
PLAKK!
PLAAKK!
PLAKK!
Bunyi tiga tamparan dengan buku membuat wajah Edward tertoleh ke samping, di pukulan ketiga rasa anyir mulai terasa di mulutnya
"Apa aku sudah terlalu santai pandamu?"
Suara dingin yang menyapanya membuat Edward segera menekukkan satu lutut ke lantai dan tetunduk dalam
Jeremmy yang ada di sebelah Edward tidak jauh berbeda keadaannya, meski Jeremmy hanya mendapatkan satu tamparan keras.
TOK TOK TOK
"Your Majesty"
"Masuk"
Seorang pria berpakaian kesatria emas dengan stempel Raja di bahu kanannya segera membuka pintu dan menutup kembali, mengabaikan dua orang yang sedang berlutut di lantai menghalangi jalannya.
Raja George segera mendaratkan bokongnya di pinggir meja dengan sorot mata dingin dan raut wajah dingin tidak terbaca
"Katakan"
Suara Raja George membuat Kesatria itu segera menegakkan kepalanya
"Hans, Alex dan Gaston Your Majesty"
"Ceritakan"
Kesatria itu mengangguk dan kembali membuka mulutnya
"Hans yang mengatur semuannya, Alex dan Gaston ikut bermain. Mereka mengikat Ferry dan Edith, pukulan di layangkan dari tangan Hans dan, Gastonlah yang berkhianat lalu memanggil Lucas, Keelft, Carl, Lincont dan Gregory yang langsung bergerak mencari"
"Pelayan itu?"
"Luka kecil di perut karna tertusuk ujung akar tajam pohon saat terlempar untuk melawan"
"Jamuannya?"
"Earl Xenas sudah mengupayakan dan menekan segala cara agar tidak terdengar hingga ke luar"
"Fredrick?"
"Sedang menemani dokter Lily yang mengobati luka-luka Lady Victoria"
"Pisahkan yang terlibat, redam cerita dari keluarga mereka, hingga aku sendiri yang akan menyapa keluarga mereka nanti"
"Baik Your Majesty"
Kesatria itu segera memutar tubuhnya untuk menuju pintu keluar tapi. suara Raja George kembali terdengar
"Tomy"
Kesatria itu, Tomy, segera memutar kembali tubuhnya dengan kepala tertunduk.
"Iya Your Majesty"
"Katakan pada James jangan lakukan apapun pada Webex dan panggil Fredrick ke sini"
"Baik Your Majesty"
Suara helaan nafas panjang Raja George membuat kepala Tomy semakin menunduk dalam, termasuk kepala Jeremmy dan Edward
"Perhatikan dengan sangat hati-hati sekitar, jangan pernah terjadi kebocoran apapun tentang hari ini, terlebih hingga sampai ke telinga salah satu keluargan Lady Victoria ataupun pemihak keluargannya"
"Baik Your Majesty"
__ADS_1
"Pergilah"
Tomy segera mengangguk dan kembali memutar tubuhnya dengan tetap mengabaikan dua pria yang berlutut di depan meja, mengahalangi jalannya.
Setelah Tomy menutup pintu, Raja George kembali menatap dua orang yang sedang berlutut di depan meja kerjanya dengan sorot mata dingin dan wajah dingin tidak terbaca
"Bagaimana kalian akan mempertanggung jawabkan ini?"
Jeremmy memejamkan matanya dengan pasrah dan Edward membuka mulutnya
"Biarkan saya yang menghukum mereka Your Majesty"
Ucapan Edward dengan nada dingin membuat Jeremmy bergindik ngeri. Raja George menatap Edward
"Menghukum hah!"
BUGH!!
Satu teriakan dan satu tendangan segera melayang untuk Edward, dengan cepat Edward kembali mengangkat tubuhnya yang sempat jatuh ke lantai karna tendangan
"Membunuh mereka sekalipun tidak akan berguna Edward! baru beberapa hari yang lalu aku menjelaskan ke padamu apa akibat yang bisa terjadi jika kabar ini berhembus ke luar!"
Sambil menahan dadanya yang terasa nyeri Edward terus menundukkan kepalanya. Jeremmy hanya bisa menguatkan dirinya untuk tidak gemetar memalukan karna dia sadar, Raja George sudah kehilangan ketenangannya.
TOK TOK TOK
"Your Majesty"
Suara di balik pintu membuat fokus Raja George pada Edward terhenti dan segera menatap tajam ke arah pintu.
"Keluar! jangan ada yang mengganggu kami"
Edward segera menegakkan lututnya dengan Jeremmy yang juga ikut mengangkat lututnya. Dengan penuh penghormatan, mereka mambungkuk dalam lalu berjalan menuju pintu.
Saat pintu sudah terbuka, Jeremmy hanya menatap wajah di balik pintu dengan pasrah, dan Edward hanya diam tanpa ingin menatap wajah itu.
Fredrick segera masuk dan menutup pintu, lalu berjalan mendekat pada Raja George
"Your Maj......"
PLAAAKK!
PLAAAKKK!
Belum sempat Fredrick menyelesaikan sapaan untuk ayahnya, dua pukulan dengan buku segera melayang di kepalanya.
"Apa yang harus aku lakukan padamu Fred! aku membiarkanmu selama ini karna rasa bersalahku! tapi ketika kau mengatakan memilih tahta kau tetap semaumu!"
PLAAKK!!
"Aku sudah memberikan pilihan untukmu! kau bisa hidup semaumu bahkan selamanya bersama j*lang itu! kau bisa pergi dari rumah yang selalu kau anggap mengerikan untukmu ini tapi kau tetap memilih tahtamu!!!"
BUGH!
Fredrick yang tubuhnya sudah mencium lantai segera kembali berdiri
"Apa kau senang sekarang hah!"
BUGH!
Kembali Fredrick mencoba bangkit dari lantai meski tendangan ke dua membuat rasa sakit di dadanya semakin menjadi. Sambil berkacak pinggang, Raja George mencoba mengatur nafasnya yang memburu, wajahnya memerah dengan kaki tuanya yang mulai terasa ikut sakit karna hari ini setelah sekian lama kembali melayangkan banyak tendangan.
Setelah nafasnya mulai tenang dan amarahnya cukup terkontrol, Raja George kembali menatap Fredrick yang sudah kembali berdiri kokoh di depannya dengan kepala tertunduk
"Sekali lagi dan untuk terakhir kalinya aku memberimu pilihan" Raja George membalik tubuhnya dan menatap jauh ke luar jendela. "Apa yang kau pilih"
"Tahta"
Dengan wajah yang masih menatap jendela, helaan nafas lelah Raja George terdengar setelah mendapatkan jawaban pilihan yakin dan tidak tergoyahkan Fredrick.
__ADS_1
"Lalu?"
"Saya akan mencari tahu ini dan menyelesaikannya"
BRAAAKKKK!!!!
Semua benda di atas meja Raja George melayang dengan kasar ke lantai saat tangannya menyibak semua isi mejanya dengan kasar. Fredrick memejamkan matanya dengan pikiran dan perasaan berkecamuk, dia tahu jika ayahnya yang selalu tenang sekarang sudah benar-benar kehilangan ketenangannya.
"Jangan banyak bicara omong kosong! Apa kau mampu menyingkirkan semua kebutuhan, keinginan dan perasaanmu hah!! apa kau mampu meninggalkan masa lalumu dan melangkah untuk duduk di tahta Fredrick!!"
"Saya bisa Your Majesty"
Jawaban Fredrick yang terdengar tidak tergoyahkan membuat Raja George terkekeh tanpa rasa humor dan menatap dengan dingin pada Fredrick yang masih terus menundukkan kepalanya
"Angkat kepalamu"
Dengan cepat Fredrick mengangkat kepalanya, dan dengan cepat juga dua pasang mata abu-abu yang sama itu bertabrakan. Raja George berdesis dingin
"Sebutkan apa yang pernah ku katakan ketika kau memilih tahtamu"
Dengan yakin dan sorot mata tegas Fredrick membuka mulutnya
"Seorang Raja hanya alat untuk sebuah kerajaan, Raja bukanlah manusia. Hal pribadi seperti perasaan dan keinginan seorang raja tidak boleh ada, karna, kebutuhan, kemakmuran, kesejahteraan, kebahagian dan kesehatan rakyatnya adalah yang terpenting. Seorang Raja harus siap mengorbankan apapun hingga akhir hidupnya"
"Dan apa yang sudah kau lakukan sekarang hah! Kau tahu jika ini sampai berhembus keluar ketenangan kerajaan ini goyang!"
Dengan sorot mata yang masih mengkilap tegas, Fredrick menjawab
"Saya tahu dan akan memperbaikinya"
"OMONG KOSONG!!!!"
PLAAKK!
Dengan menahan semua rasa sakit di kepala dan dadanya, Fredrick kembali membuka mulutnya
"Beri saya kesempatan terakhir" Fredrick menatap ayahnya dengan lekat dan penuh keyakinan. "Karna saya tidak hanya menginginkan tahta, saya juga menginginkan'nya'..."
Kali ini senyum culas Raja George terbit dan menatap Fredrick dengan penuh celaan
"Kau pikir kau pantas? kau menjijikkan"
Dengan mengepalkan kedua tangannya Fredrick menatap kedua bola mata abu-abu ayahnya dengan dingin, tapi juga penuh tekat
"Saya akan memantaskan diri, beri saya kesempatan"
Ucapan Fredrick cukup membuat Raja George tertengun sepersekian detik, dan kembali membuang nafas panjang yang sangat terdengar lelah
"Apa jaminannya"
Fredrick segera membungkuk dalam tanpa sedikitpun keraguan
"Silahkan tarik saya ke tiang gantungan"
Tawa Raja George segera menggema ketika Fredrick menyelesaikan ucapannya, sambil berjalan menuju jendela dan menyelesaikan tawanya, tanpa menatap Fredrick, suara Raja George kembali berdesis tajam dan sangat dingin
"Aku akan menarik semua orang yang kau sayangi ke tiang gantungan, tidak, aku akan menyeret semua orang yang kau sayangi untuk hidup panjang di dalam neraka. Kau bisa tenang berada di dalam neraka yang sesungguhnya setelah merasakan tiang gantunganmu dengan meninggalkan mereka yang akan hidup dalam neraka ciptaanku"
Dengan tulang punggung yang langsung menggigil dan tangan yang mulai gemetar, Fredrick mencoba menguatkan dirinya untuk membuka suara
"Anda sudah pernah melakukan itu pada saya dan saya tidak punya alasan untuk meragukan semua ucapan anda sekarang...... ayah"
\=\=\=\=💚💚💚💚
Yang ikut emosional siapa? Hayoo absen... ckckkck...
Kolo berkenan dan merasa terhibur boleh yuk vote-nya di sebar..
Tinggalkan jejak kalian ya readers tersayang, tombol like, komen, bintang dan lope-nya silahkan di tekan ✨
__ADS_1