
"PERIKSAA LAGI SEMUA TEMPAT JEREMMY!!! JIKA TERJADI SESUATU PADANYA SEMUA KEPALA DI SINI AKAN KU HANCURKAN!!!"
Suara menggelegar dan penuh ancaman itu membuat seolah suara petir di tengah hujan mengalahkan suara mengaum pria yang sekarang tampak sangat panik karna pencariannya tidak juga membuahkan hasil. Dadanya bergemuruh dan terus merasa tidak enak. Hari sudah hampir tangah malam tapi tunangannya tidak juga di temukan. Kemana dia? Apa yang terjadi? semua ini jelas bukan hanya hal sepele. Seluruh tempat sudah di telusuri bahkan oleh tuan rumah yang langsung mengerahkan semua pengawalnya.
Calista melihat itu, rasa panik dan khawatir yang di tunjukkan Fredrick membuat hatinya remuk hingga tidak tahan tapi, dengan menguatkan jiwannya, Calista mencoba menenangkan Fredrick di tengah-tenagah semua mata yang memandang
"Fred, mungkin saja Lady Victoria sedang marah padamu dan mencoba menenangkan diri"
Tangan Calista yang mencoba menyentuh tangan Fredrick segera di tepis dengan kuat. Fredrick menatap Calista dengan tajam
"Jangan sembarangan menyentuhku!"
Setelah mengatakan itu, tanpa memandang wajah terluka dan mata berkaca-kaca Calista, Fredrick mencoba menenangkan diri sambil menatap semua wajah yang menatapnya dengan takut tapi... tunggu dulu, ada yang janggal, ada yang kurang
"Di mana Baron Lawson?"
Semua mata saling melirik dan mencoba mencari wajah yang di tanyakan Fredrick
"DI MANA LAWSON!!!"
Semua orang tercekat hingga menunduk dalam terlebih saat suara gesekan pedang yang di tarik dari sarung pedang menggema di keheningan malam. Dengan cepat Fredrick berbalik dan menuju tangga, tapi lagi, tangannya kembali di tahan Calista yang membuat Fredrick mengeram dan mendorong tangan itu hingga suara pekikan Calista terdengar saat punggungnya dengan kuat menghantam lantai
"Fredrick! beraninya kau!!!"
Adam yang melihat anaknya berteriak tidak sopan dengan tubuh terbanting ke lantai segera berlari dari posisinya dan menarik Calista untuk mengikuti langkah Fredrick yang naik ke atas. Semua orang di sana juga ikut menaiki tangga, mengikuti langkah takut dan cemas Adam.
Dengan pedang pengawal yang baru di tariknya begitu saja dari pinggang seorang pengawal. Fredrick berlarian menuju semua kamar di lantai dua. Jeremmy, para pengawal, para penjaga, Duke Argentt dan empat gentleman lain kecuali Adam segera mendobrak segala pintu yang langsung mereka lihat. Duchess Argentt dengan panik ikut memerintahkan semua pelayan agar memeriksa segala sudut di balik pintu yang ada di mansionnya.
Semua pintu sudah terbuka, semua sudut di dalam pintu sudah di periksa bahkan kamar Victoria dan kamar istri Baron Lawson yang ternyata kosong. Diana dengan berderai air mata berlarian sekencang mungkin mengikuti para pria yang sekarang sedang berlarian menuju lantai tiga.
Sesekali suara ujung pedang yang tergoses di lantai membuat para pria di sekitarnya bergindik, bahkan, entah kenapa suhu di sekitar mereka menjadi dingin, lebih tepatnya wajah dingin Fredrick yang terasa hingga ke pori-pori kulit para pria di sekitarnya.
Suara dobrakan-dobrakan pada pintu yang belum selesai di buka dan di periksa pelayan kembali terdengar tapi, semua nihil. Semua kosong. Fredrick mengeram, dia sudah bisa menyimpulkan apa yang sedang terjadi sekarang dan kesimpulan itu membuat jantungnya berdegup kencang, ketakutan menjamah hatinya. Fredrick menatap Duke Argentt
"Kamar pelayan, penjaga, pengawal!!"
Duke Argentt mengangguk mengerti untuk menjawab ucapan Fredrick dan segera membimbing langkah mereka menuju ke rumah yang cukup besar di belakang mansionnya. Diana dan Duchess Argentt mengukuti langkah mereka dengan panik dan cemas. Adam dan Calista menautkan tangan mereka dengan takut dan segera ikut menyusul langkah kaki semua orang yang mulai menjauh.
__ADS_1
Kembali suara dobrakan terdengar, kali ini dobrakan-dobrakan dengan cepat membuka pintu-pintu karna tiap pintu di sana tidak setebal pintu di mansion. Kegiatan itu terhenti sejenak ketika seorang pelayan dengan panik dan tergopo-gopo berlari menghampiri mereka
"Di kamar itu, kamar itu tidak bisa kami buka dengan kunci, dan di sana ada suara-suara rintihan"
Fredrick yang akan membuka pintu di sampingnya segera mengurungkan segala rencananya dan segera berlari mengukuti langkah pelayan itu.
BRAKKK!
Satu dobrakan tiga orang pria langsung membuat pintu terbuka hancur. Dan pemandangan di sana langsung membuat para pria berbalik, Duke Argentt yang sudah berbalik membubarkan semua pelayan, mereka sudah bisa membaca apa yang terjadi di dalam sana, terlebih, setelah melihat tubuh polos Baron Lawson yang tergeletak di lantai sambil mengumpat. Mereka tidak perlu mencari tahu lagi, suara rintihan dan tangisan lemah seorang gadis membuat mereka berdoa. Semoga mereka yang memang tidak tahu apapun tidak terseret ke tiang gantungan ataupun di bawah kapak penjagal.
"Tolong aku... siapapun tolong aku...."
Duchess Argentt dengan segala keterkejutaannya dengan cepat masuk ke dalam untuk mencari keberadaan suara rintihan itu. Dengan cepat Duchess Argentt menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Victoria yang ternyata di temukannya ada di bawah ranjang. Saat tangan Duchess Argentt menyentuh kulit Victoria, Victoria yang terkejut dan ketakutan langsung meronta dan menjerit-jerit dengan suara lemah.
Dengan air mata yang terus mengalir, Diana mematung gemetar hingga tidak tau harus melakukan apa, bahkan kakinya tidak bisa di gerakan.
Dengan sangat dan sangat dingin, Fredrick terus menatap pria paruh baya yang sudah bersujut penuh permohonan tanpa memperdulikan lagi tubuhnya yang tidak terbalut apapun. Raut wajahnya siap membunuh, dan pedang Fredrick sudah siap terangkat tapi, suara jeritan yang terdengar sangat memilukan di telingannya langsung menggetarkan dadanya, membuat fokusnya berubah
"Jangan... jangan mendekat! tolong! tolong aku Tuhan... tolong aku... ku mohon tolong aku Tuhan..."
"Lady Victoria... ini saya Duch......"
Duchess Argentt segera menutup mulutnya dan menyerahkan selimut di tangannya dan mundur menjauh dari ranjang.
"Pergi! jangan mendekat! pergi!"
"Vic... ini aku Bash..."
"Bash?"
Dengan pelan, Fredrick mengulurkan tangannya ke bawah ranjang tanpa melepaskan pandangannya pada Baron Lowson. Cukup lama tangannya melayang di udara hingga sebuah tangan dingin dan gemetar menyentuh tangannya
"Bash... Bash! tolong aku! tolong aku..."
Fredrick melirik Duchess Argentt yang segera paham dan kembali meraih selimut dari lantai di sebelah Fredrick. Dengan pelan, Duchess Argentt masuk ke bawah ranjang. Kemunculan seseorang di bawah ranjang membuat Victoria kembali terkejut dan menarik tubuhnya dan tangannya untuk semakin masuk ke tengah ranjang, tapi Fredrick dengan kuat menggenggam tangan itu.
"Ini aku Vic, tenanglah... ini aku.... tidak akan ada yang akan menyentuhmu"
__ADS_1
"Tapi dia menyentuhku Bash... Dia... Dia terus menyentuhku"
Ucapan dengan tangisan pilu Victoria membuat rasa takut menguar di sekitar ruangan. Menghantarkan teror untuk semua orang di sana terlebih untuk pria yang masih bersujut bahkan sudah menangis, sudah menangisi kematiannya yang bahkan belum terjadi.
Cukup lama kemelut terjadi di sekitar ranjang itu, seluruh fokus Fredrick sekarang hanya berpusat pada Victoria yang tidak ingin keluar dari bawah ranjang dengan keadaan hatinya yang sudah penuh dengan amarah, darahnya sudah mendidih hingga kepalanya sudah siap meledak.
Dengan sangat pelan, seperti baru meraih punggung bayi yang baru lahir, Duchess Argentt menyelimuti punggung Victoria yang sudah muncul separuh untuk melihat ke luar lubang nyawanya. Wajah Fredrick yang berhasil di tangkapnya segera membuat Victoria cukup yakin untuk menerima sentuhan selimut dari tangan Duchess. Pergerakan Victoria cukup tenang hingga ekor mata tidak sengaja melirik wajah penuh air mata Diana yang berdiri mematung menatapnya.
"Tidak! tidak!"
"Tenang Vic sstt ssttt tenang Vic"
Tanpa pikir panjang, Fredrick segera merengkuh tubuh gemetar dan dingin yang akan bergerak masuk lagi ke bawah ranjang. Dengan tidak bisa memikirkan apapun lagi, bahkan tidak menyadari tubuh telanjang Victoria, Fredrick memeluk tubuh rapuh yang sudah banyak menahan beban berat itu. Di tengah semua ucapan penenang yang coba Fredrick berikan, Duchess Argentt segera menyelimut tubuh Victoria kembali, menarik seprai dan menumpuk selimut yang ada di tubuh Victoria.
"Aku ingin pulang, tolong aku Bash... aku ingin pulang"
Dengan mengurai sedikit pelukannya, Fredrick membiarkan tangan Duchess menyelipkan dan menggulung tubuh Victoria. Setelah di rasa tubuh dingin yang terus gemetar di pelukkannya terbalut sesuatu yang cukup tebal. Fredrick menyelipkan tangannya di punggung dan lekukan lutut Victoria, tubuh itu segera melayang terangkat. Dengan tangan terus gemetar dan dingin, Victoria langsung mencengkam lemah baju di dada Fredrick, Victoria langsung menyembunyikan wajahnya saat kembali melihat wajah Diana.
Jeremmy yang tubunya terus menghadap dinding tersentak hingga ikut gemetar saat suara sedingin pengantar kematian Fredrick terdengar
"Ikat dia di luar. kurung semua yang ada di sini kecuali Duke dan Duchess Argentt" Fredrick menatap satu-persatu semua kepala yang tertunduk dengan mata terpejam, lalu menatap tajam Duke Argentt. "Aku harus mendapatkan penjelasan tentang ini. Sekarang juga harus sudah ada dokter dan satu pelayan di depan kamarku"
"Ba-baik Your Highness"
Saat Fredrick sudah melewati pintu, Diana akan ikut melangkah tapi suara Fredrick kembali terdengar
"Termasuk kau"
Dengan pasrah dan dada yang penuh segala perasaan menyesal dan gagal. Diana mengangguk siap untuk menerima kematiannya.
\=\=\=ππππ
Yuk jangan malu-mu buat ninggalin jejaknya... Vote-nya juga kalo berkenan silahkan di sebar...
Maaf ya kl sering di gantungin, soalny kl eike bikin buru2 tu suka kacau bahasannya. Ga buru2 aja masih kacau apa lg buru. Hehee...
Eike tu biasanya nunggu break ato balik kerja bru bikin, makanya jam up nya ga tentu. Sekali lagi maaf ya. Kita jg putus yaa. heheπ
__ADS_1
Salam sayang semuaβ¨