Behind The Castle

Behind The Castle
**SHE IS OUR PRINCESS**


__ADS_3

"Anda tahu apa tentang dunia ini Your Highness! kami ini orang-orang yang sudah mengabdi pada kerajaan dari nenek moyang kami. Bukan 'anak kemarin sore' yang baru mendapatkan gelar"


Carl hampir saja maju untuk membalas ucapan kurang ajar ayahnya. Guratan kebencian langsung tergaris di wajahnya. Victoria dengan tenang menghalangi Carl dan langsung berdiri dengan anggun dari kursi. Kedua bola mata yang sudah berkilap tegas itu menatap semua wajah bergantian


"Saya memang hanya 'anak kemarin sore' yang baru mendapatkan gelar"


"Maaf Your Highness ka...."


"Tidak Marquess, ini memang kenyataan dan saya terima itu tapi, apakah anak kemarin sore ini dan gelar yang baru saya sandang sekarang bukan berasal dari orang-orang hebat yang terpilih?"


Bagai besi panas yang di rendam dalam air, Carl yang tadinya hampir meledak marah langsung menjadi tenang kembali dengan bibir berkedut ingin tersenyum dan langsung menarik kursi penontonnya dengan tenang.


Wajah-wajah pria di atas meja tampak menjadi salah tingkah dan tidak nyaman. Duke Kendal hanya diam dan terus menatap Victoria dengan keras kepala


"Jadi, tidak ada yang ingin menjawab saya? atau harus saya yang harus menjelaskan. DARAH SIAPA SAJA YANG MENGALIR DI DALAM TUBUH SAYA DAN SIAPA SAJA NAMA CALON RATU YANG SUDAH MENDUDUKI TEMPAT saya sekarang para gentlemen?"


"Kami paham Your Highness Putri Victoria. Maafkan ketidak sopanan kami terlebih ucapan Duke Kendal yang sudah menyinggung anda"


Seorang pria paruh baya langsung berdiri dan membungkuk hormat lalu di ikuti oleh sebagian besar gentlemen termasuk Duke Argentt, Marquess Minchias dan Eael Xenas. Victoria tersenyum culas dan kembali duduk di kursinya yang langsung di ikuti para gentlemen yang berdiri untuk duduk kembali


"Saya juga minta maaf karna terbawa emosi. Seperti yang kalian tahu, saya masih berbau kencur yang butuh pengalaman dan bimbingan dari kalian semua. Para orang-orang terhormat kerajaan terlebih orang-orang penting di istana"


Wajah-wajah di sana tampak semakin tidak nyaman dan hanya bisa menunduk. Menyadari jika keadaan mulai tenang, Victoria mulai membuka suaranya kembali.


"Mungkin kalian mempertanyakan semua rencana yang saya buat. Saya akan menjelaskan dengan garis besarnya dan saya ingin tidak ada yang memotong ucapan saya"


Marquess Mincheas mengangguk sambil menatap Victoria. Victoria balas mengangguk singkat dan memulai penjelasannya

__ADS_1


"Maksut dari semua rencana itu adalah, saya ingin sebuah kerja keras dari tangan kita sendiri. Kita tidak bisa terus bergantung dan mengandalkan orang lain, terlebih terus meminta. Jadi, isi perkamen yang ada di tangan Duke Kendal, sebagai langkah awal berisi. Kita akan mengirim orang-orang dan petani untuk membuat ladang kita sendiri di Duchy dengan ijin Duke Arthur. Saya tidak suka kemalasan, dan kerajaan ini terlihat sangat malas padahal kita bisa mengandalkan diri kita sendiri. Saya selalu mengingat ucapan mendiang Duke Arathorn, Ayah saya pernah berkata; Jika kau ingin makan, maka bekerjalah. Jika kau ingin kaya, makan bekerja keraslah. Jika kau ingin menjadi sangat kaya maka gabungkan semuanya dan siaplah untuk berkorban...." Victoria menjedah untuk menyesap cangkir tehnya dengan anggun. Lalu kembali melanjutkan saat tenggorokannya sudah kembali basah. "Petani di ibu kota hampir tidak ada, tapi di wilayah lain ada karna apa? ibu kota sudah terlalu lama di manja dengan pemberian dan sumbangan tanpa membimbing mereka untuk bekerja sendiri, menghasilkan sendiri. Memang benar jika semua itu di picu karna tanah di ibukota dan sebagian besar wilayah yang tidak subur yang menjadi penyebab utamanya, tapi sekarang, Albany sudah bekerja sama. Bukankah itu sebuah jalan untuk kita agar bisa berubah bukan? atau kita hanya ingin terus seperti ini?"


Melihat jika keadaan semakin hening dan serius, Victoria melirik Marquess Mincheas dan Earl Xenas yang mengangguk. Lalu melanjutkan


"Untuk perkamen yang ada di tangan Duke Argentt, itu berisi rencana selanjutnya. Saat kita sudah mengirim orang-orang dan petani ke Albany, mereka akan belajar di sana bagaimana cara menghasilkan yang baik dan benar. Percayalah pada saya, jika orang-orang Albany lebih rela mati dari pada harus di bawa keluar dari Duchy Albany terlebih dengan alasan untuk di libatkan membantu kerajaan. Karna itu, kita hanya bisa mengandalkan orang-orang yang kita tanam di sana untuk menjadi pembimbing petani di sini, di ibu kota ataupun daerah lain. Bahkan di Duchy Argentt.." Victoria membalas senyum tipis yang langsung di berikan Duke Argentt saat Duchy-nya di sebutkan Victoria dengan nada ramah. "Musim di semua kerajaan sama, udara yang semua orang hirup di seluruh kerajaan sama, sinar matahari, air hujan yang di berikan dari atas langit juga sama untuk seluruh kerajaan berarti, yang menjadi masalah adalah tanah. kita coba dengan membawa tanah terberkati Albany ke sini. Kita bisa membuat puluhan bidang tanah Albany di sini untuk menam dan menyimpan hasilnya. Ini bukan hanya rencana omong kosong, saya pernah membaca sejarah pertanian kerajaan di daerah benua timur yang gersang. Dan cara inilah yang mereka pakai dengan hasil yang cukup memuaskan untuk mereka"


Marquess Mincheas mengangguk paham pada Victoria. Victoria yang melihat kepala terangguk itu melanjutkan


"Dan, untuk perkamen yang terakhir. Saya tadi sudah menjaskannya dan garis besarnya adalah. Saat wilayah barat sudah bisa di ajak bekerja sama, kita akan melakukan hal yang sama di sana dengan menggunakan orang-orang mereka sendiri. Kita bisa tinggal meraih tiga hasil sekaligus. Pertama hasil pangan, ke dua kemajuan daerah itu dan yang ke tiga adalah hubungan kepercayaan mereka yang akan semakin kuat pada kita"


Setelah Victoria mendeklarasikan rencanannya, rapat di tutup dengan kebungkaman semua peserta penting di sana. Victoria dengan cepat langsung ke luar ruangan itu. Kurangnya istirahat dan tekanan di dalam ruangan itu membuatnya pusing dan mual. Demi tanah Albany! Victoria seorang perempuan yang baru berusia tujuh belas tahun jika semua orang lupa.


Carl yang menyadari jika Victoria tidak sedang baik-baik saja langsung menyarankan untuk beristirahat tapi, Victoria menolak dan memilih untuk langsung ke kamar Raja George tanpa ingin di temani. Meski Carl tidak setuju tapi, mengingat kembali jika tadi sebelum keluar ruangan ayahnya, Duke Kendal mengajak untuk bertemu. Carl hanya mengangguk pasrah dan membiarkan Victoria.


"Jadi kau sekarang bertugas untuk menjadi anjingnya Carl?" Suara Duke Kendal membuat Carl hanya menatapnya dengan dalam. Duke Kendal melanjutkan. "Tetaplah pada kiblatmu Carl. Dia tidak pantas untuk menerima pengabdian dari Calhount. Kita adalah orang-orang Raja dari dulu hingga sekarang"


"Karna itu kalian membuat anak haram?"


"Apa maksutmu Carl?"


Kedua tangan Carl terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih


"Maksut saya jelas Your Grace, setiap Calhount selalu memiliki anak haram yang akan di kirim menjadi 'anjing' para Raja kerajaan, itulah maksut dari kehidupan kami kan?"


"Carl!"


"Tapi sekarang, setelah ucapan anda ini. Saya semakin yakin untuk lepas dari kegunaan kenapa kami bisa di buat"

__ADS_1


"Apa-apaan kau ini Carl!"


"Saya tidak akan mengikuti lagi tradisi dan nasip yang di buat Calhount"


Duke Kendal dengan wajah memerah karna menahan kemarahan tersenyum culas


"Kau pikir siapa dirimu Carl, jika kau lahir dari benih bangsawan lain. Kau tidak akan bisa seperti ini"


Carl tersenyum getir


"Benar sekali. Itulah tujuan kalian membuat anak haram di setiap generasi Calhount. Kalian ingin tetap terjalin baik dengan kerajaan, terikat menjadi anjing Raja dengan menyerahkan kami sebagai persembahan"


"Waahh.. wanita itu benar-benar berbahaya ternyata" Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa tanpa rasa humor Duke Kendal menatap Carl. "Apa yang dia berikan hingga bisa mencuci isi otakmu sampai sejauh ini Carl? penyihir kecil itu sangat licik Carl! sadarlah!"


"Jaga mulut anda Your Grace! Her Highness bukan 'wanita itu' atau pun 'penyihir' dia adalah Putri kerjaan ini! The future Queen Consort of Francia! She is our Princess....! Berhati-hatilah dalam ucapan anda Your Grace!"


"Lancang kau Carl!"


Mengabaikan kemarahan ayahnya, Carl langsung membungkuk dalam


"Selamat sore Your Grace..."


Dan meninggalkan ayahnya untuk melangkah pasti pada keputusannya.


Dan tanpa mereka berdua sadari, seseorang mendengarkan dengan baik semua percakapan gelap mereka


\=\=\=❤❤❤❤

__ADS_1


Jejak.. jejak... ayo di tinggalin readers... makin banyak eike bakal makin banyak up setiap harinya 🙏


Salam sayang semua✨


__ADS_2