
Victoria tersenyum dan menatap rambut abu-abu Jeremny yang selalu berkilau mempesona di matanya
"Aku tahu Jer. Aku percaya padanya, tapi aku tetap harus pergi"
"Kenapa Your Highness? His Highness tidak akan bertahan jika anda meninggalkannya"
Victoria membuang nafas panjang dan menatap jauh.
"Kita harus membuatnya keluar dari masa lalu, aku ingin menekannya. Karna itu, aku akan pergi dulu, tolong jaga dan perhatiakan dia karna His Majesty tidak bisa memantaunya lagi"
Jeremmy hanya bisa mengangguk pasrah
"Your Highness... Percayalah, His Highness benar-benar menyayangi anda. Apapun yang dia lakukan hanya untuk anda, termasuk saat dia menghilang"
Sambil tersenyum hangat, Victoria mengangguk
"Fredrick beruntung memiliki mu Jer"
Setelah pertemuannya di istana utama, Victoria memanggil Carl ke kamarnya. Dan di sinilah Carl sekarang, berdiri di depan meja kerja Victoria sambil menatap Vicroria yang menerawang jauh ke luar jendela
"Carl"
"Iya Your Highness"
"Besok aku akan kembali ke Duchy"
Carl mengeryit dengan wajah bingung
"Anda ingin berlibur?"
Victoria memutar tubuhnya untuk menatap Carl
"Bisa di katakan begitu"
Entah kenapa Carl membuang nafas lega. Mungkin karna situasi sekarang membuat Carl takut dan khawatir dengan masa depan pernikahan Victoria walaupun Carl yakin, jika Victoria tidak bodoh untuk tertipu dengan drama bodoh menyedihkan Calista.
"Kirimkan surat ke Albany dengan cepat, katakan sudah saatnya dan aku harus di jemput oleh Arthur langsung. Rahasiakan perjalanku"
Dengan raut wajah penuh tanda tanya, Carl mengamati Victoria yang melepas mantel besarnya...... Carl membulatkan matanya
"Your Highness... a-anda...."
"Benar Carl. Karna itu pastikan aku mendapatkan penjagaan terbaik dari istana dan juga Albany selama perjalananku" Victoria menatap Carl dengan tegas. "Rahasiakan kehamilanku"
Carl menggeleng kuat
"Tapi His Majesty dan His Highness...."
"His Majesty sudah tahu. Untuk His Highness, biarkan saja... usahakan jangan pernah menyebut namaku saat aku sudah pergi, dia pasti akan kekanakan"
Kembali raut wajah Carl penuh tanda tanya tapi dia tetap mengangguk patuh. Victoria mengubah arah pandangnya dan kembali menerawang jauh, sangat jauh.
"Aku merasa akan ada badai-badai yang sebenarnya Carl. Tolong sering-sering mengabariku keadaan istana terlebih keadaan His Majesty. Perhatikan semua gerakan, terlebih Larina" Victoria menjedah dan seperti baru ingat sesuatu, dengan cepat kembali melanjutkan ucapannya. "Jangan lengah dengan Drachenburg. Dia pasti mencari-cari kesempatan terutama saat aku pergi"
"Baik Your Highness"
"Aku mengandalkanmu Carl"
Carl tersenyum sambil meletakkan kepalan tangan kanannya ke dada kiri dan membungkuk dalam
"Sudah kewajiban saya Your Highness"
__ADS_1
--000--
"Apa anda sudah lebih baik, Your Majesty?"
Raja George mengangguk singkat dan kembali menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang
"Kapan keberangkatannya?"
Setelah meletakkan gelas, Edward merogoh sakunya dan memberikan sebuah surat tanpa segel. Raja George menyambut surat dan mulai membaca
"Waktu setelah tengah malam memang tidak akan menimbulkan banyak penglihatan, tapi itu sangat berbahaya." Berpikir sejenak, Raja George kembali menyodorkan surat pada Edward. "Kirim kesatria emas terbaik kita untuk mengawal dalam senyap. Pastikan tidak terjadi kesalahan sedikitpun. Menantu dan cucu-cucuku harus baik-baik saja Ed. Harus"
Sambil berjalan menuju perapian, Edward mengangguk paham.
"Saya sudah memikirkannya Your Majesty. Saya akan mengirim Tomy, Carl, Lucas, Gregory. Dan Duke Arthur akan membawa mengawal terbaik Duchy bersamanya"
"Bagus.... Dengan begini aku bisa tenang. Bagaimana dua kesatria Drachenburg itu?"
Edward merobek tiga kali surat yang di kirim Arthur, lalu membuang ke dalam perapian yang menyala.
"Saya tidak akan menyentuh mereka, Your Majesty. Itu urusan Her Highness"
Senyum culas Raja George terbit dan menatap Edward yang sedang mengambil besi perapian untuk mengaduk-aduk bara api. Memastikan jika surat benar-benar lebur dengan api.
"Wanita hamil memang tidak baik untuk bermain-main dengan nyawa. Putri Victoria sangat tahu apa yang dia lakukan dan dia memang butuh istirahat dulu"
Setelah yakin jika surat benar-benar lenyap, bahkan abunya pun sudah tidak ada, Edward tersenyum pada Raja George
"Jal*ng itu sangat naif"
"Dan juga bodoh, dia tidak tahu apa yang sedang menunggunya"
Edward mengangguk sambil kembali melangkah mendekat pada ranjang
Raja George membuang nafas panjang sambil menatap perapian. Wajahnya terlihat berpikir
"Ed, Carikan jenis anjing yang sama. Setelah dapat yang cantik dan jantan, kirim ke Duchy sebagai permintaan maaf kita pada Duke Arthur meskipun Duke pasti tetap akan marah. Jangan sampai salah merangkai kata pada suratnya, ini sangat sensitive Ed"
"Baik Your Majesty"
--000--
Diana terus menangis dan terus menangis sambil mengepak beberapa perhiasan penting di dalam kotak. Beberapa gaun hamil yang di hadiahkan Raja George serta beberapa hadiah mantel rajutan yang di buat dan di berikan dari rakyat. Sekali lagi, Diana menghembusakan lelehan cairan di hidungnya, yang kali ini membuat Victoria menghentikan gerakan menulisnya.
"Berhentilah menangis Di..."
"Anda akan meninggalkan istana, anda akan pergi lama, anda akan meninggalkan ku. Bagaimana aku tidak menangis Vic"
Kali ini Victoria menoleh untuk menatap Diana yang mengusapi wajah basahnya.
"Siapa bilang aku akan meninggalkanmu?"
Tangan Diana terhenti dan mendongak untuk menatap Victoria yang tersenyum geli.
"Ja-jadi aku??"
Victoria mengangguk singkat dan kembali menuliskan semua hal yang sudah di rincikannya untuk kelangsungan istana, karna dia akan meninggalkan semua pekerjaan itu nanti
Sebuah pelukan kuat dari belakang lehernya membuat Victoria terkekeh geli dan menepuk-nepuk pelan tangan yang melingkar di lehernya. Diana memeluknya dengan erat sambil terisak lega
"Pokoknya aku harus berkeliling Duchy Vic, kau harus memperlihatkanku tanah terberkati dan orang-orang setia Duchy!"
__ADS_1
Kembali Victoria terkekeh
"Tentu saja"
--000--
Dua kotak perlengkapan Victoria dan satu tas Diana sudah siap, Victoria dengan gaun tebal dan mantel berbulu tebalnya juga sudah siap. Mereka sedang berdiri di belakang istana, tempat gerbang besar. Karna ini kepergian rahasia, Edward mengatakan jika mereka harus menunggu di sana dan tidak lama, kereta kuda sederhana tapi terlihat bagus muncul bersama empat kuda yang menemani.
Diana yang melihat itu langsung sigap mengeratkan mantel dan penutup kepala Victoria, lalu menggeser kotak-kotak.
Dengan mata berbinar, Victoria tersenyum pada dua pengawal yang tidak di kenalnya. Tidak lama, Arthur keluar dari kereta kuda
"Hallo sweetheart..."
"Hallo tampan"
Victoria langsung berhamburan memeluk Arthur yang tampak hati-hati saat menerima pelukkannya. Victoria terkekeh
"Mereka masih cukup kecil Archi, tidak masalah jika kau memelukku dengan sedikit erat"
Arthur tidak memperdulitan ucapan Victoria dan tetap menjaga jarak pelukkan mereka. Setelah di rasa cukup Arthur mengurai pelukkan mereka dan menatap sekeliling. Dia balik pohon, Tomy mengangguk singkat padanya yang di balas anggukkan singkat Arthur. Semua keamanan sudah siap, semua barang-barang sudah masuk.
"Ayo Ri dan......?"
Arthur melirik Diana, Diana yang paham langsung membungkuk dalam
"Saya Diana, Your Grace"
"Lady Diana, dia 'Lady' Diana Archi"
Diana menatap Victoria dan Arthur yang hanya mengangguk singkat meski dia tidak tahu, kenapa seorang pelayan harus menerima gelar Lady. Well... Banyak waktu untuk bercerita nanti
"Baiklah Lady Diana. Kita bertiga akan di dalam kereta, apa kau tidak masalah?"
Dengan senyum antusias Diana mengangguk yakin
"Trimakasih Your Grace"
Layaknya gentleman sejati, Arthur masuk duluan ke dalam kereta, lalu membantu Victoria untuk naik dan setelah itu Diana, yang membuat Diana sedikit tidak enak menerima perlakuan sopan Arthur
"Terimakasih Your Grace"
Arthur hanya mengangguk singkat dan mengambil posisi duduk di depan Diana dan Victoria yang langsung saling menyenderkan kepala di dalam kereta.
Melihat kereta kuda mulai bergerak, ke tiga kesatria emas itu langsung siap menunggu perintah Tomy.
"Aku dan Lucas di belakang, kalian di depan. Ingat, jangan terjadi kesalahan, sedikit saja kalian lepas fokus bisa berbahaya"
Mereka bertiga langsung mengangguk dan mulai berpencar. Arthur yang mendengar suara kuda dari jauh membuka jendela untuk melihat Tomy yang sudah menunggunya. Arthur membuka jendala dan mengangguk singkat yang langsung di balas Tomy dengan mengangguk singkat.
"Tolong angkat sedikit bokong anda Your Highness" Dengan patuh, Vicroria mengangkat bokongnya. Diana langsung menyelipkan bantal, lalu menyelipkan dua bantal ke punggung dan pinggang Victoria. "Katakan jika anda merasa tidak nyaman Your Highness. Biar saya merubah posisi bantal"
Victoria tersenyum berterimakasih, sedangkan Arthur hanya memperhatikan dan tersenyum tipis
"Berikan kakimu padaku agar merasa nyaman" Arthur menepuk-nepuk pahanya. "Atau kau ingin tidur memanjang? aku akan..."
"Berhenti memperlakukanku seperti porslen antik. Ck! tidak His Majesty, tidak kau sama saja. Aku ini hamil, bukan nenek tua"
Dan kekehan halus meluncur dari bibir Arthur
\=\=\=💙💙💙💙
__ADS_1
Yukk jejaknya yukk
Salam sayang semua✨