
Elisabeth berdiri di luar pintu balkon kamarnya saat matahari mulai beristirahat, wajahnya masih terlihat muram dan juga kacau. Beberapa hari ini tubuh tuanya sedang sakit, tapi semua itu tidak lebih sakit dari rasa sakit di hatinya. Terlebih karna rasa malunya yang entah bagaimana dia akan menanggungnya
"Ibu masuklah, angin malam akan semakin dingin"
Elisabeth menoleh pada Henry yang akhirnya bisa datang juga ke kamarnya. Bibir pucatnya tersenyum tipis
"Jangan ikut camput Hen, ibu tidak ingin memancing kemurkaan si ular penjaga pedang. Jangan usik mereka. Jaga dengan baik nyawamu"
Henry hanya diam. Keterdiaman Henry membuat Elisabeth membuang nafas panjang dan mengeratkan mantelnya, kakinya melangkah semakin ke luar balkon. Kedua mata sebiru lautnya menerawang jauh ke atas langit yang menyebar warna orange kemerahan. Bibir pucatnya berguman
"Victoria... jalan apa yang akan kau pilih" Kembali Elisabeth mengeratkan mantelnya dengan tangan yang memegangi mantelnya. "Akan menjadi Ratu seperti apa kau nanti?"
---000---
Hari yang sudah menjelang malam di camp kesatria tidak juga membuat mereka berhenti latihan. Dentingan pedang, pukulan-pukulan, umpatan, teriakan kasar terus mengisi camp kesatria istana. Lapangan latihan camp terus bising oleh kegiatan mereka. Jeremmy terus memantau, mengawasi, mengajari dan sesekali berteriak.
Keadaan ramai di luar camp sangat berbeda jauh dengan keadaan di dalam camp kesatria.
Edward bersama Tomy dan Carl dalam suasana tenang terus merundingkan isi perkamen-perkamen di atas meja yang ada di ruang santai camp. Sesekali Tomy menunjukkan pemikiran baru, sesekali Carl menunjukkan solusi lain sambil membuka hasil penyelidikan mereka selama ini. Edward mendengarkan dengan baik sambil mencerna dengan baik strategi dan penempatan kekuatan untuk menghadapi.... perang, perang dan pemusnahan besar yang akan terjadi. Para penilai dan pengatur strategi terbaik itu dengan sangat hati-hati mengerahkan semua kemampuan mereka untuk rencana terbaik. Perang sebentar lagi akan jatuh, dan juga akan pecah. Tinggal menunggu para mata dan telinga maka mereka harus sudah siap.
---000---
Victoria mengeratkan mantelnya dan membuka tudung kepalanya saat baru selesai mengikat kudanya. Kedua matanya mengedarkan penglihatannya mencari seseorang yang pasti sudah menunggunya dan.... seseorang langsung menubruk tubuhnya dengan kuat sambil memeluknya dengan erat dan penuh rasa lega.
"Kau datang Riri... kau datang adikku, aku tahu kau pasti datang"
Victoria tersenyum dan membalas pelukkan kuat kakaknya, Charlotte.
"Maaf membuatmu menunggu lama Lottie"
Charlotte mengurai pelukkan mereka sambil menggeleng dengan mata berkaca-kaca, raut wajahnya jelas menunjukkan kelegaan dan kebahagiaan
"Tidak apa-apa Ri, tidak masalah. Terimakasih sudah datang. Aku....."
"Lottie...."
"Iya?"
__ADS_1
Dengan pelan Victoria melepaskan pelukkan mereka masih dengan senyum yang tercetak di bibirnya. Charlotte menatap Victoria dengan lekat dan penuh tanda tanya.
"Lottie... aku sangat menyayangimu, aku juga sangat mencintaimu"
Kepala Charlotte mengangguk antusias dengan senyum yang kembali tercetak di bibir ranumnya. Senyum bahagia, sangat bahagia hingga matanya berbinar
"Aku juga Ri... aku selalu menyayangimu, aku selalu mencintaimu"
Victoria menatap lekat wajah kakaknya, sangat lekat dan dalam
"Karna itu Lottie, aku ingin meminta tolong padamu, sebagai adikmu dan keluarga yang kau sayangi"
Kedua bola mata Charlotte mencoba menatap kedua bola mata adiknya dengan pencahayaan yang mulai hilang karna matahari sudah sepenuhnya tenggelam.
"Apa Ri?"
Victoria menautkan tangannya ke depan perut dan dengan tiba-tiba... membungkuk dalam. Charlotte terkesiap dan langsung memegang ke dua bahu adiknya, adiknya yang sekarang seorang Ratu membungkuk dalam dengan sopan padanya
"Apa yang....."
"Lottie..." Victoria kembali menegakkan punggungnya dan langsung memberi jarak pada mereka. Kedua matanya menatap wajah kakaknya dengan nanar tapi juga penuh dengan tekat "Ayo kita bekerja sama agar tidak terjadi perang. Aku akan berusaha dan melakukan apapun untuk membuat kerjasama damai dengan Vancia, kita buat kerajaan tunanganmu dan kerajaan suamiku berdampingan" Kembali Victoria membungkuk dalam. "Aku mohon"
"Tegakkan tubuhmu Ri, tatap aku!" Punggung Victoria kembali tegak dan menatap kakaknya dengan mata mengkilap tegas dan penuh tekat. Tekat itu, tekat itu membuat dada Charlotte bergemuruh kuat karna... amarah. "Jadi ini pilihanmu?"
"Benar... aku memilih Francia, kerajaanku"
Bibir Charlotte bergetar dengan tatapannya yang menajam, raut wajahnya tercetak sejuta guratan kekecewaan nyata, sangat nyata hingga membuat kedua tangan Victoria mencengkam gaunnya.
Charlotte menarik nafas dalam, dengan hati yang masih berharap, Charlotte kembali membuka suaranya dengan lirih
"Pilihanmu hanya dua Riri. Tetap memilih kerajaanmu dan kau akan kehilangan ku untuk selamanya. Atau kau memilih aku keluargamu, kakakmu, dan keluarga kita bisa kembali bersama dengan kebanggaan kita"
Victoria tersenyum getir, arah pandangnya mulai buram. Victoria tidak menjawab dan hanya memandang kakaknya dengan dalam, sangat dalam dan Charlotte... mendapatkan jawabannya. Kakinya semakin mundur dan menjauh dari Victoria dengan lelehan bening yang jatuh di kedua matanya
"Kau melupakan keluarga kita Riri? kau mengkhianati keluarga kita?"
Victoria menggeleng dengan bibir yang masih tersenyum getir
__ADS_1
"Kau yang melupakan keluargamu Lottie, kau yang melupakan alasan ayah dan ibu lebih memilih kematian dari pada melawan"
Keheningan terjadi, dua saudara yang terikat dalam satu darah itu saling memandang dalam diam dan dalam. Saling menyelami dengan dalam kedua mata mereka, jendela hati mereka, perasaan mereka. Hingga Charlotte memecahkan keheningan itu
"Apa kau... apa kau tidak mempunyai perasaan? bagaimana kau bisa melupakan segalanya?"
Kembali bibir Victoria tersenyum getir
"Aku bisa mengorbankan apapun Lottie, perasaanku hanyalah sebagian kecil yang akan ku singkirkan ketika itu menyangkut kerajaanku, rakyatku dan orang-orangku" Victoria mendekat pada kakaknya yang mematung dengan air mata yang kembali menetes. "Termasuk untuk membunuhmu, aku bisa membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri jika kau menyentuh kerajaanku, rakyatku dan orang-orangku"
Kaki Charlotte melemas, lelehan hangat dari matanya semakin terus mengalir, wajahnya sangat menunjukkan sejuta rasa kekecewaan dan kesedihan karna... Charlotte sudah kehilangan adiknya.
Victoria terus menatap kakaknya dengan lekat, hatinya membeku saat Charlotte hanya diam dan terus diam. Dengan penuh kepedihan dan penuh kesedihan, bibir bergetar Victoria kembali terbuka
"Belum terlambat untuk kita....."
"Tidak ada kata memperbaiki Victoria"
Victoria menutup matanya sejenak. Rasa sakit dan pedih tanpa ampun menghantam hatinya karna.... Victoria sudah kehilangan kakaknya.
Victoria terus menutup matanya dengan kuat, bahkan saat suara langkah kaki kuda sudah terdengar hingga akhirnya menghilang. Charlotte sudah memilih jalannya sendiri.
Angin malam mulai berhembus semakin dingin, keheningan malam mulai di isi dengan suara binatang malam, pergerakan daun ikut mengisi keheningan gelapnya malam. Di malam ini, Victoria kembali kehilangan keluarganya. Kehilangan darahnya dengan cara yang berbeda.
Dalam gelapnya langit yang menyelimuti bumi, sang Ratu akhirnya menangis pelan, menumpahkan perasaannya dalam kesakitan dan juga kekecewaan. Kakinya melemas hingga tidak mampu menopang tubuhnya lagi, tubuh sang Ratu luruh begitu saja di atas tanah dingin, dadanya terhimpit kuat hingga sulit bernafas, tenggorokannya terasa penuh dengan kerikil hingga tidak mampu untuk menjerit, menjerit untuk meneriakan perasaan hancurnya, menjerit untuk meneriakan takdirnya, menjerit pada Tuhan karna terus memberikan kesakitan yang menyiksanya. Victoria tidak mampu lagi untuk bangun, Victoria sudah ingin menyerah, dia merasa sudah tidak sanggup lagi
Tapi, saat Victoria merasa tidak kuat lagi dan merasa tidak akan mampu lagi untuk berdiri kokoh, tubuhnya yang sudah lemah terangkat. Aroma maskulin dan jantan yang sangat di kenalnya menyeruak dan menyusup di indra penciumannya. Dengan perlahan Victoria membuka matanya, kedua matanya yang sudah penuh genangan langsung bertabrakan dengan kedua bola mata abu-abu yang memandangnya dengan nanar. Guncangan pelan ketika tubuh yang membawanya bergerak kembali menumpahkan air matanya yang terus memenuhi pelupuk matanya.
Dalam isakan pelan pilunya, kedua bola mata abu-abu itu terus dan terus menatapanya dengan nanar dan syarat akan kesakitan. Seolah ikut merasakan segala perasaan yang sedang di rasakan Victoria. Tidak ada yang membuka suara, tidak ada yang berniat bersuara. Dalam diam mereka saling berbagi kesakitan.
Dengan pelan, tubuh Victoria mendarat di punggung kuda hitam kesayangan pemilik si bola mata abu-abu hingga akhirnya si pemilik ikut naik. Victoria mengeratkan pelukkanya, mencari kenyamanan dan kehangatan di dalam dada kokoh dan lebar milik.... suaminya.
"Menangislah"
Satu kata singkat bagai mantra kuat untuk Victoria semakin menumpahkan perasaannya, Victoria semakin terisak kuat, suara hentakan kaki kuda dan suara isakannya saling bersaut-sautan menemani perjalanan mereka. Perjalanan mereka di jalan yang sama.
\=\=\=❤❤❤❤
__ADS_1
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua