Behind The Castle

Behind The Castle
**FESTIVAL MEMANAH**


__ADS_3

Dengan melingkarkan tangannya ke lengan Henry, dengan dagu terangkat dan wajah datarnya Victoria melangkah pasti mengikuti Raja George yang berjalan memimpin perjalanan mereka menuju lapangan istana. Kedatangan Raja George membuat semua kaki di kursi penonton langsung tegak. Victoria melirik kesegala arah.


Semua mata memandang, semua mata menilai, beberapa kipas Lady bangsawan yang hadir untuk menemani kekasih, tunangan atau suami mereka ikut terbuka saat kepala mereka saling mendekat, sekali lagi, Victoria tidak peduli. Rasa penasaran dan bisikan mereka di balik kipas pastilah bukan hanya karna semua cerita tentangnya saat pesta pertunangan tapi, karna dia sekarang berada di gandengan line tahta ke dua kerajaan, Pangeran Henry.


Saat sudah sampai di undakan kursi tahta, Raja George dengan segala aura kekuasaannya segera duduk dan mengangguk singkat, tanda jika dia sudah memberi ijin untuk semua bokong ikut duduk.


Victoria dan Henry melepaskan lingkaran tangan mereka dan ikut duduk di dua kursi sebelah kanan Raja George, satu tingkat di bawah tahta Raja, kursi yang seharusnya milik orang penting lain di kerajaan tapi, karna pria penting itu ikut ambil bagian dalam festival, kursi itu harusnya kosong.


Victoria yang hanya bergelar calon, menurut aturan di atas kertas belum memiliki kursi untuk duduk undakan tahta, di manapun itu walaupun hanya di lapangan seperti sekarang sekalipun dan, semua pemandangan yang tampak sangat berbeda dari teori sekarang, semakin membuat kipas-kipas terbuka, beberapa para gentleman pun ikut saling mendekatkan kepala mereka. Victoria menyeringai. 'ini luar biasa menggemparkan'


"Apa a-anda sedang mencari tunangan a-anda Lady?"


Pertanyaan Fredrick membuat Victoria menoleh dan menatapnya sambil tersenyum


"Saya baru pertama kali melihat festival ini Your Highness, di sini ramai"


Jawaban Victoria yang tidak sesuai dengan pertanyaan Henry membuatnya cukup yakin untuk tidak kembali membahas


"Aku ju-juga hanya beberapa kali melihat festival La-lady"


Victoria mulai antusias


"Kenapa? apa anda tidak suka dengan festival ini?"


Sambil tersenyum hangat Henry menatap Victoria dengan lekat


"Karna aku le-lebih banyak menghabiskan wa-waktu di Larina"


"Maafkan saya jika lancang Your Highness tapi, apakah kesehatan Her Majesty sangat parah maksut saya...." Victoria melirik Raja George yang sibuk berbicara dengan Edward, jarak kursi mereka yang cukup banyak membuat Victoria yakin untuk melanjutkan ucapannya. "Apakah Her Majesty masih belum bisa keluar Castle dan harus selalu di temani?"


Kembali Henry tersenyum hangat dan menatap lekat kedua bola mata sehijau daun Victoria


"Terkadang iya, ji-jika sedang sangat ti-tidak baik, a-aku harus selalu menemani Her Majesty"


Kembali Victoria tersenyum hangat


"Jika di ijinkan dan tidak di anggap lancang, bolehkah saya tahu apa penyakit Her Majesty?"

__ADS_1


Dengan senyum yang masih tercetak di bibirnya Henry membuang wajahnya dan menatap ke arah depan, menghentikan pandangannya pada Victoria.


"Penyakit ha-hati Lady"


Victoria mengeryit


"Radang hati? atau penyumbatan di hati? atau yang lain Your Highness?"


Masih dengan menatap ke depan dan bibir yang melengkung ke atas, Henry tidak membuka mulutnya lagi tapi, Victoria tetap menunggu dan terus menatap Henry dari samping.


Semua pemandangan itu membuat mata-mata yang tidak mengerti keadaan memiliki pemikiran lain. Sebentar lagi Victoria akan kembali menjadi buah bibir dalam artian yang kembali buruk, 'Lady Victoria yang terus menatap Pangeran Henry dengan penuh minat'


BONG! BONG! BONG!


Bunyi gong yang di pukul membuat semua fokus mata mengarah pada pagar pembatas, di sana sekitar hampir 50 orang pria peserta segera memasukki lapangan dengan busur dan arrow di tangan mereka.


Victoria melebarkan arah pandangnya dan baru menyadari jika di arah sebelah kiri, di ujung lapangan sudah tersedia papan target dari jerami yang di ikat padat dengan lima batas warna berbeda dan di buat melingkar.


Di belakang papan-papan target, dengan jarak lebih jauh beberapa meter dari papan target, terdapat boneka-boneka dari jerami yang mungkin akan menjadi babak berikutnya setelah berhasil melewati poin papan sasaran



"Your Highness, berapa meter jarak pemanah dan papan sasaran?"


Henry yang sedang fokus pada peserta segera menoleh pada Victoria yang kedua matanya sibuk menilai papan sasaran dan boneka jerami sasaran. Henry tersenyum


"Em-empat puluh meter untuk papan ta-target dan li-lima puluh meter untuk boneka je-jerami"


Victoria mengejap-ngejapkan matanya saat mendengar jarak peserta dan target, itu terlalu jauh untuknya yang hanya pernah di ajari tehnik dasar memanah.


Henry kembali tersenyum


"Lady Victoria se-sepertinya tertarik"


Dengan mencoba mengembalikan pikirannya Victoria menatap Henry


"Apa saja hadiah untuk para pemenang Your Highness?

__ADS_1


Dengan bibir yang masih melengkung ke atas Henry menjawab


"Untuk juara ke-ketiga mendapatkan koin emas, untuk ju-juara ke dua mendapatkan kuda be-betina dan ju-juara pertama kuda ja-jantan"


Dengan mata yang mulai berminat pada peserta, Victoria mengangguk paham. Victoria melebarkan arah pandangnya ke sebelah kanan, dimana para peserta pria mulai masuk ke lapangan dan.... kedua bola mata hijau pekatnya segera bertabrakan dengan kedua bola mata abu-abu yang sangat dia kenal.


Dengan rahang mengeras, Fredrick menatap dengan tajam pemandangan di depannya yang cukup membuat kepalanya mendidih, itu adalah kursinya dan itu adalah tunangannya, tapi kenapa orang lain yang menduduki semua posisinya, dan yang terpenting, kenapa dia bisa berada di kursi itu atau mungkin memang di perintahkan untuk berada di kursinya.


Sambil melangkah pasti dan tatapan tajam yang pasti, Fredrick terus menatap kedua bola mata sehijau daun yang juga menatapnya tapi, dengan segala gerakan angkuh dan anggunnya. Tanpa senyuman, tanpa sapaan, tanpa minat, Victoria memalingkan wajahnya dengan santai dan anggun, seperti tidak pernah mengenal kedua bola mata abu-abu yang terus memandangnya.


Fredrick merasakan sensasi kuat yang tidak asing pada bagian ini, yang membuat semua kemarahannya teredam dan membuat bibirnya berkedut. Victoria sekarang dan Victoria kecil yang selalu membuang wajahnya ketika melihat semua pesonanya.


"I-itu Fred"


Dengan malas dan tidak berminat Victoria menjawab suara antusias Henry


"Iyaa"


Henry yang mendapati respon tidak tertarik Victoria hanya bisa tersenyum geli, padahal semua Lady di bangku penonton di depan mereka sedang berbisik genit sambil mengarahkan pandangan mereka pada Fredrick yang memakai baju pemanah



Saat semua sudah siap di posisi tali pembatas untuk pemanah, Raja George memberikan satu anggukannya yang membuat gong kembali di pukul sebanyak dua kali, lima orang pria di putaran pertama segera menyiapkan postur dan posisi mereka.


Seorang pria yang berdiri di sebuah kotak tinggi mengangkat tangannya, membuat lima peserta pertama segera mengangkat busur dan arrow mereka, pria yang mengangkat tangannya dengan tinggi itu memberi jedah waktu beberapa saat untuk para peserta membidik dan saat waktu yang di berikan cukup, tangan pria itu turun dengan cara yang dramatis. Lima arrow segera melesat menuju papan sasaran, hanya dua yang berhasil masuk ke lingkaran ke tiga, sisanya ada yang tidak tertancap sempurna ke papan sasaran dan yang lain lagi meleset jauh dari lingkaran papan sasaran.


Victoria segera menegakkan bahunya, rasa tertariknya semakin bergelora hingga matanya berkilap penuh antusias dan, pemandangan yang tidak biasa di tunjukkan Victoria itu, cukup untuk membuat ketiga pria paling penting di kerajaan Francia tersenyum hangat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Haii Hallo readers....


Untuk yang kesekian kalinya terimaksih sudah mampir dan masih ada di sini...


Semoga kalian masih tertarik untuk membaca yaa


Jangan lupa like, komen, bintang dan lope-nya...

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2