Behind The Castle

Behind The Castle
**LARINA CASTLE**


__ADS_3

Setelah dua minggu menunggu jawaban dari Raja George tentang surat dari Larina, akhirnya Di sinilah Victoria berada sekarang, di kamar Raja George. Pemandangan tubuh lemah dan wajah pucat dengan sesekali terbatuk yang pernah di lihat Victoria itu, membuat Victoria sekarang bisa lebih terbiasa.


"Aku dengar Putri sangat bekerja keras"


Victoria tersenyum tipis


"Saya masih harus banyak belajar, Your Majesty"


Raja George membalas senyum tipis Victoria.


"Apa pengiriman petani dan orang-orang ke Albany sudah di lakukan Putri?"


"Saat orang-orang yang di pilih sudah terkumpul, dua hari lalu Earl James sudah mengirim mereka, Your Majesty"


"James?"


Kedua alis pekat Raja George langsung terangkat saat mendengar Victoria menyebutkan sebuah nama yang menurutnya tidak akan pernah ingin berurusan dengan Arathorn. Jika tidak dalam situasi terpaksa


"Benar Your Majesty, Lord James yang juga pembimbing saya"


Kedua sudut bibir Raja George berkedut geli. Bahkan sekarang, Victoria menyebutkan nama 'James' bukan lagi gelar


"Begitu ternyata"


Tanpa bisa menyadari nada geli Raja George, dengan polos Victoria mengangguk


"Aku sudah membaca hasil ke dua rapat terakhir kemarin. Nanti Edward akan memberikan pendapatku dan juga penolakanku untuk di bagian mana"


"Baik your Majesty"


Raja George tersenyum bangga di sela-sela batuknya yang tiba-tiba kembali kumat. Victoria menunggu dengan sabar sambil memperhatikan dengan lekat semua pergerakan Edward yang membantu Raja George untuk minum air lalu menepuk pelan kedua bahu Raja George yang sekarang tidak menunjukkan sebuah 'kekuatan' dari seorang Raja


"Bagaimana kau bisa mempunyai balasan persetuan dari Larina, Putri?" Pertanyaan tiba-tiba Raja George membuat Victoria menjadi sedikit gugup. Padahal, inilah yang sudah dia tunggu-tunggu, pembahasan tentang surat Larina. Raja George yang melihat gerak gerik gelisah Victoria segera menimpali ucapannya. "Kau sangat ingin ke Larina Putri?"


"Iya Your Majesty"


Raja George tersenyum hangat


"Kau boleh pergi tapi tidak bersama dengan Henry. Semua mata melihat Putri"


Dengan perasan lega Victoria mengangguk


"Tentu Your Majesty. Saya memang tidak mempunyai rencana untuk menerima bagian di mana Her Majesry ingin saya di jemput His Highness pangeran Henry"


Setelah mendapatkan apa yang di inginkannya. Terjadi pembahasan isi rapat-rapat yang di jalani Victoria dalam dua minggu terakhir, pembahasan yang memang belum di bahas mereka. Dan juga, tentang isi isi surat-surat yang di kirim Fredrick padanya, tentu saja hanya di bagian pekerjaan di wilayah Barat yang Victoria jabarkan.


Waktu terus bejalan hingga berjam-jam, dan Victoria yang menyadari jika dirinya sudah cukup lama berada di dalam kamar, segera pamit kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karna panggilan Raja George.

__ADS_1


"Ed"


"Iya Your Majesty"


"Kirim beberapa kesatria tingkat satu yang tangguh untuk menemani dalam senyap perjalanan Victoria"


Edward mengeryit


"Kenapa Your Majesty? apa akan ada hal berbahaya?"


Kedua mata abu-abu sayu Raja George menerawang jauh ke luar jendela


"Sekali lagi, aku menggunakan Victoria untuk membersihkan hama"


Entah apa yang di maksut Raja George tapi Edward hanya bisa menggangguk tidak mengerti.


🌺🌺🌺🌺


Setelah mantelnya terlepas, Victoria melirik gaunnya sekilas dari kaca besar lemari yang berisi perabotan dari emas



Setelah merasa percaya diri dengan gaun merah dan emas yang di pilihkan Diana, Kedua bola mata Victoria kembali tidak berhenti memandangi, mengamati, menilai dan mengingat tampilan dan bentuk Castel Larina. Castle terbesar dan terindah di kerjaan Francia. Victoria melirik pelayan yang menyambutnya dari kereta kuda dan sekarang sedang membimbing langkahnya untuk ke ruangan tamu. Hingga langkah mereka sampai ke sebuah meja berbentuk kotak


"Sialahkan Your Highness... Her Majesty sedang meminum obatnya. Nanti akan kemari"


Saat pelayan baru selesai menuangkan teh ke cangkir Victoria lalu cangkir di depannya. Pemilik cangkir teh di depannya muncul. Victoria dengan cepat berdiri, menarik sisi gaunnya sambil sedikit membungkukkan punggungnya


"Selamat pagi Your Majesty"


"Hallo Putri Victoria. Selamat pagi"


Ratu Elisabeth langsung duduk di depan kursi depan Victoria. Victoria yang sudah melihat anggukkan Ratu Elisabeth segera kembali duduk di atas kursi


"Bagaimana kabarmu Putri?"


"Saya baik-baik saja Your Majesty"


Ratu Elisabeth tersenyum sambil mengangguk


"Ku dengar jika Pangeran Fredrick masih di wilayah barat?"


Satu alis Victoria terangkat rendah


"Ahh.. benar Your Majesty"


Melihat Victoria yang sepersekian detik sempat menatapnya dengan tanda tanya membuat Ratu Elisabeth terkekeh pelan

__ADS_1


"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu ya?...". Victoria terseyum tipis dan cukup takjub karna wanita bersurai pirang di depannya cukup cepat menilai raut wajah orang lain. Ratu Elisabeth kembali terkekeh pelan. "Walaupun aku di sini, tapi aku tahu semua isi istana dan maaf, kau harus menanggung semua pekerjaanku putri. Sungguh aku sangat tidak enak hati"


Dengan menggeleng pelan, Victoria memberikan senyum tipis yang tidak sampai ke hati


"Jangan meminta maaf Your Majesty. Semua ini hanya tentang waktu, karna nanti juga saya akan memegang itu. Jadi, saya anggap ini semua untuk menjadi pembelajaran dan pengenalan awal"


"Ahh... kau bijak sekali Putri"


Dengan kedua sudut bibirnya yang terus terangkat tinggi, Ratu Elisabeth tidak henti-hentinya terus memuji pekerjaan Victoria. Tidak hanya pekerjaan utamanya tapi juga bagaimana pekerjaannya yang mampu menghandle pekerjaan para Pria yang sedang tidak bisa menjalankan pekerjaan mereka


"Anda terlalu memuji Your Majesty"


Kembali Ratu Elisabeth memberikan pujian manis untuknya, sesekali juga terselip perkataan jika dia 'bangga' memiliki 'menantu' sepertinya. Semua akan tampak terdengar alami di telinga orang awam tapi tidak dengan Victoria, dia paham betul makna 'menantu' yang di sebutkan Ratu Elisabeth. Anak Ratu Elisabeth bukan hanya satu. Dan yang satunya, suaminya, bukanlah anak kandungnya. Terlebih dengan riwayat persekutuan terlarang keluarganya dan 'anak' lain Ratu Elisabeth


"Apa kau ingin melihat-lihat Castle Putri?"


Kedua mata Victoria terlihat berbinar antusias sambil mengangguk pelan


"Jika tidak merepotkan anda, Your Majesty"


"Tentu saja tidak Putri"


Di mulai dari Ratu Elisabeth yang beranjak dari kursinya, Victoria mengikuti Ratu Elisabeth untuk bangkit dari kursi. Mereka mulai berjalan menelusuri koridor yang penuh banyak lukisan-lukisan besar. Sama seperti di koridor istana utama yang dindingnya penuh dengan lukisan para Raja-Raja dan Ratu-Ratu terdahulu.


Mereka berjalan beriringan dengan anggun. Ratu Elisabeth mengenalkan, menceritakan dan menjelaskan lukisan-lukisan para mendiang Raja dan Ratu terdahulu. Dengan serius dan mencermati ucapan wanita paruh baya si sampingnya, kedua telinga Victoria mendengarkan sambil mengulangi pelajaran sejarah kerajaan yang pernah di dapatnya sebelum menikah


Langkah Ratu Elisabeth berhenti di depan lukisan Raja George dan mendiang Ratu Rosemary. Victoria ikut menghentikan langkahnya dengan pandangan bertanya


"Ini His Majesty Raja George II dan Mendiang Ratu Rosemary...." Ratu Elisabeth menjedah, tangannya terulur menyentuh lukisan mendiang Ratu terdahulu. Victoria melirik raut wajah Ratu Elisabeth yang berubah menjadi sendu. "Mendiang..... kakak perempuanku"


Bagai baru saja mendengar suara ledakan hebat, Victoria terkesiap hingga dia tidak bisa mengontrol raut wajahnya yang sekarang terlihat jelas tampak terkejut.


Ratu Elisabeth menoleh pada Victoria sambil menarik tangannya dari lukisan. Senyum di bibirnya terlihat getir dengan wajahnya yang semakin sendu.


"Apa ini mengejutkan mu Putri?"


'Tentu saja!!!'


Barin Victoria berteriak meski bibirnya hanya mampu tersenyum tipis dan menatap Ratu Elisabeth dengan lekat.


"Aku tahu kedatanganmu kemari tidak hanya karna ingin menyapaku Putri. Apa aku salah?"


\=\=\=πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Ayuukk jejaknya yukk


Salam sayang semua

__ADS_1


__ADS_2