Behind The Castle

Behind The Castle
**FREDRICK's EXPLANATION**


__ADS_3

Bulan sudah terbit, suara binatang malam mulai bernyanyi, semilir angin sesekali menerbangkan rambut tergerai Victoria yang sedang menunggu kedatangan orang penting di kerajaan Francia. Seseorang yang paling penting di Francia.


Suara hentakan kuda semakin nyata dan semakin kuat yang membuat Keeflt maju dan mengotak ngatik pintu kayu yang dan di gerbang besi belakang istana. Bertepatan dengan suara langkah kaki kuda yang berhenti, pintu kayu di tarik oleh Keelft. Seseorang yang menunggangi kuda besar hitam memimpin enam kuda-kuda besar lain di belakangnya. Victoria menatap datar wajah pria yang menunggangi kuda pemimpin dan pria itu juga menatap Victoria dengan tidak kalah datar, sangat datar.


Mereka serentak melompat dari kuda-kuda mereka dan dengan serentak juga mengeratkan penutup kepala mantel mereka. Victoria menunggu pria penting itu untuk menuntun langkah mereka, sesuai aturan jika pria paling penting di kerajaan itu harus berjalan terlebih dahulu, tidak boleh ada yang mendahului langkahnya selain karna seijinnya atau karna keadaan yang mendesak.


"Kalian istirahatlah"


Akhirnya Victoria bisa mendengar kembali suara berat dan jantan itu, entah sudah berapa lama dia tidak mendengar suara itu.


Setelah semua pria lain pergi termasuk Edward dan Keelft pria itu mendekat pada Victoria dan menatapnya tanpa berucap, tangannya hanya bergerak untuk mengeratkan mantel Victoria yang menyelimuti seluruh gaun tidurnya, yang pasti cukup tipis dan.... menggoda.


Victoria hanya diam dan mengikuti langkah pria itu yang membawa mereka untuk menuju kamar istana utama, kamar paling utama di sana. Kamar Raja dan Ratu baru.


Dengan langkah santai, dan mengabaikan keterkejutan pengawal dan penjaga karna kedatangannya yang tampak seperti pencuri walaupun, gesturnya tetap tidak bisa membohongi jika dia adalah mantan Putra Mahkota kerajaan, Raja mereka yang baru.


Setelah masuk ke dalam kamarnya dan di ikuti Victoria. Mantan putra mahkota itu dengan acuh membuka sepatu dan mantelnya. Victoria tetap diam dan hanya memperhatikan tapi, ketika wajahnya yang sudah tidak tertutup apapun itu terlihat mata Victoria, Victoria mengeryit


"Siapa kau????"


Pria itu masih acuh dan dengan tidak tahu malu membuka semua bajunya hingga menyisakan ********** lalu dengan langkah santai memasuki kamar mandi. Victoria sama tidak tahu malunya, dan dengan santai mengekori langkah pria itu masuk ke dalam kamar mandi sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan dada.


Pria itu melepas hal terakhir yang melekat di tubuhnya dan langsung merendam tubuhnya ke bak mandi yang sebelumnya sudah di siapkan Mois. Bermenit-menit terlewati dengan Victoria yang terus menatap wajah pria itu, wajah yang menengadah di pinggiran bak mandi dengan mata terpejam.


"Tidakkah kau ingin membantuku untuk menggosok tubuh lelah ini?"


Kata pertama yang di ucapkannya untuk Victoria hanya di balas Victoria dengan mengedipkan bahunya acuh, dan berucap


"Aku tidak sudi menggosok tubuh pria asing"


Pria itu membuka satu matanya untuk melirik Victoria yang terus memandangnya dalam diam dan penuh keacuhan. Setelah menghabiskan menit-menit yang terus berjalan dalam keheningan, pria itu akhirnya merasa cukup, dan keluar dari bak mandi untuk membilas tubuhnya, memakai jubah mandi lalu menuju cermin yang ada di kamar mandi. Tangannya mengambil sebuah pisau kecil dan tipis untuk mulai mengikisi dan memotong semua janggut-janggut tebal yang menutupi wajahnya.


Victoria terus mengamati dalam diam hingga akhirnya semua janggut lebat dan mengganggu itu hilang. Pria itu mengusap wajahnya dengan kain basah dan menoleh pada Victoria sambil mengerling menyebalkan


"Hai..."


Bibir Victoria berkedut geli


"Haii..."


"Siapa aku nyonya manis?"


Victoria tidak mampu lagi menahan gelinya dan akhirnya terkekeh


"Suamiku"


Fredrick ikut terkekeh geli dan meraih tangan Victoria dengan lembut untuk keluar dari kamar mandi. Setelah keluar, Fredrick menuju lemarinya dan memilih asal piyaman tidurnya. Victoria masih berdiri dan mengamati lekukan tubuh sempurna suaminya yang sedang memakai piyaman tidurnya, kulit kecoklatan suaminya semakin tampak gelap dan itu terlihat...... menggoda.


Fredrick yang sudah rapih untuk tidur mentap Victoria dengan dalam

__ADS_1


"Sekarang, bisakah aku mendapatkan pelukan dari istriku?"


"Tentu saja"


Victoria merentangkan tangannya dengan lebar dan langsung di sambut Fredrick dengan cepat. Fredrick mendekap tubuh istrinya dengan erat dan kuat, hidungnya menghirup dalam-dalam aroma manis istrinya yang sudah sangat, sangat dan sangat di rindukannya itu. Victoria juga ikut membalas pelukan kuat suaminya dengan ikut menghirup dalam-dalam aroma menyenangkan suaminya.


"Aku merindukanmu.... sangat merindukanmu"


Victoria tersenyum sambil mengangguk singkat


"Aku juga merindukanmu... sedikit merindukanmu"


Fredrick terkekeh geli dan tiba-tiba langsung mengangkat punggung dan lekukan kaki istrinya ke dalam gendongannya. Victoria hanya diam dan mengalungkan tangannya di leher Fredrick hingga Fredrick mendaratkan bokongnya di pinggir ranjang, dengan Victoria yang ada di atas pangkuannya


Victoria memberikan jarak pada wajah mereka agar bisa saling menatap. Fredrick menatap dengan lekat dan dalam wajah istrinya yang sangat dia rindukan


"Kau semakin manis"


Tangan Victoria terulur dan mengusap janggut-janggut tajam yang baru selesai di cukur suaminya


"Kau semakin tampan"


Lama mereka saling pandang dan saling menyelami kedua bola mata mereka yang sama-sama menunjukkan kerinduan hingga Fredrick mengusap perut Victoria dengan lembut


"Bagaimana kabarnya?"


Victoria tersenyum hangat


Fredrick tersenyum hangat tapi tidak lama, karna perkataan Victoria baru bisa di cernannya dengan baik


"Mereka?"


Kepala Victoria mengangguk singkat dan kembali mengusap wajah suaminya


"Her highness kecil dan His Highness kecil.."


Dada Fredeick bergemuruh kuat hingga rasanya ingin meledak, bahkan Victoria bisa merasakan detakan cepat isi dada suaminya. Victoria meletakkan tangannya di dada kiri Fredrick sambil menatap lekat kedua bola mata abu-abu yang sekarang bergetar penuh dengan binar bahagia


"Terimakasih..." Fredrick kembali memeluk Victoria dengan erat. "Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu saat membawa mereka dalam perutmu, maafkan aku yang tidak ada bersamamu saat kau berjuang untuk mengeluarkan mereka, bahkan aku terlambat tahu tentang 'mereka'..."


Victoria tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca saat suara Fredrick bergetar lirih dan pilu


"Aku menyangimu Bash"


"Aku lebih menyangimu Vic"


Cukup lama mereka saling memeluk dan akhirnya Fredrick mengurai pelukan mereka dan menatap Victoria dengan lekat.


"Kapan pemakaman berlangsung?"

__ADS_1


"Tadi pagi"


Fredrick mengangguk mengerti dan menatap Victoria yang menatapnya dengan raut wajah yang penuh setuja pertanyaan


"Kau ingin mulai penjelasan dari mana dulu?"


Nafas panjang Victoria berhembus


"Dari awal semua rencana ini"


Kepala Fredrick mengangguk sambil memeluk pinggang Victoria dan menatap ke arah jendela yang terbuka


"Semuanya di mulai dari kecurigaanku saat keluargamu berencana ingin memberontak" Fredrick melirik Victoria yang menatapnya dengan lekat. "Saat itu, aku yang meyelesaikan urusan untuk keterlibatan mereka dengan Vancia. Dengan membawa rasa perdamaian kami datang ke mereka yang sudah siap memberikan dukungan untuk serangan pada kami tapi, hal janggal ku dapati di sana, mereka yang siap menyerang menerima begitu saja permintaan damai kami"


"Tanpa syarat?"


Fredrick mengangguk


"Tanpa syarat" Victoria mengangguk dan Fredrick kembali membuka mulutnya. "Aku menyelidiki dengan baik semua laporan yang sudah di kumpulkan istana tentang keterlibatan keluargamu dengan Vancia tapi, semuanya terasa janggal untukku dan... saat kami menyelidiki ulang kembali, semuanya dari awal, ternyata bukan keluargamu yang mulai membuat ikatan hubungan dengan Vancia tapi..."


"Pangeran Henry"


Victoria menyambar cepat ucapan suaminya yang berhasil dia nilai dan dia tebak arahnya. Fredrick mengangguk dan melanjutkan ucapannya


"Henry dulu memang cukup dekat dengan putra mahkota Vancia. Pengeran Marco bahkan pernah beberapa kali bertemu Henry di luar, di daerah selatan, di perbatasan. Dan kami tidak tahu apa yang mereka bahas dan apa yang mereka bicarakan. Sepertinya hingga sekarang mereka memang masih cukup dekat. Di mulai dari sana aku mulai memantau dengan ketat pergerakan Larina, hingga tiba surat dari Lady Calista yang berisi permintaan terakhirnya untuk bertemu, isi surat yang berani membawa masa lalu yang di simpan kerajaan. Awalnya aku hanya mencoba menebak-nebak dan hanya mencoba-coba mengaikan semua hal ini yang mungkin berkaitan dengan 'wanita itu', aku merasa harus mengaitkan semua ini karna wanita yang selalu tampak tidak tertarik dengan orang luar itu, secara tiba-tiba menunjukkan ketertarikkannya padamu"


"Karna itu kau sempat khawatir dengan pergerakannya padaku?"


Fredrick mengangguk dan kembali melanjutkan


"Aku meminta Gregory untuk menyelidiki pergerakan surat di Webex dan saat aku mendapatkan garis menyambung, kami langsung merundingkan semua dan membuat sekenario ini, kau tahu, aku malas untuk mengulur waktu dan membuang banyak tenaga terlebih pikiran untuk menebak-nebak"


Victoria mencibik sebal dan menatap Fredrick


"Kalian sangat malas dan licik"


Bibir Fredrick berkedut geli dan meraih tangan Victoria ke bibirnya.


"Dan karna ini juga, aku, Tomy dan Jeremmy selalu pulang dan pergi dari Vancia saat aku sedang di wilayah barat. Kami ingin melihat langsung ke sana, perjalanan terlama pertama kami adalah saat kami mengambil waktu yang tepat saat di mulainya skenario mereka dan skenario kami, agar tidak membuat perhatian mata-mata dan telinga-telinga, juga agar memancing mereka untuk segera melanjutkan skenario mereka dan menggunakan cerita hilangnya aku untuk membuat mereka mulai memantik api. Itu adalah saat di mana aku yang tiba-tiba menghilang beberapa minggu, saat dimana Edward tidak bisa menemukan ku, saat kau mengandung"


Wajah Fredrick tampak sendu dengan memandang Victoria dengan lekat.


"Aku minta maaf tentang Grey Vic, sungguh, kejadian itu di luar prediksi kami, ak...."


Tangan Victoria langsung menutup mulut Fredrick sambil menggeleng.


"Bash... bolehkan aku tahu tentang cerita masa lalumu?"


\=\=\=💜💜💜💜

__ADS_1


Ayukk jejaknya yukk


__ADS_2