Behind The Castle

Behind The Castle
**QUEEN VICTORIA**


__ADS_3

"Saya akan membacakan dekrit terakhir Raja George II"


Ratu Elisabeth segera melangkah ke undakan tangga, mulutnya terlihat akan mengatakan sesuatu tapi, suara pedang-pedang yang bergesek dari sarung, membuat mulutnya kembali mengatup. Siapapun dia, selama masih hidup di kerajaan Francia tidak boleh menginjak dan menghalangi titah Raja, termasuk titah yang tertulis. Dan Ratu Elisabeth tahu itu, dia akhirnya hanya bisa memilih untuk diam dan menunggu, terlebih saat sebagian besar pria berpedang di sana sudah melepaskan pedang mereka dari sarungnya.


Keheningan mengisi isi aula, bahkan langit yang sedang bersedih menghentikan tangisnya. Hujan ikut mulai berhenti.


Edward menarik nafas dalam dan mulai membuka mulutnya


...Saya, Raja Geogre II menyatakan Dekrit yang saya buat;...


...Setelah saya mengkat, penyerahan tahta berikutnya akan tetap di berikan seperti ketentuan dan peraturan yang sudah berlaku semenjak kerajaan Francia memeluk kemenangannya atas perang enam ratus silam. Dengan atau tanpa kehadirian pemilik calon pemilik-pemilik tahta, penyerahan gelar dan tahta tetap berjalan seperti semestinya, kecuali, jika pemilik tahta selanjutnya di nyatakan mangkat, maka ketentuan berlaku untuk menyerahkan tahta pada Line Throne berikutnya...


...Saat dekrit ini sudah di bacakan, dengan ini saya, Raja George Benedict Philip David Castalarox menyatakan jika;...


......."My Reign Is Over".......


Keheningan semakin mencekam, suara hujan semakin tenang, semua mulut bungkam dan hanya diam, Calista membulatkan matanya dengan tangan gemetar, Ratu Elisabeth mengeraskan rahangnya dengan wajah memerah, Henry yang masih duduk di atas kursi menegang dan hanya bisa terdiam seribu bahasa.


Edward menggulung kembali perkamen emas dengan rapih, satu sumpahnya sudah di lakukannya dengan baik dan tinggal melanjutkan sumpahnya yang lain. Dengan gestur penuh kehormatan Edward menggeser tubuhnya ke samping, agar wanita bergaun merah di belakangnya segera menunjukkan siapa dirinya. Menunjukkan kehormatan dirinya


Victoria tersenyum culas dengan arah padang yang terus menatap ke arah panggung tahta. Dengan tatapan tegas dan dagu terangkat tinggi penuh kehormatan, Victoria memperkenalkan dirinya


"I am Victoria Queen of Francia... And I have come to my Throne"


Dengan sebelah bibir yang tertarik tinggi ke atas, Victoria menatap Henry dengan tajam sambil mengangkat tangan kanannya ke depan. Tempat di mana cincin Ratu tersematkan di jari manisnya, cincin yang pernah di pakai setiap Ratu Francia kecuali, Ratu ompong yang sekarang sudah pucat pasi bagai mayat hidup yang tersangkut di tangga.


Setelah tiga detik terlewati dan orang yang di tuju Victoria tidak menyambut tangannya untuk memberikan penghormatan, semua pria berpedang kembali menarik pedang mereka. Henry menggertakkan giginya dengan wajah merah padam. Dengan perasaan malu yang akan di bawanya hingga ke dalam liang kubur, Henry mau tidak mau, segera berdiri dari kursi tahta yang baru di cicipinya. Dengan langkah lebar dan penuh amarah menuruni tangga untuk menyambut tangan Victoria.


Henry yang terus meraskan segala rasa malu yang ada di atas muka bumi membungkuk dalam dan meraih tangan Victoria, mencium cicin Ratu kerajaan Francia yang sama dengan menyatakan jika dirinya berada di bawah sang Ratu, si pemilik tahta pendamping mutlak. Jika dia tahu, jangakan statusnya dan Victoria, bahkan statusnya sekarang tidak lebih tinggi dari status dua orang bayi gemuk penuh lemak.


Edward menyeringai, Keelft dan kesatria lain tersenyum culas sambil mendekat pada Victoria, James dan Steven hampir menangis karna lega dan bersyukur, Calista menahan nafasnya dengan tangan terkepal kuat, Ratu Elisabeth mematung dengan dada bergemuruh penuh bara api panas.


Henry terus membungkuk dalam dan mundur beberapa langkah menjauh dari Victoria. Semua para kesatria, pengawal dan penjaga segera menekuk lutut mereka dengan satu lutut menyentuh lantai. Para bangsawan yang mulai mendapatkan kembali isi kepala dan kewarasan mereka segera memberikan gestur penuh penghormatan, para Gentlemen membungkuk dalam, para Ladies menyilangkan kali mereka sambil menarik sisi gaun dengan kepala tertunduk, dan akhirnya semua mulut menyatakan kehormatan Victoria


"LONG LIVE THE QUEEN! LONG LIVE THE QUEEN! LONG LIVE THE QUEEN!!!"

__ADS_1


Victoria tersenyum culas menatap semua bangsawan yang akan dia cari tahu semua nama mereka nanti. Dengan dagu terangkat tinggi Victoria kembali bersuara


"Angkat kepala kalian"


Semua kepala terangkat dan menatap Victoria yang dengan langkah anggun mendekat pada sebuah meja penuh dengan gelas berisi minuman. Satu tangannya terulur dan menarik alas meja dengan kuat hingga semua gelas berhamburan, dan suara pecahan gelas di lantai mengiri seluruh isi aula.


Bibir Victoria berdesis pelan dan tajam


"Lancang!"


Meski pelan, tapi teror dan kemarahan yang di berikan Victoria di dalam ruangan yang hening mencekam itu membuat semua telinga bisa menangkap dengan jelas desisan murka sang Ratu Baru.


"Ed"


Edward segera berdiri dan membungkuk dalam


"Iya, YOUR MAJESTY"


"Hancurkan ini semua, bersihkan semua kotoran dan sampah di sini" Victoria menatap semua wajah yang terlihat terkesiap dan juga berhasil menangkap kemarahannya. "Semua. Semuanya Ed"


Edward kembali menyeringai mengerikan dengan kepala yang masih tertunduk


Dengan anggun Victoria memutar tubuhnya, kepalanya menoleh ke samping, untuk menatap wanita paruh baya yang masih terdiam di undakan tangga.


"Dan hancurkan dua kursi itu, ganti dengan yang baru. Raja baru kita tidak bisa lagi duduk di kursi yang sudah 'kotor'...."


Edward tersenyum miring dan ikut menatap wanita paruh baya di atas undakan tangga yang wajahnya sudah kembali merah padam, wajah yang sepertinya sudah siap untuk meledak


"Baik Your Majesty"


Setelah kepergian Victoria, suara kehancuran di dalam aula di mulai, entah apa yang di lakukan para kesatria yang sudah melepas rasa marah, kesal dan benci mereka atas penghinaan keji yang mereka buat di hari berkabung seluruh Francia. Bahkan suara teriakan para Ladies tertutupi oleh suara hantaman kemurkaan membabi buta para kesatria. Victoria tidak bisa membayangkan jika kesatria emas mendiang Raja sedang dalam posisi lengkap. Mungkin lantai aula utama akan ikut bolong hanya dalam beberapa menit.


---0000---


Victoria menatap semua petinggi istana yang sudah di kumpulkannya dengan mendadak. Baru dua jam dirinya kembali tiba di istana, tapi, surat dengan stempel Ratu baru membuat mereka melepaskan jam istirahat mereka dan melesat secepat yang mereka bisa untuk memenuhi undangan Ratu baru.

__ADS_1


Kedua mata Victoria mengkilap tajam dan mulai menghitungi semua petinggi yang sedang membungkuk dalam di depannya dan untungnya, mereka semua lengkap. Tanda jika mereka tidak turut hadir di pesta laknat itu.


"Keluarkan semua pembukuan dan pengeluaran dana yang di sia-sia kan Queen Mother kalian"


Para petinggi istana segera menegakkan punggung mereka dan menatap Victoria yang sudah mengangguk sekali, tanda mereka boleh ikut duduk di kursi mereka. Dengan tergesah mereka mengeluarkan semua permintaan. James dan Steven memimpin untuk menjelaskan semua hal yang banyak berubah dan harus di ubah untuk menutupi semua kerusakan yang di buat 'Queen Mother mereka'


Decakan kesal, umapatan kemaran Victoria dengan cara preman pasar tidak Victoria tahan-tahan lagi. Semuanya kacau, kerja keras mereka hancur karna Queen Dowager tidak tahu malu itu. Para anggota rapat hanya bisa pasrah dan ikut memutar otak mereka dengan keras untuk mencari solusi. Victoria sudah seperti banteng murka yang terus melaju tanpa henti untuk mencari solusi dan memperbaiki setiap lubang busuk yang hampir menggerogoti semuanya.


Sesekali solusi tegas dan kejam Victoria terlebih untuk dana, membuat para bangsawan terhormat di sana hanya bisa mengumpat dalam hati. Victoria mau tidak mau harus menguras isi peti koin emas mereka. Terlebih untuk lubang besar pada dana persiapan perang.


Waktu terus bergulir, tidak hanya pelipis Victoria yang sudah berdenyut sakit hingga meneteskan peluh, tapi semua orang di sana juga merasakannya. Edward hanya melirik dan terus melirik tanpa bisa menangkap dan mengerti perputaran jenius yang terjadi di atas meja.


Hingga waktu sudah melewati waktu tengah malam. Victoria yang mulai merasakan dadanya mengencang menghentikan rapat dadakan mereka


"Baiklah, kita akhiri untuk malam ini" Helaan nafas panjang kelegaan langsung saling bersaut-sautan mengiri suara di dalam ruangan tapi, ucapan Victoria belum selesai. "Karna waktu sudah menunjukkan waktu lewat dari tengah malam, kami akan menyediakan kamar untuk kalian, kalian boleh menginap di istana, dan besok pagi, kita berkumpul kembali setelah jam sarapan"


James dan Steven yang baru benafas lega meringis sedih, para petinggi lain hanya bisa mengangguk pasrah dan terpaksa.


Setelah membubarkan rapat, Victoria menatap bergantian pada James dan Steven


"Kalian ikut menghadiri pesta i....."


"Kami datang karna ingin mengurus pemakaman Your Majesty!"


Steven yang panik dan ketakutan langsung menyambar cepat ucapan Victoria. James menatap Victoria dengan raut wajah yang juga tampak panik. Padahal, Victoria hanya bertanya.....


"Aku tahu... aku hanya ingin mengatakan jika urusan pemakaman dan urusan tubuh His Majesty akan di urus oleh Edward"


James mengeryit terkejut dan bingung, Steven tidak jauh berbeda, wajah lelahnya bahkan tampak seperti baru mendengar jika dinosaurus sudah hidup kembali


Dengan acuh, tanpa berniat menjelaskan, Victoria segera berdiri dari kursinya dan segera pergi meninggalkan ruang rapat yang masih di isi dua pria yang berputar-putar dalam kebingungan.


\=\=\=💚💚💚💚


Satu kata buat Victoria.....

__ADS_1


Silahkan jejak kalian guys...


Salam sayang semua✨


__ADS_2