Behind The Castle

Behind The Castle
**VICTORIA's ANGER**


__ADS_3

Victoria segera melompat begitu saja dari punggung kuda besar yang sudah mengantarkannya ke depan halam istana. Victoria sengaja mendaratkan kaki kudanya di depan istana, karna memang tujuannya adalah istana utama.


Beberapa penjaga, kesatria dan pelayan yang sibuk dengan urusan mereka segera menghentikan apapun pekerjaan mereka dan menatap obyek yang dengan mengejutkan datang bahkan dengan keadaan yang terlihat sangat kacau


"Di mana Fredrick sialan itu!"


Dengan suara lantang dan tajam Victoria bertanya pada Lucas yang kepalanya menoleh kebelakang, karna ada suara kaki kuda yang menyul mereka. Carl berhasil menyusul mereka dan segera melompat dari kudanya.


"Sedang ada pertemuan dan rapat di halaman belakang istana My Lady, mungkin sebentar lagi akan selesai, sebaiknya kita obati luka anda"


"Pertemuan apa?"


Ketika mendengar ucapan Victoria yang mengabaikan tawarannya, Lucas melirik ke tiga temannya dan dengan ragu kembali membuka mulutnya


"Dengan para pengusaha dan bangsawan yang mempunyai andil di pasar ibu kota"


Dengan sedikit tertatih karna kakinya mulai semakin sakit, Victoria mulai menaiki tangga yang membuat empat kesatria di sana sedikit panik


"My Lady...."


"Apa di sana ada Baron Webex?"


Kembali Victoria mengabaikan suara Lucas dan memberikan pertanyaan yang langsung membuat Keelft dan Gregory meringis.


"Tentu ada My Lady dan sepertinya Lady Calista juga ikut seperti biasa"


Suara Carl yang terdengar membuat Lucas, Keelft dan Gregory segera menatap Carl dengan mata melotot. Carl mengedipkan bahunya acuh dan mereka segera menatap Victoria yang sudah memutar kepalanya menatap Carl dengan rahang mengeras dan mata berkilap tajam


"Bawa aku ke sana"


Suara dingin tapi dengan tatapan yang terbakar amarah membuat Lucas dan Gregory menelan ludah. Carl mengedipkan satu matanya pada Keelft yang sudah pucat.


Dengan langkah lebar dan cepat, mengabaikan semua mata yang sedang memandang aneh tampilan dan wajahnya, Victoria memusatkan arah pandang dan semua amarahnya pada pintu yang sudah terlihat, pintu menuju halaman belakang istana.


"My Lady sebaiknya ki....."


Belum selesai Lucas menyelesaikan ucapannya, langlah Victoria sudah masuk ke dalam halaman. Pemandangan yang tersaji di depan kedua bola mata hijau pekat Victoria menyulut air matanya karna emosi dan amarah yang semakin naik ke setiap sel darah dan urat nadinya.


Victoria menatap pemandangan damai dan bahagia orang-orang di sana, mereka sedang melakukan jamuan di meja panjang di sebelah meja kecil yang penuh dengan kota kayu, yang Victoria ketahui jika itu kota yang biasa menyimpan kertas dan perklamen.

__ADS_1


Satu tetes air mata Victoria meluncur tanpa aba-aba, bibirnya bergetar, rasa ketidak adilan, kebencian, amarah dan dendam menggerogoti dan memenuhi hatinya hingga tanpa bisa di cegah kakinya segera berlari mendekat pada meja panjang tempat orang-orang yang terlihat hidup bahagia itu bercengkrama.


Edward dan Jeremmy yang duluan menyadari kedatangan Victoria. Jeremmy dengan cepat segera mendekat pada Fredrick yang sedang tertawa dengan seseorang di sampingnya, dan Edward yang segera melangkah maju dan menunduk untuk berbisik ke telinga Raja George yang sedang menuangkan susu ke dalam cangkir tehnya. Bisikan itu membuat tangan Raja George terhenti dan memutar kepalanya. Fredrick segera menutup tawanya dan menoleh. Di sana, dari arah pintu, Victoria dengan baju berkuda berwarna lavender yang rok gaunnya hanya tinggal sebatas lutut, rambut berantakan, kulit wajah terluka dengan sorot mata membunuh dan langkah kaki yang hanya tertuju pada satu kursi semakin mendekat. Fredrick yang akan mencium bau kekacauan segera berdiri


"Vic?"


Pergerakan dan suara Fredrick membuat semua suara terhenti dan mengikuti arah pandang Fredrick. Lady bangsawan yang ada di sana segera membulatkan mata mereka, tidak jauh berbeda dengan yang lain, yang juga terlihat terkesiap karna kedatangan, terlebih karna tampilan Victoria


"Vic?"


Victoria mengabaikan suara-suara yang memanggil dan mulai menggunjingnya, tangannya dengan cepat menyambar rambut di balik punggung Fredrick


Suara pekikan dan kursi yang terbentur tanah taman membuat mereka yang sedang duduk di kursi segera berdiri dan menjauh dari meja.


"Pelacurr!!!!"


Teriakan Victoria menggema mengisi isi halaman, sekali lagi, Victoria melangkah untuk meraih rambut merah yang sudah mencium tanah halaman tapi, sepasang tangan besar menahannya


"Lepas!"


Victoria berdesis tajam, syarat akan perlawanan pada wajah Fredrick tanpa menahan diri lagi. Isakan si pemilik rambut merah yang sudah di peluk ayahnya membuat semua orang menatap ngeri, kecuali Raja George yang sudah mengeraskan rahanganya dan melirik Edward yang segera melesat secepat kilat untuk menuju pintu keluar halaman, atau untuk menuju tempat lain?


"Lepaskan aku brengsek!"


Fredrick yang menerima cacian dan teriakan menggertakan giginya, dia tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi sekarang, terlebih pada perlakuan kasar Victoria, perlakuan yang sangat kasar untuk di lakukan oleh seorang Lady di depan umum


"Sebenarnya ada apa ini Vic?"


"DIAMMM!!!!!"


"Apa yang terjadi padamu! siapa yang menyakitimu!"


Victoria membuang wajahnya dari Fredrick dan menatap Calsita yang masih berada di tanah dalam pelukkan penuh perlindungan dan kehangatan ayahnya tapi, Victoria tidak peduli, dan segera melompat hingga meraih kembali rambut Calista yang juga kembali memekik. Baron Gafton yang tidak terima anaknya di perlalukan dengan cara yang sangat tidak pantas mencoba mendorong Victoria dan berteriak


"Lady Victoria! apa anda gila!"


Fredrick segera menahan tubuh Victoria agar tidak terjatuh dan menatap tajam pada Baron Gafton


"Apa yang anda lalukan Lady! kenapa anda memperlakukan saya seperti ini"

__ADS_1


Suara Calista yang mengalun di telinga Victoria tanpa Calista sadari hanya akan memperburuk keadaannya, karna Victoria kembali terpacu untuk meraih dan menyakiti apapun yang bisa di raihnya pada tubuh Calista tapi,


"VICTORIA AP.......!!!!!!"


"AKU BERSUMPAH DEMI LEHER AYAHKU YANG SUDAH KALIAN POTONG!!!!!!!!!"


Teriakan Victoria membuat mulut Fredrick yang belum sempat menyelesaikan teriakannya terkatup rapat


"JIKA TERJADI SESUATU PADA DIANA" Victoria menatap Calista dan Fredrick dengan wajah merah, bibir bergetar dan air matanya sudah menetes


"AKU AKAN MENGULITI KEPALAMU DENGAN KEDUA TANGANKU SENDIRI CALISTA!! DAN KAU" Victoria menatap Fredrick dengan rahang mengeras hingga giginya mengerutuk. "AKU AKAN MELEMPAR KULIT WAJAH PELACURMU INI DI ATAS RANJANG HINAMU BAJINGAN!"


"Vic...."


Fredrick masih tidak bisa mengerti apa yang terjadi, tidak tahu apapun yang terjadi, dengan mengabaikan semua ucapan Victoria dan hanya menatap kedua bola mata Victoria yang bergetar karna luka membuat dada Fredrick sesak, ada batu yang langsung menghimpit paru-parunya


"Vic...."


Victoria mengabaikan suara apapun di sekelilingnya dan segera memutar tubuhnya untuk menuju pintu keluar halaman. Tubuh Fredrick membatu, nafasnya sesak, dengan perasaan yang menyesakkan. Fredrick menurunkan arah pandangnya untuk menatap Calista dan Baron Gafton yang masih di atas tanah.


Dengan raut wajah yang langsung berubah dingin, hingga Baron Gafton yang melihat perubahan wajah itu merasakan punggungnya menggigil dan wajah berderai air mata Calista berubah pias. Fredrick berdesis tajam menatap Baron Gafton


"Jangan pernah lagi meletakkan kulitmu padanya Baron" Fredrick menggeser bola mata abu-abunya yang biasa terlihat mempesona sekarang terlihat sangat dingin, dan itu tertuju untuk Calista. "Aku akan mencari tahu ini"


Setelah menyelesaikan ucapan yang perlu di ucapkannya Fredrick segera memutar tubuhnya


"AKU TIDAK TAHU APAPUN FRED! AKU TIDAK TAHU APAPUN! GADIS ITU GILA FREDRICK!!!"


Alih-alih membuat langkah kaki Fredrick berhenti, teriakan Calista malah membuat kipas beberapa Lady di sana segera terbuka lebar yang di susul kepala mereka yang langsung mendekat.


Menyebutkan nama seorang pangeran tanpa tatakrama, berteriak pada seorang pangeran seolah terbiasa, terlebih, seorang wanita yang baru saja di tuding sebagai pelacur tunangannya mencoba mencari pembelaan dengan cara memalukan bahkan, menyebut tunangannya yang terluka dan mengamuk dengan sebutan gadis gila. Calista segera menyesali teriakannya barusan.


"Berdiri"


Suara dingin dan tajam seseorang membuat semua kepala langsung tertunduk, dan tanpa berpikir panjang, Baron Gafton segera menarik Calista untuk berdiri.


\=\=\=\=💙💙💙💙


Tolong tinggalkan jejaknya di tombol like, komen, bintang dan lope-nya yaa...

__ADS_1


Salam sayang semua ✨


__ADS_2