Behind The Castle

Behind The Castle
**NOT TODAY**


__ADS_3

Victoria semakin mengeratkan pegangannya pada tiang ranjang saat tangan Diana menarik satu demi satu tali korsetnya, merasa semakin tidak tahan akhirnya Victoria membuka suara


"Apa masih belum Di?"


Tanpa menjawab Victoria, tiap tarikan yang di lakukan Diana sudah cukup menjawab pertanyaan Victoria hingga beberapa saat akhirnya tarikan selesai dan suara gesekan kain membuah Victoria melepaskan pegangan tangannya, dengan cekatan tangan Diana memasang dalaman akhir Victoria hingga saatnya memakai gaun.


Victoria mengangkat satu persatu kakinya saat Diana sudah berlutut di bawah kakinya, dan menahan nafas ketika Diana menarik ke atas gaun pilihannya untuk hari ini. Diana memutar bahu Victoria untuk memasang kancing gaunnya.


"Selesai... ayo duduk Vic"


Dengan malas Victoria melangkah ke depan meja rias dan mendaratkan bokongnya. Diana mulai memilih pewarna wajah dan semua kebutuhan terbaik untuk wajah nonannya siang ini. Saat semua kebutuhan sudah pas, Diana memulai aksinya. Seperti biasa, saat Diana mulai mengerjakan sesuatu untuk tubuh dan wajah Victoria, mulut Diana akan terkunci rapat, Victoria yang sudah ribuan kali merasakan tangan piawai Diana hanya diam dan mempercayakan semuanya pada Diana.


Tidak lama untuk Diana memoles wajah manis nonannya dan mulai menyisir rambut Victoria. Diana mulai menyisihkan semua jepitan yang di perlukan dan setelah kubutuhan pas, Diana kembali beraksi.


"Selesai Vic"


Dengan cepat Diana mengambil cermin kecil dan memasang di belakang kepala Victoria


"Bagaimana?"


"Sempurna seperti biasa"


Diana tersenyum bangga dan segera membuka kotak perhiasan abu-abu Victoria, perhiasan dari berlian Albany.


"Yang mana Vic?"


"Tidak perlu kalung, pakai anting saja, ambilkan kalung dengan liotin sapphire"


Diana berpikir sejenak dan menatap wajah Victoria dari depan cermin


"Kalung dari His Highness?"


Victoria mengangguk dan Diana segera menarik laci, membuka kotak kecil perhiasan.


Setelah aksesoris selesai, Diana menyisihkan sarung tangan pilihan Victoria.


"Sarung tangan Vic"


Victoria meraih sarung tangan itu dan meletakkannya di pinggiran kursi


Setelah semua selesai, dengan cekatan, Diana membereskan segala hal yang sudah berhamburan yang tadi di gunakan untuk membuat nonannya sempurna. Victoria segera berdiri di depan cermin panjang untuk melihat keseluruhan dirinya.




"Apa ada yang kurang Vic?"


Dengan senyum puas Victoria menggeleng menatap Diana dari depan cermin dan mulai memakai wewangiannya


TOK TOK TOK


Mendengar suara pintu di ketuk tidak hanya membuat Grey yang langsung menggonggong tapi Victoria juga segera melangkah dengan bingung, karna siapa orang yang ada di balik pintu.


Saat pintu di buka, senyum tampan seorang pria segera menyambut Victoria

__ADS_1


"Hai... manis"


"Bash?"


Fredrick terkekeh melihat wajah bingung Victoria dan segera menatap penampilan Victoria dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, terus berulang hingga Victoria membuka suara


"Ada apa?"


Suara Victoria akhirnya membuat Fredrick tersadar dan kembali menatap wajah Victoria dengan mata berbinar


"Kau manis dan cantik"


"Terimakasih... lalu?"


Sambil mengusap tengkuknya Fredrick berdehem beberapa kali hingga kedua bola mata abu-abunya kembali tidak melepaskan pandangan ke wajah Victoria


"Aku akan mengantarmu ke jamuan"


Walau merasa aneh tapi Victoria tetap mengangguk dan melirik ke dalam kamar saat Diana sekarang masih menata kotak-kota dan alat riasnya


"Boleh tunggu sebentar? Diana belum selesai"


"Tentu saja"


--000--000--


Aroma wangi segar bunga azela dan sedikit manis dari Vanilla membuat Fredrick berulang kali meneguk ludahnya, terlebih sentuhan ringan Victoria yang berada di lengannya, demi tahta ayahnya! Fredrick benar-benar ingin menyeret Victoria ke sudut sepi sebuah ruangan untuk segera memilikinya. Merasa pikirannya semakin gila, Fredrick menggelengkan kepalanya dengan kuat dan tanpa dia sadari jika Victoria sedang mengamati kelakuan anehnya. Fredrick meringis malu saat Victoria menatapnya dengan bingung


"Kau sehat Bash?"


"Sebenarnya tidak"


"Jika sakit kau tidak perlu menjemput dan mengantarku"


Dengan memasang wajah memelas dan mata yang di sayu-sayukan Fredrick menatap Victoria


"Aku ingin melihatmu sebentar sebelum kembali bekerja"


Victoria mengeryit


"Kalau sakit jangan bekerja dulu, istirahatlah Bash"


Yang entah karna apa, Fredrick merasakan sebuah perasaan yang merayap di dalam dada hingga membuat darahnya berdesir


"Apa kau khawatir padaku?"


Dengan menyipitkan matanya, Victoria menatap Fredrick penuh selidik


"Kau bohong kan?"


"Iya"


Jawaban cepat, tepat dan tidak tahu malu Fredrick membuat bibir ranum Victoria melengkung. Fredrick yang melihat senyum itu segera memutar tubuhnya ke depan tubuh Victoria.


Fredrick menatap kebelakang sambil memutar matanya ke samping dengan tajam, yang langsung di mengerti ke duanya orang di belakang punggung Victoria, Jeremmy dan Diana segera memutar tubuh mereka.

__ADS_1


"Ada apa?"


Dengan perasaan yang menggebu, keinginan yang bergelora serta dada yang berdesir Fredrick menatap lekat kedua bola mata Victoria


"Tolong... beri aku satu ciuman"


"Apa?"


Dengan bermodalkan naluri dan keinginan menggebunya, Fredrick menangkup wajah Victoria yang datar tapi, terlihat waspada


"Aku benar-benar ingin menciumu Vic, tolong aku..."


"Sekarang?"


Fredrick meneguk ludahnya dengan kasar dan segera mengangguk yakin penuh antusias


"Baiklah"


Jawaban tidak terduga Victoria membuat genderang di kepala Fredrick berbunyi, segala pikiran liar dan harapan buasnya bangkit hanya dengan kata 'baiklah' acuh dan santai Victoria


"Kau yakin?"


Dengan yakin Victoria mengangguk


"Menunduklah sedikit dan berikan pipimu"


Ok! genderang kepala Fredrick mencelos jatuh tergantikan dengan rasa kecewanya yang segera melambung tinggi


"Aahh yaahh pipi... di pipi..."


Dengan sekuat tenaga Victoria menekan tawanya hingga tangannya terkepal, terlebih karna melihat kilapan kobaran api di kedua bola mata abu-abu Fredrick yang sempat terlihat semakin terbakar setelah kata 'baiklah', tapi langsung padam seketika setelah kata 'pipi'


Tidak hanya Victoria yang ingin menertawakan kekecewaan Fredrick tapi, Jeremmy dan Diana sudah menekan mulut mereka dengan tangan agar tidak meledakkan suara terbahak mereka.


Dengan perasaan kecewa yang melayang-layang di dadanya, Fredrick menundukkan sedikit kepalanya, Victoria yang masih menahan tawa, berusaha lebih keras lagi untuk menekan segala hal yang menggelitiknya agar tidak meledakkan tawanya.


Satu ciuman lembut tapi cukup lama mendarat di pipi kanan Fredrick, ketika Victoria pikir semua akan berakhir, dengan cepat tangan Fredrick menarik pinggang Victoria dan menahannya yang membuat tubuh mereka menempel dan jarak wajah mereka hanya di batasi dengan hidung


Fredrick menekan sekuat tenaga keinginanya hingga tanpa sadar batinnya mengucapkan doa yang entah kepada siapa. Dengan semakin menipiskan jarak di wajah mereka, Fredrick memiringkan sedikit kepalanya sambil mengunci tatapan mata mereka hingga tatapan tidak terbaca Victoria membuat Fredrick merubah rencana dan menggeser sedikit kesamping bibirnya, untuk mendaratkan sebuah kecupan ringan tapi penuh arti di pipi Victoria.


Fredrick melepas tangannya dari pinggang Victoria dan menatapnya lekat, satu tangannya naik ke wajah Victoria, jempol Fredrick mengusap ringan dan lembut bibir ranum yang sangat ingin di pangutnya dengan keras dan liar tapi, untuk sekarang Fredrick hanya bisa mengusap dan menekan pelan bibir itu di jarinya, merasakan tekstur halus dan kelembutan bibir itu di indra peraba jarinya


"Mungkin bukan hari ini"


Fredrick tersenyum hangat saat seburat merah di pipi Victoria muncul, selain karna warna itu membuat Victoria semakin menggemaskan, tanda itu juga membuat Fredrick sedikit lega, itu bukti yang menunjukkan jika Victoria normal dan menganggapnya dirinya seorang laki-laki, bukan kuda.


Victoria masih diam tidak bergeming saat tangan Fredrick akhirnya pergi dari wajahnya, rasa malu yang entah karna di goda? atau karna di lihat para pelayan dan pengawal? membuat pipinya panas.


"Ayo"


Dengan mengangguk dan menggamit siku Fredrick yang sudah di sodorkannya, Victoria melangkah pasti untuk keluar pintu taman belakang istana, dimana mungkin akan terjadi pertempuran menyebalkan, dan pemikiran itu cukup untuk membuat Victoria segera mengembalikan wajah datarnya, sangat datar hingga Fredrick yang melihat perubahan langsung wajah itu menyeringai bangga dan terpesona. Tunangannya siap berperang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebenernya pas buat ini eike senyum-senyum sendiri, poor Fredrick. Lol

__ADS_1


Tolong jangan lupa tekan tombol like, komen, bintang dan lope-nya yaa


Salam sayang semua✨


__ADS_2