
Setelah satu bulan lebih Edward berlibur, masa 'liburan' jelas tidak tampak pada wajah dan dirinya. Di malam yang mencekam dengan membabi buta memacu kudanya, perasaan dan hatinya sudah tidak berada di dalam raganya. Pikirannya sudah tidak menempati isi kepalanya.
Setelah melihat gerbang belakang istana, Edward menarik kuat tali kekangnya hingga kudanya meringkik sambil menukik tinggi.
Edward segera melompat dari kuda dan mengikat tali kudanya dengan asal dan cepat. Keelft sudah menunggu di pintu kayu yang di bukanya. Wajahnya terlihat cemas dan penuh dengan guratan kesedihan.
Setelah Edward masuk ke dalam pintu kayu, mereka segera berlari sekencang yang mereka bisa. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya raut wajah cemas yang terus tergurat di kedua wajah pria itu.
Keelft menuntun langkah mereka ke belakang istana. Keelft memulai dengan memanjat sebuah pohon, Edward hanya mengikuti. Saat sudah naik di atas pohon, Keelft mengulurkan tangannya ke dalam kelebatan daun pohon. Sebuah tali tambang tersembunyi tersimpan di sana, dengan cepat, Keelft mengeluarkan sebuah besi pengait dan melempat tali ke atas, ke sebuah balkon kamar. Kamar Raja George.
Keelft kembali menuntun Edward untuk memanjat tali dengan cepat dan terlatih. Edward mengikuti dengan tidak kalah cepat dan terlatih. Sekarang mereka sudah berada di atas balkon. Keelft mematahkan begitu saja gagang pintu dan membuka pintu balkon dengan hati berkecamuk.
Mereka terdiam sesaat, untuk mencerna isi kamar, pelayan priabadi Raja George segera menggangguk pada mereka dan segera melesat keluar kamar. Suara pintu yang di kunci dari luar membuat Edward segera masuk ke dalam. Keeflt menunggu, menjaga pintu balkon dengan hati bergetar dan nafas tercekat.
Dengan kaki yang terasa lemas, Edward mendekat pada ranjang. Ranjang pesakitan Raja George yang sangat rapih.
"Selamat malam Your Majesty"
Raja George membuka matanya dengan berat. Tenggorokan Edward tercekat sambil semakin mendekat pada Raja George yang seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Ed...."
Edward menekuk ke dua lututnya ke lantai untuk menyamakan posisi mereka
"Iya Your Mejesty"
"Aku... Ini.... ini akhirku Ed...."
Tanpa memperdulikan aturan, Edward segera menggenggam tangan Raja George yang sudah dingin dan tidak mempunyai kekuatan lagi. Raja George mencoba tersenyum dan dengan sudah payah mencoba membalas genggaman tangan Edward dengan seluruh sisa tenaganya.
"Sampaikan maafku untuk Victoria dan Duke Arthur. Sampaikan maafku untuk Fredrick..." Raja George menarik nafas dalam, nafas yang sudah sangat sulit untuk di hirupnya. "Sampaikan pada Bash jika aku sangat menyayanginya dengan seluruh hidupku. Aku sangat mencintainya dan menyesal" Kembali Raja George menarik nafas dalam yang sangat sulit. "Ceritakan pada cucu-cucuku jika aku sangat bahagia ketika tahu mereka hadir, dan aku meminta maaf tidak bisa melihat mereka terlebih karna semua kesulitan orang tua mereka"
"Your Majesty..."
Edward semakin kuat menggenggam tangan Raja George saat air mata yang tidak pernah di lihatnya menetas di kedua pelipis tua itu.
"Te-terimakasih atas segalanya Ed, atas segala kesetianmu padaku"
Edward hanya bisa mengigit pipi dalamnya dengan kuat. Kedua matanya mulai buram menatap lekat pertemuan terakhir mereka.
"Saya yang berterimakasih Your Majesty, anda merawat saya dan memberikan kepercayaan pada saya, hingga saya bisa hidup berguna. Terimakasih. Saya sangat bahagia"
Senyum tipis dengan susah payah tercetak di sudut bibir Raja George
__ADS_1
"Jaga mereka semua Ed, jaga orang-orang kebangganku"
Edward mengangguk patuh
"Sekarang.... Jemputlah Ratu baru Francia"
Dengan pelan, Edward melepas tangannya dan langsung berdiri sambil membungkuk dalam
"Dengan seluruh nyawa saya Your Majesty, saya akan melindungi mereka semua"
Edward kembali menegakkan punggungnya dan menatap dalam pada Raja George yang membalas tatapannya dengan nanar.
"Your Majesty... Silahkan tidur dengan tenang... istirahatlah tanpa ada lagi beban..."
Keelft hanya bisa menunduk dengan mata yang sudah penuh air mata. Tangannya terkepal kuat menahan segala perasaannya.
Raja George tersenyum dan mengangguk singkat. Edward segera melesat pergi ke luar pintu balkon tanpa menoleh lagi, setelah sebelumnya membunyikan lonceng pelayan dan pelayan kembali masuk ke dalam kamar.
Dalam keheningan, Raja George menatap langit-langit kamarnya, nafasnya semakin berat, aroma kematian sudah semakin dekat dalam nafasnya. Semua kenangan semasa hidupnya menyusup dan bergerak cepat di dalam ingatannya, bibir pucatnya berguman lirih
"Tuhan.... kedalam tanganmu... kuserahkan nyawaku..."
--000--
TANG TANG TANG TANG TANG TANG
Gerakan mereka terhenti, kepala mereka tertoleh ke arah istana. Suara lantang lonceng panjang sudah di bunyikan, api-api yang sudah di padamkan pada malam hari mulai kembali di hidupkan. Edward dan Keelft langsung meletakkan tangan kanan terkepal mereka ke atas dada kiri sambil membungkuk dalam
"Selamat jalan Your Majesty...."
Seluruh kegelapan malam di ibu kota kembali terang, bunyi lonceng panjang yang lantang dan terus berdentang kuat membuat penduduk keluar rumah mereka sambil menatap ke arah istana. Sesekali bibir mereka mengucapkan selamat tinggal, sesekali beberapa dari mereka terisak karna mengingat kepemimpian mantan Raja mereka. Angin malam di penghujung musim semi berhembung kencang, binatang malam ikut bungkam seolah berkabung meratapi kepergian mantan penguasa mutlak kerajaan itu.
Obor-obor api di sepanjang istana di hidupkan. Para kesatria, pengawal, penjaga dan pelayan membungkuk dalam ke arah kamar Raja George. Gumanan doa, ucapan selamat tinggal, isakan terimakasih mereka lantunkan dengan lirih.
Malam ini.... seluruh Francia berkabung. Keheningan dan dinginnya malam mengantarkan kepergian mantan penguasa mereka dalam kesepian dan penyesalan. Raja Tiran yang selalu mengutamakan rakyat mereka telah pergi. Dalam duka dan kesedihan, mereka mengenang semua ingatan tentang pemimpin kerajaan mereka.
Ratu Elisabeth menatap langit malam yang sepi, malam ini tidak ada satu pun bintang di langit. Tangan kirinya terus memegangi dadanya, bibir tuanya terus berguman lirih
"Selamat jalan cintaku... Meski hatimu sudah terebut dan sudah bukan milikku lagi, tapi hatiku selalu milikmu. Kau pasti bahagia bisa bersama lagi dengannya. Rose, pada akhirnya kau berhasil memenangkan hatinya, berhasil menggenggam hatinya dengan utuh. Selamat berkumpul kembali di sana"
"Ibu....."
Henry mendekat pada ibunya dan ikut menatap langit malam tanpa bintang.
__ADS_1
"Hujan akan turun ibu"
Ratu Elisabeth mengangguk singkat
"Lihatlah.. langitpun berkabung untuknya"
Henry ikut mengangguk dan menatap ibunya dengan cemas
"Ini di luar perhitungan kita, bagaimana tentang besok ibu?"
Dengan anggun, Ratu Elisabeth melangkah semakin ke luar balkon dan kembali menatap langit
"Tetap akan berjalan, kita tidak bisa membatalkan pestamu dan.." Kepala Ratu Elisabeth menoleh pada Henry. "Pengangkatanmu"
Henry membuang nafas panjang
"Tapi ini akan menjadi keributan ibu"
"Aku tidak peduli Henry, ini bisa kita gunakan sebagai pemulus jalan lain kita"
Dalam diam, Henry terus menatap ibunya dengan wajah bertanya. Ratu Elisabeth menarik nafas dalam, kedua bola matanya mengkilap penuh amarah dan kesedihan.
"Setelah kepergian Raja, harus ada Raja baru yang menggantikannya"
Henry tersentak dan menatap ibunya dengan tidak percaya
"I-ibu...."
"Kuatkan tekatmu Henry, aku sekarang penguasa mutlak setelah Raja pergi. Semua dukungan mengarah padamu, semua suara sudah kita genggam. Ini kesepatan kita, gunakan kesedihan dan kekosongan istana untuk mengangkatmu...." Kedua bola mata sebiru langit itu mengkilap tegas. "Naik ke atas tahta mutlak kerajaan Francia"
Masih dengan memandang ibunya dengan pandangan tidak percaya, Henry hanya diam tanpa bisa bergeming
"Bersiaplah menyambut gelar barumu besok"
\=\=\=💜💜💜💜
Apa ada yang sedih dengan kepergian Raja George?
Kl Eike yg buat sih sedihhh...
Ayukk jejaknya yukkk...
Salam sayang semua✨
__ADS_1