
Victoria terus menatap ke luar jendela terbuka dengan dada membara dan pikiran berkecamuk. Perasaannya terasa naik turun dan jungkir balik, dia kesal, marah, benci, sakit hati dan segela macam hal yang tidak menyenangkan menggerogoti perasaannya. Angin awal musim gugur berhembus menerpa wajahnya yang dingin dan datar. Isi ruangan hening, yang sekarang hanya berisi dua orang di dalam sana.
Hampir satu jam Fredrick dengan tenang duduk di kursinya dengan baju atasnya yang masih sedikit basah, walau wajahnya sudah kering dan masih meninggalkan rasa sakit karna teh panas spesial dari istrinya. Fredrick membuang nafas panjang dan akhirnya menegakkan kakinya untuk mendekat pada istrinya yang sangat penuh aroma kemarahan.
Dengan bermodalkan ketidaktahu maluannya, Fredrick berdiri di belakang istrinya. Kedua matanya terus menatap istrinya yang masih enggan menggerakan kepalanya
"Vic, aku sudah mengatakan, jika kau tidak boleh mengamuk"
Dengan geram dan kesal Victoria langsung memutar tubuhnya ke depan suaminya dan,
PLAKKKK!
"How dare you Fredrick!!!!"
Fredrick meringis saat sebelah pipinya di tampar dengan kuat meski dia tidak merasakan sakit yang cukup tapi, Fredrick tetap meringis. Meringis dengan cara yang dramatis untuk menghormati istrinya. Fredrick mencoba melirik wajah istrinya yang memerah dengan dada naik turun penuh amarah.
"Ak...."
PLAKK!!
Kembali, Fredrick meringis dengan dramatis dan dengan sedikit takut mencoba kembali melirik istrinya sambil membuka mulutnya kembali
"Vic....."
Victoria kembali mengangkat tangannya, tapi kali ini Fredrick tidak membiarkan lagi tangan cantik itu mendarat di pipinya, dengan lembut tapi juga tegas Fredrick menahan tangan Victoria.
Victoria langsung menarik kasar tangannya dari tangan Fredrick dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan suara dengusan kasarnya yang menyusul. Victoria kembali membalik tubuhnya menghadap jendela. Fredrick menggusap tengguknya, dia tidak berpengalaman untuk membujuk dan juga tidak tahu cara untuk meredakan amarah seseorang. Fredrick hanya tahu bagaimana cara membangkitkan amarah seseorang
Merasa jika dirinya tidak berguna dan takut malah akan semakin memancing kemarahan, Fredrick kembali membuang nafas panjang sambil merogo saku rompinya. Dengan pelan, Fredrick meletakkan sebuah amplop di atas meja kecil dekat jendela tempat Victoria berdiri.
"Dari Lady Charlotte"
Sepersekian detik dengan lirikan takut-takut Fredrick menunggu respon Victoria yang masih diam dan tampak tidak ingin mengubah pergerakannya hingga akhirnya, Fredrick memutuskan untuk memberikan waktu untuk istrinya itu dan keluar dari ruangan.
Victoria menatap pepohonan yang masih hijau dan yang masih belum di perbaikinya. Dana dan perubahan rencana di dalam istana membuat pohon-pohon yang sudah di rencanakannya untuk di tanam ulang tidak bisa terlaksana padahal, dia harus membaca dua buku tebal tentang penghijauan dan pertanian untuk memilih secara cermat pohon yang akan di tanam di istana. Pohon yang terbaik untuk kenyamanan istana
"Kalian semua memang brengsek!!! Sialan!!"
Dengan perasaan yang semakin kesal, Victoria mendengus kasar ala preman pasar dan dengan cepat menyambar amplop yang di letakkan suaminya. Dengan perasaan yang campur aduk, Victoria mulai membaca isi surat, berulang kali Victoria membaca isi surat yang isinya hanya empat baris itu, tapi itu cukup untuk meredakan perasaan amarahnya. Arah padang Victoria mulai buram, bibirnya berguman getir
__ADS_1
"Lottie..."
---000---
Fredrick akhirnya menyerah mengetuk pintu kamar penghubung mereka. Victoria, mengunci rapat bahkan mencuri kunci lain yang di simpan Fredrick. Entah bagaimana dan kapan Victoria mendapatkan kunci itu dari tempat penyimpanan rahasianya, Fredrick tidak tahu jika Victoria punya bakat untuk mencuri benda-benda rahasianya.
Fredrick mencebik sebal dan dengan tepaksan menelan segala rasa rindu dan juga gelora gair*hnya yang selama berbulan-bulan belum di tuntaskan untuk istri tersayangnya, dengan kesal Fredrick mendaratkan bokongnya di kursi meja kerjanya dan memilih untuk termenung di dalam kamar, kepalanya mencoba memikirkan banyak hal agar bisa menyingkirkan pikiran liar, perasaan rindu dan kebutuhannya.
Entah berapa lama waktu terlewati hingga suara pintu kamarnya yang di ketuk membuat kemelut di kepalanya teralihkan.
"Masuklah"
Seseorang langsung membuka pintu dan wajah Edward lah yang muncul. Wajah yang semakin membuat Fredrick kesal, terlebih karna wajah itu terlihat serius, sudah pasti Edward akan membawa percakapan serius menyebalkan.
Edward dengan santai melenggang masuk ke dalam kamar sambil menatap wajah Fredrick yang terlihat jelas sedang dalam suasana hati buruk dan... lapar. Sudah pasti lapar karna sekarang dia tidak sedang berada di kamar istrinya. Edward bisa menebak setelah lemparan jitu cangkir teh tadi pagi, Fredrick tidak akan di permudah, seperti sekarang. Edward menatap Fredrick yang melipat tangannya di depan dada sambil terus menatap ke arah pintu penghubung
"Kau tidak di beri jatah Fred?"
Dengan tenang dan sangat menyebalkan Edward bertanya tanpa menatap Fredrick lagi. Fredrick berdecih kesal dan menatap Edward dengan tajam
"Apa maumu sialan?"
"Aku sudah mendengar laporan dari yang lain"
Fredrick tahu arah pembicaraan ini cepat atau lambat akan terjadi. Dengan tenang, Fredrick menegakkan bahunya. Edward melanjutkan. "Apa rencanamu?"
"Membiarkan..."
Kepala Edward mengangguk singkat dan kembali bertanya
"Jika kecurigaan kita benar?"
Dahi Fredrick mengeryit dan akhirnya menatap Edward dengan serius
"Pilihan ada di tangannya Ed..."
"Kau yakin?" Edward memperhatikan Fredrick yang hanya diam, entah apa yang di pikirkannya. "Bagaimana jika dia goyah?"
Alis Fredrick mengkerut dalam dengan tangannya yang sudah turun ke atas meja
__ADS_1
"Dia tidak akan goyah"
Kembali kepala Edward mengangguk
"Aku bilang, 'jika' dia goyah Fred, semua hal bisa terjadi dan terlebih dia juga sangat cerdas, sulit untuk di tebak arah dan jalan pikirannya"
Fredrick mencengkam tangannya yang sudah bertaut di atas meja. Raut wajahnya semakin serius
"Aku yakin jika dia tidak akan goyah tapi, jika dia memang goyah, kita tetap akan bertindak"
Edward menganggukkan kepalanya dengan dramatis, seolah sedang mencela Fredrick, dan Fredrick tahu itu, tapi dia memilih membiarkan
"Dan apa tindakanmu Fred.....?"
Fredrick semakin mencengkam tautan tangannya, wajahnya berubah dingin dengan sorot mata tajam
"Tindakan yang akan di lakukan seorang Raja, tindakan yang harus dan seharusnya di lakukan seorang Raja"
Kembali Edward mengangguk dengan dramatis, dan ikut merubah raut wajahnya menjadi dingin dengan tatapan tajam
"Kau yakin bisa melakukannya?"
"Aku yakin dan percaya padanya tapi, jika memang akan ada aroma amis, tindakan tetap berjalan. Pada siapapun itu"
Akhirnya Edward membuang nafas panjang dan menegakkan kakinya untuk berjalan menuju pintu keluar. Sebelum menyambar gagang pintu, Edward menoleh untuk menatap Fredrick dengan dalam
"Kau tahu Fred, aku yakin jika kau tidak akan bisa melakukan itu padanya. Kau tidak akan bisa membunuhnya apapun alasannya...." Edward menjedah dan membuka pintu. Suaranya kembali terdengar. "Tapi aku juga sangat yakin jika dia tidak akan goyah. Semoga"
Setelah Edward pergi dari kamarnya, Fredrick menegakkan kakinya menuju jendela dan membukanya, kedua bola mata abu-abunya menerawang jauh ke atas langit, angin malam menerpa wajahnya dan sesekali menggerakkan rabut pekatnya. Perasaan kalut, takut, cemas membuat dadanya terasa sesak hingga bibirnya berguman dengan bibir bergetar
"Ku mohon... jangan mengkhianatiku"
Kedua tangan Fredrick yang memegang pinggiran jendela menguatkan cengkamannya hingga jari-jarinya memutih
\=\=\=💙💙💙💙
Ayukk jejaknya yukkk
Salam sayang semua
__ADS_1