
Semua rencana telah rampung dari beberapa minggu yang lalu. Rencana untuk pernikahan besar yang akan tercatat dalam sejarah Francia bahkan eropan. Mahar pernikahan yang di berikan dari pihak perempuan telah berada di tangan kerajaan. Perjanjian kerja sama antara Albany dan kerajaan yang sudah beratus tahun terputus akhirnya kembali lagi dengan pernikahan ini.
Jejalanan dan pepohonan semakin memutih, suhu udara semakin mendingin, bahkan mereka sudah harus memakai mantel untuk sekedar keluar pintu.
Sebenarnya musim salju sedikit membuat Victoria khawatir untuk melakukan pernikahan tapi setelah mendengar penjelasan kakaknya dan tunangannya, Victoria bisa sedikit tenang terlebih setelah Albany memberikan bantuannya untuk pengeluaran biaya pernikahan. Biaya pernikahan di musim salju akan lebih besar untuk renovasi jalan dan semua biaya itu tentu akan di peras dari biaya pajak rakyat. Hal itulah yang membuat Victoria tidak nyaman dan karna itulah, Victoria semakin menekankan diri dan membualatkan segala tekatnya untuk secepatnya duduk di atas tahta, dengan atau tanpa langsung memakai mahkota ratu. Victoria harap, secepatnya rencana yang di buat tunangannya segera terlaksana.
Sambil menilai tiap sketsa gaun, Victoria melirik sketsa pilihan Fredrick untuk setelan baju pernikahannya
Mewah, berkelas dan elegant adalah nama yang di berikan Victoria untuk gambaran setelan pilihan Fredrick dan akan menjadi luar biasa jika setelan itu menempel di tubuh jantan dan panas Fredrick
"Bagaimana Lady Vic?"
Suara madam Lailah membuat Victoria kembali menatap sketsa-nya dan memberikan pilihan gaunnya pada madam Lailah.
"Ohh... ini akan sangat cocok untuk anda Lady Vic. Sebentar, saya akan memerintahkan asisten saya untuk mengambil gaun itu di kereta ya"
Dengan centil dan dramatis, madam Lailah mengedipkan satu matanya dan langsung berbicara dengan nyaring tapi lucu pada para asisten-nya. Victoria melirik Diana yang tampak terus menatap kertas sketsa di tangannya. Victoria yang mengerti jika Diana penasaran segera menyodorkan kertas itu.
Diana langsung tersenyum dan mengangguk
"Itu cantik My Lady..."
Cukup lama madam Victoria menunggu gaunnya yang ternyata harus di jemput dulu ke toko madam Lailah di ibu kota. Hingga tiga orang asisten pria madam Lailah datang dengan membawa buntalan kain dengan sangat hati-hati
"Sudah tiba! ok ok ok ok.... ini akan menjadi gaun bersejarah boys... hati-hati dengan gaun itu!"
Suara melengking dan dramatis madam Lailah membuat Victoria tersenyum tipis dan segera berdiri dari kursinya
"Apa kita bisa langsung mencobanya Lailah?"
"Absolutely iyess My Lady! saya akan ikut membantu anda... Woaahh lihatlah ini akan sangat bagus untuk anda"
Diana segera mengikuti langkah Victoria sambil membawa kotak beludru berwarna hitam. Dengan cekatan madam Lailah, Diana dan tiga orang asisten wanita madam Lailah segera membantu melicuti gaun yang di kenakannya sekarang dan memasangkan gaun pengantin pilihannya.
Setelah gaun selesai melekat pada tubuh Victoria. Para asisten segera menarik lebar ujung gaun yang panjang.
"Tiara ku Di.."
Diana segera mengangguk dan membuka kotak beludru berisi Tiara serta lengkap dengan perhiasan turun temurun untuk seorang mempelai putra mahkota kerjaan Francia
Setelah Diana menggeser dan mengeluarkan isi kotak. Madam Lailah berteriak
"Holly Heaven!!! Sebuah kehormatan saya bisa melihat dan membantu memasangkan Tiara kerajaan ini My Lady... Terimakasih banyak"
Dengan mata berbinar, Madam Lailah terus memandangang tiara dan perhiasan milik kerajaan itu. Tidak jauh berbeda dengan Diana yang tidak bisa melepas arah pandangnya pada obyek indah yang baru di keluarkannya
"Mutiara terbaik dan termahal dari perairan negara di asian" Victoria meraih kalung ke kedua tangannya dan melanjutkan ucapannya sambil meraba butiran mutiara. "Sounth Sea Pearl dari perairan negara Indonesian"
"Sangat indah My Lady"
Madam Lailah mengangguk dan memimpali ucapan Diana
"Sangat cantik"
__ADS_1
Victoria tersenyum sambil memberikan kalung ditangannya. Diana, Madam Lailah dan para asisten langsung bergerak memasangkan perhiasan. Tangan Victoria kembali meraba kalung yang baru menggantung di lehernya
"Di patri dengan emas putih dari Tanzania"
"Dan di padukan dengan berlian putih Albany"
Madam Lailah menimpali ucapan Victoria sambil memegang tiara di tangannya dengan sedikit gemetar. Bibir Victoria berkedut geli melihat bagaimana gugupnya madam Lailah memegang tiara kerajaan itu.
Melihat tangan madam Lailah yang sudah melayang di udara, Victoria sedikit menekuk kakinya agar mempermudah madam Lailah memasangkan Tiara di kepalanya.
Setelah semua selesai, asisten madam Lailah segera menggeser kaca-kaca besar untuk mengelilingi tubuh Victoria.
Victoria menatap penampilannya lalu mengerutkan sedikit alisnya.
"Vail ku belum terpasang Lailah"
"Si altar nanti, anda akan memakai Vail di depan atau di belakang Lady?"
Madam Lailah mengerling menggoda sambil tersenyum genit dan mencolek dengan centil tangan Victoria. Victoria terkekeh geli
"Aku masih perawan Lailah... tentu saja tudungku nanti akan di depan, menutupi seluruh wajah dan kepalaku"
"Tidak mungkin! Bagaiman bisa!!!"
Sambil tersenyum geli Victoria melirik Diana yang sudah terkekeh karna melihat pergerakan dan teriakan dramatis madam Lailah
"Apanya yang tidak mukin Lailah?"
Madam Lailah medengus kasar
"Tantu saja aneh jika anda masih perawan.. Demi sutra terbaik Ross! His Highness Pangeran Fredrick itu sangat sexy dan panas lagi pula kalian tinggal berdekatan.." Kembali madam Lailah mencolek genit lengan Victoria sambil mengerling. "Bagaimana caranya seorang gadis normal tahan akan godaan wajah panas dan tubuh sexy itu terlebih kedua bola mata abu-abunya yang... uuhh.. lalu senyum mautnya yang uhh lala... itu?"
"Mungkin aku memang tidak normal Lailah"
Suara gelak tawa segera mengisi isi ruangan. Bahkan Diana terbahak hingga wajahnya memerah karna geli
Setelah Vail di pasang di belakang kepala dan semua benar-benar selesai. Victoria melirik tampilan samping tubuh dan gaunnya
"SEMPURNA!!! AKU MEMANG JENIUS! ANDA MEMANG SANGAT MANIS LADY VIC!!"
Victoria ikut merasa puas dengan gaun dan tampilannya lalu menatap madam Lailah yang masih bertepuk tangan.
"Bagaimana dengan setelan Arthur Lailah?"
"Oohh wait... saya ambil dulu gambarnya" Madam Lailah segera membongkar kotak sketsa-nya. "Minggu lalu, His Grace Arthur bertanya tentang warna yang anda inginkan untuk gaun anda yang hampir jadi setelah hampir dua bula penuh kami buat. Lalu dia memilih setelan ini..."
Victoria segera meraih kertas sketsa dan menatap gambar sambil tersenyum
"Putih..."
Madam Lailah mengangguk
"His Grace yang akan mengantar anda ke depan altar memilih paduan warna yang sama dengan warna gaun anda"
"Kau memang jenius Lailah"
__ADS_1
Dengan dagu terangkat sambil mengibas-mengibaskan tangannya Madam Lailah tersenyum sombong
"Tentu saja... Siapa yang tidak tahu siapa saya My Lady"
Diana yang juga melihat setelan untuk Arthur mengangguk setuju sambil tersenyum pada Victoria dan madam Lailah
"Gaun lain yang ku pesan Lalilah?"
Diana menatap Victoria penuh tanda tanya, lalu menatap Madam Lailah yang mengedipkan satu matanya pada Diana sambil menyodorkan kertas sketsa gaun pada Diana
Dengan bingung, Diana meraih kertas dan menatap gambar. Kedua mata Diana membulat sambil menutup mulutnya setelah mengerti maksut dari kertas yang di berikan padanya
"My Lady... ini...."
"Untukmu nanti saat pemberkatanku"
Dengan kedua bola mata yang siap meluncurkan air mata haru, Diana menggeleng kuat
"Saya tidak pantas My Lady... ini terlalu berkelas dan mahal untuk saya. Ini terlalu mewah dan cantik untuk saya"
Victoria tidak menerima penolakan Diana dan langsung menatap dua asisten Madam Lailah
"Bisa bantu Lady Diana untuk memakaikan gaunnya?"
Dua asisten itu segera melirik Madam Lailah yang tersenyum sambil mengangguk
"Ambil di kotak nomer tiga"
Perintah madam Lailah segera di kerjakan para asistennya yang langsung membawa gaun dengan hati-hati ke depan Diana. Diana kembali menolak bahkan hingga memundurkan kakinya menjauh dari dua asisten yang membawa gaun di depannya
"Tidak My Lady... saya tidak bisa"
"Bantu Lady Diana memakaikan gaunnya. Aku ingin melihat"
Kembali Victoria tidak memerima penolakan Diana dan mengabaikan Diana yang terus menatapnya dengan memelas sambil tubuhnya yang sudah sedikit di seret ke dalam bilik tempat memasang gaun. Setelah Diana dan dua asistennya hilang dari arah pandang mereka, Lailah menatap Victoria.
"Anda sangat baik My Lady... Seandainya mereka tahu tentang anda yang sebenarnya.." Madam Lailah membuang nafas panjang dengan raut wajah sendu. "Mereka pasti akan berpikir berulang kali saat menggunjing anda dengan rumor-rumor kejam itu. Rasanya saya ingin memukuli mulut-mulut mereka! saya sangat kesal!"
Sambil tersenyum tipis dan meraba tiara di atas kepalanya, Victoria melirik madam Lailah dari depan cermin dengan isi kepala yang hanya dia yang tahu.
Tidak lama pintu bilik terbuka, dua asisten madam lailah masih sedikit menyeret Diana yang sudah mengenakan gaun lengkap dengan topinya.
Victoria tersenyum
"Kemarilah Di.. melangkahlah dan tegakkan bahumu seperti seorang bangsawan pendampingku yang terhormat"
Ucapan Victoria membuat Diana langsung menegakkan bahu dan punggungnya sambil berjalan dengan anggun layaknya Lady bangsawan dan berdiri di depan kaca
"Terimakasih My Lady... Ini gaun dengan bahan terbaik dan sutra terbaik yang pernah saya pakai"
Diana langsung menekuk sedikit lututnya dan kedua tangannya menarik sisi gaun. Memberikan salam seorang Lady bangsawan untuk Victoria. Seorang gadis yang dalam beberpa hari lagi akan menjadi seorang Putri karna mendampingi Putra Mahkota kerjaan Francia
\=\=\=💚💚💚💚
Karna susah nyari sketsah tempoe doeloe, kd eike pakek pict jaman sekarang aja ya. Semoga bisa memperjelas kehaluan kita semua. hehhehe
__ADS_1
Tinggalin jejaknya jangan lupa
Salam sayang semua✨