Behind The Castle

Behind The Castle
**RANUNCULUS FLOWER**


__ADS_3

"Syukurlah... musim panas tahun ini kita tidak kekurangan gandum dan bahan lainnya"


"Benar, tahun ini kita juga bisa minum air dengan gula, roti tidak akan kekurangan, sayur kita akan aman.. lihatlah jagung kita berlimpah untuk bulan ini"


"Tuhan sepertinya mendengar doa kita ya..."


"Iya! Tuhan menolong kita dengan mengirim raja seperti His Majesty! Long live the King!"


"Panjang umur His Majesty....."


"Sehat selalu His Majesty! Semoga Tuhan selalu memberkati dan melindungi His Majesty!"


"God save The King!"


Dalam diam, Victoria terus mendengarkan semua percakapan para pelayan di dapur tanpa bergeming, setelah melihat Grey yang akhirnya selesai menghabiskan makan siangnya dengan pelan Victoria berjalan menjauh dari dapur menuju koridor dengan berbagai pikiran dan pertanyaan di kepalanya.


Saat sudah di depan pintu, dengan pelan Victoria masuk dan melihat Diana yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


"Hallo Grey... makanmu sudah"


Grey yang si sambut Diana segera menggonggong dan melompat dengan semangat, Diana tersenyum tapi, saat melirik wajah Victoria yang datar dan terlihat berpikir dengan cepat Diana mendekat ke arah Victoria yang langsung duduk di depan meja rias.


"Rambutmu ingin seperti apa hari ini Vic?"


Mendengar suara Diana, Victoria segera mengalihkan arah pandangnya dan melirik Diana yang sudah menyisir rambutnya.


"Buat saja sesukamu Di"


Diana mengangguk dan mulai mengambil pita dan ikat rambut, Victoria menatap wajah Diana dari depan kaca dan akhirnya bertanya


"Apa setiap musim panas istana sering kekurangan bahan dapur Di?"


Tangan Diana mulai bergerak mengikat rambut Victoria sambil melirik wajah Victoria dari depan cermin dan mengangguk


"Benar Vic, terlebih saat sudah masuk pertengahan musim panas dan musim gugur, istana akan melakukan pengurangan dan menekan bahan dapur terlebih gula, memangnya ada apa Vic?"


Masih dengan menatap Diana, Victoria hanya menggeleng singkat dan keheningan kembali.


Kali ini cukup lama Victoria menunggu Diana menyelesaikan pergerakan tangan piawai Diana di rambutnya, entah apa yang di lakukan Diana pada rambutnya membuat Victoria sedikit penasaran


"Apa bagus Di?"


Dengan tersenyum bangga dan mata berbinar Diana memutar bahu Victoria ke depan cermin.


"Lihatlah.... bagus kan?"


Victoria memperhatikan ikatan rambutnya dan tersenyum


"Ini keren Di"


Diana tersenyum puas dan bangga


"Kau ingin ke mana siang ini? matahari cukup panas untuk ke luar Vic"


Victoria melirik jendela dan benar, musim panas mulai menunjukkan perannya, jika dia berjalan-jalan ke luar akan sangat panas


"Kita ke taman kaca saja, biar Grey bermain di sana"


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Dengan tersegah dan tidak sabaran, Fredrick melompat dari kudanya dan segera mengikat kudanya dengan asal. Edward masih terus mengamati Fredrick yang selalu tergesah-gesah dan bersemangat dengan tak tentu tujuan, akhirnya membuka suara.


"Kau ini mau kemana sebenarnya Fred! bahkan dari saat kita sampai di perbatasan ibu kota kau sudah tidak fokus!"


Sambil mengganti baju berkudanya, Fredrick hanya tersenyum tampan tapi, senyum itu selalu terlihat menjijikkan di mata Edward

__ADS_1


"Kencan..."


Tangan Edward yang akan menarik kuda mereka untuk masuk ke dalam istal kuda terhenti dan menatap Fredrick dengan aneh.


Fredrick hanya mengedipkan bahunya acuh dan melempar baju berkuda yang sudah di gantinya dengan asal.


"Aku titip Panter, Ed"


Sambil berlari kecil Fredrick menyempatkan diri untuk membelai kepala Panter, kuda kesayangannya, dan setelah itu kembali berlarian kecil yang entah akan menuju kemana. Edward hanya bisa mengerutkan alisnya dengan wajah penuh tanya.


Dengan bersemangat dan bibir yang terus melengkung ke atas, Fredrick memasukki koridor istana selatan untuk menuju ke pintu kamar Victoria. Saat sudah sampai di depan pintu dengan cepat tangannya mengetuk tapi, tidak ada yang jawaban dari dalam pintu hingga Fredrick mencari penjaga


"Selamat siang Your Highness"


"Dimana Lady Victoria?"


Dengan sopan sambil menundukkan kepala penjaga itu menjawab


"Tadi Lady Victoria dan pelayan Diana pergi ke taman kaca Your Hihgness"


Fredrick menaikkan satu alisnya dan kembali bertanya


"Apa kau tahu, Lady Victoria sudah makan siang atau belum?"


Penjaga itu tampak berpikir sejenak dan kembali menjawab


"Sepertinya tadi saya melihat pelayan Diana keluar bersama Lady Victoria sambil membawa perlengkapan makan Your Highness"


Setelah mendengar jawaban penjaga itu, Fredrick kembali melesatkan kakinya dengan semangat dan tergesah, tidak lupa dengan senyum panasnya yang selalu tercetak di wajah tampan pria bermata abu-abu itu


-000-000-


Masih dengan menatap taman kaca dari atas, Victoria mengamati Grey yang sedang melompat-lompat berusaha mengejar Diana yang memegang topi lebarnya, sesekali bibir ranumnya melengkung karna Grey yang tidak sabaran dan mencoba mengigit tangan Diana, Victoria yang melihat jika Grey akan melompat ke punggung Diana mencoba mengingatkan


Grey segera berputar-putar, seperti melakukan pengintaian dan menyiapkan kuda-kudanya untuk memilih waktu yang tepat kapan akan merebut topi di tangan Diana. Saat sedang asik memperhatikan ke arah bawah tiba-tiba bau begamont, mint, kayu manis dan buah pir menguar di sekitar, bau segar dan jantan yang mulai hidung Victoria kenali.


Fredrick yang sudah naik ke atas taman kaca, berjalan dengan pelan saat melihat punggung seorang gadis



Tangannya yang terasa gatal terulur untuk menyentuh ikatan rambut gadis itu, dengan lembut Fredrick membelai ikatan rambut coklat kepirangan yang sudah di depannya.


Victoria yang sudah mencium aroma yang semakin menguar di hidungnya, membiarkan saat rambutnya terasa di pegangi seseorang dari belakang punggungnya


"Bagaimana cara membuat rambut seperti ini?"


Dan benar, suara berat seorang pria yang di kenalnya langsung terdengar sambil terus memainkan rambutnya


"Diana yang membuatnya Your Highness"


Fredrick mengernyit dan segera mengambil posisi berdiri di samping Victoria.


"Nama Vic, kita hanya berdua"


Akhirnya Victoria menoleh dan bisa melihat wajah Fredrick yang sudah di sampingnya


"Aku belum terbiasa"


Dengan tersenyum hangat Fredrick membalas tatapan Victoria, wajah manis gadis di depannya sangat membuat matanya segar, selalu membuatnya ingin terus menyentuh wajah manis dengan raut datar itu


"Biasakan...."


Sambil merapikan poni Victoria yang sudah rapih, Fredrick menatap dalam kedua bola mata sehijau daun Victoria. Victoria membalas tatapan kedua bola mata abu-abu di depannya dengan tenang


"Kenapa kau tahu aku di sini Bash?"

__ADS_1


Akhirnya Fredrick mendengar Victoria menyebutkan nama kecilnya, nama yang sudah lama tidak dia dengar


"Mengikuti aroma mu"


Victoria menaikkan satu alisnya dan menatap Fredrick yang sedang mengumbar kebohongannya


"hhmmm... anda dan Grey punya hidung yang sama"


Fredrick berdecak sebal


"Kau menyamakanku dengan anjing?"


Victoria hanya membalas dengan mengedipkan bahunya acuh


"Kenapa tidak turun dan duduk di bawah?"


"Banyak aroma mawar"


Fredrick baru mengingat jika Victoria pernah mengatakan jika dia tidak suka bahkan benci dengan aroma mawar, aroma yang mirip dengan seseorang


"Aahh.. benar, di bawah banyak tanaman mawar"


Victoria mengangguk singkat dan menatap lagi ke bawah yang penuh warna warni aneka mawar


"Apa kau tidak suka juga dengan bentuk mawar? lihatlah, mereka cantik"


Victoria tersenyum culas


"Cantik tapi berduri untuk apa, lagi pula masih banyak bunga lain yang juga cantik dan harum tanpa punya duri"


Fredrick menatap Victoria dengan antusias


"Bunga apa yang kau suka?"


Victoria berpikir sejenak dan menjawab


"Banyak, tapi yang paling ku suka bunga ranunculus dan peony"


"Ranunculus? hhmm.. sangat sesuai denganmu"


Mendengar ucapan Fredrick, Victoria kembali menggeser arah pandangnya ke samping untuk menatap Fredrick


"Kau tahu tentang bunga Bash?"


Sambil mengedipkan bahu acuh, Fredrick memutar tubuhnya dengan siku yang bertengger di pinggir pagar undakan pembatas, agar wajahnya bisa menatap dengan bebas wajah Victoria dari depan


"Tidak juga, aku hanya tahu arti beberapa jenis bunga"


"Memang apa arti ranunculus yang kau ketahui Bash?"


Sambil menatap wajah dan seluruh tubuh Victoria dengan lekat, Fredrick tersenyum tipis


"Pesona, daya tarik dan pancaran"



Sebenarnya ranunculus/buttercup ini bunga kesuakaan eikee... hhehehe...


รทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรทรท


Hallo readers..... Terimakasih banyak karna sudah mampir dan masih berminat membaca sampai sejauh ini.... semoga kalian masih tertarik yaaa


Jangan lupa like, komen, bintang, lope-nya di tekan...


Salam sayang semua โœจโœจ

__ADS_1


__ADS_2