Behind The Castle

Behind The Castle
"SEMBILAN ALASAN"


__ADS_3

Dengan anggun, Victoria mengelap sudut bibirnya saat makan siangnya selesai. Fredrick yang sudah selesai terlebih dahulu mentap Victoria dengan serius.


"Ada apa Bash?"


"Apa kau tidak mempunyai pertanyaan?"


Victoria mengedipkan bahunya acuh


"Ada, tapi aku tidak akan bertanya"


"Kenapa?"


Sambil bedecak tidak anggun dan arah pandang yang tidak berminat menatap Fredrick, Victoria membuka kembali suaranya


"Karna kau tidak mengijinkanku untuk bertemu Snow... Kau tahu ini sudah hampir tiga minggu aku tidak melihatnya"


Dengan gerakan gentle, Fredrick segera berdiri dari kursinya dan meraih tangan Victoria. Senyum di bibir Victoria terbit terlebih saat Frederick membuka mulutnya


"Ayo..."


Dengan gerakan yang tidak anggun dan tergesah hingga membuat benturan pada meja, Victoria segera berdiri dan segera berjinjit untuk mendaratkan sebuah ciuman di pipi Fredrick


Fredrick terkekeh dan langsung menarik pinggang Victoria. Para pelayan yang ada di ruang makan segera menunduk dalam.


"Aku tidak meminta hadiah"


Satu alis Victoria menukik tinggi


"Benarkah? kau yakin?"


Sambil mengerling dan melingkarkan tangannya di leher Fredrick, Victoria semakin mendekatkan tubuh mereka. Fredrick mengeram tertahan, tunangannya semakin hari semakin berani dan semakin membuatnya tersiksa


"Kau semakin berani sayang, dari mana kau belajar hemm?"


"Tentu saja darimu tunanganku"


Fredrick tersenyum geli sambil menyingkirkan poni Victoria dan mendaratkan sebuah ciuman di dahi Victoria. Victoria masih di posisinya dan hanya membiarkan


"Ayo..."


"Let's go!!!"


Antusias dan semangat Victoria segera menular pada Fredrick. Fredrick menyodorkan sikunya dan Victoria langsung menggamit siku Fredrick sambil tersenyum girang. Seolah, keadaannya baik-baik saja, seolah tidak ada hal buruk apapun yang terjadi di hidupnya, seolah tidak ada kesakitan di jiwanya, seolah tidak ada luka di kenangannya, seolah.... tidak ada dendam membara di hati dan pikirannya.


Dengan sabar, Fredrick menuruti kemauan Victoria untuk berkeliling istana. Sesekali dengan nakal, Victoria akan memacu kudanya dengan cepat hingga membuat Fredrick terkejut dan beteriak. Berjam-jam mereka laluin dengan berkuda dan sesekali saling melempar godaan. Berjam-jam mereka melupakan sejenak segala pelik perih di masa lalu mereka. Berjam-jam mereka lalui dengan melupakan segala kesakitan di hati mereka. Berjam-jam mereka lalui dengan melupakan siapa mereka hingga tidak terasa hari sudah hampir sore. Fredrick yang melihat jika Victoria mulai lelah tapi tetap antusias menghentikan sejenak segala kegiatan mereka dan membawa Victoria ke padang rumput luas di belakang istana barat.

__ADS_1


Victoria memejamkan mata dengan senyum yang terus terukir di bibirnya sambil menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Fredrick dengan tubuh yang sudah terbaring di atas rumput hanya memandangi wajah Victoria yang tampak tenang dan tanpa beban. Entah bagaimana perasaan Victoria yang sesungguhnya tapi, Victoria dengan sangat meyakinkan bisa menyembunyikan semuannya, selalu menyembunyikan semuannya di balik wajah datar dan senyum manisnya


"Vic..."


"Hhmm..."


"Aku senang bisa bertemu denganmu"


Victoria membuka matanya dan menatap jauh ke depan, membiarkan Fredrick melanjutkan ucapannya


"Aku senang bisa mengenalmu meski..." Fredrick menegakkan punggungnya dan menoleh ke samping, menatap wajah Victoria yang terus menatap ke depan. "Meski pertemuan kita ini sangat kau benci, pertemuan yang banyak membuat hal buruk pada hidupmu tapi, aku tetap tidak akan mengucapkan penyesalanku"


Victoria tersenyum getir dan tetap diam, arah pandangnya masih menatap jauh lurus ke depan, menerawang jauh pada semua kejadian yang menimpanya. Fredrick melanjutkan.


"Meski takdir kita di paksakan, aku tidak menyesal dan akan terus mempertahankan takdir ini, takdir kita"


Hening.... hanya keheningan yang melingkari mereka, sesekali suara gesekan daun yang tertiup angin mengalun lembut di telinga mereka, sesekali dengusan Panter dan Snow mengisi kekosongan di telinga mereka. Hingga Victoria membuka suaranya


"Siapa mereka Bash?"


"Para anjing ibuku"


Dengan dahi mengeryit, Victoria menatap Fredrick sekilas lalu kembali menatap ke depan


"Benarkah?..." Victoria menautkan tangannya di perut masih dengan arah pandang menatap ke depan. "Apa mendiang Her Majesty mempunyai dendam pada keluargaku, atau aku?"


"Tidak, ibuku bahkan tidak mempunyai urusan apapun dengan keluargamu apa lagi dengan mu tapi...." Fredrick meraih bahu Victoria untuk mempertemukan arah pandang mereka. "Tapi anjing ibuku tidak ingin kau menjadi pendampingku apa lagi naik ke tahta"


Dengan perasaan terkejut, Victoria menatap dalam ke dua bola mata abu-abu di depannya, menyelami dan menggali apapun yang ada di sana.


"Apa mereka punya kandidat lain?"


Fredrick tersenyum tipis sambil merapikan rambut Victoria


"Aku tidak tahu Vic tapi yang jelas, bagaimanapun inginnya aku menguliti mereka satu persatu, aku tidak bisa asal membunuh mereka apa lagi tanpa bukti. Kau paham maksutku?"


Dengan masih memandang Fredrick, Victoria tersenyum tipis


"Aku tidak bisa menebak maksutmu yang sesungguhnya. Tidak bisakah langsung saja kau jelaskan Bash?"


Dengan sorot mata tegas dan raut wajah yang sudah berubah serius. Fredrick menatap dengan dalam ke dua bola mata sehijau daun Victoria.


"Dengarkan aku baik baik hingga selesai, apa kita bisa sepakat dengan itu?"


Sambil meraih tangan Victoria, Fredrick menunggu jawaban Victoria

__ADS_1


"Baiklah...."


"Pertama, aku menyukaimu. Kedua, aku ingin melindungimu. Ketiga, aku tahu kau ingin membalas mereka. Ke empat, aku tahu kau ingin melindungi segala hal yang berhubungan dengan dirimu. Ke lima, hanya aku pria sangat pantas untukmu. Ke enam, hanya kau gadis yang sangat pantas untukku. Ke tujuh, aku ingin tahtaku . Ke delapan, kau perlu gelar pendampingku untuk mempermudahmu menjalankan apapun yang selalu kau pikirkan, dan yang ke sembilan, aku tahu kau tidak akan menyukai pertumpahan darah"


Semua ucapan Fredrick, membuat ketenangan Victoria hancur hingga raut wajahnya berubah menjadi dingin. Kedua tangannya yang ada di dalam genggaman Fredrick gemetar meski sesaat, gemetar saat Fredrick menyelesaikan segala ucapannya. Fredrick yang menyadari perubahan Victoria menatap dalam dan tegas sorot mata tidak bersahabat yang tertuju untuknya lalu melanjutkan ucapannya


"Aku butuh pendamping yang suatu hari, saat aku naik ke atas tahta, bisa menjadi kekuatanku dari depan dan juga dari belakang. Menemani hari-hariku di luar pekerjaan agar terasa menyenangkan. Kau mengerti maksutku?"


"Aku tidak mengerti"


Saat tangan yang ada di genggamannya akan berlari, Fredrick megeratkan tangannya untuk menahan tangan itu, untuk juga menahan arah pandang Victoria yang akan menghindar


"Aku tahu kau tahu maksutku Vic, aku tidak akan memaksamu tapi, semua alasan yang ku katakan tadi, memerlukan tindakan cepat. Apapun bisa terjadi dalam beberapa hari, beberapa jam ataupun beberapa menit. Aku ingin kau memikirkan perkataanku ini dengan baik. Ini bukan hanya demi kita tapi, ini juga demi tanahmu, keluargamu dan seluruh rakyat"


Victoria hanya diam, meski dia ingin membuka mulutnya untuk membantah, tapi tidak ada kata-kata apapun yang bisa di ucapkannya. Fredrick yang memahami kebingungan dan juga kemarahan tertahan Victoria melanjutkan ucapannya


"Jika kau setuju, beri tahu aku kapanpun. Cepat atau lambat ikatan kita akan terjadi, jadi pikirkanlah dengan baik sebelum terjadi sesuatu yang lain terlebih..." Fredrick mengecup sekilas kedua tangan Victoria. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi padamu. Aku tidak ingin kau terluka lagi Vic"


🌺🌺🌺🌺


Di sini lain, seorang pria paruh baya dan seorang gadis sedang menikmati teh sore mereka dalam ketenangan hingga seseorang di antara mereka membuka suara


"Nak, ayah rasa, kita harus merubah rencana"


Dengan anggun, gadis itu segera meletakkan kembali cangkir yang baru di angkatnya, mengurungkan segela niatnya saat melihat perubahan wajah serius ayahnya


"Maksut ayah?"


"Tarik dan jerat kembali His Highness Pangeran Fredrick, gunakan segala cara agar hubungan dengan tunangannya hancur. Kau mengerti maksut ayah, Cal?"


Ucapan ayahnya, Adam. Langsung membuat Calista tersenyum lebar dengan mata berbinar


"Jadi ayah sudah mengijinkan aku untuk kembali padanya?"


Adam mengangguk singkat dengan ikut tersenyum


"Ayah melarangmu, karna waktu itu keadaan semakin panas dan semua pergerakanmu akan membuatmu semakin terpojok. Tapi sekarang, kau bisa bersamanya lagi, seperti dulu"


Ucapan Adam membuat Calista segera berdiri dan memeluk ayahnya sambil terisak haru


"Aku sangat mencintaimu ayah... Terimakasih"


\=\=\=πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Silahkan tinggalin jejak kalian di tombol like, komen, bintang dan lopenya... Vote-nya juga yukk di sebar...

__ADS_1


Salam sayang semua✨


__ADS_2