
"Menurut saya, kita harus memupuk kepercayaan mereka dan memanfaatkan rasa kecintaan mereka pada tanah mereka" Victoria menjedah dan kembali menatap semua wajah yang terus menatapnya dengan raut wajah berbeda. "Buat peran mereka untuk kerajaan terlebih untuk wilayah mereka"
Ekor mata Victoria melirik Fredrick yang telihat santai tapi tampak antusias. Lalu semua wajah yang sekarang tampak terlihat bingung
"Bisa perjelas maksut anda Your Highness Putri Victoria?"
Ucapan Duke Kendal membuat Victoria menatap Fredrick yang langsung menganggukkan kepalanya, tanda jika dia juga belum mengerti maksutnya dan minta menjelasan
"Itu tanah mereka dan kita merebutnya, walaupun kita merebutnya dan mendudukinya dengan cara yang sah karna mereka memang kalah dalam perang bertahun-tahun" Tangan Victoria memutar-mutar cangkir tehnya dan kembali membuka suara. "Mereka selama ini menjalani kehidupan yang bisa kita bilang menyedihkan kan?, bahkan dalam setiap musimnya. Kelaparan, kriminalitas dan kematian adalah makanan sehari-hari mereka terlebih setelah perang ini, kerugian dan kejatuhan akan di pikul semakin berat oleh mereka. Kita sebagai penguasa baru mereka harus memulai dari sana. Perbaiki itu, tunjukkan jika kita akan membuat mereka lebih baik agar hati mereka tergerak untuk memudarkan rasa benci mereka pada kita si 'pencuri' tanah mereka. Beri bantuan dan perhatian dengan cara nyata dan jelas di depan wajah mereka"
Terlihat beberapa pria langsung gelisah, mereka mencoba merapikan mantel hangat mereka yang sudah rapih. Ada juga yang langsung meraih cangkir mereka. Hanya Earl Xenas dan Marquess Mincheas yang tampak tenang, seolah sudah terbiasa mendapat sindiran tajam dari Victoria. Lebih tepatnya dari mulut-mulut darah Arathorn. Victoria jadi berpikir, mungkin saja kedua orang penasehat Raja George itu sudah mencicipi bagaimana mulut lincah Arathorn muda yang lain. Well.. sudah pasti kakaknya saat rapat untuk pernikahan.
"Lalu bagaimana dengan pembangunan? Menurutmu berapa banyak yang harus kita keluarkan dan pantas untuk mulai kita keluarkan? Kau tahu kan jika kita terus kehilangan banyak dana, tenaga dan pasukan karna Vancia"
Suara Fredrick membuat fokus mereka kembali tertuju pada Victoria. Victoria menatap Fredrick yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada dengan kedua alis tebalnya yang terangkat penuh, raut wajahnya terlihat penuh dengan rasa penasaran.
"Kenapa harus pusing untuk tenaga Your Highness. Pakai saja tenaga mereka sendiri, bentuk pasukan untuk perlindungan, cari orang-orang yang bisa bekerja. Itu tanah mereka, seperti yang saya katakan tadi, tunjukkan pada mereka jika kita akan membuat mereka lebih baik dan memperbaiki kehidupan mereka dengan membuat mereka ikut ambil bagian lalu, dengan sendirinya biarkan bunga kepercayaan mereka mulai akan bertunas. Dan, Saat bunga sudah berkembang kita tinggal terus melanjutkan memakai tenaga mereka untuk pembangunan sambil terus memberikan perhatian yang terlihat, harus terlihat. Kita tidak perlu repot" Victoria melihat senyum miring menyebalkan Fredrick dan kembali melanjutkan ucapannya. "Jika masalah dana, menurut saya kita memang harus mengeluarkannya setidaknya untuk sekarang karna nanti seiring perbaikan dan bibimbingan dari kita, mereka bisa kita gunakan untuk memutar ekonomi mereka sendiri, hingga suatu hari nanti..." Sambil menyeringai, Victoria menatap tiap wajah-wajah yang tampak kembali menunjukkan raut wajah berbeda. "Kita bisa meraup banyak keuntungan dan bisa menggunakan mereka untuk kebutuhan kerajaan. Well... mereka kan sekarang memang sudah menjadi bagian dari Francia"
Kali ini Earl Xenas mengangkat cangkir tehnya sambil membuang nafas panjang yang entah untuk apa, di iringi dengan suara kekehan halus Fredrick yang segera meluncur setelah Vicroria menyelesaikan pendapat terakhirnya.
"Apa ada yang ingin meluruskan atau punya pendapat lain atau juga menambahkan?"
Marquess Mincheas dengan sigap langsung kembali melanjutkan rapat saat dirinya sendiripun cukup menyukai rencana Victoria yang terkesan licik tapi memang akan sangat menguntungkan untuk sekarang juga nanti.
"Menurut anda, kita harus mulai dari mana Your Highness? maksut saya, gambaran seperti apa yang harus kita lalukan untuk mulai menanam bibit bunga?"
Dengan suara ramah Duke Argentt bertanya sambil menatap Victoria dengan raut wajah antusias. Victoria tersenyum tipis pada satu-satunya pria paruh baya yang sejak awal kedatangannya memberikan tatapan hormat untuknya. Pria yang sempat ikut terkena imbas saat pelecehannya terjadi.
"Keamanan, kesehatan, dan tentu saja isi perut Duke. Jika manusia mendapatkan semua itu dalam hidupnya kita tinggal menunggu mereka mencari kebahagiaan mereka sendiri. Terlebih untuk urusan perut, manusia akan tenang jika perut mereka terisi"
Jika saja. Jika saja mereka sedang berdua sekarang, Fredrick akan langsung menyambar mulut kecil wanita yang masih belia di sebelahnya. Wanita anggun dan tidak anggun di sebelahnya itu sekarang terlihat sangat mengagumkan dan penuh dengan daya pikat. Otak cerdas dan liciknya serta mulut lincahnya sangat menggodanya sekarang. Dan wanita itu adalah istrinya. Miliknya.
"Apa ada lagi pertanyaan atau masukan lain? atau juga ada yang ingin meluruskan?"
Kembali Marquess Mincheas sebagai mediator dalam rapat melanjutkan perjalanan rapat walaupun, dia tidak yakin para pria di depan meja akan meragukan dan memiliki pertanyaan untuk apa yang harus mereka lalukan setelah ini, setelah mendapatkan jawaban briliant dari Victoria. Dan benar saja, sebagian besar kepala langsung menggeleng dan sisanya hanya diam sambil mengangkat cangkir mereka. Mereka terlihat puas. Sama halnya dengan si pemimpin, Fredrick. Yang hanya menyeringai lebar sambil mengangkat cangkir tehnya.
__ADS_1
--000--
Suara decapan, his*pan kedua mulut dan bibir yang saling memberi dan menerima memenuhi suara kamar Fredrick. Fredrick dengan kemahirannya dan Victoria dengan kematirannya mengikuti alur suaminya yang tiba-tiba langsung memojokkannya di dinding dan menyerang dengan cium*n panas. Kesadaran Victoria mulai hilang hingga sampai pada tangan panas Fredrick yang mulai merambat ke dadanya dan juga mencoba mengangkat rok gaunnya
"Stop...."
Dengan nafas memburu, Victoria mencoba menghentikan tindakan suaminya yang mulai buas sambil menahan desah*nnya saat Fredrick sudah merem*s dadanya dan memasukkan tangannya ke bawah gaun.
"Stop Bash.... tolong stop.. Aku masih perih"
Fredrick tidak berhenti dan memang tidak ingin berhenti. Dia kembali lapar setelah rapat selesai, oh tidak... bahkan saat rapat belum selesaipun isi kepalanya hanya terisi dengan keinginan untuk segera berada di dalam istrinya sambil menyesap segala permukaan kulit indah istrinya
"Berhenti sialan! aku masih sakit!!!"
Kali ini sebuah pukulan yang mendarat di kepalanya membuat Fredrick langsung memukul setan b*jingannya meski miliknya sudah minta di puaskan dan berkedut menyakitkan. Fredrick memeluk erat tubuh Victoria dengan wajah yang menyusup di ceruk leher istrinya. Nafas mereka terengah, jantung mereka berdebar kencang dengan kesadaran yang sama-sama sudah akan hilang ternggelam karna n*fsu
"Victoria...."
"Hmm..."
Gigitan-gigitan kecil yang memabukkan di lehernya membuat Victoria kembali waspada dan segera mendaratkan cubitan dengan tangan gemetar di perut keras suaminya.
"Itu sakit sayang"
"Aku lebih sakit lagi Bash"
Fredrick terkekeh dengan wajah yang masih berada di ceruk leher Victoria sambil menghirup aroma menyenangkan istrinya
"Kau sangat wangi Vic, aku suka sekali aromamu"
Dengan pelan, Victoria mengusap punggung Fredrick yang menjadi pegangganya berdiri sekarang. Mencoba menenangkan suaminya yang pasti sangat tersiksa karna menahan. Tonjolan keras yang menusuk tepat berada di perutnya cukup menjelaskan jika suaminya sedang berperang menekan n*fsunya
Dengan hidung yang terus menghirup aroma Victoria, Fredrick masih memejamkan matanya memikmati kenyamanan yang di berikan istrinya meski isi celananya tidak akan mendapatkan kenyamanan. Dia cukup tahu diri jika semalam, Victoria terus meringis dan pagi ini cukup kesulitan untuk berjalan.
"Apa ide ku akan di terima His Majesty Bash?"
__ADS_1
Fredrick mengangguk
"Tentu saja, semua point cerdas dan licikmu hanya akan membuatnya tersenyum dan segera memberikan stempelnya dan juga stempel kerajaan"
"Baguslah... berarti aku mulai bisa mendapat kepercayaan kan?"
"Tentu saja sayang, bahkan mereka tidak akan bisa berbuat apapun walaupun mereka ingin membantah. Seperti yang ku katakan, idemu brilliant"
Victoria membuang nafas lega
"Bash...."
"Hm?"
Akhirnya Fredeick mengangkat wajahnya dari ceruk leher Victoria dan menatap tampilan wajah mengg*ir*hkan istrinya.
"Apa aku bisa meminta sesuatu padamu?"
Dengan tangan yang mencoba merapikan rambut serta membersihkan mulut berantakan istrinya, Fredrick menatap dalam mata sehijau daun kesukaannya itu sambil tersenyum
"Tergantung. Memang apa yang kau inginkan sayang?"
"Bisakah aku tahu di mana tempat peristirahatan terakhir keluargaku?"
Senyum hangat Fredrick tercetak, meski tidak ada senyum keyakinan dan menjanjikan di sana
"Akan coba ku cari tahu"
Victoria membalas dengan tersenyum pasrah
\=\=\=💚💚💚💚
Fredrick menang banyak...
Yuk readers jejaknya di tinggalin
__ADS_1
Salam sayang semua✨