Behind The Castle

Behind The Castle
**WAR HAS COME V**


__ADS_3

Dengan setia Carl mengikuti langkah Victoria yang mulai menuju ke pintu keluar istana. Kehadiran Victoria membuat para pengawal dan penjaga di dalam istana langsung mendatanginya dengan wajah panik.


"Your Majesty, anda ingin kemana?"


Victoria menghentikan langkahnya dan menatap seorang pengawal yang bertanya dengan raut wajah panik padanya.


"Jaga istana dengan baik, jangan biarkan kaki-kaki kotor mereka menginjak lantai dalam istana, dan jangan biarkan siapapun merusak rumah kita ini. Mengerti?"


Raut wajah datar dengan tatapan tegas dan suara tegas Victoria membuat semua pengawal dan penjaga langsung membungkuk dalam.


"Baik Your Majesty"


Langkah Victoria kembali bergerak menuju pintu keluar. Dengan raut wajah cemas dua orang penjaga pintu langsung membukakan pintu untuknya.


Saat pintu terbuka, angin malam langsung kambali menerpa wajah datar Victoria, dengan anggun Victoria menautkan tangannya di depan perut dan dengan kehormatannya dagu Victoria terangkat tinggi


Dari kejauhan, tiga orang pemimpin pasukan musuh akhirnya bisa menangkap gerakan dua orang yang sudah mereka tunggu, lebih tepatnya mereka sudah menunggu Victoria. Si otak serangan yang membuat lebih dari separuh pasukan mereka tersapu, padahal jumlah pasukan Victoria sangat jauh mendekati dari angka pasukan separuh mereka.


Pangeran Marco yang melihat Victoria sudah berjalan mendekat langsung ikut mendekati Victoria, pergerakan Marco di ikuti dua pergerakan lain, pergerakan dua pangeran lain, saudaranya.


Dengan senyum culas, para pangeran itu membungkuk pada Victoria. Carl dengan sigap langsung maju ke samping Victoria yang sudah menghentikan langkahnya


"Selamat malam Your Majesty Ratu Victoria"


"Ini sudah hampir dini hari Pangeran Marco"


Ucapan dengan nada tenang dan raut wajah datar Victoria membuat Marco kembali tersenyum culas


"Ahh.. iya, selamat pagi Your Majesty"


Victoria menaikkan satu alisanya melihat tingkah mengejek dengan raut wajah para pangeran yang menatapnya dengan pandangan remeh


"Pantas saja Lady Charlotte sekarang menjadi bodoh, ternyata ini penyebabnya" Victoria menoleh pada Carl. "Kau tahu Carl, ternyata benar jika perubahan lingkungan, dan perubahan pergaulan bisa membuat kita jadi kehilangan jati diri, bahkan bisa merubah tingkat kecerdasanmu"


Kepala Carl langsung mengangguk dramatis dengan kedua sudut bibirnya yang berkedut menahan geli. Hinaan halus tapi juga tajam Victoria membuat ke tiga pangeran langsung kehilangan senyum mengebalkan mereka. Victoria yang menyadari perubahan raut wajah ke tiga pangeran itu kembali menaikkan satu alisnya dan menatap mereka bergantian


"Kenapa?"


Seorang pangeran mengeram kesal dan akan maju, tapi tangan Marco langsung menahannya


"Tenanglah Evan"


Dengan anggun Victoria menyibak poninya yang berterbangan, tanpa peduli dengan pancingan yang di buatnya.

__ADS_1


"Wajah anda cukup mirip dengan Charlotte Your Majesty" Ucapan basa basi Marco yang entah untuk apa, membuat raut wajah Victoria menjadi masam. Dia terlihat sangat tidak suka dengan ucapan Marco, dan Marco menangkap itu. "Anda terlihat tidak suka di bandingkan dengan kakak anda, Your Majesty? tapi saya hanya ingin mengutarakan isi pikiran saya. Walaupun jika di bandingkan dengan Charlotte, Charlotte tentu terlihat lebih cantik dan lebih lembut"


"Percuma berwajah cantik tapi berotak bodoh"


Itu bukan suara Victoria ataupun suara Marco dan orang lain yang terlibat di sana, itu adalah suara seseorang yang tiba-tiba muncul yang entah dari mana, dan suara itu sangat di kenal Victoria.


"Selamat pagi Your Majesty"


Senyum hangat Victoria terbit, dan kepalanya mengangguk singkat


"Selamat pagi Duke Arthur"


Kedatangan Arthur secara tiba-tiba membuat para pangeran cukup terkejut, arah pandang mereka langsung menatap lekat penampilan dan wajah Arthur. Sama seperti cara mereka menatap Victoria, menatap Arthur dengan pandangan meremehkan. Arthur melihat pandangan itu, tapi dia tidak peduli, dan memilih mendekatkan bibirnya ke telinga Victoria


"Apa pria itu yang membuat Charlotte jadi kehilangan banyak kecerdasannya?"


Sudut bibir Victoria berkedut geli dan mengangguk untuk menjawab Arthur. Carl yang masih bisa mendengar bisikan Arthur ikut menahan geli.


"Apakah ini Duke Arthur pemilik Albany?Marco kembali menatap Arthur dengan sangat lekat. "Adik laki-laki Charlotte?"


Arthur dengan cara tidak sopan, dan raut wajah datar menjawab dengan mendengus kasar. Sungguh tidak sopan! Selain karna cara menjawab Arthur yang seperti pedagang ikan, Arthur juga mengabaikan sapaannya untuk seseorang yang memiliki status lebih tinggi darinya. Dan semua itu tidak luput dari penglihatan ke tiga pangeran.


"Untung saja Charlotte tidak seperti kalian! Apa keluarga kalian memang bermulut tajam dan tidak punya kesopanan?"


Marco langsung memperingatkan adik bungsunya yang sudah tidak bisa lagi menahan diri, hingga mengeluarkan isi otak dan perasaannya


"Benar sekali, Arathorn adalah keluarga bangsawan paling tersohor se-Francia yang memang selalu bermulut tajam dan tidak sopan pada... musuh"


Setelah Arthur berucap, kedua matanya menjadi tampak tidak fokus dan langsung memicing tajam menatap jauh ke depan. Victoria yang menyadari arah pandang Arthur langsung tersenyum tipis dan, senyum lebar Carl langsung terbit. Entah apa yang di lihat Arthur tapi itu pasti sesuatu yang menyenangkan untuk mereka.


"Ahh... benar juga, kami datang ke sini sebagai musuh tapi.." Marco menatap Victoria dengan lekat. "Bagaimana jika kita 'tidak menjadi musuh' saja, Your Majesty?"


Victoria tersenyum manis, bahkan sangat manis sambil menatap Marco dengan lekat


"Kenapa?"


Satu kata dari Victoria membuat semua kepala pangeran langsung menatapnya dengan antusias tapi, tidak untuk Arthur. Dia terlihat acuh, karna dia sangat tahu bagaimana adiknya, terlebih arti sebuah senyum manis Victoria


"Karna memang sebentar lagi kita 'akan' menjadi keluarga, kita juga akan menjadi saudara"


Sudut bibir Victoria berkedut geli saat mendengar ucapan tidak tahu malu Marco. Arthur hanya diam, dan Carl langsung memegangi pedangnya, insting Carl mulai berbunyi


"Saudara? keluarga? Kenapa begitu Pangeran Marco?"

__ADS_1


Marco menatap jauh sekilas, pada arah di tempat sisa pertempuran masih terjadi dan terdengar dengan jelas. Dan itu adalah sisa-sisa pasukan milik Francia, tidak akan sampai harus menghabiskan banyak menit, sisa pasukan Victoria pasti akan lenyap tidak bersisa


"Karna kalian tidak mempunyai pilihan, Your Majesty. Kami akan berbaik hati memaafkan anda dan Duke Arthur. Kami akan membawa kalian pada Charlotte, dan dia pasti senang"


"Benarkah?"


Marco mengangguk yakin. Dia yakin akan itu, karna Charlotte selalu menangis saat menceritakan adik-adiknya terlebih tentang pertemuan terakhirnya dengan Victoria. Tunangannya yang sangat mencintai adik-adiknya


"Tentu saja, Your Majesty"


Kedua mata Victoria menjadi tidak fokus dan bergerak ke arah segala sisi, melirik keadaan sekitar sejenak, lalu kembali fokus pasa Marco. Victoria tersenyum manis


"Dan jika kami menolak?"


Pertanyaan Victoria membuat ke tiga pangeran langsung menjawab dengan menarik pedang mereka tanpa basa basi, raut wajah mereka berubah menjadi serius.


Carl yang sudah siap langsung ikut menarik pedangnya. Pengawal penjaga pintu depan istana yang melihat musuh menarik pedang pada Ratu mereka langsung ikut menarik pedang mereka. Arthur hanya diam dengan raut wajah dingin. Raut wajah Victoria tidak jauh berbeda, sangat dingin dan tegas.


"Kami menolak"


Dua kata dari sang Ratu langsung membuat Marco mengacungkan pedangnya ke depan wajah Victoria tanpa keraguan, yang membuat Carl langsung mengayunkan pedangnya, dan bergerak menepis pedang lancang yang mengacung pada Ratu mereka. Pergerakan pedang Carl langsung membawa dua pangeran lain untuk bergerak dan mengambil alih perlawanan Carl. Pedang Carl terus terayun menghadapi ke dua pangeran itu. Marco kembali mengacungkan pedangnya pada wajah Victoria, sorot matanya tajam dan tegas


"Pilihan terakhir Your Majesty"


Penegasan Marco membuat Victoria diam, matanya melirik Carl yang sudak menjadi cukup kesulitan karna harus melawan mereka, melawan lawan yang sekarang bahkan sudah menjadi enam orang, dan mereka semua jelas bukan hanya prajurit biasa, bahkan kedua pangeran sudah berhasil menggores daging Carl. Victoria menggigit pipi dalamnya dengan kuat, kedua matanya menatap Marco dengan tajam, rahangnya terkatup rapat, wajah datarnya sudah menunjukkan guratan kemarahan.


"Pengecut"


Marco masih pada posisinya dengan mata pedangnya yang terus tertuju ke depan wajah Victoria. Dia tidak peduli dengan sindiran Victoria. Melawan kesatria emas Raja Fredrick tidak akan mudah, terlebih jika satu lawan satu. Jadi, jika dia hanya ingin kemenangan cepat, dia harus menggunakan segala cara


Arthur tetap pada posisinya dan hanya diam dengan tangan yang sudah memegangi pedang dengan fokusnya yang terus tertuju pada pergerakan pedang di depan wajah Victoria. Dia tidak bisa sembarangan bergerak atau, kepala adiknya akan melayang. Pemikiran itu membuat Arthur semakin mengeratkan tangannya


Angin berhembus kuat, menghantarkan rasa dingin yang langsung terserap kulit mereka, rambut Victoria yang menjuntai berterbangan dengan indah. Kedua mata Victoria melirik ke arah langit, di mana di ujung bagian kanan istana, langit mencekam dan gelap sudah menunjukkan seburat warna terang. Matahari akan terbit.


Melihat Vicroria yang masih terdiam, bahkan saat Carl sudah tertusuk pedang membuat Marco kembali berucap


"Pilihan anda Your Majesty"


\=\=\=💚💚💚💚


Ayukk jejaknya yukk


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2