Behind The Castle

Behind The Castle
**'JANJI MANIS'**


__ADS_3

Calista yang sedang menunggu dengan cemas sambil di tenangkan pelayan di keidamannya langsung berdiri saat seorang penjaga Webex langsung masuk ke dalam pintu sambil berlarian panik.


"Bagaimana?"


"Mereka sedang melakukan banding, ini keputusan terakhir tapi, Maaf My Lady....." Penjaga itu memandang Calista dengan mata berkaca-kaca. "Kesempatan sangat kecil untuk menyelamatkan Lord Adam"


"Apa maksutmu menyelamatkan? apa hukuman kurungan yang di ajukan sangat berat?"


Penjaga itu hanya diam dengan mulut bungkam. Calista membuang nafas panjang lalu melirik penjaga lain yang berdiri di depan pintu


"Apa surat balasan dari Fredrick sudah sampai?"


Penjaga itu hanya menggeleng, kembali Calista membuang nafas panjang.


"Berapa lama waktu kurungan yang di ajukan istana?"


Penjaga itu sudah tidak mampu lagi menopang dirinya dan terjatuh ke lantai dengan isakan pelan


---000---


Raja George meneguk obat terakhirnya dengan bantuan pelayannya. Melihat jika Raja George sudah menyelesaikan obatnya, Keelft yang sudah menunggu di samping ranjang mulai membuka mulutnya ketika Raja George mengangguk singkat


"Pengajuan banding di terima, Your Majesty"


Kedua alis Raja George mengerut dalam


"Jadi mereka lolos?"


Sudut bibir Keelft berkedut geli


"Banding untuk kapak eksekusi bukan tiang gantungan, Your Majesty"


Raja George langsung terbahak, seolah lupa dengan keadaannya, yang membuatnya kembali terbatuk bahkan sangat kuat dan itu langsung membuat Keelft menjadi panik.


--000--


"Fredrick!. Oh maaf, maksut saya Your Highness..."


Fredrick yang sedang memantau pembangunan rumah sakit berdecak kesal pada Jeremmy yang tampak sangat panik bahkan terlihat sangat panik berlebihan


"Ada apa? hantu seperti apa yang habis kau lihat Jer?"


Jeremmy masih mengatur nafasnya yang sudah porak poranda, setelah mulai tenang, Jeremmy mulai membuka suaranya


"Satu minggu lalu, Her Highness membuka sidang untuk Baron Adam dan ke lima orangnya"


"Apa?"


Jeremmy yang memahami keterkejutan Fredrick hingga tanpa sadar tangan Fredrick melepaskan batu yang di pegangnya. Kembali Jeremmy menjelaskan dengan pelan


"Semua bukti sangat kuat, semua saksi juga ada dan..... Her Highness mengajukan eksekusi publik"


"Apa?"


Kali ini Jeremmy mengabaikan wajah terkejut Fredrick dan melanjutkan ucapannya


"Dan di terima, tiga hari lagi eksekusi publik akan di laksanakan" Jeremmy menjedah dan mengambil surat yang ada di dalam mantelnya. "Surat dari Lady Calista"


Fredrick yang masih terkejut langsung meraih surat dan membuka dengan terburu-buru.


"Mereka melancarkan ini balas dendam tanpa bertanya padaku dulu!"


Nada Fredrick yang sudah naik satu oktaf tidak membuat Jeremmy gentar

__ADS_1


"Saya harap, anda bisa bijak dan melupakan masa lalu, Your Highness. Sekarang saatnya anda menata masa depan"


Fredrick hanya bisa memandang Jeremmy dengan wajah yang tidak terbaca.


🌺🌺🌺🌺


"Saya ingin bertemu Her Highness!"


"Tidak bisa Lady, Her Highness sedang istirahat"


Calista terus berteriak tidak anggun sambil meminta tujuan kedatangannya di penuhi. Victoria yang sedang berada di ruang kerja Raja George bersama Edward, Carl dan Lucas hanya terus memperhatikan dengan tenang kearah teras istana. Edward yang penasaran dengan tidak tahu diri maju untuk menatap jendela, ingin mengetahui apa yang sedang di perhatikan Victoria


"Ooh dia datang!"


Seruan suara Edward membuat Carl dan Lucas yang juga penasaran, semakin penasaran dan ikut menjadi tidak tahu diri untuk maju ke depan jendela.


"Dia datang"


Carl ikut berseru. Victoria masih menatap ke arah teras istana dengan tenang.


"Berapa lama anda akan membuatnya di sana Your Highness?"


"Hingga otaknya sedikit dingin"


Carl mengulum senyumnya dengan Lucas yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli. Edward dengan santai bersuara


"Anda kejam sekali Your Highness"


"Dan kau tidak lupa jika aku punya janji manis dengan mu kan Ed?" Wajah Victoria tidak bergerak sedikitpun dari depan jendela. Edward tersenyum, terlebih saat suara Victoria kembali terdengar. "Suatu saat, aku akan membunuhmu dengan ke dua tanganku Ed"


"Saya juga saat itu langsung mejawab janji manis anda Your Highness, jika saya akan menunggunya tapi....." Edward mejedah dan kembali memandang jendela, memperhatikan Calista yang sekarang sudah di seret penjaga pintu. "Saya harap, anda bisa menggunakan kegunaan saya dengan baik terlebih dahulu. Saya ingin mengabdi dengan baik pada kerajaan"


Dengan wajah yang terus menatap ke jendela tanpa sedikitpun menggerakkan bola matanya, Victoria menjawab dengan datar


Tanpa bisa di cegah, Edward langsung terbahak


"Mana mungkin Your Highness...."


Carl dan Lucas hanya saling memandang sambil bergindik mendengar pembicaraan tentang janji manis yang di buat dua orang di depan mereka


Victoria yang mulai merasa bosan langsung melangkah dengan tiba-tiba, yang membuat ketiga pria di ruangan itu menatapnya dengan bingung.


"Anda ingin ke mana Your Highness"


Sambil terus melangkah Victoria menjawab dengan datar pertanyaan Lucas


"Kalau dia mati sekarang karna kedinginan, permainan tidak akan seru lagi"


Carl yang sebenarnya terlebih dulu paham tujuan Victoria langsung membukakan pintu lalu mengikuti langkah Victoria. Edward hanya diam dan memilih memantau dari jendela. Sedangkan Lucas, tentu saja akan ikut. Dimana ada Carl, di situ pasti ada Lucas.


"Apa anda butuh benda tajam Her Highness?"


Carl melirik Victoria sambil mengerling menggoda. Victoria menggeleng singkat


"Aku wanita lembut yang tidak suka kekejaman Carl"


"What?"


Lucas yang cukup terkejut dengan jawaban Victoria tidak mampu menjaga mulutnya. Carl yang sudah terbahak kuat, suara tawanya langsung mengisi koridor hingga membuat beberapa pelayan dan penjaga yang berlalu lalang menoleh padanya.


Saat perjalanan mereka sudah di depan pintu istana, pengawal di dalam pintu segera menunduk hormat pada Victoria


"Buka pintu"

__ADS_1


Dengan patuh pengawal langsung membuka pintu. Calista yang melihat pintu di buka langsung kembali berdiri dari semen halaman yang sudah menumpuk salju


"Your Highness!!!"


"Jangan berteriak, aku tidak tuli Lady"


Dengan santai, Victoria semakin ke luar dan menghentikan langkahnya tepat di bawah atap depan teras. Calista yang melihat pergerakan Victoria dengan wajah Victoria yang sangat sombong membuatnya mengeram marah


"Lepaskan ayahku!"


"Dengan alasan?"


"Anda menjebaknya! Anda memfitnahnya!"


"Mana buktimu Lady?"


Calista semakin geram, terlebih karna Carl dan Lucas yang menatapnya dengan pandangan remeh dan menahan geli


"Jelas saja tidak akan ada! anda merencanakan ini dengan Raja!"


"Watchout Lady!!"


Lucas langsung berteriak mengingatkan dan bergerak maju saat dengan tidak tahu diri Calista meneriakan isi pikirannya. Victoria langsung menaikkan satu tangannya ke atas yang membuat langkah Lucas berhenti dengan mulut yang kembali menutup rapat.


Dengan raut wajah datar. Suara datar Victoria kembali terdengar


"Apa hanya ini yang ingin anda katakan Lady?"


"Brengs*k!"


"Benar, Baron Adam memang brengs*k, Lady"


Suara datar dan penuh celaan Victoria yang membalas umpatannya membuat Calista semakin murka


"Anda tidak punya hati Your Highness! bagaimana anda begitu kejam menuduh dan memberikan hukuman yang sangat mengerikan pada ayah ku! Anda tega membuat ku menjadi yatim piatu"


Victoria tidak bisa menahan gelinya dan langsung terbahak anggun. Carl dan Lucas hanya saling melirik, lalu melirik Calista yang wajahnya sudah merah padam


"Apa anda tahu Lady? Saat ayah dan ibuku di bunuh dengan lebih mengerikan di depan wajahku, saat itu aku tidak pernah mengeluarkan kata-kata sepertimu. Kata-kata yang minta di kasihani dan membungkusnya dengan omong kosong" Victoria mengibas-ngibaskan tangannya dengan dramatis dan menyebalkan. "Anda memang men.ye.dih.kan Lady Calista"


Calista yang sudah tidak tahan mencoba maju untuk mendekat pada Victoria, entah untuk memukul atau menerjang wajah Victoria tapi, kedua penjaga pintu langsung menghadangnya lagi yang membuat Calista malancarkan kembali pemikirannya


"Apa Fredrick tahu tentang ini? Aku rasa tidak. Karna jika dia tahu, dia pasti akan mengamuk! Aku dan ayahku adalah...."


"Masa lalu" Dengan suara tenang, Victoria menyambar ucapan Calista sebelum dia menyelesaikan ucapannya yang entah apa. Victoria maju selangkah dan menatap Calista dengan tegas. "Anda adalah masa lalu Lady, dan anda tidak berhubungan dengan masa depannya"


Sambil membalas tatapan tegas Victoria, Calista terkekeh tanpa rasa humor


"Oohh 'Victoria' anda tidak tahu apapun tentang kami, dan aku yakin jika Fredrick tidak pernah menceritakan masa lalu kami kan? Hm?" Calista terbahak kuat, Carl dan Lucas mengeryit melihat Calista yang seperti sudah kehilangan kewarasannya. Calista melanjutkan. "Ikatan kami tidak seringan yang anda pikirkan 'Victoria'. Dia sebagai manusia biasa tidak akan semudah itu melupakan semua hal tentang kami!"


Victoria mengedipkan bahunya acuh, sangat acuh


"Baiklah, aku memang 'belum' tahu apapun, anda benar Lady. Tapi, jika apa yang anda katakan benar jika dia tidak bisa melupakan masa lalu. Maka aku sebagai 'istri' akan memukul kepala 'suami' ku itu Lady, oohh... atau aku akan menedeng kelalanya sekalian?" Victoria berdesis tajam dengan tatapan dingin pada Calista. "Ini janji manisku Lady, setelah ayahmu, aku berjanji akan membuat 'suami' ku sendiri" Victoria menyeringai. "Untuk membunuhmu"


Setelah mengatakan ucapannya, Victoria langsung berbalik untuk masuk ke dalam pintu. Mengabaikan semua teriakan tidak berbobot Calista


Edward yang terus memantau dari depan jendela hanya menyeringai puas dan berguman


"Well... Semoga aku masih berguna saat kau dan Fredrick memiliki anak-anak yang lucu. 'Lady nakal Arathorn'


\=\=\=πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’™


Yukk jejaknya yukkk....

__ADS_1


__ADS_2