
Victoria menajamkan arah pandangnya saat sudah mulai mendengar suara ramai dan melihat pemandangan keramaian.
"Ini pasar tradisional Vic"
Setelah mengatakan itu, Fredrick segera meloncat dari punggung kuda. Victoria ikut turun dengan di bantu Fredrick.
"Kau membawa ku kencan kan?"
Fredrick tersenyum lebar
"Seperti yang ku bilang, ini kencan pertama kita di luar"
"Di pasar? How romantic Bash"
Masih dengan senyum tercetak di bibirnya, Fredrick tidak memperdulikan sindiran lembut Victoria dan malah menautkan tangan mereka dengan santai. Awalnya Victoria ragu untuk bergandengan di depan umum tapi, setelah melihat ada beberapa pasangan yang bergandengan dengan santai, Victoria ikut menggenggam tangan Fredrick yang membuat Fredrick lega karna, Tidak ada penolakan dan keterpaksaan dari Victoria.
Fredrick segera membawa langkah mereka semakin masuk ke dalam keramaian pasar, matanya menatap sekitar yang sibuk dengan urusan pasar seperti biasa. Penjual yang menawarkan, pembeli yang bertanya, ada beberapa anak kecil berlarian, ibu yang sedang membujuk anaknya yang sedang merengek, suara-suara pedagang yang menggema di seisi pasar untuk menawarkan barang, semua itu membaut senyum Fredrick menghangat. Tidak jauh berbeda dengan Victoria yang tersenyum semakin antusias, walaupun dia terus mengingat masa lalu. Dimana dulu Arthur, Charlotte dan dirinya sering ikut dengan Bety dan pelayan dapur castle untuk berbelanja tapi, tunggu dulu.....
Dengan penuh penilaian dan penuh pengamatan, Victoria melihat para pedangan terlebih dagangan mereka. Isi kotak-kota keranjang mereka tampak berbeda dari yang biasa dia lihat di pasar Albany.
"Bash, bolehkah kita ke sana?"
Fredrick mengangguk dan membawa langkah mereka mendekat pada arah yang di tunjuk Victoria. Pada seorang pedagang buah dan sayuran. Victoria mulai mengamati lebih teliti isi kotak.
"Silahkan nona, ini buah terbaik kami, lemon ini sangat segar kan... cukup dua keping perak untuk empat buah dan dua macam sayur. Victoria tersenyum pada penjual itu dan mulai meraih lemon yang ada di dalam kotak dan Victoria mengeyit
"Terbaik?"
"Benar nona, lihatlah, sangat jarang kan kita bisa mendapat buah yang bagus untuk musim panas ini, terlebih ini sudah lewat pertengahan musim"
Kembali Victoria tersenyum pada penjual itu. Victoria melepas tautan tangan mereka yang membuat Fredrick dengan iklas melepasnya begitu saja, yang entah karna apa.
Kedua tangan Victoria meraba dan memegang buah-buah, kedua bola matanya menilai tampilan buah-buah di sana. Buah apel yang merah tapi terlihat tidak segar karna sudah tidak ada dauh di tangkainya, bahkan ada yang sudah mulai membusuk. Buah melon yang harusnya keras dan mulus tapi yang sedang di pegangnnya terdapat beberapa bagian yang lembek, bahkan kulit melon yang harusnya keras dan hijau ini terlihat kecoklatan dan mengelupas. Buah-buah lain tidak jauh berbeda, buah mangga, anggur, jeruk, kiwi dan semangka. Sama nasipnya dengan buah apel dan melon.
Kembali Victoria melanjutkan untuk menilai dan memegang sayur-sayuran hijau. Wortel yang berwarna orange tua dan mencoklat, brokoli yang menghitam, sayur hijau-hijauan lain yang tampak layu tidak segar.
"Kau ingin membeli Vic?"
Dengan isi kepala yang sibuk mencerna dan perasaan kalut. Victoria menggeleng dan kembali menautkan tangnnya dan tangan Fredrick, Fredrick mengikuti saja saat Victoria membawanya ke tempat penjual lain. Victoria kembali menilai jualanan di lapak penjual lain bahkan, apa yang di jual penjual yang sekarang tempat dia berdiri lebih parah. Terus Victoria melakukan pengamatannya hingga tanpa terasa sudah tujuh lapak yang di telusuri dan di amatinya.
Fredrick terus diam dan hanya terus mengikuti arah keingintahuan Victoria. Hingga sudah selesai di lapak yang ke delapan, hembusan nafas panjang Victoria terdengar.
"Kau lelah?"
__ADS_1
Dengan cepat Victoria menggeleng dan menatap Fredrick yang ternyata sudah menatapnya, lebih tepatnya terus menatapnya.
"Yang mereka jual tidak bagus Bash"
Fredrick menggeleng dan meraih satu buah jeruk yang tampak sudah membusuk di sebagian.
"Ini lebih baik dari tahun-tahun kemarin"
Victoria mengeryit
"Ibu kota kesulitan pangan selama musim panas?"
Sambil meletakkan kembali jeruk yang di pegangnya. Tanpa mejawab, Fredrick membawa langkah mereka melewati sebuah lorong sempit. Dengan bingung tapi juga penasaran, Victoria mengikuti.
Tidak lama mereka melewati lorong itu hingga penampakan di depan mata Victoria sekarang adalah pasar yang lain, pasar ikan.
Aroma amis dan busuk langsung menguar di indra penciuman Victoria. Dengan tersenyum hangat, Fredrick menarik Victoria yang akan kembali berjalan maju, membuat Victoria memutar kepalanya menatap Fredrick.
"Kenapa?"
"Kau yakin ingin masuk lagi? di sini agak kurang nyaman"
Tidak menjawab ucapan Fredrick, Victoria memberikan jawaban dengan menarik kembali tautan tangan mereka. Victoria melangkah semakin masuk ke dalam pasar. Pasar ikan lebih ramai dan lebih bising, aroma yang tidak nyaman menambah ketidak nyamanan di sana tapi, Victoria tidak peduli dan terus menarik Fredrick. Kembali, senyum Fredrick terbit.
"Apa ikan ini masih segar?"
"Tentu saja nona manis, ini ikan terbaik kita, lihat lah nona"
Dengan ramah penjual itu mendekatkan satu ikan halibut besar. Dengan santai dan tanpa keraguan, Victoria memegang dengan sedikit bertenaga pada badan ikan, memeriksa mata ikan, dan mengendusi tangannya sehabis memegang ikan. Victoria mengeryit.
Dengan tidak sabaran kembali Victoria melepaskan tautan tangan mereka untuk memakai semua tangannya selama penilaian yang berlangsung. Victoria menjamahi semua yang tersaji di meja jualanan. Di mulai dari ikan-Ikan laut seperti kakap, halibut, sprat, sarden, cod, tuna lalu tidak ketinggalan juga memeriksa dan mengamati bagian seafood seperti, Udang, tiram, octopus, kerang, kepiting bahkan bintang laut.
"Anda ingin mencari ikan atau seafood nona?Tahun ini, di musim panas kita mulai membaik karna bisa makan ikan nona, lihatlah banyaknya jenis dan jumlah ikan kita. Pasar ikan bisa buka di pertengahan musim saja sudah luar biasa. Jadi, saya bisa mengerti perasaan nona yang bingung karna melihat banyaknya jenis ikan dan seafood"
Victoria tersenyum diplomatis dan mengangguk.
"Benar tuan saya bingung sekarang, bolehkan saya kembali lagi nanti saat sudah bisa memilih dengan benar keinginan saya?"
"Tentu saja nona"
"Terimakasih tuan"
Setelah memberikan dustanya untuk si penjual itu. Victoria menjelajah ke lapak lain dan, setelah singgah di enam lapak penjual, Victoria menatap Fredrick dengan wajah sedih
__ADS_1
"Hanya beberapa yang bagus, lalu sisanya mulai busuk bahkan banyak juga yang sudah busuk Bash"
Dengan memandang wajah Victoria lekat Fredrick mengangguk, tangannya terulur untuk menyeka keringat di pelipis Victoria lalu menyelipkan ke belakang telinga rambut Victoria yang hanya di kepang kecip di kedua sisi kepalanya.
"Masih ingin ke tempat lain?"
Victoria tersenyum dan akan mengandeng tangan Fredrick tapi, Fredeick menjauh kan tangannya.
"No... tanganmu kotor"
Victoria berdecak kesal.
"Memangnya kenapa? ini bukan bekas kotoran" Tangan Victoria terangkat ke atas dan menunjukkan ke dua telapak tangannya di depan wajah Fredrick. "Ini bekas ikan Bash"
Sambil mundur beberapa langkah. Fredrick mengangkat jari telunjuknya yang langsung bergerak ke kiri dan ke kanan
"No no no no no.... itu aromanya tidak enak, seperti aromamu saat belum mandi"
Dengan wajah yang langsung memanas dan mata membulat, Victoria melangkah lebar mendekati Fredrick yang terus mundur hingga berlari.
"Hei jangan lari Bash!"
Dengan suara tawanya yang langsung menggema di ikuti langkah kakinya yang tidak lebar. Fredrick berlari pelan, seolah sedang mengejek Victoria yang sedikit kesusahan berlari hingga harus menarik ke atas sedikit gaunnya.
"Jangan lari Bash, kalau aku hilang bagaimana?"
"Ya sudah... biar saja"
Suara Fredrick yang terdengar sangat menyebalkan membuat Victoria semakin memacu kakinya untuk berlari mengejar Fredrick yang terus tertawa.
Jeremmy yang terus mengawasi dan menjaga pasangan yang sedang berlarian itu memutar bola matanya saat melihat dua orang dewasa bahkan, status mereka yang sebenarnya bangsawan kelas atas sedang Berlarian. Tertawa, dan. bahkan mengumpat di tengah keramaian. Sedangkan kesatria lain hanya tersenyum tapi tidak dengan Carl yang terkekeh geli yang membuat Jeremmy segera menatapnya dengan tajam
"Apa yang sedang kau rencanakan? jangan pernah berpikir macam-macam Carl"
Carl kembali terkekeh geli dan menatap Jeremmy
"Aku hanya berpikir, bagaimana jadinya dan tersiksannya His Highness jika mereka terjebak di dalam ruangan dan hanya berdua"
Dengan cepat Lucas menginjak kaki Carl. Carl memekik dramatis.
"Jangan macam-macam sialan!"
\=\=\=💚💚💚💚
__ADS_1
Yuk tinggalin jejaknya readers....
Salam sayang semua ✨