
"Besok pindahkan dua orang itu di kamar paling sudut istana dan jaga dengan sangat ketat, tidak ada alasan apapun untuk keluar dari sana, antar makan dari luar. Castle itu tambahkan lagi kunci dan pastikan dua orang kesatria itu ikut terkurung di dalamnya"
"Baik Your Majesty"
Edward membungkuk dalam saat Fredrick memberikan perintan dari jendela
kereta kuda yang di bukannya.
Victoria dan Fredrick siap untuk pergi beberapa hari dan meninggalkan istana. Istana yang kali ini tidak akan ada yang berani lagi mengusiknya, pertunjukan yang di buat Victoria dan Edward saat itu pasti akan membuat semua parasit dan racun berpikir seribu kali untuk mengusiknya. Di kucilkan oleh istana dan perundungan dari Raja baru untuk semua tamu yang hadir saat itu, ceritanya sudah berhembus seperti angin ke segala penjuru kerajaan. Cerita yang pasti akan sangat terasa untuk kalangan ton, cerita yang bisa langsung menyebar rasa teror untuk mereka.
Semua yang menjadi peran utama atas penghinaan keji untuk hari berduka dan berkabung mendiang Raja sekarang hanya tinggal dan hidup dengan menelan malu yang akan mereka pikul hingga ke dalam liang kubur. Mereka yang selama ini selalu di isolasi di luar istana sekarang terisolasi di tempat impian mereka, istana. Mereka akan tetap tinggal di istana, istana yang akan di buat Fredrick terasa seperti penjara. Fredrick tidak suka memberi kematian, dia lebih suka membuat seseorang jadi mempunyai mimpi untuk sebuah kematian
Kereta kuda mulai melewati gerbang depan istana. Jeremmy dan Carl dengan pakaian biasa sudah di atas kuda mereka mengikuti kereta kuda tanpa lambang dan terkesan biasa, kereta biasa yang menampung orang-orang penting kerajaan. Perjalanan mereka akan menuju Albany, menuju sebuah desa kecil di Albany yang kabarnya desa paling indah, paling hangat dan paling bersih yang ada di Francia
---000---
Fredrick membantu Victoria untuk turun dari kereta. Bibir Victoria berucap sambil tersenyum
"Selamat datang di Yorksire"
Fredrick terus melebarkan arah padangnya, hidungnya terus menghirup dalam-dalam udara segar dengan aroma manis buah dan sesekali, aroma pie dan roti di panggang melewati hidung mereka. Sangat enak dan juga sangat menyenangkan.
Victoria melangkah dalam diam. Dengan gaun sederhana, tatanan rambut biasa, tangan yang terus di gandeng suaminya membiarkan suaminya itu untuk menilai dan mengamati tempat tujuan mereka sekarang, terlebih dua orang pria lain yang ikut di perjalanan mereka yang sudah menunjukkan raut wajah mengagumi segala hal yang mereka lihat di desa kecil daerah Albany itu, Yorksire.
Setelah melewati ladang yang penuh aroma manis buah, aroma pie dan roti di panggang, semakin masuk ke dalam semakin aroma di sana berbeda. Lavender, sayup-sayup hidung mereka mencium aroma lavender yang menenangkan, sesekali hidung mereka menghirup aroma kopi yang nikmat dan coklat yang manis, sesekali juga aroma vanilla dan keju hinggap di penciuman mereka. Fredrick hanya bisa terdiam dengan hidung yang menghirup rakus semua aroma menyenangkan yang terus mereka lewati. Kedua bola mata abu-abunya tampak berkilap antusias, wajahnya tampak tenang, tangannya terus menggandeng lembut tangan istrinya.
Jeremmy dan Carl tidak jauh berbeda, mereka bahkan tidak bisa mengatakan apapun karna terlalu terpesona dengan pemandangan warna warni dan hijau di sana, walaupun musim gugur mulai masuk tapi sepertinya daerah itu masih belum merasakan musim gugur dengan banyak.
Di sebelah kanan mereka membentang bebagai macam pohon-pohon lebat penuh buah-buahan yang menggantung segar. Di sebelah kiri mereka ladang hijau, rapih dan tampak indah membentang, dan di ujung penglihatan mereka, semuanya tampak ungu, lavender. Wajar saja jika di sana juga banyak beraroma lavender.
"Lavender bagus untuk menenangkan, aromanya bisa membuat tubuh rileks, dan juga mengusir serangga" Victoria mengangguk dan mendongak saat akhirnya, suaminya yang tampak masih terlihat terkagum kagum itu bersuara. "Penduduk di sini ada di mana?"
"Hanya ada lima rumah di sini Bash, mereka pengurus ladang coklat, kopi, gandum, padi, dan juga peternak sapi untuk membuat susu dan keju"
Wajah Fredrick tampak antusias
__ADS_1
"Oh ya?? Apa desa ini bukan desa umum? kami tidak pernah tahu jika di Albany ada tempat ini"
"Iya... tempat ini di buat ibuku, ibuku yang membuat dan merawat desa ini, ini miliknya Bash, semua hal yang berputar di sini juga karna ibu"
Fredrick mengangguk. Pantas saja tempat ini sangat indah, sejuk, bersih terawat, nyaman, hangat dan.. selalu mengundang perut untuk lapar. Sesuai karakter mendiang Duchess yang sempat beberapa kali bertemu dengannya. Cantik elegant, lembut indah, hangat dan membuat perasaan nyaman hanya dengan mendengar suaranya.
Mengingat itu, Fredrick langsung menoleh pada Victoria dengan alis menggerut. Victoria yang menyadari perubahan wajah suaminya bertanya
"Kenapa?"
Fredrick menggeleng singkat sambil terkekeh memilih untuk merahasiakan pemikirannya, pemikirannya tentang bagaiman perbedaan jauh sang ibu dan istri tersayangnya ini.
Victoria membawa mereka ke sebuah rumah sederhana tapi indah. Pekarangan rumah penuh bunga dan pohon-pohon yang menggantung buah-buahan menggiurkan, aroma bunga Azella sangat merekat di hidung mereka sekarang. Aroma istrinya, dan Fredrick teramat sangat menyukainnya. Bahkan dia mulai berpikir akan mejadikan tempat ini sebagai tujuan rahasianya saat isi kepala dan suasana hatinya sedang kacau.
Dua orang pelayan paruh baya menuntun mereka untuk masuk setelah sebelumnya menyapa mereka, Victoria bahkan memberikan pelukan hangat pada mereka, mereka adalah orang-orang yang tinggal di sekitar sini, penghuni salah satu dari lima rumah di desa itu.
Victoria menarik tangan Fredrick ke sebuah ruangan tenang, sederhana dan terasa hangat karna pengaturan tepat di dalam ruangan itu. Sangat indah, pastilah mendiang Duchess yang menjadi otak dari semua kenyaman itu.
Fredrick terdiam saat Bety dan Sisi membawa dua buntalan kecil di gendongan mereka. Jantung Fredrick mulai berdegup gugup tapi juga antusias.
"Kau semakin tua semakin sexy Sisi"
Ucapan Fredrick membuat Sisi terkekeh dengan mata berkaca-kaca
"Anda tetap tidak berubah Your Majesty"
Bety yang duluan maju dan memberikan buntalan di tangannya pada Fredrick, Sisi memberikan satu buntalan dengan kain penutup berwarna biru pada Victoria. Dua nanny itu sangat mengertian dan langsung memberikan waktu untuk keluarga kecil itu berkumpul.
Jantung Fredrick semakin berdegup kencang, tangannya dengan kaku tampak sangat hati-hati dan canggung saat menggendong buntalan di tangannya. Kedua mata abu-abunya yang sudah berkaca-kaca menatap lekat bayi yang ada di gendongannya. Bayi pertamannya, Putrinya.
"Dia benar-benar milikku Vic"
Senyum hangat dan pandangan haru di mata Victoria sangat jelas terlihat, Victoria mengangguk
"Sepertinya, masa depan Francia akan di pimpin oleh seorang bermata abu-abu lagi"
__ADS_1
Kepala Fredrick mengangguk tanpa bisa mengalihkan pandangnnya pada bayi perempuan penuh lemak yang sedang menatapnya dengan tenang. Dengan dada yang hampir meledak karna bahagia dan mata yang menggenang, Fredrick dengan sangat hati-hati memberikan ciuman pertamanya pada putrinya
"Hallo putriku... Her Highness Putri Mahkota... Francesca Victoria Rosemary Emylis Georgia Castalarox"
Bibir Fredrick bergetar saat memberikan nama untuk putrinya, darahnya berdesir hebat hingga rasanya dia ingin menangis. Victoria tersenyum hangat dengan mata bekaca-kaca sambil mendekap putranya. Fredrick memberikan doa dari nama semua wanita tangguh dan luar biasa dalam nama putrinya, tidak lupa untuk memberikan nama penutup dari mendiang Raja yang sukses dan di cintai rakyat.
Victoria mendekat pada Fredrick untuk memberikan putranya ke tangan besar Fredrick yang masih kosong. Kali ini pelupuk mata Fredrick benar-benar tumpah hingga Victoria mengusapi pipinya. Fredrick menatap lekat putranya
"Dia... Memiliki matamu Vic"
Victoria tersenyum hangat sambil mengangguk, karna hanya itu hal mencolok yang menjelaskan jika dia juga ikut ambil bagian dalam pencampuran benih. Mengingat itu Victoria ingin terkekeh geli
Dengan hati-hati dan dada yang sudah meledak bahagia Fredrick memberikan ciuman pertamanya pada putranya
"Hallo putraku... His Highness Ferdinand Fredrick George William Castalarox"
Setelah berhasil mengucapkan nama pria-pria hebat dalam penuh doa untuk nama putranya, Fredrick tidak mampu lagi menahan iskannya, untuk pertama kalinya Victoria melihat pria yang penuh ketangguhan dan mempesona itu terisak pelan dengan air mata yang terus mengalir. Victoria yang juga tidak mampu menahan air matanya mengusapi pipi suaminya yang terus basah dengan air mata kebahagian.
Fredrick menatap lekat wajah istrinya yang mengusapi pipinya, bibirnya bergetar dengan dada yang sudah di bombarbir dan di aduk-aduk dengan rasa bahagia
"Terimakasih.. terimakasih Vic, aku...."
"Sstt!...."
Tangan Victoria langsung menutup bibir Fredrick sambil menggeleng singkat.
"Ayo duduk, aku akan memanggil Jeremny dan Carl untuk masuk"
Dengan patuh, Fredrick menuju ke sebuah sofa, tangannya yang penuh dengan bayi-bayi cantik penuh lemak membuatnya dengan sangat hati-hati bergerak, terlalu hati-hati. Gesturnya sangat kaku dan kikuk, bahkan saat ingin mendaratkan bokongnya ke atas sofa, Fredrick membutuhkan banyak waktu karna tidak ingin memberikan pergerakan untuk tangannya. Setelah bokongnya mendarat di atas sofa Fredrick menahan nafasnya agar tidak menambah pergerakan. Dan pemandangan itu membuat Victoria menekan bibirnya dengan kuat agar tidak terbahak dan menyinggung suami kekanakannya.
\=\=\=💛💛💛💛
Paling sukak eike ngasi nama, ahahha
Ayukk jejaknya yukk
__ADS_1
Salam sayang semua