Behind The Castle

Behind The Castle
**THE HEROES HAVE ARRIVED**


__ADS_3

Three months later.....


Musim sudah berganti, kesulitan musim panas dan kepedihan musim gugur sebagian besar rakyat Francia sudah terlewati, tegantikan dengan kesengsaraan lain musim yang terus menjatuhkan salju dari atas langit. Musim salju menjelang dingin.


Musim salju awal mulai menyapa kerajaan Francia. Gumpalan putih mulai memenuhi jejalanan, pohon-pohon mulai ikut memikul bintang salju yang terus jatuh dari langit, perapian setiap malam mulai terus di hidupkan dan saat pagi, asap akan mengepul dari perapian. Dan saat ini juga, Victoria sedang menggigiti dengan gugup kukunya saat Diana dengan tangan piawainya sedang menata rambut Victoria.


"Berhentilah mengigiti kukumu Vic"


"Mana bisa Di, aku gugup sekali sekarang"


Diana tersenyum hangat dan mengusap pelan kedua bahu Victoria


"Tenanglah... mereka sudah masuk ke dalam ibu kota, mungkin sebentar lagi akan masuk ke dalam gerbang istana".


Dengan keadaan yang semakin gugup tanpa memperdulikan hasil karya Diana, Victoria memutar kepalanya dan menatap Diana


"Aku tidak sabar bertemu Archi... aku gugup sekali"


Baru Diana akan memberikan kata-kata penenang dan membuka mulutnya, ketukan pintu membuat Diana tersenyum dan segera mengengling pada Victoria


"Pangeranmu datang"


Victoria segera berdiri dan mengikuti Diana menuju pintu. Saat pintu sudah di buka, Fredrick dengan tersenyum hangat menyapa Victoria.


"Siap?"


"Aku gugup Bash"


Fredrick terkekeh gemas dan segera melingkarkan tangannya. Victoria dengan cepat segera menggamit siku Fredrick dan melirik Diana dan Grey yang segera mengikuti langkah mereka


"Apa mereka sudah sampai?"


"Sudah sayang, tenanglah... sebenarnya apa yang kau gugupkan hhm?"


Victoria mencibik dan menatap Fredrick yang menatapnya dengan menyebalkan


"Aku takut kakakku tidak mengenaliku"


Suara terbahak Fredrick membuat beberapa pelayan langsung menoleh dan menghentikan sejenak pekerjaan mereka untuk menunduk hormat


"Ku rasa kau benar Vic, soalnya kau terlihat semakin jelek sekarang"

__ADS_1


Satu cubitan mendarat di tangan keras Fredrick yang di susul dengan suara memekik dramatis dari mulut Fredrick. Kembali Victoria mencibik sebal


"Berlebihan"


"Ini sakit Vic"


"Aauu!!"


Victoria melotot kesal saat Fredrick membalas mencubit tangannya


"Sakit kan?"


Sambil membalas kembali mencubit lengan Fredrick, Victoria memutar bola matanya


"Jangan samakan tanganku dengan tanganmu"


Dengan terus menuntun langkah Grey, Diana hanya terus menatap hangat kedua pasangan yang masih saling menggoda. Diana hanya bisa berdoa, semoga nonannya bisa melupakan segala kesakitannya dan memilih kebahagiannya. Semoga.


--000--000--


Jejalanan ramai dengan penduduk yang tampak antusias berdiri di pinggir jalan, sesekali mereka bersorak dan tersenyum bahagia menyambut pahlawan perang yang telah tiba. Kuda-kuda besar dan tangguh terus melewati jejalanan ibu kota untuk menuju gerbang besar yang sudah terlihat. Saat langkah kaki kuda semakin mendekati gerbang, tanpa perlu menunggu, tali-tali pengikat pintu gerbang segera di tarik. Suara berat gerbang besi terdengar dan suara sorakan rakyat semakin kuat. Banyak ucapan selamat, banyak ucapan doa, banyak ucapan terimakasih yang di lemparkan dari mulut rakyat.


Kuda-kuda tangguh sudah menapak masuk ke dalam halaman halaman istana. Keadaan di dalam halaman tidak jauh berbeda. Para pelayan, penjaga, pengawal, kesatria menyambut pahlawan yang telah tiba. Keelft yang juga ikut menyambut segera mengarahkan pasukan untuk ke tempat peristirahatan dan menyisakan pasukan inti di sana.


Keelft memimpin langkah mereka dan melirik pria dengan raut wajah dingin. Pria itu tampak gagah dan tangguh tapi juga tampak mengerikan. Guratan wajahnya tidak terbaca, hanya fokusnya yang terlihat jelas. Fokusnya yang hanya menatap ke depan, seolah tidak sabar untuk menuju istana utama.


Kedatangan para pemimpin pahlawan membuat pengawal segera membuka pintu istana utama. Keelft dengan sopan mempersilahkan mereka masuk.


Raja George yang tadinya berbincang dengan Edward yang berdiri di tangga segera menghentikan segala kegiatannya dan menegakkan punggungnya. Dengan segala kekuasaannya duduk di singgahsana kursi pemimpin mutlak kerajaaan Francia.


Mereka yang melihat kursi tahta dan pemiliknya, segera berlutut dengan satu lulut menyentuh lantai. Kepala mereka tertunduk hormat tapi, itu hanya di lakukan oleh ke empat pria pemimpin perang karna, satu pria pemilik bola mata hijau kebiruan menatap Raja George dengan dingin dan tidak terbaca. Raja George yang menyadari tatapan itu tersenyum hangat dan segera berdiri dari duduknya untuk menuruni undakan tangga.


Langkah demi langkahnya semakin mendekat dengan satu pedang yang sudah di pegangnya. Kedua bola matanya terus membalas tatapan kedua bola mata hijau kebiruan yang terus mengikuti langkahnya.


"Angkat kepala kalian para pahlawanku"


Ke empat pria itu segera menegakkan kepala mereka dengan satu lutut yang masih menyentuh lantai. Raja George memulai proses pemberian gelar pahlawan perang. Pedang di tangannya memulai dari sebelah kanan.



Pedang kerajaan berwarna hitam yang sama dengan lambang kerajaan Francia, pedang yang terlihat indah dengan berlian ungu yang seolah menyala di bagian tengah pedang itu langsung mendarat di bahu kanan salah satu dari mereka.

__ADS_1



"Aku, King George II kerjaan Francia mengatakan, Jika kau adalah pahlawan perang Francia dan memiliki kehormatanmu mulai sekarang"


Proses terus berlanjut hingga sampai pada pria yang berada paling kiri Raja George. Dengan tersenyum hangat, Raja George menatap dalam manik kedua bola mata hijau kebiruan pria itu. Dengan raut wajah bangga, Raja George meletakkan ujung pedang di bahu kanannya. Pria itu menatap tajam dan dingin kedua manik abu-abu Raja George dengan raut wajah datar. Raut wajah yang mengingatkan semua orang, raut wajah yang tidak asing karna, ada seorang gadis lain yang memiliki raut wajah yang sama


"Aku, King George II kerajaan Francia mengatakan, Jika kau Arthur Beneddict William Arathorn adalah pahlawan perang Francia dan memiliki kehormatanmu mulai sekarang"


Dengan senyum yang semakin hangat Raja George menekankan nama si pemilik bola mata hijau kebiruan itu. Arthur.


"Berdirilah"


Ke lima pria itu segera berdiri saat perintah Raja George terdengar. Dengan hormat, Edward memberikan kotak beludru merah yang terbuka. Berisi lima lencana emas dengan terukir lambang pedang yang di apit dua kepala ular emas, dan juga tercetak jelas pangkat pahlawan di atas lencana itu.


Raja George memulai kembali dari kanan untuk memasangkan lencanan yang di terima tiap pria dengan kepala tertunduk sopan, bahkan sangat sopan. Hingga sampai pada bagian paling kiri.


Arthur, dengan wajah datar dan tidak bersahabatnya membiarkan Raja George yang menyematkan lencana dengan raut wajah bangga di depan dada kirinya. Bahkan kedua bola mata abu-abu itu tampak mengkilap, entah karna rasa haru, bangga atau juga... sedih. Arthur hanya membiarkan tanpa memberikan rasa hormat terima kasihnya


"Pesta akan kita laksanakan mulai besok selama tiga hari. Kalian bisa istirahat sekarang"


Keelft kembali maju untuk menuntun dan mengantar perjalanan para pahlawan menuju ke camp istirahat yang sudah di sediakan untuk mereka. Ke lima pria memutar tubuh mereka dengan sebelumnya memberi hormat pada raja Goerge untuk pamit undur diri. Hingga kembali, kedua bola mata hijau kebiruan itu bertabrakan dengan kedua bola mata abu-abu Raja George. Tanpa takut, tanpa gentar, tanpa menunjukkan sedikitpun ketundukkan dan rasa patuh. Raja George tersenyum getir dan tanpa bisa di cegah, suaranya terdengar


"William pasti sangat bangga padamu nak"


Arthur yang masih terlihat tenang dan dingin menatap dengan tajam dan dalam kedua manik abu-abu yang tampak sendu mentapnya. Tanpa suara, tanpa raut wajah, hanya diam dan memberikan pesan khusus yang jelas tertangkap di kedua manik bola mata Raja George.


Setelah kelima pria pahlawan keluar, tinggalah Raja George dan Edward serta beberapa pengawal yang masih berdiri di tempat mereka tanpa bergeming hingga suara batuk Raja Geogre membuat Edward bergerak dari posisinya untuk memberikan sapu tangan.


"Apa anda baik-baik saja Your Majesty?"


"Dia... Arathorn Ed, dia benar-benar Arathorn. Bahkan dia terlihat seperti Arathorn genarasi ke enam. Kakek William. Mendiang Duke Beneddict"


Edward mengeryit bingung menatap Raja George yang berbicara tertatih di sela-sela batuknya. Dia tidak mengerti dan paham apa maksut Raja George yang sekarang tersenyum getir sambil menatap kembali ke arah pintu keluar istana utama. Keheningan melingkupi mereka, dengan masih berdiri tegak di tengah-tengah luas lantai dengan karpet merah pekat membuat keheningan semakin nyata


"William, maafkan aku... maafkan aku...."


Ucapan maaf seorang Raja yang terdengar lirih membuat Edward dan semua pengawal di sana segera berlutut dengan satu kaki menyentuh lantai dan kepala tertunduk dalam. Seorang pemilik tahta dan kekuasaan utama kerajaan, sedang merendahkan dirinya dengan perkataan maaf dan mereka yang lebih rendah dari seorang Raja, tidak pantas mendengar dan menerima itu. Dengan mengepalkan kedua tangannya, Edward menutup matanya dengan kuat sambil berdoa di dalam hatinya. Semoga Rajanya, Raja mereka selalu sehat dan panjang umur. Tidak ada doa kebahagiaan di sana karna, seorang Raja, tidak akan bisa untuk merasakan rasa bahagian sesuai keinginan mereka.


\=\=\=💙💙💙💙


Yukk bisa yukk tinggalin jejaknya

__ADS_1


Salam sayang semua


__ADS_2