Behind The Castle

Behind The Castle
**SO?**


__ADS_3

"Matamu bengkak Vic"


Ini sudah yang ke tiga kalinya Diana mengatakan jika matanya bengkak, padahal tanpa di katakanpun Victoria bisa melihat gumpalan tidak cantik yang membuat matanya seperti habis tersengat lebah.


"Sebenarnya ada apa Vic? kau pulang saat hamping tengah, ku mohon.... ceritakan apapun padaku Vic"


Victoria terus menatap kendepan cermin dengan sesekali melirik wajah Diana yang hampir menangis. Akhirnya Victoria mendesah lelah


"Vic....."


"Jika kau melihat seseorang yang tiba-tiba jatuh cinta pada orang yang punya andil dalam pembunuhan keluargamu, apa kau akan merasa aneh?"


Ucapan Victoria jelas membuat Diana tersentak, meski Victoria tidak menjelaskan secara spesifik tapi, Diana tidak terlalu bodoh untuk memahami siapa arah pembicaraan mereka


"Kau.....????"


"Jawab saja Di"


Hening...... Keheningan memenuhi ruang kamar, Diana berpikir keras dan mengambil sudut segala arah untuk menjawab, tapi dia juga tidak terlalu cerdas untuk menangkap atau memahami perkataan tiba-tiba nonannya.


"Aku bingung Vic"


Victoria mengangguk paham


"Coba katakan dari sudut pandang orang lain"


"Jika dari sudut pandang orang lain aku tidak tahu Vic, tapi, jika itu dari sudut pandangku..." Diana menggigit bibirnya dengan was-was, tapi saat menatap wajah menunggu Victoria dari depan cermin membuatnya mencoba untuk memberi jawaban. "Aku memang tidak pernah jatuh cinta Vic, tapi beberapa novel yang ku baca atau beberapa cerita theater, tidak ada yang aneh, karna cinta bisa tumbuh di mana saja dan kapan saja. Perasaan tidak ada yang bisa mengaturnya"


"Di...?"


"Iya Vic"


"Apa menurutmu His Highness menyukaiku?"


Kali ini Diana tersenyum tipis dan menatap Victoria dengan yakin


"Dari cara dia memandangmu, jelas ada banyak kekaguman dan keinginan untukmu. Itu sama kan dengan rasa suka?"


Victoria menyeringai. Diana yang menatap seringai Victoria bergindik yang entah karna apa.


"Baiklah..."


"Kau menyukai Your Highness Vic?"


Meski kali ini Diana cukup lancang untuk melewati batasnya, tapi pertanyaan itu meluncur saja dari mulutnya. Diana meringis


"Maaf aku ti...."


"Jika ada yang bertanya tentang hal ini padamu. Jawab saja 'iya' Di"


Setelah percakapan dengan topik yang cukup mencurigakan untuk Diana, keheningan kembali melingkari sekeliling mereka. Hingga saat Diana sudah menyelesaikan gulungan rambutnya, Victoria tersenyum manis dan sangat lebar


"Di, ayo kita ke istana barat"


--0000---0000--


Jeremmy terus menuangkan gulungan perklamen dan kertas-kertas yang di ambilnta dari dalam kotak. Di sebelahnya seorang pria malas dengan wajah bosan dan gerakan terpaksa membaca satu per satu perkalamen yang di buka Jeremmy hingga suara ketukan pintu terdengar.


Jeremmy menunggu suara di balik pintu


"Ini Lady Victoria datang, Your Highness"


Ucapan di balik pintu membuat sebuah suara bantingan perklamen ke atas meja. Pria di sebelah Jeremmy dengan isi kepala yang sepertinya sudah lepas segera menegakkan tubuhnya tapi, belum sempat Dia melangkah, Jeremmy segera mengahalanginya.

__ADS_1


"Ini masih menunggu Your Highness"


Dengan tatapan tegas, Jeremmy melirik ke arah kotak dan perklamen-perklamen yang berserakan di atas meja, bahkan berjatuhan ke lantai


"Tidak sopan membuat seorang Lady menunggu Jer, ak...."


"Saya yang akan membukanya, anda silahkan lanjutkan atau saya akan meminta kapten Edward yang menggantikan saya"


Mendengar ucapan Jeremmy yang tersirat ancaman membuat Fredrick mengumpat. Oohh.. dia benar-benar tidak mau bekerja dengan Edward, selain karna Edward akan lebih menyebalkan dari Jeremmy dia juga bodoh. Hingga sekarang dia tetap tidak mengerti kenapa ayahnya betah bekerja dengan Edward.


"Selamat siang Your Highness"


Suara seorang gadis membuat Fredrick mengembalikan fokusnya dan menatap Diana yang menunduk padanya lalu segera melirik ke sebelah Diana. Tempat Victoria berdiri sambil tersenyum tipis menatapi isi mejanya


"Apa aku menganggu?"


"Tentu saja tidak Vic"


"Ekheemm"


Deheman Jeremmy membuat Fredrick melotot padanya, tapi Jeremmy dengan acuh mengabaikan Fredrick dan menatap Victoria sambil menundukkan kepala


"Maafkan saya My Lady, sebenarnya His Highness sedang bekerja"


"Tidak ini sudah selesai"


"Kami baru memulai My Lady"


"Tidak Vic, Jeremmy hanya bercanda, ini semua sudah selesai ku periksa"


Satu alis Victoria menukik tinggi dan menatap dua orang pria yang sedang berdebat dan masih berdebat. Hingga Victoria melangkah maju dan meraih satu gulungan perklamen di atas meja dan membacanya


Fredrick dan Jeremmy segera menutup mulut mereka saat melihat Victoria yang tampak sedang berpikir dengan tangan yang memegang perklamen


"Hhhmm yaa..."


Jawaban singkat Fredrick membuat Victoria meraih satu lagi gulungan


"Laporan fasilitas rumah sakit?"


"Iya..."


Jeremmy dan Diana saling melirik saat kembali Victoria mengangkat satu perklamen


"Aaahh... evaluasi setelah penarikan pangan dari Duchy...." Victoria melirik Fredrick yang raut wajahnya sekarang sudah menjadi serius. "Duchy Albany...."


"Benar"


Dengan arah pandang yang sudah serius dan jawaban yakin, Fredrick mencoba memahami raut wajah Victoria yang terkesan ramah, bahkan sangat ramah.... Sepertinya sebentar lagi dia akan tersenyum lebar dan manis


"Sepertinya kau kesuliatan Bash"


Victoria tersenyum lebar dan sangat manis yang membuat Fredrick segera waspada. Dia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


"Aku akan membantumu"


Suara kekehan geli Fredrick segera memenuhi ruang kerjannya. Jeremmy dan Diana kembali saling pandang tanpa mengarti situasi apa yang di lihatnya sekarang.


Dengan tidak tahu malu, Victoria segera duduk di kursi sebelah Fredrick, dengan cepat dan dengan bibir tersenyum manis yang tidak bisa di bantah. Akhirnya Fredrick mengangguk dan meminta Diana untuk membuatkan teh mereka.


Teh sudah terhidang. Jeremmy, Fredrick dan Victoria sudah duduk di depan meja panjang berantakan ruang kerja Fredrick. Setelah melihat semua siap, Jeremmy mulai mejelaskan apa yang sedang mereka lalukan. Fredrick menunjuk Victoria untuk menjadi juru tulis dan mencatat segala ucapan dua pria di depannya. Karna sudah terlalu lama tidak menulis, pada awalnya tangan Victoria terasa kaku tapi setelah itu dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Selain mencatat di atas kertas, Victoria juga mencatat segala hal penting di dalam otaknya.


Tidak terasa langit mulai menggelap, mereka belum juga menyadarinya hingga seorang pelayan datang mengetuk kamar Fredrick untuk menanyakan menu makan malam Fredrick.

__ADS_1


"Sudah hampir malam Vic"


Sambil memijat pelan tangannya Victoria mengangguk singkat.


"Kau benar Bash, aku harus kembali"


"Kenapa kembali?"


Ucapan Fredrick membuat Jeremmy menghentikan gerakan merapikannya dan mentap Fredrick penuh selidik. Victoria menggerling


"Memangnya, aku harus berapa lama lagi di sini?"


Gerak gerik Victoria membuat Fredrick ikut mengerling menggoda sambil menatapnya dengan panas


"Besok pagi?"


Diana yang mendengar dan melihat dua pasangan di depannya hanya bisa berdoa, berdoa yang entah untuk apa. Jeremmy semakin mempercepat tangannya dengan memasang telinga lebar-lebar.


"Besok pagi ya... hhmm..."


Suara lembut dan gerakan pelan Victoria membuat Fredrick meneguk ludahnya, bahkan Victoria membalas tatapannya dengan tidak kalah panas.


"Benar besok pagi"


Sambil mengangkat tubuhnya dengan anggun, Victoria berjalan anggun mengitari pinggiran meja dengan arah pandang yang menatap Fredrick lekat


"Tapi pekerjaan sudah selesai Bash..."


Fredrick menyeringai


"Kita bisa membuat perkerjaan lain"


Braakk!


Bunyi keras kotak perklamen di tutup membuat Fredrick terbahak yang di susul gelak tawa Victoria. Masih di sisa tawanya, Fredrick menatap Jeremmy


"Jangan telalu serius Jer"


Victoria mengangguk pada Jeremmy seolah memberikan keyakinan. Lalu kembali bersuara.


"Bash, aku ingin mengatakan sesuatu"


Jeremmy yang paham segera mengangkat kotak dan pamit, sedangkan Diana sudah menjadi pohon kokoh yang tidak akan pernah bisa di geser dari tempatnya sekarang bediri. Dia tidak akan pernah membiarkan seekor kelinci masuk ke dalam kandang singa kelaparan. Dan semua keteguhan Diana terlihat jelas di mata Victoria. Victoria tesenyum hangat


"Di...."


"My Lady tolong...."


Wajah memelas dan khawatir Diana membuat Victoria mendekat padanya


"Aku hanya sebentar. Ini hal penting Di, dia..."Victoria melirik Fredrick yang menyeringai. "Dia tidak akan menggigit. Iya kan Bash?"


"Tentu saja"


Jawaban dramatis Fredrick membuat Diana semakin tidak yakin tapi, setelah Victoria membisikkan sesuatu. Diana mengangguk dan pamit ke luar dengah terpakasa.


Setelah Diana menutup pintu, Fredrick langsung mendekat pada Victoria. Terus mendekat hingga membuat Victoria terus memundurkan langkahnya ke belakang dan terpojok di pinggi meja


"Jadi... apa yang ingin di bicarakan tunanganku ini?"


\=\=\=💚💚💚💚


Yuk jejaknya jangan lupa di tinggalin...

__ADS_1


Salam sayang semua ✨


__ADS_2