
"Pilihan anda Your Majesty?"
Arthur semakin mengeratkan tangannya pada pedang.
Tangan Carl sudah tidak memegang pedangnya lagi bahkan tubuhnya sudah tersungkur ke tanah dengan sekujur tubuh terluka penuh darah. Pangeran Felix sudah meletakkan ujung pedangnya pada leher Carl. Mereka menatap ke arah Victoria, menunggu jawaban Victoria, jawaban yang akan menentukan nasip Carl, lehernya sendiri, istana, dan kerajaan.
Matahari semakin naik ke atas, seburat cahaya melebar mengisi dan memukul mundur kegelapan mencekam malam. Semilir angin sejuk kembali menerbangkan rambut indah Victoria. Kehangatan yang di berikan matahari membuat kulit Victoria terasa lebih nyaman dan... senyum manisnya kembali terbit. Senyum yang sangat manis, hingga menular pada Arthur. Arthur ikut tersenyum sambil menatap sekeliling yang sudah tersirami cahaya matahari.
Marco mengeryit saat melihat raut wajah kedua saudara yang di rasa cukup aneh untuknya. Bagaimana mereka bisa tersenyum begitu tenang dan damai? Di tengah nasip mereka yang sudah berada di ujung kuku? atau mereka memang sudah siap untuk mati? jika itu memang pilihan mereka, Marco tidak akan segan lagi
"Your..."
"Pangeran"
Marco mengatupkan kembali mulutnya saat Victoria berucap memotong suaranya. Leher Carl semakin di tekan kuat oleh ujung pedang Felix, tapi tidak ada raut ketakutan, ataupun keraguan di raut wajahnya, bahkan Carl sudah tersenyum tipis menatap Victoria. Menatap Ratu mereka yang sudah menggerakkan kedua bola mata mengkilap tegasnya ke segala arah.
"Lihatlah siapa kami Pangeran Marco"
Marco yang baru bisa menyadari keanehan segera melebarkan arah pandangnya dan..... kedua matanya melebar hingga fokus tangannya teralihkan. Arthur dengan cepat menarik pedangnya dan menyingkirkan pedang kurang ajar yang sedang mengancam adiknya.
Pangeran Marco menatap Victoria dengan pandangan tidak percaya. Pangeran lain ikut terkesiap hingga melupakan mangsa mereka. Mangsa mereka yang seorang kesatria emas. Carl langsung menggunakan keterkejutan mereka dengan bergerak menarik satu pedangnya yang memang belum di tariknya. Dengan cepat tangannya bergerak menangkis pedang pangeran Felix yang langsung terpental. Felix mengeram dan akan bergerak tapi,
"Jangan berani menyentuh subyek-ku pangeran Felix!"
Ketajaman suara Victoria membuat Felix yang entah kenapa langsung menurut dan menghentikan pergerakannya. Marco kembali menatap Victoria dan Arthur bergantian lalu menatap sekeliling pasukannya, pasukannya yang ternyata... sudah di kepung pasukan Francia. Sejak kapan? dan... kenapa Francia masih memiliki banyak pasukan?
Kepala Victoria menoleh ke arah matahari terbit, bibirnya tersenyum manis pada Edward yang bergerak muncul di tengah-tengah pasukan sambil menunggangi kuda coklat kesayangannya. Di belakang Edward, seseorang dengan kuda hitam langsung turun dari kudanya dan membungkuk dalam pada Victoria. Senyum manis terus tercetak di bibir Victoria dan kepalanya mengangguk singkat untuk menerima salam si penunggang kuda hitam. Seorang panglima dari pasukan tempat yang di urus dan di perhatikan dengan tulus oleh suaminya. Panglima pasukan yang membawa banyak bantuan dari wilayah barat, wilayah yang baru bergabung dengan Francia
Kekehan halus tanpa rasa humor meluncur dari mulut Marco, matanya menatap Victoria dengan tajam
"Apa anda pikir kami akan kalah karna di kepung pasukan yang jumlahnya hanya separuh pasukan kami?"
"Tentu saja tidak"
Suara seseorang yang tiba-tiba muncul membuat semua kepala menoleh pada arah suara, sosok yang membuat semua pasukan Marco mulai gemetar. Dengan penuh kehormatan dan kharisma seorang pemimpin, Raja Francia melompat dari kudanya dengan membawa semua kesatria terkuat yang ada di Francia, kesatria terbaik Francia, kesatria mesin pembunuh Francia, para anjing Raja.
Jantung Victoria berdegup kencang melihat pesona Rajanya. Dengan gagah dan dengan penuh pesona, Fredrick mendekat pada Marco yang langsung waspada dengan memundurkan langkahnya.
Fredrick dan Marco saling memandang dengan tajam. Hingga Keelft, Lucas, Farel dan Gregory maju melempar tas-tas yang menyimpanan 'kenang-kenangan' mereka. Isi tas langsung berhamburan dan terlempar ke tanah. Para Pangeran tersentak, para prajurit mereka semakin gemetar dengan kaki mereka yang mulai goyah saat melihat dua puluh jendral mereka tergelatak di atas tanah. Kepala dua puluh jendral pemimpin serangan di lima titik penyerangan tergeletak masih segar dan masih basah, menggelinding berhamburan di atas tanah.
__ADS_1
"Brengsek kau Francia!"
Fredrick mengabaikan suara murka Marco dan lebih memilih menatap Victoria dengan mengedipkan satu matanya. Seburat merah langsung tergaris di kedua pipi Victoria yang cukup pucat karna habis tertepa hujan dan angin. Fredrick terkekeh geli saat seburat merah itu bisa di tangkapnya.
"Mari kita selesaikan ini Raja Fredrick!"
Suara kemarahan yang mengganggu moment manis Raja dan Ratu mereka membuat Jeremmy terkekeh dan langsung maju membawa buntalan dari mantel hitamnya. Fredrick mengedipkan dagunya ke arah pangeran Marco yang sudah siap mengangkat pedangnya.
"Lempar"
Dengan senang hati Jeremmy langsung melempar buntalan di tangannya dan... Raja Jarvis langsung menggelinding tepat di depan kaki Marco. Kepala yang masih tampak segar itu membuat semua pangeran tercekat dan langsung menatap Fredrick yang sudah menarik pedangnya, mengangkat tinggi tangannya ke atas dan berteriak tegas
"VANCIA HAS FALLEN!!"
Semua pasukan yang sedang mengepung, semua kesatria lain dan Arthur langsung ikut mengangkat ke atas pedang mereka sambil bersorak kuat, bersorak penuh kemenangan. Fredrick tersenyum miring menatap Marco yang membeku di tempatnya
"Perkenalkan Pangeran Marco, kami adalah Francia"
Di tengah suara sorak sorai kemenangan yang semakin kuat belum juga membuat Marco bisa bergerak, tubuhnya masih diam membeku di tempat, para adiknya terus terdiam membisu bahkan saat Lucas yang sudah murka akan mengayunkan pedangnya pada Felix. Lucas sangat murka saat melihat soulmate-nya, Carl, tergeletak di tanah dengan penuh luka. Tapi, belum sempat pedang Lucas menuju tubuh membatu Felix, dari arah belakang dengan cepat Tomy menarik penutup kepala Lucas. Dengan raut wajah datar Tomy menyeret Lucas yang terus mengumpat sambil meronta-ronta.
"Lepas Tomy! lepaskan aku sialan! mereka sudah berani melukai Carl!"
Carl terkekeh sambil menahan segala sakit di sekujur tubuhnya, luka di perutnya terus mengalir deras bahkan saat tangannya sudah menekan lubang di perutnya.
Carl mendongak menatap Edward yang entah sejak kapan sudah turun dari kudanya dan mendekat padanya, dengan pedang yang sudah berada di sebelah tangannya
"Semoga kapt"
"Jika ku katakan jangan, berarti jangan Carl"
Carl hanya tersenyum getir dengan nafas yang mulai berat dan... Victoria melihat itu, dengan cepat Victoria berlari pada Carl. Carl terkesiap melihat Victoria yang sudah berlutut di sebelahnya
"Apa yang anda..." Carl mengeryit saat mencoba bangkit. Victoria menahan kedua bahu Carl sambil menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Your Ma...."
"Carl, bertahanlah sebentar lagi. Ku mohon"
Tangan Carl terasa dingin saat Victoria ikut membantu menekan perutnya, kepala Victoria terus menoleh pada bantuan yang sudah di panggil tapi belum juga muncul. Sekarang posisi mereka sedang berada di tengah-tengah pertempuran yang berlanjut. Ya... pertempuran kembali pecah karna Marco kembali melawan, dan semua pasukan termasuk Arthur dan Fredrick kembali mengayunkan pedang mereka, para kesatria emas mengayunkan pedang mereka sambil melingkari Carl dan Victoria. Memberi benteng perlindungan untuk mereka
"Your Majesty..."
__ADS_1
"Diamlah Carl! ku mohon diam dan bertahanlah..."
Suara melirih Victoria membuat Carl tersenyum haru. Tersenyum haru untuk yang kesekian kalinya setelah Victoria terus melindunginya, melindungi dirinya yang hanya sebagai subyek Raja dan Ratu.
Penantian Victoria akhirnya berakhir saat empat orang penjaga membawa tandu muncul menyelinap di tengah-tengah pertempuran. Tapi, saat Victoria kembali menatap Carl, kedua mata Carl sudah menutup rapat. Victoria tercekat hingga tangannya yang sudah berlumuran darah gemetar hebat. Jangungnya seolah terhenti dengan nafasnya yang sudah terhimpit
"Carl..."
"Your Majesty, kami akan membawa kesatria Carl"
Victoria menarik nafasnya sejenak ketika penjaga sudah mengelilingi tubuh Carl. Kepala Victoria mengangguk singkat dan langsung menjauhkan tangannya saat para penjaga langsung mengangkat tubuh Carl ke atas tandu. Dengan cepat mereka kembali menyelinap ke arah jalan menuju istana yang sudah di buka dan di jaga para kesatria emas yang lain, teman satu tim Carl, para sahabat Carl.
Victoria masih terdiam, tubuh Victoria yang masih terdiam menatap nanar kepergian tandu. Membuat kewaspadaan dan matanya menjadi tidak fokus dan itu juga yang membuat seseorang langsung menargetkannya, sebuah pedang dengan cepat terayun ke arah punggungnya dan...
"VICTORIA!!!"
SRANGGGG!!!!!
Victoria tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Jantungnya berdegup kencang dan juga gugup. Jika saja, jika saja Edward terlambat hanya dalam waktu satu detik, pedang itu pasti sampai pada Victoria dan mengiris daging terhormatnya
"APA YANG KAU LAKUKAN VICTORIA!!!"
Suara Fredrick kembali menggelegar yang akhirnya membuat kesadaran Victoria kembali utuh, dan dengan kesadaran yang sudah waras kembali, Victoria membiarkan Edward menyeretnya dengan kuat dan kasar. Victoria mengikuti dengan pasrah langkah cepat dan lebar Edward, langkah yang terus menariknya menuju ke depan pintu istana.
Setelah sampai di tempat aman, Edward melepas kasar lengan Victoria dan berdesis tajam
"Nyawa anda lebih berharga dari seribu nyawa pasukan, YOUR MAJESTY!!!"
"Maaf Ed"
Edward kembali berbalik ke arah pertempuran. Arah pandang Victoria mulai buram, dia marasa seperti sedang di marahi dan di bentak Arthur, bentakan seorang kakak.
Diana berlari tegopo-gopo pada Victoria yang masih terlihat terkejut dan sedih. Terkejut karna bentakan Edward dan sedih karna merasa bodoh. Diana membuang nafas panjang
"Ayo masuk Your Majesty"
Dengan patuh, kepatuhan yang seperti seorang adik kecil, Victoria mengikuti Diana yang menggandengnya untuk masuk ke dalam pintu istana.
\=\=\=❤❤❤❤
__ADS_1
Ayukk jejaknya yukk
Salam sayang semua