku ini manusia yang punya akal budi, bukan babi. Berhentilah memasang wajah seperti itu. Aku hanya melihatnya, bukan ingin bermain gila Jer"
Jeremmy berdehem beberapa kali yang entah untuk apa. Lalu setelah kuda sudah terikat, dia memandang pria yang membuatnya tidak senang itu.
"Baik Your Highness... Anda bosnya. Jangan pedulikan saya"
"Mengertilah Jer, dulu saat aku kehilangan ibuku dan jatuh dalam kehidupan neraka ku, dia selalu datang menemaniku. Sekarang aku hanya ingin memastikan jika dia baik-baik saja lalu kita kembali. Sekali lagi ku katakan, aku ini manusia yang punya akal budi, bukan babi"
Entalah, Jeremmy tidak peduli dengan semua penjelasan Fredrick. Walaupun dia mengatakan jika sekarang sudah berbeda karna Fredrick sudah menikah dan bahkan istrinya sekarang juga sedang sakit pun, Akan ada saja pembelaan darinya. Sekarang Jeremmy lebih berharap jika dia melayani se-ekor babi sekalian dari pada putra mahkota berotak babi.
Ohh ya ampun... Jeremmy sangat benci rumah ini. Aroma mawar yang dulu menyenangkan sekarang di bencinya. Tapi Jeremmy bisa apa, sekali lagi. Bukan dia bosanya. Jeremmy membuang nafas panjang sebelum mengetuk pintu rumah itu.
Seorang pelayan paruh baya yang di kenalnya langsung membukakan pintu. Seperti sudah tahu akan kedatangan mereka, pelayan itu langsung menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Fredrick tanpa ingin basa basi langsung menuju kamar yang ada di atas. Jelas kamar siapa lagi kalau bukan kamar wanita itu.
"Crab!"
Jeremmy mengumpat dalam hati saat ingatannya yang dulu terulang. Dia akan menunggu berjam-jam di ruang tamu seperti orang bodoh sedangkan Fredrick di kamar akan bergumul panas dengan penuh dosa. Lalu setelah selesai, kedua pendosa itu akan ke luar kamar sambil tertawa girang bahagia. Sungguh, jika hal itu terulang lagi sekarang. Sudah di katakan Jeremmy, dia tidak akan segan memukul seorang putra mahkota. Entahlah kenapa tapi, membayangkan Victoria yang harga dirinya terluka walaupun wajahnya tidak akan menunjukkan tanda-tanda itu, hanya membuat Jeremmy semakin kasihan. Victoria yang malang sudah di anggapnya seperti adik sendiri. Adik kecil yang manis dengan mulut lincah dan otak licik itu membuat Jeremmy hanya terus bisa melihat kerapuhan yang selalu bisa di sembunyikannya.
__ADS_1
Fredrick membuka pintu sebuah kamar yang sangat di kenalnya. Entah sudah berapa lama dia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat bernuansa warna putih dan hijau itu. Semua posisi perabotan masih sama persis, yang mengingatkan dia jika dulu saat dirinya masih muda dan labil, bisa menghabisakan waktu berhari-hari bermain di setiap sudut ruangan di sana. Menoleh ke samping, sebuah ranjang berukuran tidak terlalu besar yang juga tidak berubah membuatnya bisa melihat sosok wanita dengan surai merah yang terbaring lemah.
"Lady Calista tidak mau makan dan minum, Your Highness. Setiap waktu dia akan menangis dan terus menangis hingga kelelahan. Kejadian itu sangat mengguncang jiwannya.." Pelayan paruh baya yang juga seorang nany Calista itu terisak sambil mencoba melanjutkan dengan susah payah ucapannya. "Lady kami yang malang. Dia hanya mempunyai anda Your Highness, tolong bujuk dia untuk semangat lagi. Dia sudah tidak mempunyai siapapun"
Langkah Fredrick mendekat pada ranjang, lalu mendaratkan bokongnya di bibir ranjang sambil memandang wajah Calista yang tampak lebih kurus, lingkaran hitam di bawah matanya sangat nyata, bahkan rambutnya yang biasa berkilau indah tampak tidak berurus.
Pergerakan ranjang dan suara isakan tangis seseorang membuat Calista sedikit terganggu, dengan berat Calista mencoba membuka matanya, dan saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Semua bagai mimpi, apa ini mimpi?
"Fred?"
Fredrick tersenyum tipis
"Hai..."
"Kau datang Fred.... Kau akhirnya datang"
Calista terisak semakin kuat dengan mengeratkan semakin kuat tangannya yang melingkat di leher Fredrick. Frendrick hanya mengangguk singkat dan memberikan pelukan penenang, dengan menepuk-nepuk punggung Calista yang terasa lebih kurus itu. Entahlah, sudah sangat lama dia tidak bisa mengenali tubuh yang dulu selalu bisa memberinya kesenangan ini. Apa lagi semenjak dia mengenal tubuh istrinya. Hanya tubuh Victoria yang sekarang selalu lebih menyenangkan dari apapun kesenangan, hanya tubuh Victoria yang selalu memabukkan untuknya hingga selalu membuatnya melayang dalam kegilaan, tubuh yang selalu bisa memuaskannya lebih dari segala kepuasan yang pernah di cicipinya.
Dan semua perlakuan formal Fredrick itu, tampak berbeda di mata Jeremmy yang ternyata memutuskan untuk menyusul ke kamar. Pelukan yang di berikan Fredrick tampak seperti pelukan kerinduan mesra di matanya dan itu membuat Jeremmy muak. Sekarang dia benar-benar akan menyiapkan tinju dan kakinya jika sedikit saja Fredrick kembali berbuat dosa fatal. Ok! dia akan memantau mereka dengan ketat sekarang.
Dengan sabar, Fredrick menemani Calista untuk makan, setelah sebelumnya sempat kesulitan membujuk seorang wanita yang baru kehilangan ayahnya. Fredrick tahu, jika selama dia berada di dalam kamar Calista, Jeremmy setiap menit selalu mengintip dan memberikan tatapan mengancam padanya. Oh yang benar saja... Apa dia sebajing*n itu untuk bermain gila dengan wanita sakit? terlebih dia sudah mempunyai seorang istri. Ok dia memang tahu dirinya brengsek tapi dia punya prinsip, dia tidak akan bermain dengan wanita random jika sudah membuat hubungan pada seorang wanita, meskipun hanya simpanan. Apa lagi pernikahan! sekali lagi, dia tahu jika dirinya seorang suami! Fredrick memutar bola matanya dengan jengah saat kembali, bola mata yang tampak gelap itu mengintip di cela kecil pintu yang tidak tertutup rapat. Tidakkah Jeremmy tahu jika itu terlihat horor?
"Fred, aku sudah menghabiskan makanku"
__ADS_1
Calista tersenyum manis bagai bocah kecil yang berhasil menyenangkan perintah orang tuannya. Fredirick mengangguk singkat dan menyingkirkan nampan ke nakas
"Tidurlah Cal, ini sudah malam"
Fredrick menarik selimut Calista dan hendak berdiri dari bibir ranjang tapi, Calista menahan lengannya
"Jangan pergi Fred. Ku mohon... Aku tidak mau sendiri"
"Aku akan pergi kembali besok Cal, tenang saja, kuda-kuda kami butuh istrahat"
Bukan.. bukan itu yang ingin di dengar Calista, dia ingin Fredrick mengatakan jika dia khawatir padanya, merindukannya dan juga ingin kembali padanya tapi, dengan seluruh kekuatannya Calista mencoba tersenyum dan menatap Fredrick.
"Kalau begitu tidurlah di sini. Temani aku tidur. Aku tidak mau bermimpi buruk lagi Fred"
Meski Fredrick sangat bisa melihat senyum terluka itu tapi sekali lagi, dia bukan bajingan yang tidak terikat. Dengan penuh kesabaran Fredrick membelai surai Calista dengan lembut, Calista yang mendapat perlakuan itu tersenyum senang tapi,
"Aku tidak bisa di sini Cal, aku pria yang sudah menikah. Ku mohon mengertilah, jangan buat aku menjadi pria yang semakin penuh dosa. Bahkan sekarang dengan memilih datang ke sini dan mengabaikan istriku yang sakit, aku sudah merasa sangat berat dan berdosa"
Calsita menggertakan giginya dengan tangan terkepal kuat tapi, untuk yang kesekian kalinya dia mengerahkan segala kekuatannya untuk tidak berteriak sekarang. Hingga dengan sangat terlukan dia hanya bisa mengangguk pasrah. Ya untuk sekarang dia akan pasrah, tapi nanti. Hanya author yang tahu apa yang akan terjadi.
\=\=\=💛💛💛💛
Yukk jejaknya yukkk...
__ADS_1
Salam sayang semua