
When it rains, it pours
There will be blood in the water,
Cold to the core,
Faith falls hard on our shoulders,
This is our time, No turning back,
We could live,
We could live like Legends
*Ruelle - live like Legends
Raja George memandang ke luar jendela dengan kedua bola mata abu-abunya menerawang jauh. Raut wajahnya datar tidak terbaca. Bibir pucatnya berguman
"It's just begun"
\--00--00--
Fredrick memandang jauh langit redup musim salju, kedua bola mata abu-abunya menerawang jauh, raut wajahnya datar tidak terbaca. Hembusan angin musim salju sesekali berhembus menerbangkan rambut hitam pekatnya. Fredrick mengeratkan mantelnya sambil berguman
"It's just begun"
\--00--00--
Kerumunan rakyat sudah memenuhi alun-alun ibu kota, tepat di depan sebuah panggung yang sudah di sediakan, lebih tepatnya memang selalu tersedia di sana. Enam tali tambang sudah menggantung di tengah panggung. Bisik-bisik rakyat terus mengisi suara di alun-alun. Terlebih setelah enam pria dengan kepala di tutup kain hitam dan tangan terikat ke belakang di tarik serta di dorong dengan kasar ke atas panggung.
Victoria dengan anggun, dagu terangkat tinggi dan raut wajah datar keluar dari kereta kuda dengan Carl dan Lucas yang langsung melompat dari kuda dan mengikuti langkah Victoria.
Kepala yang di tutup kain hitam di buka dengan kasar. Kedua mata mereka menyipit saat sinar matahari menerpa retina mata mereka, kepala mereka bergerak-gerak dan saat menyadari posisi mereka sekarang, serta tali tambang yang sudah berada di depan wajah mereka, mereka hanya bisa menangis dengan hati penuh doa ataupun umpatan dan makian tidak terima.
Kursi undakan pemilik anggota tahta sudah terisi, Victoria duduk dengan tenang. Menggunakan gaun emas dan coklat cerah sebagai tanda isi hatinyan hari ini, kuning untuk kebahagian dan banyaknya warna coklat yang mendominasi warna gaunnya sebagai arti untuk hatinya yang tidak berperasaan. Tiara berlian dan safire yang selaras dengan bola matanya, serta melilitkan pita berwana magenta di lehernya. Warna mantega dengan arti tanggung jawab, keselarasan, keharmonisan, keseimbangan, perubahan dan... kebahagiaan.
Edward yang sudah lebih dulu berada di undakan menangkap semua penampilan Victoria sama seperti beberapa gentlemen utama istana dan parlement yang entah kenapa, bisa berada di sana. Dengan wajah antusias mereka berdiri di bawah panggung undakan kursi tahta.
"Saya merindukan 'Victoria' kecil yang nakal"
"Banyak orang yang juga akan merindukan 'dia'. 'She' was easy to kill"
__ADS_1
Edward hanya tersenyum saat ucapannya di jawab dengan nada dingin terlebih kata-kata dingin Victoria. Ucapan tenang dan dingin Victoria membuat beberapa gentlemen yang ada di bawah undakan mendongak ke atas untuk menatap Victoria sekilas.
Seorang pria dengan baju algojo maju dan berdiri di depan undakan tahta. Membungkuk dalam pada Victoria yang mengangguk singkat, lalu kembali melanjutkan langkahnya sambil memegang sebuah perkamen.
Dengan tanpa basa basi, pria itu membuka perkamen dan mengangkatnya ke atas, kedepan wajahnya dengan suara lantangnya yang terdengar. Menyebutkan satu persatu kesalahan enam pria yang sudah di pamerkan di depan tiang gantungan. Suara cacian, hinaan dan umpatan di kerumunan rakyat langsung menggema saat pria perkamen selesai menyebutkan tiap dosa mereka yang semuannya pasti menyakiti hati rakyat kecil.
Pria perkamen memutar tubuhnya untuk menghadap undakan tahta lagi dan menatap Victoria. Victoria langsung berdiri, menatap wajah-wajah ke enam pria yang sudah menoleh padanya dengan berbagai tatapan. Memelas, menyesal, kemarahan dan juga kebencian. Hingga akhirnya Victoria mengangguk singkat.
Dengan paksaan, ke enam kepala di masukkan dengan kasar dan tidak berperasaan ke dalam lubang tambang gantungan. Tangan pria perkamen terangkat tinggi, seorang pria yang memegang tuas menatapnya dengan menunggu. Setelah di rasa semua kepala sudah siap masuk dengan baik ke dalam lubang kematian mereka, dengan dramatis tangan pria perkamen terjatuh ke bawah dan tuas di dorong ke bawah oleh pria tuas lalu
CLACKK!
Lantai kayu panggung terbuka, kaki ke enam pria jatuh menggantung tanpa menyentuh tanah, sesekali tubuh, kepala, serta tangan terikat mereka bergerak-gerak hingga akhirnya.... Tubuh mereka, kepala mereka, dan tangan terikat mereka berhenti bergerak sepenuhnya.
Kedua bola mata sehijau daun yang berkilap penuh tekat itu menatap dengan lekat tanpa melewatkan sedetikpun pemandangan di depannya. Tangan Victoria terangkat ke lehernya dan menarik kuat lilitan pita di lehernya hingga terlepas. Membiarkan pita itu tergeletak begitu saja saat tangannya melepas genggaman pada pita, lalu dengan pasti melangkah langsung menuruni tangga undakan.
Edward yang hanya terus memandang Victoria tersenyum getir, lalu menatap pita yang tergeletak tepat di depan kursi tahta sambil berguman
"It's just begun"
\--000--
"Ayah.... Ayah..."
Gumanan pedih terus keluar dari bibir bergetarnya, hatinya sangat sakit, perasaannya hancur. Semua kenangan bersama ayahnya terngiang di kepalanya dan membuat tangis pilunya semakin kuat. Nafasnya semakin menyesakkan, jantungnya serasa tidak mampu berdetak lagi. Hingga wanita itu mengusir semua orang yang ada di kamarnya untuk keluar. Dengan pikiran yang jauh dari kewarasan, wanita itu berdiri dengan kaki lemas dari atas ranjangnya menuju meja rias. Kedua bola mata coklatnya menatap wajahnya yang menyedihkan dari depan cermin.
"Calista, apa yang bisa kau lakukan tanpa ayahmu? Apa yang harus kau lakukan lagi?" Kekehan tanpa rasa humor meluncur dari bibir bergetarnya dan kembali bola mata basah membengkaknya menatap ke cermin. "Tidak ada Calista" Tangan Calista menarik laci meja rias dan mengeluarkan sebuah pisau kecil di tangannya. Sambil menatap pisau di tangannya, Calista berguman "Mereka sudah membunuh ibumu lalu sekarang ayahmu Calista"
Srakkk!!
Darah langsung mengucur deras di pergelangan tangan ringkih itu, Calista kembali menatap wajahnya dari depan cermin
"Ini kesempatan terakhirmu Calista, Sekarang kau hanya mempunyai Fredrick"
\--000--
__ADS_1
Dengan sesekali terisak, Diana terus mengangganti kain basah di atas dahi Victoria. Mulutnya terus berguman mencoba membangunkan nyonyanya, terus mengucapkan doa permohonan untuk kesembuhan nyonyanya yang terus menutup mata. Sesekali tangan hangatnya mengusap pipi nyonyanya, sesekali tangannya membelai surai nyonyanya dengan sayang dan khawatir.
"Sudah ku katakan kau butuh istirahat Vic, sekarang lihatlah... Kau sampai begini"
Diana terus terisak dan semakin terisak saat bibir pucat Victoria berguman menyebutkan keluarganya. Hati Diana bagai teriris saat Victoria kembali meneteskan air mata di pelipisnya. Selama ini Diana telah membohongi dirinya dengan menganggap Victoria baik-baik saja, dengan memilih percaya saat Victoria mengatakan jika dirinya sudah tidak sakit lagi tapi, nyatanya luka itu masih basah dan masih menggerogoti hati dan pikiran Victoria
"Maafkan aku Vic... aku selalu gagal menjagamu. Maafkan aku"
Kembali Victoria berguman dalam tidur sakitnya dan kembali Diana semakin terisak. Diana tidak tahu harus melakukan apa, jika dia memanggilkan dokter, Victoria akan mengamuk saat bangun karna Victoria tidak ingin terlihat lemah lagi di depan orang lain
πΊπΊπΊπΊ
"Your Highness, anda mempunyai surat"
Fredrick yang sedang sibuk mengguratkan tinta di atas perkamen hanya melirik Jeremmy sebentar, lalu kembali fokus pada kertas
"Dari mana?"
Jeremmy berdehem beberapa kali, yang membuat Fredrick akhirnya melepas pena bulunya dan memberikan fokus sepenuhnya pada Jeremmy.
"Katakan"
"Dari istana dan kediaman Webex" Jeremmy melirik Fredrick yang menatapnya dengan menunggu. Lalu kembali membuka suara. "Her Highness sedang sakit, semenjak dua hari yang lalu saat malam selesai eksekusi"
Alis Fredrick berkerut dalam. Dua hari baru mengirim surat?
"Dari kediaman Webex yang berisi jika Lady Calista juga sedang terbaring sakit karna mengiris sendiri pergelangan tangannya. Bunuh diri"
Fredeick mengusap wajahnya dengan kasar lalu berdiri menatap jendela sambil berkacak pinggang
"Kita akan menuju ke mana Your Highness?"
\=\=\=ππππ
Yukk jejaknya yukkk
__ADS_1
Salam sayang semuaβ¨